MENGURAI LEMBAR LITERASI (3)

 

Mengurai Lembar Literasi  ( 3 )

Bebas sebab Bebas

 

Sekilas memaknai judul di atas sebagai sebuah gejala bahasa metatesis.Judul yang bertautan dengan kebebasan berekspresi; hal mengungkapkan ide dari otak juga mengungkap yang tersingkap di batin.Dua area pada jasad bernafas ini membendung serta merekam begitu banyak hal yang menjadi bahan mentah dalam berekpresi.
Sayangnya 'bahan mentah' sumber ekspresi (berwujud lisan entah tertulis) masih tetap terpendam di lautan cinta, bak mutiara yang tetap menghiasi taman samudra.
Sinyalemen berkespresi di dunia literasi hingga musim ini, masi menjadi lahan segelintir pengarang dan penulis dengan motif 'hobi ' atau karena tuntutan keilmuan.Minimnya nafsu alias motivasi menulis disinyalir beberapa faktor.

Pertama,warisan budaya tutur.Budaya tutur atau lisan yang telah berurat akar sejak leluhur,mungkin meninabobokan seseorang dengan literasi lain seperti membaca.
Minimnya sumber baca.Hal kedua ini selalu menjadi alasan utama menggerakan gerbong GLS semisal di sekolah.Tetapi ramuan tepat semisal sumbangan buku, bazar buku,atau donasi buku setidaknya mulai menyembuhkan penyakit menahun yang disebut kekurangan buku.

Agak sedikit menjauh soal Bebas sebab Bebas.Perjalanan dari Ramada menuju Bandara Internasional Ngurarai menyiratkan beberapa noktah.Sang driver yang akrab berceloteh,"Tu....ada yang tidak berhelm/pelindung kepala."
Sontak sahabat-sahabat seperjalanan terdiam, lantaran keakraban kami sekitar 4 menit perjalanan itu hampir saja sirnah."Kami orang asli Bali wajib berhelm,sedangkan itu, dua orang bebas ," katanya lalu membuka diskusi. Satu dua alasan mendukung pun terlontar dari mulut sahabat-sahabatku.Sekilas argumen mereka melihat adanya diskriminasi soal aturan penggunaan helm. Simpul sementara saya,mungkinkan karena setiap orang bebas sebab bebas memaknai aturan?Semoga saja setiap orang memahami bahwa aturan membingkai sebuah komunitas, atau negara sehingga setiap orang bebas memaknai.

Lain lagi kala menuju ruang tunggu bandara. Bersilerawan penumpang dari segala suku bangsa.Tidak ada diskriminasi di ruang ini.Penerimaan berciri "ke-Bali-Bali -an" terlihat dalam sikap pun tutur kata petugas. Inilah Bali, yg mungkin sangat berbeda dari yang dari pintu masuk hingga keluar.

Lain lagi pemandangan di ruang pemeriksaan tiket. Waktu yang cukup lama, terlihat aksi penumpang. Aksi dari 'Bebas sebab Bebas' penumpang pun tak lepas dari pandangan.Saudara kita bervisa tourist bak menikmati betul masa liburan.
"Coba lihat tu...," bisik sahabatku yg sejak tadi menyisir setiap 'bule' yang bersilerawan.Bagi sesama kita dari eropa,mengungkapkan kasih,cinta dengan berciumsn di tempat umum adalah hal wajar. Adegan romantis bak adegan layar lebar pun menjadi totontan.Wajar bagi mereka,tabu bagi kita."Mereka bebas sebab bebas melakukan," bisik sahabatku yg juga sangat berkeinginan untuk 'memgecat tubuhnya' (bertato).Sayangnya niat itu tak terwujud karena satu alasan yg menurutnya sangat pribadi.Rupanya ia pun banyak akal,sebagai pemaknaan akan 'Bebas Sebab Bebas'.

"Ia menikmati motif tato beraneka dari seorang bule di depannya dari balik kaca mata hitamnya," bisik seorang penumpang yang kutahu ia sahabat seperjuangan.
"Ah,kamu bisa saja," timpalku tanpa argumen.
Pengumuman keberangkatan lantang kudengar.Kuakhiri aksi jemariku yang liar di atas tuts-tuts hp. Dasar 'Bebas sebab Bebas'

 

( Catatan siang,  Bandara Ngurarai,17 Mei 2019)

 

Komentar