GERAH

 

GERAH

Semua tengadah
Tak sanggup meludah
Dari intaimu di kelam misteri,
Hanya hati tetap tengadah
pinta restu mohon lindung
Hempaskan durjana
Enyakan malang.

Badai bumi gerah di hati
Memangsa insan tak bercelah
Lumat raga tak berdosa
Sedikitpun tak tersisa ampun
Ringkih batin tak bertepi.

Pekat hari jadikan rezeki
Hati bertaut di rumah sendiri
Duduk semeja tautkan rasa
Cinta bersemi
Kan langgeng biduk di tengah badai
Di muara kasih melimpah.

Ahad ini ikhtiar bertalu
Dari semua karsa di meja altar
Tersemat hari dalam kidung agung
Lindung jiwa bebaskan raga
Lepaskan gerah tak renggut insan
Karena hari siang berawan cerah
Tak ingin mendung kelabui cita.   (
Kupang, 26 April 2020 )

PASKAH TIDAK MEMAKSA

 

Pun hari ini, galau tak lepas

Mentari pagi jadi seberkas harap

Harap enyahkan monster hendak membunuh

Dari kemarin hingga nanti.

 

Di sini kami terpekur

Katup katup dan tengadah

Dalam tarik nafas berharap bebas

Agar kaki ini dapat melangkah

Agar tangan ini dapat mencencang

Pun bahu bisa memikul ikhtiar

Memikul asa semua.

Kami pasrah,

Menantinya berlalu

Sejenak pun tak memaling.

 

 

Dentang lonceng di senja menjelang

sepi mencekam, tak terdengar litani

Puji paskah, gemakan bangkit

Puji paskah gemakan semangat

Puji-puji itu tak terdengar walau pada semilir.

 

Di sini, di rumah ini,

kerlip lilin hantarkan batin sendu

Hanyut dibuai doa khsusuk penuh berlinang

Pilu melumuri hati bermada

Agungkan karsa, agungkan bangkit-Nya

Di rumah ini.

 

Di sini, di rumah ini, Paskah tak memaksa

Paskah hanya serumah, rumah tebar kasih dari hati

Rumah tautkan cinta terbuai.

Paskah, sanjungkan selamat

Selamat dunia

Selamat akhirat.

Paskah sanjungkan namamu

Paskah berimu teduh

 

Bebaskan debu bernoda

Syukurlah selamatmu kini dan esok

karena tobatmu berimu selamat.

 

Paskah, tidak memaksa.

 

Kupang,13 April 2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rest In Peace

Terik ahad ini jadi mendung senandung duka
Gemuruh batin degup hati lepas kepergian
Jauh....ke singgasana abadi
Tertinggal petuah beri kami teguh
Agar biduk tak terhempas
Agar jalan berliku dan peluh jadi ikhtiar raih senyum.

Derai tangis bukan karena matamu terpejam selamanya
Karena hati masi berharap petuah
Selalu menanti jamah doamu
Agar tak terhempas badai sepanjang musim
Agar bidukku gapai nusa.

Degup ini himpit galau
Namun namamu abadi di jalan kami
Di rumah kami.
Sendu batinku tak sanggup mengeja terima kasih.
Kusantunkan dalam pejaman mata abadimu
Di sana doamu kan teguhkan
Doamu abadi hingga takhta surgawi
Hingga malaikat surgawi menjemput.

SELAMAT JALAN, di pintumu nantikan kami.

 

RIP Bapak Agus Beny Horang.

 

 

GEMBALA



Di Minggu Panggilan ini

Kami mendengarkanMu dari rumah kami

Melihatmu dengan jiwa kami;

Rindu memasuki pintuMu sambil mencelup jemari di air terbekat,

Menandai tanda keselamatan

Hikmat dan nikmat itu, menyepuh rindu berminggu

Aliri dahaga batin.

Rindu menatap altar suciMu dalam diri Imam berjubah putih

Rindu bersahut-sahutan berlitani,

bermada agung, seruhkan syukur sembari memohon.



