PARU WAKTU
PARUH
WAKTU
Beberapa hari berlalu, kesibukan
awal tahun pembelajaran menyita waktu. Sejak pagi pukul nol enam empat lima
harus memberi les tambahan bagi kelas persiapan Ujian Nasional. Setelah itu,
dilanjutkan dengan pelajaran sebagaimana biasa. Itu berarti harus mempersiapkan
materi pelajaran sebagai pembahasan terhadap sejumlah soal ynag berkaitan
dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Dengan begitu, peserta didik tidak
sekedar mengetahui pilihan jawaban ( A,B,C,D) terhadap soal-soal ujian yang rata-rata
berbentuk pilihan ganda, tetapi lebih dari itu berbupaya menganalisis jawaban
berdasarkan materi SKL.
Rutinitas itu tidak
hanya menghinggapi relung guru-guru kelas akhir tetapi juga hampir semua guru.
Waktu yang relative singkat untuk kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran
(MGMP) juga menggerus waktu luang para
guru untuk sejenak bercanda tawa alias bersenda gurau berama keluarga, sahabat
dan kenalan. Atau meluangkan waktu untuk membaca buku. Hal itu karena guru
harus menyelesaikan sejumlah rencana pembelajaran. Belum lagi ia harus
berinovasi, sehingga ia harus menyiapkan jurus-jurus ampuh alias mempersiapkan strategi pembelajar demi
pencapaian kompetensi dasar atau SKL.
Gerimis pagi ini hampir
saja mengurungkan langkahku. Bermodal nekad, apalagi jarak tempuh ke sekolah
tidaklah jauh, dengan sepeda moor berani menerobos gerimis pagi yang kian lama
berupa rupa menjadi rintik hujan.
“Semoga saja, menjadi hujan setelah tiba di
sekolah,” gumamku dalam hati sedang kewaspadaanku mnejadi focus prhatian karena
jalanan sangat licin.
Dalam langkah penuh
semangat, kulihat pula beberapa siswa menuju ke sekolah. Beberapa di antaranya
yang tidak berpayung, berlari-lari kecil; sedangkan yang lainnya dengan
semangat pula menyusuri jalanan; melewati pepohonan menjulang walaupun itu
hanya beberapa.Di tempat ini adal pula sebuah kolam renang yang hanya digenangi
air bila musim penghujan tiba. Ada beberapa rumah kecil yang dibangun sebagai
tempat berekreasi. Di situ terlihat seorang siswa sedang berteduh karena baju yang
dikenakan basah kuyup walau hanya gerimis pagi ini.
“Mari nak!” kataku.
Ia bersamaku menuju
sekolah. Pagi ini ia harus berjalan cukup jauh, karena jarak rumah dengan
sekolah memang cukup jauh. Walaupun demikian, hal itu tidak menyurutkan niat
untuk hadir pagi hari mengikuti les tambahan.
“Mungkin saja siswa sekelas
telah hadir mengikuti les tambahan,” batinku sebelum memasuki runag kelas.
Pikiranku berbeda dengan kenyataan. Baru hadir
delapan siswa. Sebagian besar tempat duduk tidak ditempat.
“Haruskah memulai
pelajaran sedangkan sebagian besar siswa belum hadir?”
“Adilkah memberi
pengetahuan hanya untuk segelintir orang?”
Kondisi seperti ini
akan diperparah memasuki bulan Februari, saat musim hujan memasuki fase puncak.
Hujan disertai badai. Hampir pasti sebagian besar siswa tidak hadir. Pemandangan
miris sangat dialami di setiap sekolah yang harus ditempuh dengan berjalan kaki
oleh sebagai besar siswa.
Rutinitas hari ini
terlewati sebagaimana hari-hari kemarin. Kepenatan di kelas pada hampir 6-7 jam
pelajaran bagai tersapu semilir angin siang ini. Berlalu, sedangkan esok hari
harus melitani rutinitas baru. Menulis tentang sesuatu yang dapat dilakukan,barangkali
juga merupakan satu dari sekian
pekerjaan. Dengan demikian, dapat mengaktifkan kembali kerja otak tidak saja
olah raga untuk otot. Hari ini, tidak
boleh membiakannya berlalu, tidak membiarkan otot dan otak terlena oleh mendung
hari ini yang tak memberi celah waktu bagi terik mentari walau sebentar. Menulis
mungkin termasuk aktivitas ota
Terlintas sejenak kunci
sehat menurut Perdana Menteri Malasya Mahathir, Mohamad (93 Tahun) .bahwa kunci sehat berada di tangan diri sendiri.
“Saya
akan menyarankan orang untuk tidak banyak beristirahat ketika mereka menjadi
tua karena jika anda beristirahat, anda akan segera menjadi sangat lemah dan
tidak mampu, dan mungkin menjadi pikun. Jadilah aktif setelah anda mencapai
usia pension,”kata Dr Mahathir.
“Ini sama
dengan otot ototmu, Jika anda tidak menggunakan otot dan berbaring sepanjang
waktu, otot-otot bahkan tidak dapat membawa berat badan anda. Anda tidak bisa
berdiri, anda tidak bisa berjalan,”lanutnya.
Otak juga sama. Jika anda tidak menggunakan
otak anda, anda tidak berpikir, anda tidak menyelesaikan masalah, anda tidak
membaca, anda tidak menulis, otak mundur dan anda menjadi pikun. Jadi selalu
aktiflah, tambahnya. Jangan pernah merasa sudah tua, tetaplah muda dan aktif.
Jika demikian, mengapa kita tidak boleh
menigikuti saran sang kakek yang masih megabdikan diri untuk negeri Jiran
tersebut?
Kupang,
14 Januari 2020
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!