PERTEMPURAN PENFUI
Pertempuran Penfui,
Melawan Lupa
Pertempuran
Penfui terjadi pada 9 November 1749 di kaki
bukit Penfui, sekarang dekat Kupang.
Tentara besar orang Topas dikalahkan
oleh pasukan Perusahaan Hindia
Belanda yang berjumlah lebih rendah setelah
penarikan bekas sekutu Timor dari medan tempur, mengakibatkan kematian pemimpin
Topas Gaspar da Costa. Setelah pertempuran, pengaruh Topas dan Portugis di Timor
menurun, kemudian berujung pada pembentukan batas antara Timor Belanda dan
Portugis yang kemudian menjadi perbatasan modern antara Timor Barat dan Timor Leste.
Menyingkap
Wafat Raja Insana TTU
(Secuil Kisah dari Pusara Usi Pou Neno Usfinit di Maupoli-Kupang)
Perang Penfui 09
November 1749 di kaki Bukit Penfui menyisahkan cerita lara bagi keturunan Usi
Pou Neno Usfinit, Raja Insana Timor Tengah Utara ( TTU ). Betapa makam Usi yang
bersekutu dengan Topas/ Portugis itu baru ditemukan setelah lebih dari dua
setengah abad, tepatnya 254 tahun (pada tahun 2003). Kekalahan perang melawan
Belanda saat itu, menyisahkan kisah tragis. Kematiannya setelah dibunuh oleh
Belanda memisahkan Jasad Raja Insana itu dengan wilayah kekuasaannya di TTU,
bahkan memisahkannya dari rakyatnya pun keluarganya.
Topas adalah sebutan lain untuk turunan campuran antara Portugis
dengan Flores, Timor dan Belanda. Terdapat juga pasukan Portugis pelarian dari
Malaka yang berasal dari India maupun Afrika. Campuran dari keseluruhan mereka
ini yang kemudian dijuluki Portugis Hitam oleh Belanda, atau juga dikenal
dengan nama Topas. Istilah “Topas” sendiri kemungkinan berasal dari kata
“topi”, karena kaum ini menamakan dirinya sebagai “Gente de Chapeo”
(Orang-orang Bertopi).
Usi Neno Pou Usfinit adalah raja Insana yang diminta bantuannya
melawan Belanda (yang bersekutu dengan raja dari Rote dan Sabu). Dampak Perang
yang dimenangkan oleh Belanda, raja ditawan dan dibunuh. “Panglima-panglima
yang turut serta bersamanya pun rela mati bersama rajanya karena kekalahan
dalam perang tersebut,” demikian penuturan Bapak Stanislaus Naimnule, di
Maupoli-Kupang, saat Sungkem di Pusara Raja Insana bersama anak cucunya, Kamis
(06/03).
Teringat pelajaran sejarah ketika SMP dan SMA, hampir menghafal
perang antarkerajaan di Jawa. Guru-guru sejarah ( saman doeloe) sering
mengajarkannya dgn metode bercerita.Menarik,bahkan karenanya banyak siswa atau
pelajar leboh menghafal pelajaran sejarah, dibanding pelajaran-pelajaran
lainnya. Mungkin juga karena itu, jurusan IPS ketika itu pasti banyak
digandrungi dibanding IPA apalagi Bahasa.
Kondisi ini tentu berbanding terbalik dengan semangat
patriotisme yang digelorakan oleh nenek moyang kita di NTT. Boleh dikata
sangatlah miris, karena perjuangan nenek moyang negeri sendiri, terabaikan, dan
lenyap bersama waktu. Dan dewasa ini siswa-siswi kita masih juga mempelajari sejarah
bangsa lain dibanding bangsa atau daerah sendiri.
"Merdeka Belajar" yang digaungkam Mas Nadim, semoga
memberi ruang bagi pelajar dan mahasiswa kita untuk mengungkap perjuangan nenek
moyang NTT yang dengan gigih mempertahankan negeri 566 pulau atau yg dijuluki
Indonesia mini ini.
Syukurlah bahwa tuturan lisan tentang perjuangan nenek moyang di
daerah ini masih tersampaikan atau terekam walau berabad-abad.
Bapak Stanis Naimnule pun mengetahui keberadaan Kubur Usi Pou
Neno Usfinit melalui petunjuk dalam mimpinya, walau sebenarnya ia juga pernah
mendengarkan kisah heroik kestaria Raja Insana itu di masa kecilnya.
Jika keluarga mengabadikannya sebagai pejuang untuk kemerdekaan
bangsa, mungkinkah bangsa (daerah ini) hanya membiarkan mereka mengagumi dalam kesendirian.
Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para
pahlawannya?
Pelajaran sejarah, mungkin mulai dari titik ini: Peluh, dan
darah nenek moyang kita.
Salam Literasi…
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!