Di Minggu panggilan ini,

Hangat jiwa karena sabda jadi gembala tak kenal lelah

Gembala tak mengejar pangkat, tetapi memberi dan mendulang kasih.



Jadi gembala melayani dan siap menderita

Jadi gembala tanpa pamrih

Gembala rendah hati tak mengejar popularitas

Gembala yang memberi dari kekurangan, bukan karena kelebihan.

Jadi gembala berbagi rasa: Sama-sama berbagi, entah suka pun duka.



Gembala nan agung,

Di pekan panggilan ini, kami rindu bertelut menerima tubuh roti hidup

di ruang sempit saja, sekeluarga saja

Tapi Roti HidupMU hadir, hangatkan jiwa,dan kami terus bermada dala sura lirih

walau raga miris dalam kungkungan covid menebar ancam

merenggut raga.



Di pekan panggilan ini,

Rindu tak terperih kidungkan munajat selaksa: hempaskan virus membelenggu, jauhi amarah dan dengki dari buana damai

Selamatkan dunia agar buana hati tenteram,

agar kaki pun dapat melangkah arungi dunia nan nan misteri,

Agar pula di rumahMu, kami bermadah bersama'

Meretas dunia maha luas,

seluas rencanamu bagi kami.



Kupang, Minggu Panggilan, 03 Mei 2020

 

 

 

 

 

 

GEMULAI

 

Gemulai suara mendayu

Menohok batin sendu

Pilu kenang dusun lewo

Rindu bunda, sanak sahabat

Kenang mereka pada tanah kelahiran.

 

Rindu  kisah kabut embun Boruk Tanah Bojang

Rindu petani kampong pada hamparan sawah membentang.

Tembangmu telah kisahkan lagu anak kampung masa kecil

Masa indah di negeri permai.

 

Pada ngaraimu Boru Tanah Bojang

Masih kuingat  asri kopi menghijau

Torehan indah sejauh memandang: Hokeng- Boru

hingga ke tepian gemericik sungai

yang selalu kudekap damai,

di hati ini.

 

 

Salam untuk Oa Il Liwu & Gitaris.

 

 

 

 

 

DURJA

 

Raga menampik lelah

Tapi tubuh butuh rihat

Tak pantas menimbun lelah

Sekali waktu luangkan rihat

Lunjurkan telapak kaki,

Teguklah segelas nira

Sadapan dari lelah berpeluh

Legahkan dahaga, raga terpuaskan

Bahwa di tanah kerontang ini,

Dedaunan hijau lontar telah beri nyawa

Telah hidupkan beribu insan.

 

Di nusa kerontang tak berujung ini pula

Seribu janji disulam, agar rimbunan nyiur dan lontar kan asri

Hidupkan beribu sanak dari niramu

Hidup tanpa keluh dari, gula air, sopi, moke

Berpadu jadi satu: nikmat dari Sang Kuasa

Agar rimbunan kelapa janganlah musnah

Agar hijaumu Nusa Lontar jadi mozaik

Berseri di negeri tetaplah elok, bukanlah durja.

 

Kupang, 13 Mei 2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TAK LAGI RINGKIH

 

Penghujung hari tidaklah mendung
Tlah tersingkap karya agung
Litani syukur selalu didengung
Ikhlaskan karsa jangan termenung.

 

Rebana batin selalu ditabuh
Akan kerja di tanah berpeluh
Atas semangat tak pernah rapuh
Sehingga raga tak lagi lesuh.

 

Penghujung hari untukmu Bunda
kidungkan doa dalam balada
Dari hormat dalam dada
Tan akan ringkih karena sabda.

 

Kupang, 31052020

 

 

 

 

 

 

HIKMAH

 

Kebunmu  tlah menyapa

dengan sahajamu, bukan kemewahan

iklas merangkul

Rekatkan sahabat bukan saudara

Satukan beraneka jadi Satu

Senasib, 

serasa di negeri rantau.

 

Sibak congkak pun fanatis

Sibak angkuh tanpa membedakan.

