MENGURAI LEMBAR LITERASI 2

 

Mengurai Lembar Literasi 2

Pojok Baca

Perjalanan Kupang-Denpasar terpahat dalam catatan perjalan yang bersumber dari LionMag. Hati pun jiwa berkelana hingga kampung halaman. Sungguh perjalanan ini telah terbebani dengan tugas maha berat menjadi TLS ( Tim Literasi Sekolah).Sesuatu yang baru digagas di sekolah oleh Kepala Sekolah yang baru Dra.Maria Th.R.S Lana. Impiannya tidak berlebihan, hendak menjadikan sekolah yang literat. Tetapi yang menjadi tanggung jawab sekarang adalah bagaimana menjadikan TLS sebagai sebuah tim yang mampu menggerakan seluruh komponen di sekolahku agar mampu pula menggerakan GLS. Bahwa suatu ketika semua warga sekolah itu literat itu harapan, tetapi yang pasti harus mulai dari sekarang.

Meskipun rombongan Kupang tiba pada sore, tetapi materi yang sangat urgen tentang GLS dan Cara Pengelolaan Pojok Baca-Tulis baru tersaji. Bak gayung bersambut, kesempatan ini tak kubiarkan. Memikul tanggung jawab besar sebagi Ketua TLS semakin ringan. Pemateri, Ibu Dra.Tuti Rodiah,M.Pd mengurai kesulitaan saya soal TLS.

“Ada contoh tentang TLS itu, nanti di-Copy filenya besok,” demikian ibu Wahyu menjawab permintaan saya dalam babak dialog.

Penulis buku Teknik Bermain Peran yang telah terjual hingga meraup 20-an juta rupiah itu lebih jauh menjelaskan, jika personel TLS sesungguhnya melibatkan semua pihak di sekolah.

Suguhan materi tentang beberapa inovasi tentang GLS seperti pojok baca, sudut baca, sedikit banyak memotivasi 40 guru SD,SMP,dan SMA/SMK se-Nusra dan Bali, untuk menggiatkan GLS di sekolahnya masing. Beberapa kendala klasik soal ketersediaan buku pun terjawab dadalam babak dialog, sehingga sangat mengisnpirasi guru dalam GLS. 
Hari kedua, membedah lebih lanjut tentang GKS dan Cara Pengelolaan Pojok Baca-Tulis (1).

Berharap dapat menjaring sebanyak mungkin pengalaman berliterasi.

Komentar