cerpen BERCAK DI SELENDANG IBU

 Cerpen:

BERCAK DI SELENDANG IBU

( Cerpen: Joni Liwu )

 

            “Keluar! Keluar sekarang!” desak  Densi.  Vena yang belum berpakaian itu pun menjauh. Entah apa gerangan yang membuat Densi begitu marah pagi ini, sedangkan Vena harusnya sarapan dan ke sekolah .Vena melirik jam dinding dari celah pintu belakang rumah pengampuhnya itu. Pukul lima lewat lima puluh menit, sekitar 30 menit lagi dia harus  mengikuti apel pagi di sekolahnya. Kepada siapa ia harus memohon agar  Densi  tidak lagi mengusirnya.

            Sejak semalam, Densi, kakak sepupunya itu juga memarahi orang tua kandung. Vena memanggil kedua orang tua itu opa dan oma. Vena sangat mengenal kakak sepupunya tersebut.Ia jebolan fakultas sastra salah satu Perguruan Tinggi di tanah  Jawa. Setelah menyelesaikan studinya, ia  kembali  ke kota ini bersama orang tuanya. Kakaknya yang sulung masih melanjutkan studi magisternya. Sekarang pun Densi telah bekerja sebagai seorang guru pada salah satu SMP di kotaku. Vena yang sudah tiga tahun bersama opa dan oma, telah dianggap sebagai adiknya sendiri. Apalagi semenjak Densi dan kakaknya berkuliah di luar daerah, Vena menjadi satu-satunya anak yang selalu memperhatikan, membantu kedua orang tua Densi.

            “Ini bajumu  dan segera angkat kaki dari rumah ini!”  suara Densi yang menghardik , mengagetkan Vena.Tapi steleah itu, ia pun menerima baju seragam hitam putihnya dan sebuah kantong plastik dari tangan.Sepanjang hidupnya apalagi sejak kecil, ia tak pernah dihardik seperti itu. “Apakah ini gerangan kiamat bagiku di rumah ini?” gumamnya.

            Tadi, setelah dimarahi Vena menjauh dari kakaknya itu. Ia kini   menuju ke dapur rumahnya. Dapur itu berjarak beberapa meter dari rumah induknya. Tatapan haru Vena pada Densi ketika  menerima baju seragam hitam putih dari Densi.Vena berharap kalau-kalau Densi mengurungkan niatnya. Ternyata, sebaliknya. Densi masih marah, dan sangat marah.Tapi apa persoalan yang menggeorogoti hati Densi sehingga ia begitu marah. Bagi Vena, itu bukan urusannya. Penting baginya, ia harus menyelesaikan pendidikannya di SMP yang tinggal sebulan lagi.

            Dibukanya kantong plastik sebelum mengenakan baju seragamnya. Di dalamnya terdapat beberapa potong pakaian yang dibelikan mamanya di kampung halaman. Ia ingat betul empat potong baju juga beberapa rok.Vena tdiak selalu menggunakan baju-baju tersebut, karena opa dan oma yang kini menjadi pengampuh telah membelikan beberapa potong baju dan celana untuk keseharianya di rumah. Tetapi di antara beberapa baju dan celana, pada kantung paling bawah terdapat sebuah kain selendang. Kain itu tenunan ibu di kampung halaman. Ketika ibu mengantarnya ke kota ini, kain ini paling terkahir disimpan ibu.

 

 

            “Ini... jaga baik-baik. Ibu tahu, kain ini sangat kecil, tidak cukup menyelimutimu, tetapi akan hangat terasa,” pesan ibunya sambil merapihkan sarung tersebut dan disimpannya pada bagian paling atas tas pakaiannya.

            “Kamu harus patuh pada opa dan oma, dan merekalah orang tuamu di kota nanti,” Vena melihat mata ibu berkaca. Ia merindukan ibunya, tetapi juga opa dan oma sangat mendambah kehadirannya. Tidak ada yang bisa membantu, apalagi memperhatikan opa dan oma di kota . Karena itulah ibunya juga merelakan Vena ke kota.Apalagi di kampung ibu masih bersama kakak vena.

