MELEBUR DALAM LEMBUR

 

Melebur dalam Lembur

( Salamku untuk Sang Guru )

 

Terkesima membaca epilog sebuah antologi esei, artikel dari sekelompok guru. Para pahlawan tanpa tanda jasa dari belahan bumi Indonesia bertemu, bersepakat dan berlatih menulis bersama hanya melalui dunia maya. Tanpa tedeng aling pemrakarsa yang juga penulis puluhan buku mengakomodir niat para guru untuk belajar menulis. Lika-liku pembelajaran itu mirip yang dialami para guru saat mengajar di kelas. Sebut saja, beberapa harus belajar dari semula tentang menulis, tetapi di antaranya juga yang sudah merasakan asam garam menulis. Dengan demikian fasilitator juga sebagai gurunya guru harus dengan bijak memilah,tidak memilih tetapi telaten dan panjang sabar dalam pembelajarannya.

 

Seperti namanya, maka hal belajar dalam group Guru Menulis ini pun mencatat kisah-kisah membekas. Dari dunia abu-abu soal menulis hingga yang bisa menulis. Dari menentukan ide atau topik menulis, merancang gagagasan yang berwujud ide pokok hingga ide pendukung. Selanjutnya menuliskan ide-ide dalam paragraf yang berwujud kalimat utama dan kalimat penjelas, pedoman Umum Ejaaan Bahasa Indonesia ( PUEBI ), tentang kalimat majemuk dan setara, dan tentu banyak lagi hal-hal dasar menulis ini menjadi jenis olahan sang guru dan editor dalam pembimbingan guru menulis.

 

Menariknya, sang guru memberi ruang seluas-luasnya bagi peserta pelatihan untuk belajar. Maka wajar saja jika halaman group sebuah media sosial terurai begitu banyak tanya jawab dari puluhan peserta setiap hari. Itu yang kelihatan dari layar aplikasi tersebut, belum terhitung komunikasi instens melalui jalur pribadi. Mungkin saja peserta pelatihan tersebut ingin leluasa berkomunikasi dengan sang guru untuk lebih memahami bagaimana menulis sebenarnya. Berbagai jurus ampuh sudah pasti disuguhkan sang guru dengan sabar. Dengan rendah hati pula, ia mengasuh dan mengasah dengan kasih.

 

Sejenak kubayangkan, betapa sang guru harus berada di depan laptop atau gadgetnya hanya untuk membimbing guru peserta pelatihan dari seluruh penjuru Indonesia. Berapa banyak pengorbanan sang guru tak ternilai diberikan dengan ikhlas dan tulus. Dari webinar yang terlaksana, terlihat betapa seorang penulis, mentor, editor itu sangat bersahaja dan rendah hati. Semua pertanyaan dijawab dengan santun, materi sajian diberikan dengan jelas. Semua tersampaikan dengan sangat baik. Pertanyaannya, sejauh manakah materi pelatihan terserap. Sang guru tentu lebih mengatahui hasil pembimbingannya, sehingga seluruh tulisan telah berwujud sebuah antologi.

 

Untuk segala pengorbanan, sebagai peserta sepatutnya menyampaikan terima kasih. Namun sebaliknya, sang guru mengilhami ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk, pada epilog ia malah menyampaikan terima kasih kepada para guru peserta penulis. Sejenak ku membatin, betapa ia telah berkorban, maaf tanpa sepeserpun sebagai biaya pelatihan, tetapi masih juga menyampaikan terima kasih. Dan terima kasih itu kepada peserta pelatihan yang dengan peluhnya ia bimbing. Sesutau yang luar biasa dari sebuah kebersamaan di dunai maya.

 

Merenung kembali soal belajar menulis, benar yang dikatakan sang guru. Para guru tentu harus bekerja keras hingga mewujudkan sebuah tulisan. Bukan tidak mungkin tulisan-tulisan yang belum berwujud lalu sang guru harus tikam kepala agar terus membimbing, mengayomi para guru hingga tulisan berwujud. Paling kurang tulisan-tulisan para guru itu layak disebut sebagai sebuah teks yang kohesif dan koheren.

 

Di saat belajar menulis, para guru juga tikam kepala agar tulisannya layak dibaca selanjutnya diedit sang guru. Bukan tidak mungkin pula para guru harus tanam patat alias duduk berjam-jama bahkan hingga lembur hanya untuk menyelesaikan sebuah tulisan, apalagi jika tulisan tersebut telah dikomunikasikan dengan sang guru. Semua sedang belajar menulis, memanfaatkan jeda waktu Belajar dari Rumah ( BDR ), atau Pembelajaran Jarak Jauh ( PJJ ), atau bahkan Work From Home (WFH ). Covid 19 memang mengancam, tetapi juga memberi peluang. Di jagad maya, kita kadang lembur tetapi kita melebur dalam sebuah kebersamaan. Satu rasa satu tekad, bisa menulis. Sesungguhnya guru peserta pelatihan telah menunjukkan rasa kebangsaan, sebagai sebuah keluarga besar guru di Indonesia tanpa membedakan suku, agama, ras dan antargolongan.

 

Untuk sebuah kebersamaan yang telah terjalin, kuingin menitipkan terima kasihku dari Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

 

Pantunku untukmu sang guru:




 Super market gelar promo,

Belilah timun juga selasih.

Untukmu Teguh Wahyu Utomo,

Aku ucapkan terima kasih.

 

 

Joni Liwu, Kupang,01 Nobember 2020

 

Komentar