JELANG MAGRIB

 

JELANG MAGRIB

( Oleh : Joni Liwu )


Guru Heronimus Bani 

Jelang magrib Kamis, 29 Oktober 2020, tak terduga bertemu seorang guru kampUng yang sungguh banyak makan garam soal menulis. Berpenampilan sangat sederhana sebagaimana orang kampung umunya. Saya kemudian cenderung memanggilnya guru penulis dari kampung. Sebutan cukup panjang, Guru Penulis  Kampung. Di pedalam Amarasi Timor hari-hari ia menggeluti rutinitas sebagai  pengajar siswa Sekolah Dasar. Agak miris dari kisah kami yang berdurasi kurang lebih tiga puluh menit itu, yakni  sulitnya mendapatkan signal untuk bisa berkomunikasi dengan gadget, sedangkan sarana tersebut untuk kondisi sekarang sangat penting.Belum lagi jika pembelajaran daring yang harus dilakukan hanya dengan mengandalkan signal telekomumikasi.

          Bagi teman-teman penulis kebanyakan yang bermukim di perkotaan, akses bertelekomunikasi antar sesama ataupun di jagad maya sesuatu yang lumrah,Tetapi  bagi penulis juga editor novel, dan beberapa buku berlevel nasional,  tentu menjadi sebuah kendala. Lalu bagaimana ia bisa menjadi penulis tidak saja pada website juga blog miliknya? Ia pun mengisahkan secara sepintas kesulitan mendapatkan signal hingga sekarang di era komunikasi digital berkembang pesat.

Ia pun menjelaskannya. Sudah bukan  rahasia umum bahwa wilayah pedesaan kediamannya berada pada radius sekitar Satuan Radar (Satrad) 226 Buraen, Amarasi, Timor. Satuan Radar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara adalah kesatuan yang berada di bawah Komando Pertahanan Udara Nasional. Oleh karena sangat pentingnya satrad bagi keamanan wilayah Indoinesia, tentu komunkasi pada radius tertentu juga sangat dibatasi. Oleh karena itu, seseorang akan mengalami kesulitan jika hendak berkomunikasi dengan gadget pada wilayah-wilayah tersebut. Namun untuk kepentingan berkomunikasi, ia harus mencari daerah-daerha tertentu di mana gadget dapat mengakses signal. Hal itu yang digunakan untuk menulis dan mengedit dari kampung halamannya.

          Kamu berdua tak menyiakan kesempatan berkisah soal hobi di area yang sama, menulis. Menulis apa saja, entah berbentuk ataupun belum berwujud dalam keseharian. Belum seberapa cerita “ngilur ngadul” kami, jujur sayaharus  banyak berlajar dari seorang guru kampung tentang sepak terjangnya di dinia menulis.

          “Saya menulis setiap hari, walaupun  itu hanya sebuah paragraf,” kisahnya dengan suara datar.yang baru saja mengikuti Pameran Arsip Publik Merekam Kota yang diselenggarakan di Kupang pekan terkahir Okotber 2020 itu.

Perawakan Timor yang rendah hati dan santun, mengajarkan saya bahwa menulis tidak harus sekian paragraf. Setidaknya sesuatu yang ditulis telah mengekspresikan ide dan sesuatu yang telah dialami sehari. Sontak, ucapannya membakar semangatku. Aku membatin, jika hampir beberapa pekan, semangat menulisku hilang. Seolah ditelan  garangnya covid 19 yang mengintai kehidupan manusia, hingga waktu pembelajaran dari rumahpun diperpanjang. Saya terlena dengan rutinitas di rumah yang tak seberapa. Beberapa gagasan yang sempat menjelma menjadi ide tulisan pun berslierawan dan hilang. Sungguh, guru penulis dari kampung ini yang bernama lengkap Heronimus Bani ini mengusik alam bawa sadarku. Ia hadir, seolah menghardikku dari kemalasan yang tak beralasan.

“Mengapaku terlelap?” batinku setelah menyadari jika telah ketinggalan kereta, sedang kami berdua sedang bergurau di area yang sama tentang,jalur tanpa batas, menulis. Bukan soal banyak atau sedikit hasil karya, tetapi soal saling mengingatkan, dan lebih dari itu, membangunkan saya dari tidur lelap saya yang hampir berkepanjangan. Terlela seakan berjibaku dengan rutinitas rumahan yang hari –hari ini harus memenuhi undangan keluarga; undangan “Kumpul Keluarga’, undangan Nikah. Dua urusan terkahir ini menyita waktu juga isi dalam dompet, belum lagi harus memenuhi undangan itu di akhir bulan.  

Terlepas soal hajatan-hajaatan keluarga, saya masih terkesima dengan seorang guru Roni yang berpenampilan low profile namun kecerdasan melampaui penampilannya. Dan karenanya, telah membawa guru Sedkolah Dasar Inpres Nekmese, kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang ini berlanglang buana ke beberapa negara. Kegigihan menulis mendepaknya meraih juara lomba menulis artikel oleh Ikatan Guru Informasi dan Komunikasi  ( TIK ) pusat. Ia pun telah menerjemahkan tujuh buah buku, dan salah satu  bukunya tersebut terarsip di Perpustakaan Amerika Serikat. Sebut saja buku-buku itu antara lain Catatan Seorang Guru daerah Terpencil,Joni Bintang kecil dari Perbatasan NKRI- RDTL, Senandung Anak Timor, dan beberapa buku lainnya.

Berkisah dengan pria sederhana penerjamah Alkitab dalam bahasa daerah ( Uab Meto ) doi Uni Bahasa dan Budaya GMIT Kupang untuk Amfo’an dan Amanuban, seakan tak ada habisnya. Masih banyak yang mesti terbetik dan kisah menulisnya yang sangat konsen di dunia literasi. Ia bahkan telah berliterasi sebelum Gerakan Literasi Nasional digaungkan di negeri ini.Dan itu pilihan sebagai ikhtiar darinya saat lelus CPNSD di tahun 1999, bahwa ia memilih mengajar di kampung agar dapat pula  mengabdikan diri untuk kampung halamannya.Tidak ada yang muluk dari harapan seorang guru kampung ini, yakni bahwa generasi bangsa ini harus membaca. Setidaknya, membaca menurutnya mampu mengubah pola pikir juga meningkatkan kemampuan berkomunikasi seseorang.

Mentari yang telah lelap di peraduannya, menyudahi obrolan singkat namun bermakna tersebut.

“Saya pamit,” ungkap alumni Program Pasca Sarjana Program managemen SDM STIE Mahardika Surabaya.

Pekat malam setelah gerimis senja membasuh bumi kerontang telah memepertemukanku dengan sesorang guru penulis kampung. Kepadanya kuberikan dua buku Antologi bersamaku sebagai hikma di masa pandemic covid 19.

Sahabat, mungkin kita sedang mengembara di dunia literasi. Benar pula jika menarik benang merah yang sama, yakni menanamkan budaya literasi, tidak melihat itu di kampung atau di kota. Benar pula  bahwa cara terbaik untuk menanamkan budaya literasi yang kuat pada seseorang adalah dengan menjadikannya sebagai seorang penulis. Karena setiap penulis, secara otomatis akan melewati tahapan membaca, berpikir, dan tentu saja menulis serta berkreasi.

 

Kupang, 30 Oktober 2020

                                            

Komentar