ENTAH APALAGI

 

ENTAH APALAGI

( Joni Liwu, S.Pd )



Saya coba memilih judul ini untuk aktivitas keseharian putra-putriku di rumah. Bagi si bungsu yang masih tertatih di bangku Sekolah Dasar ( SD ) tugas terjadwal secara daring selalu disampaikan wali kelas.Ku perhatikan, ia pun menuntaskan tugas-tugas itu,kemudian menyisihkan waktu untuk berlari-lari atau bahkan bersama teman-temannya bermain mobil-mobilan. Setiap hari, ia pasti menanyakan tugas dari guru, entah karena takut, entah bertanggung jawab atas tugas, atau mungkin pula karena kedua alasan itu. Tapi bagiku tugas tersebut telah menumbuhkan nilai tanggung jawab bagi si bungsu.

Dengan belajar secara daring maka hampir halaman whatsap terlampir foto-foto tugas yang dikirimnya, juga teman-temannya. Bagiku, rutinitas ini mengurangi tugasku mengawasi langkahnya hanya untuk menjelaskan tentang social distancing. Memang sudah kujelaskan maksud tersebut, tapi rupanya 'masa bermain ' seorang anak lebih menguasai raganya, sehingga ia hampir atau belum sempat mewujudkannya. Maka kucoba menjelaskannya saat ia sedang mengerjakan tugas-tugas wali kelasnya.

”Kalau duduk-duduk sambil mengerjakan tugas ini seperti mengurangi aktivitasmu untuk bermain bersama-sama temanmu. Ini yang namanya social distancing.”

Ia diam, sepertinya memahami maksud penjelasanku.

Jurus selanjutnya untuk menghindari kerumunannya bersama teman-teman (setelah mengerjakan tugas) adalah memanjakannya dengan game online.Karena itu memang yang digemari. Saya menyadari terdapat sisi negatif terhadap game online, tetapi juga tidak memberinya peluang keluar rumah untuk sekedar kumpul-kumpula bersama temannya. Sangat sulit membendung keinginannya untuk bermain bersama teman-teman di rumah teman-teman tetangga.

“Apa bedanya bermain bersama teman-teman di rumah teman, jika tinggal di rumah pun tidak bermain game online,”demikian jawaban menohokku ketika dijemput kakaknya suatu hari setelah magrib.

Aku lalu berpikir, selain jurus game online mungkin perlu kegiatan-kegiatan positif lainnya yang mesti diberikan.Semisal komik yang sangat digandrunginya.Tetapi hari-hari ini menjadi sangat sulit walau hanya untuk bepergian ke took buku.

Hari-hari selama seminggu lebih ini, saya hanya berharap tugas-tugas akan menyita waktunya, agar ia lebih menggunakan waktu untuk mengerjakannya selain mencari jawaban-jawaban melalui google.Tetapi itu juga tidak adil karena ia juga memiliki waktu sepenuhnya untuk sekedar bermain-main di masa-masa kecil ini.

Ada hal lain yang dikerjakan sehingga ia tidak beranjak dari rumahnya.Ia merangkai bungkus-bungkus rokok menjadi mobil-mobilan. Dengan demikian, beberapa peralatan seperti gunting, lem, dan tentu saja bungkus-bungkus rokok harus menjadi bahan dan alat. Aku teringat akan teks prosedur yang kuajarkan di sekolah. Baginya menulis sebuah teks tenu lebih sulit disbanding merangkai mobil-mobilan dengan kreasinya. Maka terbntuklah mobil balapan, dan jenis-jenis mobilan. Soal kualitas tentu diragukan karena bahan-bahan mudah hancur kena air, tetapi dari aspek kreasi, ia tentu mampu mewujudkannya berdasarkan imajinasi. Pengalaman indrawi telah membantunya untuk menautkan segala yang terpikirkan menjadi berbentuk atau berwujud. Dan tentang permainan anak-anak, tentu yang tersisa di sekitarnya adalah sampah-sampah. Maka yang terakhir itu akan menjadi tugasku.


Kamar literat

Berbeda dengan si bungsu, putriku yang di bangku SMA malah menjadikan kamarnya sebagai kamar literat. Semula kucoba menebak jika ada pohon literasi sebagaimana yang ada di kelasku. Ternyata dugaannku salah. Kertas –kertas putih dibentuk berbagai wujud sesuai selera. Pada kertas-kertas itu tertulis apa saja yang disukainya. Tulisan-tulisan itu dari ide, sehari,semalam atau bahkan yang sedang terpikirkan. Sangat banyak tak terhitung, ditempelkan berbaris agak estetis, menghiasi keempat dinding kamarnya.

Sekilas tak bermakna,apalgi jika pembaca tak memiliki niat mencermati satu per sartu, tetapi jika terbaca maka akaan terlihat sejumlah ide. Dirangkaikan setiap tulisan, bukan tidak mungkin ide-ide itu mengisahkan tentang sesuatu. Tentang kisah hidup, tentang perasaan hati, atau mungkin tentang masa depan. Bagiku, ide menjadi penting dalam kehidupan.Hari-hari ini, ia hendak memaparkan ide.

