cerpen ENTAH KAPAN KUTAHU TENTANGMU
Cerpen:
ENTAH KAPAN, KUTAHU TENTANGMU
( Cerpen: Joni Liwu )
Hujan
kemarin siang, ternyata tidak menyejukkan. hawa panas seolah memanggang bumi.
Tanah Timor bak sabana pada kemarau berkepanjangan. Kemuning rumput pasrah pada
terik tak berbelas kasih. Tapi hujan kemarin seolah menguatkan hasrat. Beberapa
tumbuhan bertunas, walau hawa panas terus memanggang raga.
“Uh….terlalu!” gadis berbaju SMA gerutu. Ia terus
menaiki lantai tiga tempat pertemuan. Di ruang ber-AC itu sudag duduk beberapa
siswa lainnya. Ada juga siswa SMP.Mereka sedang menanti pertemuan membahas
teknik perlombaan.
“Kak,
kami lomba sinopsis. Kalau untuk SMA, apa jenis lomba?” tanya Margaret pada
gadis berbaju SMA.
“Loma bercerita,”
jawabnya singkat.
Mereka
kemudian sibuk dengan gawainya. Margaret, siswi kelas terkahir salah satu SMP
di kota ini terus membaca catatan kecil yang disiapkan gurunya ikhwal lomba
membuat sinopsis. Baginya, lomba ini merupakan yang pertama kali.Tetapi ia
tidak ragu karena hal menulis baginya sering dilakukan di kelasnya.
Ia masi ingat saat guru Bahasa Indonesianya, menugaskan
untuk membuat sebuah cerpen.Kala itu gurunya bercerita dongeng tentang
binatang. Kancil dan Buaya.
“Pernakah kalian mendengar cerita tentang kancil dan buaya?”
kata gurunya.
“Perna……,”jawab siswa sekelas serempak.
Gurunya
pun kemudian, menguraikan kecerdikan kancil memperdayai buaya hingga buaya tak
sempat memangsanya. Dan keliciikan kancil mnempatkan kancil sebagai binatang
cerdik pandai.
“Tetapi,
apakah kalian tahu, jika suatu ketika kancil menyesali perbuatannya?”
pertanyaan sang gurunya malah membuat semua siswa terdiam.
Mereka
tak pernah mendengar ending cerita
tentang permohononan maaf seekor kancil.Cerita gurunya ini seolah menyadarkan
mereka, bahwa akhir cerita itu disembunyikan selama ini.
“Dan apa
yang dilakukan kanci?”
“Ia lalu
membuat surat permohonan maaf,” lanjut gurunya menjelaskan.
Semua
siswa lagi lagi terdiam. Semua mereka dengan simpulan masing-masing tentang
bentuk permohonan maaf yang diberikan kancil. Lalu kepada bintang apa saja?
Dalam hati siswa sekelas itu muncul berbagai pertanyaan. Tetapi ada pula yang
usil bertanya dalam hati,”Apakah mungkin kancil memohon maaf?
Siang
terpanggang terik Oktober kini menyajikan seribu tanya.Walaupun demikian, tak
satupin siswa di kelas merasa gerah.Mereka ingin mendengar lanjutan ceriat sang
guru.
“Siapa
sajakah di antara kalian yang tidak pernah menipu?” tanya guru Bahasa
Indonesia.
Tak
satupun menunjukkan jarinya sebagai tanda setuju.
“Pernakah
kalian menipu?”pertanyaan Guru itu
seolah ingin mendapat kepastian.
Semua
siswa mengacungkan jarinya.Mereka sadar bahwa mereka pernah menipu. Bahkan
sepanjang hidupnya, tak terhitung berapa banyak orang yang ditipunya. Walaupun demikian,
sepanjang itu pula, mereka belum pernah menyampaikan permohonan maaf.
Gutru
Bahasa Indonesianya pun melanjutkan pertanyaannya.
“Di
antara sekian banyak orang yang pernah
ditipu, hanya ada dua orang yang sering Anda bohongi,”
“Dua
orang itu adalah ayah dan ibumu,”
Pernyataan
gurunya yang terkahir itu seolah membius seluruh siswa. Terlihat di
wajah-wajahnya, mereka seolah mengurai jumlah dan jenis kebohongan.
“Mungkinkah
Anda pernah menyampaikan permohonan maaf keapda kedua orang tuamu?”
“TUgasmu
sekarang adalah menulis sebuah cerita, dan isi cerita itu adalah permohonan
maaf kepada kedua orang tuan ynag oernah Anda bohongi,”
perintah sang guru agar kamu bias menulis cerpen.
Margaret
hanya terdiam. Dari tatapan, ia seolah sedang menerawang. Dan ia memang sedang
memikirkan seseorang yang tak pernah ada bersamanya. Dan seorang yang
dipikirkan itu adalah ibu kandungnya. Sedang seorang sahabat semejanya terdiam
sambal mengatup tangannya. Matanya berkaca-kaca, lantaran ibu kandungnya telah
memghadap Sang Khalik semenjak ia di Sekolah Dasar.
“Sabarlah
sahabat, ia telah berbahagia.Ia kini sedang mendoakanmu,” nasehat Margaret
kepada sahabat karibnya itu.
“Tapi
saya harus menulis surat permohonan maaf kepada siapa,” tanya sahabatnya.
“Kepada
ibumu!” jawab Margaret.
“Surat
mu itu adalah sebuah cerita. Jadi tidak harus tersampaikan kepada ibumu,” imbuh
Margaret lagi.
Margaret
memang telah menasehati sahabatnya. Tetapi batinnya kini galau, soal ibu
kandungnya. Kini ia tinggal bersama neneknya. Sudah tiga tahun lamanya ia tak
berjumpa dengan ibu kandungnya yang jauh di tanah perantauan.Ia hanya mendengar
cerita nmeneknya, kalau ibunya kini berada di sebuah pulau Kalimantan.
Hari-hari ia melihat di peta kalua Pulau Kalimantan itu besar, tetapi ibuku ada
di mana. Dengan nasehat-nasehat neneknya, ia kadang tak perlu memikirkan ibu
kandung.Ia kini hanya berpikir menyelesaikan pendidikannya di SMP.Setelah
tamat, jika masih diberi kesempatan, ia akan melanjutkan ke SMA.
“Kamu
tidak menulis?” tanya sahabatnya.
Margaret baru
sadar kalau ia sedang memikirkan tentag sosok ibunya, sampai ia belum
menuliskan sedikit pun cerita yang ditugaskan guru. Ia bergegas menulis. Tapi
menulis permohonan maaf baginya sangat sulit karena ia ditinggal sejak Sekolah
Dasar.
“Dari
pada membiarkan ide ini?” Margaret bergumam
Ia lalu
menulis tentang kerinduan pada sang ibu. Entah kapan ia harus bertemu. Entah
kapan didekap ibunya sebagaimana seperti anak-anak lainnya, dipeluk inunda
sebagai anak kesesayangan, atau bahkan teman bermain, sebagimana
sahabat-sahabatnya yang lain. Atau
bahkan jalan-jalan bersama ibu kandung sekedar berbelanja atau lainnya. Ia
tumpahkan semua kerinduan di atas sehelai kertas.Ia merindukan segalanya, entah
tidur berdampingan, atau melihat ibunya tersenyum. Semua digoreskan dalam dua
halaman kertas.
Kupang,
Desember 2019
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!