COVID 19
COVID 19, MENDULANG
HIKMAH
( Oleh: Y. Joni Liwu, S.Pd )
Covid-19, kata yang menjadi tranding topic hampir di
semua media, entah cetak maupun on - line. Tak sedikit melalui media sosial
makhluk sejagad ini menulis tentang nama nan misteri tetapi juga horor itu.
Covid 19 yang kemudian bermetamorfosis menjadi pandemi lalu melumpuhkan hampir
semua kegiatan manusia, khususnya yang berinteraksi secara langsung. Rumor awal
soal tertularnya seperti melalui sentuhan antarmanusia, melalui benda-benda
tertentu, menjadikan pandemi yang teridentifikasi di Wuhan Cina Desemeber 2019
ini pun semakin menakutkan. Dunia,
melalui Badan Kesehatan Dunia ( WHO ) pada Rabu 11 Maret 2020 menetapkan coronavirus 2 ( SARS –COV-1 ) sebagai pandemi.
Pernyataan resmi itu tentu saja memantik kebijakan
pemerintah agar lebih memperhatikan faktor kesehatan masyrakat dibanding
kebijakan-kebijakan lainnya. Sebagaimana
terlihat dari anjuran untuk bekerja di rumah, belajar di rumah. Atau
bahkan imbauan mencuci tangan, mengunakan masker, social distancing, dan
physical distancing. Walaupun demikian,
imbaun-imbauan ini seperti belum menjadi sesuatu yang sangat penting,
lantaran belum satupun warga Indonesia tertular virus mematikan ini. Seluruh
masyarakat Indonesia baru mulai membuka mata setelah pemerintah Indonesia berhasil mengevakuasi 238 mahasiswa
Indonesia dari Wuhan, China, pusat penyebaran virus corona. Bahkan ancaman itu
semakin menakutkan kala pemberitaaan bahwa virus corona telah menulasr ke 160
negara.
Bagaimana dengan Indonesia? Presiden Joko Widodo
pada pekan pertama Maret baru mengatakan bahwa dua warga negara Indonesia
positif virus corona. Dua WNI itu terungkap tertular setelah menjalin kontak
dengan dseorang warga negara Jepang.April 2020, covid 19 semkain mengganas. Update penyebaran virus Corona (COVID-19) di Indonesia
hingga pekan terkahir Mei terdapat 21.745 kasus positif yang terkonfirmasi,
dengan 5.249 pasien COVID-19 (24,1 persen) sembuh, sedangkan 1.351 orang
meninggal (6,2 persen). Sementara itu, di seluruh dunia, total terdapat
5.326.230 kasus positif virus Corona. Dalam 24 jam terakhir, terdapat
peningkatan 949 kasus positif baru di seluruh Indonesia. Dengan demikian, dalam
3 hari terakhir, sudah dua kali terdapat lonjakan lebih dari 900 kasus
COVID-19. Secara keseluruhan terdapat 49.958 ODP dan 11.495 PDP di 399
kabupaten/kota dalam 34 provinsi seluruh Indonesia. Di NTT, data pada pekan
terakhir pasien terpapar covid 19 dan dinyatakan positive corona 76 orang,
sembuh 6 orang dan meninggal 1 orang. Sebuah ancaman terhadap
keselamatan hayat hidup orang banyak yang tidak dianggap main-main atau
setengah hati dalam penanganannya. Negara harus menggelontorkan dana sebesar Rp
405,1 triliun untuk menangani virus zoonosis ini. Apalagi manausia dalam
kehidupannya dapat pula berinteraksi
dengan hewan, di mana virus yang bersifat zoonosis ini dapat ditularkan dari
hewan ke manusia.