Di tanah nan cadas

Telah suburkan ikhtiar

Bahwa jalan sehasta harus disyukuri

Nafas sehari bahagia tak terkira.

 

Dedaunanmu tak akan meranggas

Pucuk dan buah kan berimu hidup

Karena di tanah berpeluh ragamu berlelah

Insanmu raup hidayah

Pun untuk sesama sanak

Hingga nafas, entah hingga kapan.

 

Fatuteta, 31 Mei 2020

 

 

 

 

HONOR

Bukan babu tetapi inovator

Bukan penonton tetapi fasilitator

Bukan pesuruh tetapi inspirator

Bukan penerima tetapi konseptor.

 

Di depanmu galah harus dijinjing

Kan retas kebodohon,

Dongkrak kualitas

Dan itu ikhtiar bersama.

 

Tebarkan semangat abdi

Karena tetang nasi dan nasib telah ada yang menata.

Jangan sungkan, jangan pula acuh tak acuh,

Karena langkahmu telah ada yang mengatur.

 

Hari ini,

halau gelap batin selimuti ragamu lalu gontai.

Hari ini singsingkan lengan baju

Jangan terlena lagi terbuai zaman.

Di jalan terpilih, tak ada pilihan

Hanya asah, asih dan asuh

Untuk generasi bangsa,

Agar mereka kan rengkuh sumringah;

dan abdimu didengarkan-Nya.

 

Kupang, 27 Juni 2020, pada diskusi Secangkir Kopi bertajuk guru Honorer yang Selalu Terlupakan, oleh Media Cakrawala NTT)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MENAKAR

 

Dua puluh delapan penghujung Juni
Dua puluh empat tahun di hari ini
Dua raga satu insani
Hidup sehasta dijalani
Pahit getir jadi litani
Kidung hidup kami bernyanyi
Agar ratap dan kertak tak bersembunyi
senyum tawa jadi janji
Ikhtiar jadi bakti
Kan setia sampai nanti.

Syukur pada Sang Ilahi.

 

Kupang, 28 Juni 2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DENTANG

 

Empat bulan berlalu

Dentangmu berlalu

Harap teguh diterpa angina berlalu

Kilaf salah di kalbu menyembilu

Tulang sendi terasa nyilu.

 

Pagi ini dentangmu bertalu

Jiwa-jiwa berdegup selalu

Kan sujud pujimu selalu

Hanya pasrah mendengar palu.

 

Kupang, 05 Juli 2020

Dentang lonceng gereja pertama di new normal

 

 

 

 

KEMARIN

 

Setahun berlalu

Langkah tak ragu

Hanya seminggu

Dan tak lagi menunggu;

Karena dandanan bumi indah memagut

Memanjakan hasrat

Hingga Syukur ke hadirat.

 

Hasrat tak lagi dibelenggu

Rona hidup bak lagu

Kidungkan tanpa ragu

Hingga senja menjelang.

 

Kupang,06 Juli 2020

 

 

 

KIDUNG

 

Rindu mendekap jantung

Umbar sendu pada sepi memagut.

Rindu menyapamu di penghujung hari

Hendak belai rautmu, legam termakan usia

Pada tatapmu teguh, rajut hidup damai tak bertepi.

Entakah dengar rintih rindu?

 

Serasa kudengar tawa menyulam sendu berhari

Panjatkan litani seraya bersyukur

Rapal kidung di hari bahagia

Dan memeluk rasa, agar syukur tersantun di keheningan doamu.

 

Pada semilir membius sepih di ujung hari

Rebahkan sujud, agar lindungimu

Agar senyummu di hari ini

Tautkan suka semua hendak mengucap.

 

Pagi nanti semburat mentari

Kan semarakan sendu ringkih

Kan gemakan sujudmu berhari-hari

Hingga umur ditambahkan

Bahagia pun berlimpah.

 

 

Kupang, 06 Juli 2020

Selamat Ulang Tahun Ayahanda Mikh

 

 

RINAI SENDU

 

Gemercik air di tepian sungai

Mengurai bening hati, sendu nan lara

Membuka lembar kusam rindu bersahut

Mereka-reka kemana rindu tertambat.

