cerpen NAMANYA ASUH
Cerpen:
NAMANYA ASU
( Oleh: Joni Liwu )
Pagi
ini, Unggul belum juga ke ladangnya. Ia ingat nasehat kakek nenek akan tanah
warisan yang tidak seberapa luas. Letaknya di bawah kaki pegunungan. Di hulunya
bebarapa mata air mengalirkan air pegunungan. Bertumbuh di kiri kanan
sungai-sungai itu pepohonan berusia ratusan tahun,seusia nenek moyang Unggul.
Karenanya, hutan hutan sekitar mata air tetap lestari. Keasrian hutan itu juga
karena aturan adat di kampung halamannnya.Sejak dulu kala, dilarang menebang
pepohonan di sekitar mata air.
Hutan di pegunungan itu sangat
lesatri. Menurut cerita temannya,banyak sekali udang juga kepiting di hulu
sungai-sungai itu. Unggul ingin sekali menangkap udang-udang itu sebagai lauk
yang tak ternilai gizinya.Namun warga di kampungnya hanya diberi keleluasaan
pada sungai sekitar daeha hilir saja.
Sungai-sungai yang mengitari
kampung halamannya selalu menjadi tempat yang menarik dan tak perna terlupakan.
Anak-anak sekolah seperti pernah dilihatnya selalu menyempatkan diri di
sungai-sungai itu sepulang sekolah
sebelum menyeberang ke kebunnya. Mereka menikmati kesejukan air
pegunungan, sambil mandi, merekapun kadang menyanyikan lagu-lagu perjuangan
yang diajarkan di sekolah. Atau kalau masih mengingat lagu rohani, itupun
dilitanikan. Annak-anak itu dengan suka cita bergembira pada sungai-sungai yang
saban hari mnegalirkan air kehidupan bagi mereka.
Lonceng
sekolah berbunyi. Lamunan sirnah.Unggul menyadari jika pagi itu sekitar jam
delapan. Ia mengambil parang juga busur dan anak panah bergegas menuju
kebunnya. Di kebunya yang tak seberapa luas itu masih terlihat beberapa pohon
papaya dan ubi kayu. Dedaunan berwana hijau dari tumbuhan-tumbuhan itu selalu
menenangkan batinnya. Walaupun demikian, di pondok tersedia cukup pangan berupa
padi dan jagung. Hasil panenan setahun yang lalu, paling kurang sebagai
persediaan pangannya.
Unggul
sendiri sudah menamatkan pendidikannya beberapa puluh tahun silam. Ia
menamatkan pendidikan SMA-nya di ibu kota kecamatan, tidak bisa melanjutkan
pedidikan ke perguruan tinggi karena ayahnya meninggal dunia. Kini ia bersama
ibunya seorang, tentu sangat tidak mampu untuk melanjutkannya ke Perguruan
Tinggi.Terdorong ingin membahagiakan ibunya, ia memutuskan untuk tidak
berkuliah. Ia berkomitmen menjadi petani walau petani tradisional. Ia selalu membandingkan
jika saudara-saudaranya di kampung hidupbahagia walau sebagai petani ladang. Petani-petani itu pun
berijasah Sekolah Dasar. Baginya dengan ijasah SMA, tentu ia harus lebih bisa
dari saudra-saudaranya.
Berbekal ijazah SMA itu pula
warga memilihnya menjadi sekretaris
desa. Pengetahuan dan keterampilannya tentang komputer yang dipelajarinya,
sangat membantunya untuk menyelesaikan tanggung jawabnya di kantor kepala
desa.Bahkan termasuk beberapa kali bersama kepala desa mengikuti beberapa
kegiatan pelatihan di ibukota kapubaten.
“Kemarin
Asu pulang dari kota. Sudah bertemu?” tanya ibunya.
“Ya,
aku dengar, tapi belum sempat,” Unggul menimpali pertanyaan ibunya sebelum
wanita setengah baya itu melanjutkan
pertanyaanya.
“Ia
lulusan sarjana agama.”
“Tentu pengetahauannya luas,
apalagi lulusan Perguruan Tinggi,” sahut ibunya.
“Kita berharap kampung ini akan
lebih maju jika seorang sarjana dapat berbagi pengetahuannya. Saya hanya dengan
ijasa SMA saja bisa bebruat sesuatu. Semoga saja pengabdiannya untuk warga di
kampung kita menuai hasil yang membanggakan. Semisal banyak anak-anak yang
dapat belajar berdoa. Atau mampu memotivasi segelintir warga di kampung kita
yang malas berdoa. Kalaupun ke tempat
ibadah setahun sekali. Itupun kalau hari raya.”