Learning From Home dan Work From
Home
Situasi
yang mulai mencekam pada pertengahan Maret 2020 ini seolah membuat orang lari
tunggang langgang hampir di berbagai lini kehidupan manusia. Sektor pedidikan
misalnya, hajatan nasional sekolah UNBK harus dibatalkan. Persiapan Ujian Nasional Berbasis
Komputer ( UNBK ) di SMP di antaranya ,yang
hari-hari itu diamunisi dengan les atau
pembelajaran tambahan harus berhenti total. Oleh karena belum ada kepastian
pembatalan UNBK, tentu saja kepala sekolah dan guru-guru harus memeras otak
untuk melakukan pembelajaran di tengah ancaman virus. Belum lagi larangan berkumpul membuat guru mencari jalan
terbaik untuk melakukan pembelajaran dari rumah. Guru kelas IX tentu saja
kerepotan mempersiapkan peserta didik bila UNBK tetap diaksanakan. Namun
perjuangan para guru kelas IX beringsut
pudar, kala Menteri Pendidikan Mas Nadim
mengumumkan pembatalan UNBK untuk semua jenjang pendidikan. Hal itu memang sangat berdasar, karena kesehatan
menjadi hal utama dan pertama dalam kehiduan dibanding yang lainnya. Walau
sebenarnya pembataan itu mengecewakan kerja keras tiada henti para guru yang
tekah mempersipakan peserta didiknya ke medan laga, UNBK. Mendkibud lebih
mngedepankan keselamatan hidup dibanding UNBK yang hanyaalh sebuah alat ukur
terhadap kemampuan kognitif peserta didik. Bukankah korban yang berjautuhan di Cina, Italia
dan negera-negara lainnya itu sebagai
bukti akibat kelalaian manusia karena
tidak mengindahkan ajuran pemerintah?
UNBK boleh dibatalkan tetapi pembelajaran untuk peserta didik
lainnya semisal kelas VII dan VIII di SMP serta X dan XI di SMA tetap dilakukan.
Guru-guru berupaya semaksimal mungkin dengan sumber daya yang ada, dengan ide
kreatif dan dengan formatnta masing-masing harus melakukan pembelajaran. Sebagai
sarana yang mudah digunakan adalah
melalui gadget. Dengan sarana tersebut, setiap guru mata pelajaran atau wali
kelas membuat group pada salah satu media sosial yang digunakannya. Melalui
gadget guru dapat menggunakan beberapa
aplikasi yang bisa diunduh dari melalui aplikasi playstore di gadget seperti
zum, whatshap, facebook. Al hasil, guru dan siswa dapat bertatap muka dalam
pembelajaran secara daring ( dalam jaring ).
Dalam
menilai kompetensi keterampilan peserta didik, guru dapat menggunakan melalui
video pembelajaran. Atau bahkan peserta didik dapat membuat video tutorial,
selanjutnya video tersebut dikirim ke guru mata pelajarannya atau guru kelas.
Pembelajaran yang menarik, karena peserta didik lebih kreatif di rumah dengan
bimbingan orang tua. Hari- hari pertama sangat bersemangat, tetapi bukan tidak
mungkin perasaan bosan dan melelahkan mulai menggerogoti. Peserta didik dengan
beberapa pekerjaan, entah soal - soal maupun tugas lainnya, seolahmenyita
waktunya untuk beristirahan. Belum lagi tugas yang diberikan guru tanpa
memperhitungkan cakupan tugas dari
guru-guru lainnya. Guru-guru pun tentu sangat disibukan dengan rugas
siswa yang harus dibaca atau dikoreksi. Parktis hari-hari pandemi menjadi waktu
yang tak terbuang. Belajar dan mengajar di rumah itu pilihan.
Namun ada pula cerita miris kala
pembelajaran online sedang giat dilakukan. Terdata pulam peserta didik yang
tidak memiliki gadget dengan beberapa aplikasi untuk pembelajaran. Tentu saja,
data tentang kepemilikan gadget itu harus teridentfikasi lebih awal agar guru
mencari solusi dalam pembelajarannya. Maka terhadap pserta didik yang belum
beruntung memiliki gadget tersebut, guru dalam keredahanhati alaias iklas
dengan semagat pengabdian harus mengnunjunginya dari rumah ke rumah. Kunjungan dalam kontek pembelajaran tersebut
harus pula mengikuti provid alias protocol covid, menggunakan masker dan jaga
jarak.
