SEBARIS KATA
Antologi Puisi 1: Testimoni
SEBARIS KATA
UNTUK JONI LIWU
Puisi selalu membawa kita kepada
dekapan cinta dari jagat raya juga orang-orang tercinta. Lewat nada-nada yang
tidak pernah sumbang, puisi selalu datang menguak tabir hingga jauh ke dalam
batinnya. Riuh mengungkap makna dalam keheningan, mengucap tabik dalam kesunyian.
Puisi tak ubahnya kitab-kitab, yang tidak sanggup berkata-kata kecuali
kejujuran, mengabarkan setiap hal dalam
kedalaman.
Mencengkeramai buku Mengembara di Lautan Cinta 2 karya Joni Liwu
menimbulkan kesan mendalam. Membaca lembar demi lembar puisi dari halaman
pertama hingga pungkasnya, terangkum sebuah opera yang beragam dan sesekali
mengejutkan. Diksi yang membumi berdaya
masif menggali tanah Kupang yang molek dan makakaya. Kata-kata yang lahir dari
kemolekan tanah Kupang itulah yang sekarang ada di tangan Anda. Pengalaman
jatuh bersimpuh, pengalaman kehilangan, pengalaman ketiadaan, sekaligus
pengalaman tinggal di tanah Kupang yang menawan
telah menjelma dalam karya.
Joni Liwu berhasil menghadirkan
puisi-puisinya sebagai persembahan bagi orang-orang tercinta. Tentang ayah
begitu bersahaja dan penuh cinta, tentang anak gadisnya, juga tentang sahabat
seia sekata. Tidak ketinggalan alam Kupang yang perawan berhasil dijamahnya
dalam bait puisi yang memesona. Ia secara apik meramu lukisan alam tentang
gunung dalam “Wuko” dan tentang pantai dalam “Rako”. Tidak ketinggalan lukisan
tradisi ia manifestasikan dalam puisi
bertajuk “Tais”.
Dari sekian banyak sajak yang lahir
dari tangan piawai Joni Liwu, bait-bait ringkas bertajuk “Simpuh” melahirkan
kesan yang begitu mendalam. Meskipun sederhana, tetapi bait itu terasa begitu
dalam mengoyak dinding nurani. Betapa kita sering lupa, bahwa kita sekadar
makhluk yang mau tidak mau hanya bisa tunduk pada kuasa-Nya. Betapa kita
terlalu angkuh menyusun rencana duniawi yang kadang membuat kita kecewa
sendiri.
Selain membuat kejutan dengan
pemilihan diksi khas tanah Kupang, Joni Liwu juga mampu menggugah ingatan kita
kepada puisi “Ping Pong” Sutarji Calzoum Bachri. Bagaimana tidak, dalam puisi
berjudul “Katanya” Joni Liwu mampu menjamu kita sebuah puisi dengan rima akhir
sama “ing” pada keseluruhan barisnya. Rima itu pun meluncur tanpa keterpaksaan
dan tanpa mencederai makna.
Akhir kata, Joni
Liwu berhasil meramu kekuatan dalam kesederhanaan, meracik alam menjadi sajak,
mengemas cinta dalam goresan tinta. Pengalaman yang mumpuni memberinya tangan
yang dingin untuk mengolah setiap rasa menjadi bait yang mampu menggugah jiwa
siapa pun yang membacanya. Selamat, sahabatku, Joni!
Suprihatin Trisnodiharjo
(Penulis Buku, Cerpenis dan novelis
Yogyakarta)
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!