Ibunda berhenti sejenak setelah
meletakan periuk tanah di atas tunggku perapian. Asap mengepul dari kayu bakar
yang agak lembab itu membuatnya berkali-kali ia harus mengipas ngipas. Ia dapat
melihat harapan dari seorang anaknya.Harapan untuk berpendidikan tinggi seperi
Asu.
“Andaikan ayahnya masih hidup,
anak semata wayangnya ini pasti bisa maraih gelar sarjana.Tapi mungkin ini
takdir,” ibunya membatin.
Unggul
yang sedari tadi mengasah parangnya di sudut pondok itu tetap bercerita.
“Menurut
cerita sahabat-sahabatnya Asu termasuk lulusan terbaik dikampusnya,”
“Oleh karena itu, ketika
diwisuda, ayahnya melaksanakan syukuran yang boleh dibilang cukup meriah.”
Tak terasa, air mata ibunda
berlinang.
“Ibu, Ibu menangis?” tannya
Unggul.
“ Ini, asap api,’ sahut ibunya
sampil membersihkan matanya yang sembab.
Tetapi kemudian ia memaling
wajahnya ke arah yang lain sehingga, Unggul tidak dapat melihatnya lagi.
Asu telah 5 tahun menetap di desa
itu. Banyak hal telah dibuatnya. Membantu para guru agama, melaksanakan tugas-tugas
kerohanian. Jika ditugaskan untuk menjelaskan isi kitab suci, maka ia pun akan
menyampaikannya dengan menarik. Karena itu, banyak warga yang pasti menghadiri
setiap kegiatan kerohanian jika itu dipimpin oleh Asu.`
Kecakapan berbicara membuat ia dikagumi.
Bahkan karena figurnya itu, banyak pula anak-anak di kampung bercita-cita melanjutkan pendidikannya ke
Perguruan Tinggi. Sebagiannya lagi bercita-cita menjadi guru agama, seperti
guru Asu.
Kampung halaman yang damai
semakin dialami, apalagi dengan kehadiran Asu yang sering memberikan
sentuhan-sentuhan rohani.Tidak saja di kampung halamannya, tetapi juga Asu
menyanggupi permintaan dari kampung –kampung tetangga. Asu hampir tak memilki waktu istirahat yang cukup. Entah
siang pun malam.
“ Pantas saja, badannya tidak
gemuk,” simpul Unggul soal kesibukan Asu kepada ibunya.
“Tapi bagaimana kita bisa
membatasi tugas mulianya, sedangkan ia sendiri tidak perna menolak permintaan
dari kampung-kampung tetangga soal pelajaran agama,” Unggul bergegas mencari
dedaunan untuk kambing yang ia pelihara.
Asu kini memang sangat sibuk. Ia
dikagumi. Bahkan ketekunan menjalankan tugasnya, ia kini telah mejnadi
panutan.Kesibukan itu pula menyebakan ia tak bisa membagi waktu untuk
kepentingan pribadinya. Usia sudah setengah abad berlalu, tetapi Asu belum juga
menikah. Asu juga terlihat kurang sehat, tidak seperti pemuda-pemuda
kebanyakan. Tetapi ia sangat menunjukkan pengabdiannya. Alhasil, segelintir
orang yang jarang beribadah, kini menjadi rajin beribadah. Bebarapa anak dari
kampung itu melanjutkan sekolahnya ke Perguruan Tinggi, temat di mana Asu
berkuliah dulu.Tentu ini sangat membanggakan. Bebarapa kali dalam pertemuan, di
kantor desa ia selalu menyampaikan hal memeguhkan iman dan kepercayaan.Tentang
bagaiamann menjalankan ajaran-ajaran Tuhan agar tidak tersesat.
Suatu malam, di rumah Pak RT,
berkumpulah warga. Asu diminta pa RT untuk memberi pencerahan tentang hak
seseorang ditinjau dari aspek keagamaan.Hal ini karena pak RT tidak bisa
menjawab pertanyaan-pertanyaan warganya soal larangan-larangan yang telah
berlaku di kampungnya sejak nenek moyang mereka. Di antaranya tidak boleh
merusak alam sekitar mata mair.
Acara itu berlangsung dengan aman
dan tertib.Warga RT yang sebagian besar petani itu memyimak penjelasan Asu dengan
cermat. Mereka sebenarnya sangat kelelahan setelah seharian bekerja di
kebunnya, tetapi karena guru Asu yang
hadir di sana, maka mereka akan setia mendengarkan segalanya. Pak RT bangga
pada warganya sangat antusias mendengarkannya. Agar suasana lebih memberi
pencerahan, Pak RT juga memberi kesempatan kepada warganya untuk berdialog.
