cerpen KUINGIN MENYURATIMU
Cerpen:
KUINGIN MENYURATIMU
“Untukmu Ibu, Bukan Mantan Ibu”
( Oleh: Joni Liwu )
Dua hari berlalu, pembelajaran di kelas seolah memendam
sejuta rasa.Bahagia juga terharu.Sedikit berbangga karena siswa-siswi bisa menuliskan
pengalaman daalam bentuk sebuah cerita. Akan tetapi, sangat terharu karena
hampir sebagian siswa meneteskan air mata saat mengekspresikan rasa batinnya
saat menulis.
Terlepas dari rasa
gerah karena kemarau mulai memanggang,
tidak saja pada sabana di kota yang dikenal batu bertanah ini, tetapi juga
menyulut suasana batin penghuninya.Belum lagi jika pembelajaran pada siang hari
menggunakan metode diskusi, maka praktis kelas cukup gaduh karena dialog pada
sesi tanya jawab memberi ruang untuk itu. Tetapi lebih memprihatinkan jika saja
di kelas tidak diberikan penugasan apapun, alhasil kegaduhan semakin
menjadi-jadi.
Walaupun demikian, ruang kelas ini seperti tersekat. Bak
meredam suara bising dari kelas sebelah, semua sedang terpekur. Apa gerangan?
Seluruh siswa sedang belajar menulis cerita pendek. Tentu saja menjadi
pekerjaan yang sangat berat bagi siswa tak pernah menulis, apalagi bagi seorang
siswa kelas Sembilan Sekolah Menengah Pertama. Membaca cerpen pun belum menjadi
pilihan semua siswa saat literasi di awal pembelajaran. Beberapa di antaranya
telah menggandrungi novel, tetapi selebihnya memilih komik, yang lainnya malah
membaca buku pelajaran walau berkali-kali disarankan bahan bacaan berupa
buku-buku nonteks atau fiksi.
Kegerahan siang ini memaksaku berstrategi.
“Bagaimana harus memulai, agar materi ini digandrungi?” aku
membatin.
“ Kalau boleh bisa dilumat hingga akhirnya bisa ku terima
secarik kertas bertuliskan sebuah kisah, entah cerita ataupun puisi,” aku mulai
mengalami masalah, seperti seorang tokoh protagonis dalam cerpen.
Tetapi masih kuingat cara praktis sebagaimana bersilerawan
pada sumber-sumber tertulis.Bahwa letakan seseorang di atas pohon, lempari ia,
paksakan agar ia turun. Pikiranku berkecamuk. Bagaimana menempatkan siswa-siswi
ini, melemparinya hingga terpkasa harus turun.
Menempatkan siswa di atas pohon,berarti harus munculkan sebuah keadaan yang harus
dihadapi siswa. Suasana batin, menurutku menjadi titik sentuh sehinga mampu
menggerakan seluruh jiwa raganya untuk mengekspresikannya. Masih kuingat pula
pepatah bijak, bahwa dalam sentuhan cinta, setiap orang bisa berpuisi.Tentu
untuk siswa sekolah menengah pertama, cinta kepada lawan jenis, belum menjadi
pilihan yang tepat sebagai tema cerpennya, tetapi cinta kepada orang tua
mungkin menjadi alternatif.
Beberapa pertanyaan meluncur dari mulutku.
“Pernahkah Anda menipu?” Pertanyaanku belum memberi reaksi
apapun. Kutahu pasti tidak satupun yang akan mengacungkan tangannya.
“Siapa yang tidak pernah menipu entah kepada siapa saja?”
Tidak satupun mengacungkan tangannya.Tetapi semua tersenyum,pratanda semua yang
hadir perna menipu sentah sekali, dua kali atau bahkan berkali-kali.
“Di antara sekian banyak perilaku menipu itu, hanya ada dua
orang yang pasti, yaitu ayah dan ibumu,” suasana kelas terlihat sepih.
Kulihat guratan wajah siswa seolah sedang mengurai hal
berbohong kepada orang tuanya.
“Dan di antara dua orang tersebut, yang seringkali dibohongi
adalah ibumu,” lanjutku.
“Mengapa? Karena ibu yang selalu dekat denganmu, selalu hadir
bersamamu dalam seluruh hidup,” aku mencoba menjelaskan.
“Bahkan ia sangat dekat denganmu sejak Anda hidup di
rahimnya,” lanjutku membenamkan kasih seorang ibu.