Keprihatinan tidak saja pada peserta didik yang tidak
memiliki gadget, tetapi juga pada peserta didik yang memilki gadget namun tidak
memiliki paket data. “Data” dalam
dunia mobile melekat sebagai besarnya biaya yang harus dibayar dalam setiap
paket internet di dalam ponsel pintar. Kesulitan yang dihadapi guru dan peserta
didik berikutnya adalah soal kepemilikan data internet. Terhadap peserta didik
yang inipun harus diidentfikasi sehingga satu-satu jalan adalah
mengelompokkannya dalam pembelajaran dari rumah ke rumah.
Sebagai guru kelas IX tentu saja waktu tersaji cukup
banyak. Sesungguhnya sebanyak itu pula dimanfaatkan untuk belajar online. Saat
berlanglang buana di dunia maya misalnya, saya mendapatkan informasi untuk
belajar menulis secara online pada salah satu group whatshap, yang diprakrasai
oleh CEO Penerbit Delta Pustaka, Jombang, yang juga pemrakarsa Pusat
Pengembangan Profesi Guru (P3G ) Jawa Timur, Edy Lukman. Bersama para guru di
Indonesia, menghasilkan beberapa buku yang diterbitkan pula oleh Penerbit Delta
Pustaka.Beberapa karya sebagai antologi bersama. Di antaranya, Antologi Cerita
Penanda Sejarah LOCKDOWN, Antologi Puisi Pendanda Sejarah Surga Kaum
Rebahan, Antologi Pembelajaran Penanda
Sejarah Pembelajaran Daring ERA PANDEMI. Dan atas ketulusan hari seorang
penulis dan editor itu pula, Buku antologi Puisiku berjudul Mengembara di
Lautan Cinta pun diterbitkan. Pandemi covid 19, peluang yang tak pernah
kubuang, walaupun tak punya uang. Hatiku bergembira, melegahkan kerja
lanjutankuhari-hari ini mengedit cerpen siswa-siswi kelas IX yang hendak
diantlogikan. Bagian dari perwujudan program Literasi Sekolah yang telah
dilaksanakan di sekolahku setahun berjalan.
Belajar dari Si Bungsu
Masih tentang belajar dan bekeja dari rumah oleh
guru. Selain melalukan pembelajaran dari rumah, juga mempunyai tugas super
berat lainnya. Saya misalnya selain memeriksa jawaban dari soal-soal yang
diberikan kepada siswa ( sebelum pengumuman UNBK dibatalkan ), juga harus
mendampingi si bungsuku untuk belajar di rumah. Membantu memberi jalan menjawab
soal-soal yang diberikan gurunya, hingga menjadi seorang sutradara lantaran
siswa diharuskan membuat video pembejaran. Hal terkahir yang juga turut menjadi
pelajaran bagi saya, adalah pembelajaran tentang penggunaan SUM,
EVERAGE,MAX,MIN, dan COUNT pada program excel. Dalam analisis nilai yang sering
saya gunakan, adalah SUM. Ketika melihat contoh tutorial dari guru SD-nya, saya
mendapatkan hal baru tentang menjumlahkan, mencarir rata-rata nilai, menentukan
nilai tertinggi dan terendah, serta mengetahui berapa banyak peserta dengan
menggunakan cara sederhana di program excel. Hal sederhana yang diabaikan yang
kadang membuat seseorang mengidap virus gaptek alias gagap tenologi.
Terhadap pembelajaran di rumah, sejenak saya
membatin, betapa pandemi covid 19 telah memberi pengetahuan baru tentang hal mengoperasikan
program excel. Sebagai guru tentu program-program sederhana ini yang bisa
digunakan sebagai modal dasar dalam memberi penilaian atau menganalisis nilai.
Suatu hal yang mungkin sangat biasa bagi para guru yang sangat fasih
menggunakan computer, tetapi juga hal baru bagi guru-guru yang masih
samar-samar menggunakan program excel. Dan akhirnya si bungsu mengetahui
hal-hal dasar berhitung dalam program excel demikian pun bapaknya, yaitu saya. Antara
mengajar dan diajar jika diperhitung sama porsinya. Bapak mengajarkan kepada
anak, tetapi bapakpun secara sembunyi-sembunyi belajar dari anaknya.