Tony salah satu warga pun tak
menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia sangat berkeinginan untuk menangkap
udang-udang yang sangat banyak di hulu. Tetapi larangan bahkan para tetua adat
membuat ia dan kawan-kawanya mengurungkan niat. Apalagi jika ketahuan, maka
mereka harus membayarnya dengan mahal. Bukan dengan uang, tetapi beberapa ekor
ternak sembelihan.Hal itu pun telah menjadi kesepakatan warga dan menjadi
peraturan di desanya.
Para sesepuh adat di kampung itu
selalu hanya mengatakan, sungai-sungai di daerah hulu disakralkan.Siapa pun
tidak boleh merusaknya termasuk menangkap udang atau apapun jenisnya. Hal lain
bahwa jika lingkungan sekitar daerah hulu dirusaki, para penunggunya akan
murkah yang berdampak pada kekeringan mata air. Tony yang berusia dua puluhan
tahun itu pun menyimpan misteri itu sejak ia masih kecil.Tetapi soal penunggu,
Tony mengurungkan niat untuk bertanyaa pada Guru Asu. Ia masih berkeinginan
untuk menangkap udang-undang sehingga terhadap hal ini yang akan ditanyakannya.
Kini saat yang tepat bagi Tony
untuk menanyakan itu kepada Asu, guru
agama yang mulai kesohor dipanuti di kapungnya. Menurut Tony, mungkin dengan
jawaban Asu, dia dapat memastikan mana
yang benar dan mana yang salah. Ini saat yang tepat karena dihadiri pula oleh
para sesepuh juga tua-tua adat di kampung.
Tony beranggapan bahwa selama ini hak-hak mereka dibatasi termasuk
menangkap udang di huku sungai. Ia pun
menyapaikan pertanyaannya kepada Aur Asu soal hak-hak seorang manusia untuk
mengausai alam ciptaan Tuha./
Atas pertanyaan Tony, Asu pun
menjawab.
“Tuhan telah menciptakan
dunia segala isinya agar dikuasai oleh
manusia. Manusia diberi kekebasan untuk menguasai alam dan isinya.Siapa pun
tidak boleh melarangnya. Apalagi hal menguasai alam itu pun tertulis dalam
kitab suci.
Tony tersenyum mendengar
penjelasan ini. Ia semakin yakin bahwa larangan tua-tua adat yang kemudian
menjadi peraturan di desanya itu adalah sebuah kesalahan besar.
“Itu artinya, larangan-larangan
selama ini adalah suatu kebohongan?”
“Apakah itu berarti Anda hendak
melanggar aturan-aturan di desa ini?” sambar Agus, seorang pemuda lainnya.
“ Apakah juga bearti Anda sesuka
hati menentang atau tidak mematuhi lahi larangan-larangan para tetua adat di kampung ini?”
Suara para pemuda yang
bertentangan ini semakin meninggi.
Sebagi pemuda memihak Tony, tetapi segelintir bersama tua-tua adat bersama
Agus.
Adu mulut tidak terelakan.
Suasana yang semula adem-adem, berubah menjadi rusuh. Pemuda-pemuda yang
berbeda pendapat ini tak ada yang mau mengalah. Keributan semakin menjadi
karena mereka tak mendengar lagi suara beberapa orang tua yang hendak melerai
pertentangan itu.
Belum sempat Guru Agus menjawab
pertanyaannya dan menteralisir suasana, beberapa ibu yang hadir saat itu pun
berbeda pendapat. Hampir serupa dengan Tony dan agus serta kawan-kawannya.
Unggul yang ada di barisan depan
bersama beberapa sesepuh kampung mengernyitkan dahinya. Selain itu, para
sesepuh itu pun saling melihat satu terhadap yang lain. Ada yang
menggeleng-gelengkan kepala, pratanda tidak sependapat dengan Asu.
Suasana pertemuan menjadi tegang.
Sebagian besar warga RT merasa kekebasan itu kini ada pihak mereka. Bahkan Tony
dan beberapa temannya menyimpulkan jika larangan selama ini hanyalah
dibuat-buat. Atau larangan itu tidak berdasar. Bisikan mereka itu terdengar
pula oleh para sesepuh dibarisan terdepan. Warga yang berpendidikan rendah
itu tak satupun dapat memberikan
pejelasan secara keilmuan tentang fungsi hutan di daerah aliran sungai. Di
benak mereka itu adalah larangan dari nenek moyang mereka. Dan menjadi
kewajiban mereka untuk meneruskan itu kepada anak cucu sehingga mata air tidak
mengering. Atau sekurang-kurangnya debit air di sungai-sungai kecil tidak
berkurang.
