BAOBALA,RITU L BUDAYA MEMESONA
BAOBALA, RITUAL BUDAYA
MEMESONA
Oleh: Joni Liwu
Bao bala adalah nyanyian ungkapan kegembiraan disertai Tandak
(injak padi). Ketika panenan berlimpa atau orang mendapat padi yang banyak,maka
harus mengundang banyak orang. Orang-orang itu hadir untuk menandak padi yang
masih berbulir. Padi banyak memungkinkan orang untuk membeli gading. Gading
ipada zaman dulu hingga sekarang merupakan barang yang tak ternilai harganya
atau sangat mahal. Memiliki gading atau mampu membeli gading sangat menunjukkan
status sosial seseorang. Sehingga orang yang panenannya berlimpa memungkinkan
ia untuk membeli gading.
Pada saat menandak padi dari hasil panenan yang berlimpah
tersebut gading disematkan pada dahan pohon beringin . Pohon beringin dalam
bahasa daerah Hewa (bahasa yang digunakan di Desa Hewa, Boru, Flores Timur) adalah
Bao, dahan itu kleren, gading itu bala. Jika beringin disematkan gading disebut
bao kleren bala.Sisi lain dari Bao Kleren Bala tersebut yakni tuan kebun harus
bermurah hati: wine Naha li'u Teli beting, ga higun. Secara harfiah bermakna
seorang saudari dapat menjunjung wadah berisi padi yang terberkati, sehingga ia
layak makan nasi dari padi yang dipanen perdana.
Wine bermakna saudari,li'u itu menjunjung sebuah wadah bertali
yang ditautkan ddari kepala,sedangkan teli adalah sejenis wadah dibuat dari daun
lontarberbentuk tabung dengan ukuran bervariasi. Keberhasilan tuan kebun yang
ditandai dengan panenan berlimpa tersebut harus disyukuri bersama.Selanjutnya,
seudah pula menjadi kewajiban jika keberhasilan itu tidak boleh dirahasikan
atau dalam bahasa Hewa disebut Opo meta (dilarang merahasiakan). Seungguh
sebuah warisan budaya yang juga mengajarkan tentang hal memberi bagi yang
memiliki atau berkelimpahan dari ritual baobala.
Masih menyoal Baobala sebagai nyanyian yang menggembirakan.
Nyanyian akapela dengan syair berwujud pantun kilat tersebut belum dibukukan
hingga sekarang. Itu berarti hanya diwariskan secara lisan dari generasi ke
generasi. Oleh karena itu, larik-larik tersebut selalu mengandalkan ingatan.
Baobala hanyha dapat dilagukan saat pesta panen. Di atas tikar besar saat
pasangan yang berduet sambil menandak bulir-bulir padi, akan terdengar beragam
larik berwujud pantun kilat. Menarik, karena beragam tema, dari cinta hingga
nasehat-nasehat bijak meluncur dengan sendirinya dari mulut para pelantunya.
Keseruan semakin terlihat kala pasangan-pasangan yang berduet tersebut
melantunkan larik-larik baru secara bersahut-sahutan. Sebuah larik dari
pasangan sebelumnya harus dijawab oleh pasangan-pasangan berikutnya, tetapi
larik-larik itu mengusung tema yang sama. Jika demikian maka akan berwujud
sebuah cerita penuh makna, walau kadang dibumbui kejenakaan.
Baobala yang dilagukan kaum muda akan berbeda dengan kaum tua.
Hampir pasti kaum tua yang makan garam tentu akan cepat menanggapi baobala yang
dilantunkan kaum remaja dengan diksi simbolis, sarat makna, padat berisi.
Keseruan mendengar larik-larik itu tidak saja menjadi perhatian para petandak
tetapi juga semua hadir termasuk kaum perempuan.
Pada sekali tandak
untuk ukuran beberapa karung padi ada jeda waktu yang disebut hawung. Saat itu,
orang lain yang tidak terlibat dalam menandak padi akan memberishkan bulir padi
dari tangkainya. Saat jeda pula para pelantun baobala akan merefleksi kesalahan
atau kekeliruan saat berbaobala. Situasi yang sangat bersahaja memungkinkan
siapapun merekatkan persaudaraan, kekeluarga. Kegembiraan saat menandak padi
dengan baobala menjadi kegembiraan bersama, di saat itu pula wujud kebersamaan
terpatri.
Sekelumit Larik Baobala
Pilihan-pilihan kata baobala memesona, bak memilih dan memilin
diksi pada sebait puisi. Jika pengantar atau oret oleh seorang pemimpin, maka
pasangan-pasangan baobala sudah harus menyambung oret tersebut dengan
larik-larik bermakna simbolis atau setidaknya larik-larik itu harus mengusung
tema pada oret tersebut. Keindahan bahasa sastra itu menambat batin semua yang
hadir. Baobala bak kecapi batin, dentingmu membahana hingga setiap orang yang
mendengarnya akan menulis dalam sanubarinya, bahwa baobala nanyian hati kan
tetap terwaris.
Beberapa larik dengan empat
kata per baris namun merupakan kata-kata pilihan, sehingga walaupun dinyanyikan
hanya saat pesta panen, namun tetap menyiratkan makna bagi kehidupan.
Pati tadan ladur habun.
Godo rongon ripa ira,
Sile ira dira lima.
Lamen hai wain blaan,
Bati rani poto plikut.
Doler luat doler waun
Pada baris pertama untaian larik di atas Pati tadan ladur habun,
secara harfiah bermakna memotong sebuah pohon yang bernama ladur untuk memberi
tanda, namun pada pohon tersebut tumbuh dahan yang masih muda. Larik ini biasanya
dilagukan kaum remaja. Kaum remaja yang sedang bersimpati satu terhadap yang
lain. Rasa simpati itu kemudian diungkapan dengan caranya masing-masing,
semisal memberi salam atau pun dengan cara lainnya.Dengan menyampaikan rasa
hati seperti itu, pratanda mereka saling bersimpati atau mencintai satu
terhadap lainnya.
Godo rongon ripa ira,merangkan di celah-celah rerumputan, Ira,
sejenis rumput ilalang dengan kedua sisi daun yang tajam. Dapat pula dimaknai
sebagai anjuran untuk berhati-hati, selalu waspada dalam melakukan sesuatu,
apalagi jika seeseorang dalam situasi yang sangat mengancam keselamatannya.
Larik itu kemudian dilanjutkan dengan, sile ira dira lima, yang bermakna jika
tidak waspada akan tangan ataupun badan akan tersayat daun yang tajam tersebut.
Lamen hai wain blaan,
Bati rani poto plikut. Secara harfia bermakna siapakah remaja putra yang
bernyali, memotong bambu untuk dijadikan tangga pada pohon lontar agar dapat
menyadap nira. Lebih bermakna siapa lelaki ( muda ) yang rajin dan bernyali,
akan sanggup menggapi cita atau keberhasilan. Ibarat seorang penyadap nira
pohon lontar, akan mendapatkan nira tetapi ia harus memanjat dengan menggunakan
tangga dari bambu yang ditambatkan setinggi pohon lontar.
Dan masih banyak lagi
larik-larik padat makna dari baobala.
Diksi baobala, tidak sekedar puitis dan bermakna simbolis,
tetapi mengajarkan tentang kehidupan. Memberikan nasehat sebagai suluh hidup di
negeri warisan leluhur. Setidaknya, mewariskan petuah leluhur bagi anak cucu
dalam menata kehidupan.
Kupang, 30 Oktober
2020.M

Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!