Penjelasanku menyengatnya. Beberapa di antaranya bermuram
durja.Kutahu itu, karena ia telah ditinggal pergi ibunda, entah beberapa hari,
bulan bahkan tahun. Ada pula yang ditinggalkan ibunda untuk mencari nafkah di
tanah rantau, dan ia harus menumpang bersama sanak keluarga. Sebagian pula
harus hidup bersama pengampuh, sedang orang tuanya jauh di kampung halaman.
“Sudalah Susan,” Fitri menenangkan Susan, yang sejak tadi
meneteskan air matanya.
Susan sering sakit, ia menderita gangguan lambung. Sejak
tahun lalu ia ditinggalkan ibudanya ke tanah rantau. Ia kini harus tinggal
bersama kakaknya yang telah berkeluarga.Perhatian untuknya tentu tidak seperti
anak-anak lainnya di rumah. Ia menyadari perlakuan kakaknya itu, tapi demi masa
depan, ia harus tabah. Setidak-tidaknya sampai ia bisa melanjutkan pendidikan
ke es em a.
Tampak di sudut ruang ini, Apry terdiam dan sangat
berkonsentrasi. Ia termasuk salah satu siswa yang sulit diatur, atau sering
melakukan ulah yang menjengkelkan teman-temannya.Kadang pula ia diadili guru
piket pun wali kelas karena ulahnya itu.Tapi saat ini tema cerpen yang
disuguhkan gurunya, membuat ia menyadari betapa perilaku terhadap ibundanya
menyadarkan untuk segera menyampaikan permohonan maaf. Tema ini menyengatnya,
apalagi tugas penulisan ini menjadi penilaian gurunya. Dan sekarang saatnya ia
harus menyampaikan permohonan maaf itu dalam sebuah cerita pendek.
Lonceng tanda jam pelajaran terkahir berbunyi. Tidak seperti
biasanya siswa-siswi sangat antusias untuk kembali. Kali ini mereka masih
berjibaku dengan cerpennya. Beberapa di antaranya telah selesai menulis. Aku
coba memeriksa cerpen-cerpen yang berserakan di atas meja kerjaku.Beberapa
sangat singkat.Walaupun sangat singkat tapi aku sangat menghargai, sangat
mengapresiasi tulisan mereka. Dari seluruhnya yang terkumpul, beberapa di
antaranya berwujud surat,selebihnya berwujud cerita pendek, ada pula berwujud
puisi. Cerita tentang kebohongan kepada seorang ibu. Sampai sejauh ini pula
mereka lupa menyampaikan permohonan maaf itu. Ada pula yang menyurati ayahnya,
walau ia sendiri tidak mengetahui siapa ayahnya karena ditinggal pergi sejak
kecil. Bahkan untuk mengetahui alamatnya saja tak terbersit dipikiran, apalagi
mengetahui identitas.
“Ayah, aku hanya mengetahui bahwa seseorang mempunyai
ayah.Tapi aku tak pernah merasakan hal itu, yang kutahu aku hanya memiliki
seorang ibu.Ia begitu mengasihiku, selebihnya menyayangiku entah sampai kapan.
Kalau saja ayah membaca suratku ini, ingin kutunjukkan kepadamu bahwa
sahabat-sahabatku di kelas ini memiliki ayah. Hanya aku sendiri belu mengetahui
sosok seorang ayah.Apakah telah melupakanku.Maafkan aku ayah, karena aku tak
mengenalmu,” demikian ringkasan cerpen bertajuk “Surat untuk ayah”.
Aku coba meracik ungkapan hati dari kisah - kisah di cerpen
yang tertulis. Kejujuran mengungkapkan kekeliruan juga kesalahan. Kejujuran
secara lisan kadang berlalu bersama angin; tetapi kejujuran juga dapat digiring
dalam berliterasi.Dan tentang ibu, tema yang tak pernah habis untuk
diliterasikan. Seseorang siswa dapat berlanglangbuana dalam dunia imajinasi
hanya tentang ayah. Dan ternyata mereka dapat berkisah,
Kahlil Gibran melitanikannya dengan bijak bahwa kata
yang indah bagi umat manusia adalah
'Ibu' dan panggilan paling indah adalah 'Ibuku'. Ini adalah kata penuh harapan
dan cinta yang keluar dari kedalaman hati paling dalam.
Akupun yang hanya bergumam,” Ibuku telah jauh di
singgasana-Nya. Aku
ingin menulis surat untukmu”
***
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!