“Bahwa di kemudian hari akan terwujud salah satu dari mimpi-mimpi itu, yang walahu alam, Puji Tuhan, Tuhan memberkati,” gumamku dalam hati.

 

Ia tidak saja menuangkan gagasan melaui tulisan-tulisan singkat, ia bahkan menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk gambar-gambar. Lucu, indah, menarik dan berkesan. Itulah yang terbaca dari gambar sebesar kertas HVS. Bahkan wajahku dengan baju bermotif dituangkan dengan penuh estetis, maka terpampanglah fotoku di kamarnya, di antara gambar-gambar lain. Aku tersenyjm sejenak saat mengamati gambar wajahku sambil menggeleng-geleng kepala, betapa ia memiliki kecakapan melebihku, yang mampu mengagumi setiap lukisan.

Ada pula gambar dirinya, gambar-gambar kudus, juga wajahnya dengan berbagai pose. Luar biasa, indah, menghiasi kamarnya. Mungkin saja kedamaian memenuhi rongga jiwanya, kala ide berhasil diwujudkan dalam gambar-gambar-gabar dari tangannya sendiri, dengan alat-alat sederhana. Ia memang sedang bermimpi. Tuhan memberikan manusia daya kreativitas sehingga bisa melahirkan ide-ide baru yang akan berguna untuk kehidupannya sehari-hari. Hal tersebut sangat beralasan karena kreavitas adalah ide, cara atau gagasan baru yang kamu gunakan atau miliki untuk memecahkan suatu persoalan. Ia telah menuangkan kerativitasnya, entakah menjadi wujud hari esoknya?

Memasuki kamarnya, kita disuguhkan dengan bercorak gambar hitam putih, juga tulisan-tulisan pendek, singkat namun bernuansa literasi. Masa krisis corona membawanya ke alam imajinasi. Dengannya ia berkontribusi terhadap mewabahnya covid 19, paling tidak memutus mata rantai virus menakutkan tersebut.Akupun tetap berharap hari-hari selanjutnya, masih memberinya ruang untuk berkreasi, dan aku mesti memberikan penghargaan sekecil apapun.

Fantastis

 

Pada putraku yang masih berlelah di bangku kuliah lebih mengintensifkan kreasi seni ( seni lukis) di masa-masa krisis corona. Ia memang telah mewujudkan kreasi seninya sejak bangu SMA. Tidak untuk dipublikasikan tetapi minimal untuk dirinya sendiri. Baginya, bukan saja kertas sebagai sarana, dinding tembok baginya merupakan tempat ideal. Maka wujud gambar apapun disesuaikan dengan seberapa ukuran tembok kamar. Pencinta seni tentu melihatnya sangat simetris, antara lukisannya dengan luas dinding temboknya.

 Ia menyadari tentang kelangsungan hidup sepenuhnya di tangan Tuhan. Maka di salah satu sisi tembok kamarnya, ia mengabadikan wujud Tuhan Yesus. Mungkin baginya, otak dan otot , budi dan body, serta segala kerativitasnya tentu anugerah Ilhai Sang Kuasa, sehinga daripada-Nya- lah ia mengeksprsikan segala sesuatu. Maka pada salah satu dinding tembok kamarnya, dikhususkan bagi Sang Penguasa, yang ia wujudkan melalui lukisannya.

 

Tersisa di dinding-dinding lainnya, adalah segala yang terpikirkan, di alami, dimaklumi sedang menyentuh hati dan pikirannya. Diabadikan melalui daya imajinasi, diwujudkan melalui tangan-tangan kreatifnya. Maka yang terwujud adalah gambar-gambar artistik. Lukisan-lukisan tersebut menohok setiap yang memandangnya.Ia hendak meyakinkan, bahwa gambar-gambar tersebut mewakili dirinya, sebagai sarana berkomunikasi dengan siapapun. Jika diceritakan tentu terjalin sebuah persitiwa yang bermula dari semua yang dialami, dirasakan. Dan tentu tokoh utama adalah dirinya.

 Mereka telah berliterasi dari kreativitasnya, bahwa hari-hari dalam social distancing dan physical distancing, tidak memberi mereka kegalauan rasa. Bagi mereka, waktu yang tersedia, sangat cukup baginya untuk mengomunikasikan ide atau gagasan tentang sesuatu. Mungkin pula baginya hal ini adalah perwujudan berliterasi. Berliterasi tentang cita-cita, masa depan, tentang lingkungan atau bahkan mewakili tentang dirinya.

 Mereka telah mengajarkan saya hal kecil bahwa pekerjaan akan terasa menyenangkan dan mengasyikkan jika diupayakan dengan daya kreativitasmu.

Kupang, 30 Maret 2020.

 

Komentar