MENGURAI LEMBAR LITERASI

 

Mengurai lembar Literasi ( 4 )

RTL VERSUS RPP

 

Bimbingan Teknis (Bimtek)  literasi seminggu di Pulau Dewata masi menyisahkan rindu tertambat noktah. Rindu berjumpa sahabat yang inovatif. Rindu berlajar menulis buku fiksipun nonfiksi dari teman-teman yang hari-hari ini telah bergerilya di area kesukaannya ( menulis ); pun rindu melumat pengalaman menulis dari novelis,cerpenis,penyair  kenamaan Wayan Jengki Sunarta dari negeri para dewa.Dari lembah Rinjani, ingin pula “berkasak kusuk” lebih lama dengan, guru hebat yang juga novelis Muhamadi Irham. Atau bahkan dengan kakak komunitas dari Kota Kupang, Alfredo Saddam Hussein Pareto, Agustinius Rikarno, dan bahkan masi banyak lagi lainnya. Rindu itu ibarat dahaga, semakin membaca, biografi mereka dari dunia maya,  pun informasi tertulis lainnya.

 “Sungguh bangga sempat bertemu dengan orang-orang hebat  dalam bimtek seperti ini,” kataku dalam hati. Sayangnya, waktu untuk saling berkisah teramat singkat.Masa bimtek hanya untuk urusan membedah hal-hal teknis berliterasi dan keilmuan, sedang waktu menggaungkan kemampuan literet sebagai upaya membagi pengalaman kepada penulis-penulis pemula, juga sahabat-shabatku para guru, hampir tak tersedia. Apa mau dikata, ruang ini ( group whatsapp ) sekiranya membantu peserta bimtek untuk menautkan rasa bahkan ide berliterasi agar saling melengkapi.

Noktah yang kumaksud di awal tulisan ini adalah permenungan saya setelah hari-hari terkahir sahabat-sahabatku para guru di kelas A melakoni kegiatan mengkesekusi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP). Bagi saya melaksanakan kegiatan pembelajaran hal wajar yang tak pernah menjauh dari kehidupan guru.Hampir pasti dalam kegiatan MGMP atau pelatihan Kurtilias, hal itu pasti dilakukan.Walaupun demikian, kegiatan lumrah ini dialokasikan sebanyak 15 Menit. Sekedar perbandingan, bahwa waktu lima menit hanya cukup kegiatan pendahuluan sebagai diamanatkan dalam kurikulum. Jika sesungguhnya kegiatan pembelajaran ini harus  dilaksanakan sekurang-kurangnya 45 menit, setara satu jam pelajaran. Sebagai dampaknya, hampir 15 menit waktu digunakan guru pada kegiatan pendahuluan, semisal motivasi, sedangkan yang dimkasud instruktur adalah penyajian singkat materi dalam RPP secara menyeluruh.Tentu tidak hanya pada bagian pendahuluan dari sebuah pembelajaran sebagaimana mestinya. Entah seperti apa penilaian instruktur, tetapi bahwa kegiatan penyajian RPP telah tuntas untuk 40 guru yang mengikuti Bimtek Literasi, yang dilumuri tawa ria, tetapi menarik dan sangat bersimpati.

Semula bagiku, menggunakan waktu 15 menit, mungkin bukanlah implementasi yang tepat, atau lebih  tepat jika dikatakan sebagai sebuah Rencana Tindak lanjut  ( RTL ) yang kurang tepat. Akan lebih tepat jika guru mempresentasikan RTL di sekolah semisal menyusun program literasi di sekolah, membuat pojok baca, sudut baca, merancang  festival juga kegiatan-kegiatan berliterasi lainnya. Bahkan mungkin dari pemaparan RTL tersebut, akan terlihat inovasi –inovasi terbaru sebagai upaya menggerakan literasi, yang dapat dipelajari sesame  peserta. Salah seorang sahabatku, guru yang hebat, kemudian juga menerjemakan pemaparan RPP dengan caranya sendiri. Hampir mendekati pemahamanku, ia lalu memaparkan apa yang seharusnya dilakukan di sekolahnya, sebagai RTL-nya. Praktis  ia tidak memaparkan RPP sebagaimana kebanyakan guru di Kelas A.

Bak gayung bersambut, pergumulanku tentang RTL di hari pertama pemaparan RPP terjawab saat jedah. RTL yang dibuat sahabat-sabahat yang kian hari berkutat di komunitasnya telah memberi gambaran bagimana merencakan kegiatan literasi di sekolah. Bermodalkan tiga buku panduan, saya pun mencoba melumat isinya. Hari-hariku sepekan ini, berupaya meramu program literasi di sekolah. Belum lagi tanggung jawab besar sebagai Ketua Tim Literasi Sekolah mengajakku berlanglangbuana lebih jauh, mengakses informasi via google, bagaimana merancang program literasi, sehingga Gerakan Literasi Sekolah tidak sekedar menggapai tahap pembiasaan, tetapi sampai pada tahap pengembangan dan pembelajaran.

Wejangan akhir Kepala Balai Bahasa Bali,Toha Maschum, S. Ag., M. Ag., pada penutupan Bimtek Fasilitator Literasi Baca Tulis Tingkat Regional Bali dan Nusa Tenggara yang berlangsung di Hotel Ramada,13 – 17 Mei 2019,  semakin meneguhkan dan mengingatkan  bahwa dalam berliterasi tentu juga membutuhkan kreativitas para guru. Guru harus berkreasi agar literasi di sekolah beukan menjadi agenda hambar di sekolah, tetapi lebih kepada menyiapkan generasi bangsa yang literat.

“Saya yakin, dengan aktivitas berliterasi ( festival buku, sudut baca, pojok baca, dll), dapat meningkatkan kualitas literasi kita,” pungkas beliau dihadapan 80 peserta pelatihan juga para nara sumber.

Kota Kupang yang hari-hari ini diderah panas mentari lalu menyepuh kehidupan warga di sabana Timor, sehingga gerah itu pasti, tetapi semangat berliterasi juga harus pasti dan tetap menjadi tanggung jawab guru pun pegiat literasi. Ibarat gadis desa, Gerakan Literasi di sekolah pun harus didadani, agar molek, tetapi bersahaja. Siswa dan warga sekolah harus tetap menjaga kemolekannya, hingga ia jatuh cinta, dan tersebutlah generasi literat.

Akupun melupakan perseteruan antara RTL dan RPP. Langkah selanjutnya, adalah menata semangat berliterasi di sekolah bersama warga sekolah, bahkan pemangku kepentingan, agar geliat literasi ini tidak hanya menjadi milik peserta Bimtek dan pegiat literasi, tetapi selurug bangsa.

 

( Salam Literasi )

 

 

 

 

 

Komentar