 

Bahana cinta pagut mengiang

Arung hati galau menerjang

Hanya pilu kudekap erat

Tak hendak melepas rindu kudamba.

 

Di tepian sungai abadi

Kudamba cinta tak akan pupus

Kudamba cinta tak pernah lekang

Bak dawai batin iringi kidung

Hidup sehasta tak perlu risau.

 

Kupang, 01072020

 

 

 

 

 

 

 

 

GUBUK BAMBU

 

Gubuk bambu jadi istana

Bahagia selalu halau derita

Mengulum senyum dalam sahaja

Tak satu pun tanya tentang durjana

Karena hidup sehari jadi pahala

Bagi semua sedang mengembara.

 

Jangan bimbang pun juga ragu

Senandungkan hidup bak sebuah lagu

Tentramkan jiwa jangan termangu

Agar rizki tak terbelenggu.

Mengurai hidup di gubuk bambu

Jauhi raga badan tak berdebu

Agar pahala jiwa tak berabu

Karena menjauh dari segala tabu.

 

Kupang, 16 Juli 2020.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HELERO

 

Pagimu nan mendung

Mengumbar rindu menggebu

Pada gelak tawa sanak saudara

Pada asa terbentang dari kisah bertahun

Pada hijau padi di sawah

Pada tembang hati kumadang di ladang menghijau.

 

Pagimu memendam tanya

Pilukah masamu pada insan merajut cita?

Janganlah keluhmu terdengar kala mendung mengitar buana

Karena mentari kan halau kabut menyesak dada.

 

Di bumimu Helero

Hati bertaut

Tangan bergandeng

Merenda cita ranum di dedaunan hijau sawah membentang

Pada tembang Helero berpadu.

 

Kupang,22 Juli 2020

 

 

 

 

 

 

 

MENTARI DI TIMOR RAYA

 

Gerimis subuh enggan berlalu

Embun mengepul rinai ceria

Hijau pucuk dari dedaunan meranggas

Berselimut kabut rerumputan menghijau.

 

Dari timur Sabana Timor

Wajah kusam berubah hijau

Hati galau jadi riang

Iring petani di tanah ladang.

 

Di tepianmu Timor Raya

Setia insan menjumput hasrat

Selaksa jiwa mengais rezeki

Lepas penat dari pandemi mengancam.

 

Mentarimu pagi lagi ceria

Halau embun sedang galau

Akankah rinai tetap menyejuk

Gemakan asa penuh ceria.

 

Noemuti,08 Juli 2020.

 

 

 

 

REMANG

 

Dalam keremangan

Selalu menulis kenangan

Namun tetap berpasangan

Agar tidak bertentangan.

 

Berpasang-pasang pun berdua-dua

diJalan gerimis hanya berdua

Namun Hati jangan mendua

Itu baru tiada duanya.

 

 

Malam berkabut Noemuti, 07 Juli 2020.

 

 

 

 

 

 

 

RESAH

 

Malam minggu

Resah mengganggu

Walau menunggu

hati termangu

 

janganlah terbelenggu.

Jadikan malammu sebait lagu

kidungkan dan jagan ragu-ragu.

 

Kupang, 18 Juli 2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leburkan Badaimu

 

Baru saja kibarmu membumi

Sanggup tatap karena abadimu

Tegar tertancap di bumi menjulang

Berjuta tatap di buana kembara.

 

Beribu hati puja memuja

Sanjung bangsa  karena Satu

Rekatkan bangsa dalam bahasa

Menjunjung langit kibar Sang Saka

Merah gaungkan hasrat bela nusa

Agar jangan digadai untuk  Dracula.

 

Putih lumuri juang  tanpa lelah

Agar hidup penuh berseri

Sumringah atas bangsa,bahasa, dan satu nusa.

Ikrarmu, tautkan nurani agar jadikan badai di nusa ini

Bak semilir iring jejak gapai cita bangsa.

 

Kupang, 29 Oktober 2020

 

 

Komentar