Hikmah pandemi covid 19 tidak sampai di situ. Hal tak
terduga kualami di Bulan Mei saat umat katolik harus berdoa Rosario. Tentu
berdoa bersama dari rumah-rumah dilarang sebagaimana protocol covid. Doa yang
secara rutin terlaksana setiap malam itu, dilaksanakan di rumah masing.
Semenjak pertama memimpin doa Rosario, saya langsung membagi tugas memipin doa
kepada keempat anak-anakku. Dan tugas memimpin itu dilaksanakan bergilir setiap
malam selama Bulan Mei. Masing – masing
memberi argumen terhadap penugasan ini, semisal tidak biasa memimpin, sehingga
jika dilaksanakan pun akan mengganggu kekhusyukan berdoa. Lain pula dengan si
bungsuku yang masih di bangku SD kelas lima. Tanpa tedeng aling mengatakan
kalau ia tidak bisa.Sesuatu yang wajar, karena keluhan kakak-kakaknya
membuatnya kurang percaya diri. Namun, saya
tak habis akal. Saya hanya mengatakan,
apapun bisa dilakukan kalau seseorang tidakbisa berhasil melakukan
apapun kalau ia belum pernah memulai. Saya coba memberi perbandingan dengan
seseorang yang belajar bersepeda. Ia pasti jatuh bangun sebelum ia bisa
mengedarai sebuah sepeda dengan baik.Bahkan tidak sekali kusampaikan kepda
mereka berempat. Rupanya pernyataan ini menjadi jurus jitu menyentuh hatinya.
Hari pertama, anak gadisku yang di SMA menjadi
pemimpin.Walaupun terlihat kekurangan namun dapat dilakukannyadengan baik. Hal
itu sengaja kutugaskan kepadanya, agar dapat memantik kedua saduaranya yang kini
sedang berkuliah. Karena tertantang, mereka berdua pun akhirnya melakukan hal
yang sama, sebagai pemimpin doa sebagai peimipin Doa Rosario. Hal memimpin ynag
tidak pernah dilakukannya, bahkan jarang pula diikutinya. Terhadap si bungsu,
ada cara tersendiri. Sebagai reward atau
penghargaan, ia akan kuberikan sejumlah uang jika berhasil memimpin doa
Rosario. Spontan saja, sebelum berdoa, ia berusaha memahami teks panduan
memimpin doa yang telah kubuat sebelumnya. Walaupun masih terihat kekurangan,
karena pada beberapa bagian terlupakan, tetapi ia sanggup menyelesaikan tuhas memimpin doa. Suatu hal yang selama ini tidak
pernah dilakukan.
Masa pandemi Covid 19 telah memberi mereka peluang
dan ruang untuk belajar menjadi pemimpin. Ruang dan peluang itu ada di
rumah.Benar kata seorang pastor dalah homilinyam bahwa keluarga adalah seminari
terkecil dalam kehidupan. Seminari, tempat pembibitan sebagaimana makna
dasarnya, maka di rumah itu sendiri bermula bibit kepemimpinan.Bibit-bibit
kemanusiaan tumbuh dan mulai bermekar dari rumah. Covid 19 telah memberi hikmah
tentang arti cinta sesungguhnya dalam sebuah keluarga. Saling mencintai untuk
memperkokoh keselamat hidup teristimewa dari ancaman covid 19.
Suatu hal yang membahagiakan saya,
bukan saja karena mereka selalu berada di rumah, tetapi mereka belajar tentang
kebersamaan dan tanggung jawab, yang selama ini hampir terabaikan, hampir pudar
tersapu gelombang tekonologi maha dahsyat. Anak- anak dan remaja kita bahkan
terlena dalam pergaulan hampir tak terkontrol. Bahkan karena kelalaian orang
tua, mereka bak burung-burung pipit yang bertengger pada ranting rapuh di batas
kota, jika patah mereka mencari lagi ranting dan dahan lain untuk berteduh.
Masa pandemi covid 19, telah menyatukan sanak keluarga, dan meneguhkan
kepercayaan, baha sehat itu segalanya, sehat jasmani juga rohani. Hingga di titik
ini, semakin kupercaya bahwa bahwa keluarga adalah tempat terbaik untuk
berbagi. ( Penulis,
guru di SMP Negeri 13 Kota Kupang
)
***
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!