            Mata ibunya yang berkaca, satu per satu menetes. Lebih lagi ketika ia memeluk Vena, putri keduanya sambil berkata, “ Jika kamu merindukanku, singkapkan selendang ini dalam tidur malammu,” kata ibunya perlahan dan terbata-bata. “Jangan lupa doakan ibu”, lanjut ibu.

            Vena tak sanggup membendung keharuan rasa. Keduanya menumpahkan kesedihan dalam tangis.Tangisan yang menguatkan, tangisan untuk masa depan Vena, tangisan yang sangat meneguhkan Vena agar bisa meraih impian.

            Vena membuka keharuan rasa bersama ibunya tiga tahun silam. Dijamahnya selendang bermotif daerah tersebut perlahan. Ia agak menepi ke sudut dapur agar tak kelihatan kakanya Densi, juga opa dan opanya. Hatinya terpaut pada selimut itu.Ia ingat kalau ibu menghendakinya untuk mengenakannya pada malam hari, tetapi saat ini ia sangat mengharapkan kehadiran ibu. Ia ingin ibu disampingnya. Ia belum bisa berharap penuh pada opa dan omanya. Mereka kini bagai terdakwa. Siap menerima vonis dari seorang hakim yang bernama Densi. Batinnya tidak menentu,entah kepada siapa lagi harus ditumpahkan.

            Di sudut kamar dapur, dekat tepi tungku perapian, ia menyendiri. Suasana rumah bagai kota mati. Opa dan oma pun terdiam saja, belum suatu pun yang dilakukan untuk meleraikan anak kandung yang kini menjadi seorang hakim dikatator. Ancaman Densi pada opa dan oma masih diingatnya, yakni kalau mereka tidak segera keluar dari rumah, ia akan membakar rumah ini. Rupnya karena ancaman ini, ketiganya memilih diam seribu bahasa. “Biar waktu yang akan menyelesaikannnya,” bisik opa dna oma malam tadi ketika Densi marah membabi buta.

            Vena membetulkan sebuah batu  yang dijadikan tempat duduk dekat tungku perapian tersebut. Dipegangnya erat-erat kantong plastik merah. Perlahan-lahan tangannya mengambil selendang tenunan ibunya. Dibukanya perlahan. Motif-motif selendang tenunan ibu, mirip motif selendang ayahnya.

            ”Mungkinkah ibu menyesuaikan, agar aku pun selalu dekat dengan ayahanda”, gumamnya dalam hati,dan tanpa sadar ia telah menitikan air mata. Satu-satu tetes itu  membasahi pipi, terus mengalir hingga selendang ibunya. Bagai menautkan batin seorang ayah dan ibu. Derai air mata tidak saja membasahi seledang ibunya, tetap pada beberapa corak berwarna putih, bening putih air matanya menjadi bercak-bercak tak berbenruk.Pada selendang ibu ada corak, tetapi berbercak. Selendang ibu, mempertemukan mereka di tungku perapian. Matanya tak berkedip, tetapi sepanjang itu pula tangis lara bantin Vena tak pernah henti.Ia tidak menutup tubuhnya dengan selendang ibu. Tapi ia biarkan, agar air matanya memasahi selendang ibu.Agar ia bisa menumpahkan kesedihan, kegalauan itu pada ibunya, melalui selendang itu.Ia menangis semakin menjadi kala batinnya ingin agar ayahnya menjadi pelindung  saat ia bersedih. Tapi kedua orang tuanya tidak di sini, di sampingnya.Namun kesedihan itu pun berakhir setelah ditumpahkan kegalauanya itu pada selendang ibunya. Ia merasakan kehangatan batin. Bagai ibu memeluknya dari kejauhan, bagai ayahanda mendekapnya agar tetap tabah walau derita bertubi.

            “ Ibu....di selendang ini, ada corak dan ada bercak.Di corakmu kubenamkan bercak ini sebagai janji wujudkan hasrat ibu. Kubenamkan hasrat dan cita pada bercak selendangmu. Corakmu telah mengantarku ke kota ini, dan bercak pada selendang telah  meneguhkanku,” Vena berhenti sejenak karena opa dan oma mendekatinya.Ia tersipu-sipu tetapi kedua orang tua itu mengetahui kalau ia sangat sedih atas kelakuan Densi.