Beberapa teman Tony bahkan bersuara dengan keras, jika
larangan itu tidak sesuai dengan apa yang disampaikan Guru Asu bahwa Tuhan
menyiapkan isi alam ini untuk manusia. Pertentangan terjadi antara beberapa
pemuda bersama Tony dengan beberapa orang tua. Para sesepuh dalam situasi
seperti itu tidak bisa melerai pertentangan itu.Suasana pertemuan yang semula
hikmat, tenang, kini berubah menjadi kacau. Di kalangan ibu-ibu pun terjadi
dualisme pendapat. Pertentangan antara ibu-ibu ini malah semakin mengusik
pertemuan itu. Pak RT pun tidak mampu lagi melerai.
Kali ini suasanamenjadi sangat
kacau.Bebarapa ibu mendamprat Guru Asu sebagai penyebab kericuhan.
“Asu tidak menghargai para
sesepuh. Asu menjadi biangkeladi mala mini,” kata mereka.
“di Kampung ini, kami sangat
menghargai para sesepuh, sehingga setiap larangan pasti dituruti,” sambung
kainnya dengan suara keras.
Mereka menggurui Guru Asu. Guru
Asu tidak bisa berargumen dengan para ibu yang uumlah cukp banyak.Sementara Pak
RT pun tidak diberi kesempatan lagi untuk berbicara.Guru Asu, hanya tertunduk,
tapi ia kemudian diam-diam meninggalkan ruang pertemuan itu. Suasana di
sekitarnya masih belum tenang. Para pemuda ini bersih pada pendiriannya, bahwa
mereka telah ditipu oleh oara sesepuh.
Malam semakin larut. Para Ibu itu meninggalkan
tempat pertemuan.Para sesepuh pun mulai
meninggalkan tempat pertemuan. Pak RT juga tidak mapu membendung
kemarahan para sesepuh yang rata-rata orang tua di kampung itu.
Kehadiran Asu sebagai seorang
sarjana bahkan ilmuwan telah mengubah padangan para remaja tetapi menyentuh
perasaan para tetua adat dan sesepuh lainnya. Penjelasannya menyebabkanpara
pemuda tidak lagi menghargai para orang tua.Bahkan karenanya, mereka akan
melanggar semua aturan tentang kelsetarian lingkungan hutan yang telah
disepakati bertahun-tahun.Guru Asu telah mencederai perasaan para sesepuh.
Unggul berencana menjelaskan
kepada warga soal fungsi hutan dalam hubungannya dengan ketersediaan air yang
merupakan kebutuhan hayat hidup orang orang. Ia sangat ingat akan penjelasan
kepala kantor kehutanan suatu ketika saat mendapampingi kepala desa. Ia pun
ingin menyampaikan itu kepada semua warga.Unggu tahu bahwa Guru Agus pasti bisa
menjelaskan karena ia seorang sarjana.
Akan tetapi niatnya itu tidak
terwujud lantara Asu telah meninggalkan tempat pertemuan. Bebarapa orang ibu
yang mencaci sang guru agama ini sebagai provokator, menyebabkan Guru Agus
meninggalkan tempat pertemuan itu secara-diam-diam.
“Miris memang. Saya sangat prihatin soal
kejadian itu. Tapi apa daya karena saya seorang petani desa dengan wawasan
terbatas. Sedangkan Asu seorang sarjana,” Unggul membenamnya dalam hati sambil
memberi makan ternaknya.
“Saya berharap, sarjana-sarjana yang akan kembali ke kampung
ini, dapat lebih bijak dalam berpendapat. Bahkan lebih dari itu, soal tutur
katanya sehingga tetap merawat persatuan antarwarga di kapung kita, bukan
sebaliknya,” ibunda menyimpulkan.
Unggul hanya tersenyum. Di
usianya yang terbilang matang itu, ia hanya bertekad menjadi petani sukses,
mandiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Sekurang-kurangnya bisa menjadi
contoh bagi pencerdasan warga di kampungnya, bukan sebaliknya memperkeruh
suasana hingga memecah belah rasa persaudaraan yang telah terbina.
“Mungkin benar kata orang, mulutmu harimaumu. Asu, Asu, kau yang disanjung,
kau pula ditenadang. Entah di mana keberadaan Asu sekarang. Karena
mempermalukan para sesepuh ia pun diancam di kampung halamanya.Ia merasa asing
di kampung halamannya karena mulutnya sendiri,” kata Unggul dalam hati sambil
tersenyum.
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!