MENGURAI LEMBAR LITERASI 1
Mengurai Lembar Literasi 1
Pantai Oa dan Pantai Rako
Perjalanan 90 menit, Kupang - Denpasar
menyiratkan kesan mendalam. Betapa kegalauan hati dalam penerbangan sirna kala
mata melirik pada judul majalah bertitel Lionmag; dan judul kecil di bawahnya tertulis
"Pantai Oa antara Teluk dan Tanjung.Hati terasa terbawah ke kampung halama
Desa Hewa Wulanggitang Flotim, walau sedang berada di sekian ribu kaki,
diselimuti kabut.
Dikisahkan di halaman berikut soal
keindahan alam Pantai Oa. Pantai yang tenang dan memanjakan setiap orang yang
bertandang ke sana. Dan dari atas Tanjung Makasar yang dalam bahasa Hewa
(bahasa Sika,yang digunakanoleh pendudukdi di desa Hewa,, yang secara
administratif berada di Kabupaten Flores Timur) disebut 'Mulu'; pengunjung
dapat menikmati keindahan Pantai Rako dengan pasir putih memanjang sekitar 3-4
km.Berbeda dengan Pantai Oa, gelombang lautnya yang sangat cocok bagi olahraga
sirving.Pada pembukaan Festival Bale Nagi oleh peselancar dari Bali,Wage Adit
dari PSOI (Persatuan Selancar Ombak Indonesia), disebut sebagai Kuta-nya
Flores.
Hati tertegun lagi pada beberapa foto
tersaji yang memperlihatkan foto-foto atrkasi seni,budaya yang dipentaskan saat
pembukaan Festival Bale Nagi April 2019.
Sejenak tersirat di benakku, yakni alam nan molek ini telah membahana ke
seantero.Setiap penumpang pesawat Lion air yang membaca Lionmag pasti
terpesona.Pantai yang masi asri,kini mulai berdandan bak gadis desa siap
dipinang.
Kemolekan pantai Rako dan Pantai Oa
(Rako adalah nama pahlawan dari desa Hewa,sedangkan Oa adalah panggilan
Kesayangan untuk seorang gadis di Larantuka/ Flotim umumnya) yang kini mulai
didandani seadanya,tentu masih membutuhkan perhatian agar siap dipinang. Pemda
Flotim telah menggagas,tetapi kepedulian tentang kepariwisataan menjadi
tanggung jawab bersama termasuk dunia usaha.Potensi wisata di dua pantai ini
tidak hanya soal keindahan alam,tetapi lebih jauh dari itu tentang keramahan
warganya.Paling kurang sebagaimana dikisahkan Bapak Thomas Mukin dalam majalah
tersebut.Hal terkahir menjadi poin tersendiri, karena apapun obyek wisata,
tanpa penerimaan yang baik oleh warga, niscaya ditnggalkan pengunjung
kelak.Jika saja hal ini menjdi peluang,mengapa dipandang sebelah mata?
Dari aspek sejarah,menjadi menarik
karena berdasarkan penuturan tokoh masyarakat di desa Hewa,pada zaman
pendudukan Portugis, di Tanjung Makasar itu pernah ditancap Salib berukuran
besar dari kayu.Hal itu sebagai pratanda bagi bangsa penjajah lain bahwa daerah
itu merupakan wilayah kekuasaannya. Sayangnya,sejarah tentang pendirian Salib,
serta. Benteng Portugis (menurut penuturan Thomas Mukin dalam majalah Lionmag )
di Tanjung Makasar itu hanya diriwayatkan secara lisan saja.Sampai sejauh ini
belum ada penelitian tentang hal tersebut.
Keheningan malam di Badung- Denpasar Bali juga kantuk tak tertahan,memkasaku
untuk berhenti berkisah.Mungkin kulanjutkan esok pagi,kala mentari menyibak
malam hingga kicau burung pipit di pohon kamboja bangunkanku.
Badung-
Denpasar, Malam di batas akhir 14 April 2019.
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!