            “Vena, kamu tidak ke sekolah?” oma membelai rambut Vena.

            “Hari ini saya izin oma,” sahut Vena sambil merapihkan selendangnya, hingga merapihkannya ke dalam katong plastik.

             ” Aku berjannji, besok aku ke sekolah,”  lanjut Vena tegas tanpa menatap opa dan omanya.

 

            Suara anjing yang menggonggong menyadarkan Vena jika ada yang hendak bertamu.

Ia berdiri hendak melangkah tetapi di hadapnnya telah berdiri seseorang yang telah menggoreskan hati hingga pahit yang dirasakan.

            “Aku minta maaf,”

            Vena kaget, ternyata Densi telah memeluk pinggannya, dan mereka kini berhadapan muka. Ia tidak bisa berpaling. Vena hanya tersenyum, damai menyentuh batin. Kegalauan rasa terobati. Densi, yang dibencinya semalam hingga pagi ini, bukan seorang pendendam.Vena menyadari itu,karena kakanya ini adalah seorang ibu guru, ia tentu menyadari kekurangannya.

            “Iya kak,’ jawab Vena lembut.

              Dirapihkan rambutnya, dibersihkan pula wajahnya yang lusuh. Ia menyimpan  dengan rapih kantong plastik berisi selendang ibu, yang telah menyiratkan makna bagi perjuangannya. Berjuang untuk menerjang  pahit dan getirnya hidup. Mungkin melalui badai ini, ia dapat  meneguk bahagia di hari esok. Dapat mewujudkan cita-cita hidup sebagai persembahan terindah bagi ibu yang telah menantikannya.

Bulan-bulan terakhir bersama opa dan oma menjadi waktu yang menautkan pedih mendalam baginya. Ia harus berpisah dengan kedua orang yang sangat dianggapnya sebagai orang tua. Ia lebih banyak mengetahui suka duka hidup bersama opa dan omanya. Rasanya ia tak sanggup berpisah dengan kedua orang tua tersebut. Tetapi ia juga tidak ingin kehadirannya menjadi orang tidak disukai kakaknya.

“Bagaimana kalau suatu ketika, kakaknya masih memperlakukan kedua opa dan omanya,” batin Vena dalam hati.

Ia mulai mengemas pakaiannya dan beberapa barang bawaannya. Ia akan melepas kenangan selama tiga tahun di rumah yang membesarkannya, mendeasakannya. Di rumah itu pula ia mendapatkan cinta yang tulus sebagai seorang anak, walau ia hanya dititipkan ibunya. Ia semalaman tidak bisa menutup mata hanya sekedar melepas lelah setelah siangnya ia membantu omanya membersihkan halaman belakang rumah yang dipenuhi sampah.

Sebelum meninggalkan kamarnya, ia sekejap menatap keliling. Masih tergantung di dinding tembok jadwal ujian akhirnya. Di sampingnya ia tempatkan foto kedua orang tua, opa dan oma. Kedua foto itu kemudian disimpannya dalam tas pakaiannya.

“Opa,oma, aku pamit,”

Ampat kata itu hampir tak sanggup diucapkannya. Ia melihat omanya yang sedang merapihkan karu bakar di tungku perapian. Sambil mengipas-ngipas, ia menatap lembut Vena yang kini sudah ada di depannya.

“Kamu hendak pergi?” jawab oma.

Vena memeluk oma.Tangis oma dan vena pecah. Dinding-dinding dapur yang mulai lapuk itu menyaksikan tangis keduanya. Betapa kebersamaan selama tiga tahun ttelah menjadikan Vena sebagai anak kandungnya. Tetapi mungkin derai air mata akan mengantar kesuksesan Vena.Oma merelakan kepergian Vena agar bisa membahagiakan ibunda yang sedang menanti. Vena melepaskan pelukan oma, menjinjing tas pakaiannya. Di depan rumah telah menanti sebuah motor ojek yang akan mengantarnya ke terminal.***


Komentar