BATA GETE
Menyoal “Bata Gete” dan
Peluang Meraup Rupiah
( Oleh: Yohanes Joni Liwu, S.Pd)
Geliat pembangunan di “Natar Tanah”/ “Lewo Tanah” Hewat Lewo
Rotan, mengusik saya untuk berkisah. Pertama, tentang peluang Pantai Emas Rako
sebagai area surfing atau berselancar. Peluang ini sebenarnya telah diketahui
sejak Festival Bale Nagi Ke- 1 yang digelar April 2019 silam. Bermula dari
survei seorang Wage Adit dari PSOI (Persatuan Selancar Ombak
Indonesia).Selanjuntya pada pembukaan Festival Bale Nagi Pantai Rako lebih
digaungkan sebagai tempat berselancar. Bakhan oleh Wage Adit, Pantai Rako
disematkan sebagai Kuta-nya Flores. Pada pembukaan yang dilakukan oleh Bupati
Flores Timur, Antonius Hubertus Gege Hadjon, ST,Wage Adit menyerahkan sebuah
sebuah papan seluncur sebagai sebuah simbol penuh makna. Bahwa Pantai Rako
layak dijadikan sebagai area olah raga yang berasal dari Benua Amerika ini.
Sebuah kebanggaan menyeruak ke lubuk hati peserta festival
apalagi warga pemilik Pantai ini. Betapa tidak, jika dikelolah secara
profesional maka peluang meraup rupiah pun sangat besar. Hampir setahun berlalu
Festival Bale Nagi digelar, pengunjung Pantai Rako hanya menikmati kemolekannya
saja. Bereengkrama bersama di tepi pantai berpasir putih, atau bahkan sekedar
berkisah tentang keindahan yang tak pernah pudar.
Pantai ini memiliki
keunikan yang berbeda dengan Pantai Kuta-Bali.Jika Kuta-Bali luas pasang surut
tidak kelihatan, sebaliknya dengan Pantai Rako. Di saat pasang surut,
pengunjung dengan leluasa mengitari kolam-kolam sejauh 3- 4 Km,tetapi saat pasang-naik,
pengunjung dapat berenang, berselancar, atau sekedar bermain-main di tepi pasir
putih.
Pemberitaan tentang pelatihan berselancar yang akan digelar di
Pantai Rako hari-hari ini tentu menjadi secercah harapan, jika olah raga yang
ditemukan olahragawan Joseph Banks mampu menarik wisatawan ke Pantai Rako, ke
Desa Hewa-Kecamatan Wulanggitang. Mungkin saja peluang ini harus dijemput
menjadi peluang berinvestasi.Incestasi masa depan anak cucu, tepai juga peluang
berinvetasi pagi pemilik modal. Para pemilik modal rupanya belum menyentuh,
atau melirik paras juga keelokan Pantai Ini. Karena itu, Pantai Rako selalu
membuka pintu hatinya. Peluang-peluang keasrian dan "Bata Gete" alias
gelombang Besar sangat besar.
Dua jenis gelombang yakni
Spilling waves cocok untuk peselancar pemula yang ke tingkat lanjut. Mereka
memecah di pantai yang relatif datar dan luas dan runtuh di atas puncak
gelombang yang lambat. Ini berarti bahwa gelombang tidak terlalu kuat sehingga
membuatnya lebih mudah.
Jenis gelombang berikutnya yang juga ada di Pantai Rako adalah
Plunging waves cocok untuk peselancar yang lebih profesional atau sudah
memiliki pengalaman. Ombak biasanya tersedia di pantai curam dan berkarang yang
menghasilkan tabung mengagumkan. Gelombang ini adalah sedikit terlalu kuat
untuk pemula dan kadang-kadang sangat menakutkan.
Peluang jangan Dibuang
Banyak peluang jika olah
raga berselencara direncakan dengan baik.Mungkin saja kdatang para wisman di
tahun 2019 yang secara bertutur-turut telah mengilhami msayarat di sana untuk
bisa menunjukkan, mejajahkan, keunikan di desa ini kepada wisman.
Peluang menjajahkan pangan lokal, semisal 'Muu Mopen, Ohu Huna,
Watar Nurak, dan jangan lupa minuman kahs 'Tua Bura', menjadi suhugan yang tak
terlupakan. BUkankah hal-hal itu menimbulkan kerinduan bertandang ke Pantai
Rako?
Tentang wisata Budaya, Tarian Gong Bitong yang semakin
membahana,pasti menjadi suguhan awal kepada wsiman sebelum menjamahkan kakinya
ke Pantai Rako.Betapa banyak keunikan yang menjadi kearifan lokan yang bisa
ditunjukkan sebagai atrkasi yang menarik.
Hal lain yang hampir terlupakan jika berselancar telah menjadi
paket wisata, yakni peluang bagi para pemijat. Di tepi pantai berpasir putih
ketika wisman berjemur, para pemijat dapat mejual jasanya. Dan itu bukan sesuatu
yang mustahil. Karena itu, kemampuan berbahasa Ingris menjadi tuntutan, agar
dapat berkomunikasi. Hingga di sini, pelatihan juga kurus-kurusu Bahasa Inggris
perlu dilakukan, agar berpeluang meraup rupian. Pariwisata Pantai Rako telah
memberi peluang, janganlah dibuang.
Trauma jadi Peluang
Kembali ke judul tulisan ini, “Bata Gete” dalam Bahasa setempat,
Bahasa Daerah di Desa Hewa bermakna Gelombang Besar. Menyebut Bata Gete, bagi
kebanyakan masyarakat di Desa Hewa sesuatu yang menakutkan. Gemuruh gelombang
hingga memecah entah di tepi bahkan di tengah lautan kadang menimbulkan trauma.
Belum lagi jika dihembuskan cerita soal orban karena tenggelam. Cerita-cerita
Bata Gete menyeramkan. Dan gemuruh itu bisa terdengar hingga ke pemukiman warga
yang berjarak hingga3 - 4 km. Itu kisah dulu.Gemuruh ombak itu ternyata
menyiratkan citra Pantai Rako. Dan itu baru terkuak hari-hari ini.
Pantai Rako kini sangat bersahabat. Pendapat masyarakat Desa
Hewa, siapapun yang pernah bertandang ke Pantai ini, selalu merindukannya untuk
kembali. Mungkin itu bukti, betapa Pantai seluas 3 sampai 4 Kilometer ini
bersahabat.
Bata Gete, kini tidak
lagi menyeramkan; Bata Gete telah menjadi tontonan eksotis apalagi jika puluhan
wisman berselancar di sana.Pelatihan berselancar yang digagas Disparbud Flores
Timur sebuah langkah maju yang patut disambut dengan hati girang.Bukan tidak
mungkin mereka yang dilatih hari-hari ini sangat berpeluang menjadi pendamping,
penunutun bagi siapapun yang ingin berselencar.
Berpariwisata di Pantai Rako bergerak selangkah demi selangkah,
tapi akan mampu menarik wisatawan jika didandan. Kemolekannya mampu menyhir
hati wisatawan, entah domestik maupun mancanegera.Serasa tak ingin bergegas
jika mencumcuinya apalagi meninggalkannya berlama-lama.
Cerita tentangnya akan
tetap tersantun di hati jika pernah menorehkan kisah bersamanya. Tentang
keindahannya, pembaca dapat pula melihat tampilan, pesonanya melaui
Youtube.com.
Selamat berlatih bagi
sesama sanak keluarga.
Salam Helero
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!