IZINKANLAH

 Antologi Puisi 2: Bahana Cinta

IZINKANLAH


Ku menanti dan mencari remah cintamu
Pada celah rambutmu hari ini
Tak kutemukan walau setitik.
Bening rasa yang menjauh?

Jemari mengusap pada lekuk rona senyum
Pada bias rindu kental dari ujarmu tersamar
Menanti hingga datangnya sapa.
Kan kudekap erat ranum tubuh 
Hingga lelap dalam kelana rindu.


Tetes jamrut pada celah jiwa kian jauh,
Kian bening tak berbentuk
Tak terlihat noktah yang tertambat pada keping hati 
Remah rindumu kala menyepuh gemuruh batin tersandung
Tapi tak sanggup bersanding
Karena keping rindu tlah lelap
Dan senyum hambarmu luluhkan rindu tercabik.


Diamku tetap menanti di sudut piluh
Kalau saja kau lihat
Izinkanlah

Kupang, 06 Agustus 2018

 

 

 DICOBA


Di kala lara
Agar tetap setia
Atas apa yang ada
Kan syukuri berkat-Nya
Karena hidup adalah sementara.


Sahabat-sahabatku yang sedang menenun rasa
Kita mengembara di lautan cinta
Sedang mengais kasih demi sesama
Dan kemuliaan nama-Nya.
Semoga

 

Kupang, 09 Agustus 2018

 

 BUIH PENGLIPUR

Dihentak Deburmu
22.00 ;
menerjangmu yang agak genit dalam dekapan Lewotobi dan Solor.
Manjamu di ujung malam ini, menyengat tubuh
Hangat membalut tubuh
Dari hangatnya asap Lewotobi yang saban hari menghias angkasa lewo tanah?
Hangatmu dari dekapan Nusa Solor yang sedang terbuai mimpi?
Riak gelombangmu dekatkan hati pada bunda menanti
Deburmu pada tepian palka
Teguhkan tekad
Bahwa buih-buih ombakmu
Satukan saudara yang sedara
Walau jauh di mata.22.00 kususuri tepian nusaku
Tuk rengkuh damai alam yang lelap dalam mimpinya.

20 Juni 2028

 

 

SENJA MENANTI


Petang menjelang
Pada rindu tak perna lekang
Agar kisah selalu dikenang
Hingga hati tetap senang.


Rindu kan terobati
Yang kurasa di dalam hati
Bukan untuk hari nanti
Berasa tentram itu pasti.

 

22 Juni 2018

 

 

DI DEGUP JANTUNGMU

Bahagia tak terhingga

Mendekap hingga ke dada
Ia memeluk rasa
Ingatkan kasih bunda
Tak terhingga pula.


Inikah Bahaginya kala mentari tlah senja?
Inikah pelukmu kala rindu memagut?
Inikah lembar kasih yang kau tulis seiring degup jantungmu?
Pada helaan nafasmu
Kusantunkan kisah indah pada balutan senjamu
Agar iring jalanku.

 

Kupang, 23 Juni 2018

 

 

ASRI

Petualang temukan damai
Pada ngarai kasih
Dalam dekap pertiwi Helero.

Kukenangmu seperti melihatmu dulu
Kala mengikuti rambutnya memutih
Menjejakan kaki seperti yang ditunjuknya
Arungi ngarai warisan nan asri
Agar tetap kuwariskan asrinya
Hingga suatu saat nanti.


Hewa-Boru-Ze-Ahu Bait
Ronamu tak perna lekang
Tuk hidupkan anak cucu.

 

Boru, Juni 2018

 

 

DERU
Yang tertinggal hanya kenangan bersama,
bersama rajut suka
Hingga senyumpun terurai.
Mungkin tertinggal luka
Benamkan saja di senja ini
Jangan tinggalkan perih
Walau itu di hati,
Karena perih letihkan jalan.

Jangan pula keluhkan amarah
Karena dengki kan letihkan senyum tersisa
Lalu tawa pun tersungging terseok
Dan langkah lunglai.


Pada debur gelombang di dermaga ini
Hanya ada secuil asa:
Bahwa gemercik rinduku
Masi menata jalan esok nanti
Dan kita kan rajut bersama lagi

Kupang, 25 Juni 2018


DI PUNDAKMU FATU LEU 
(Fatu Leu 1 )

Tatapku pada dinding kanvas ilahiMu
Terurai rindu
Lalu kudekap erat di pelukku
Karena kabut sutraMu
Tlah kutoreh di lembar-lembar kusam yg sempat tersobek
pada dinding 'batu keramat' Fatu Leu Mu.
Merangkak di pundakmu nan terjal
Bak merangkai narasi
Pada diksi yang tepat 
Agar pepohonan di dinding batumu
Kan bersahabat kala kumencumbui dadamu gemulai elok 
Molek, 
hingga kelam tubuhmu memagut rasa
Hingga mata takjub memandang
Hati degup kagumi panorama
Alam surgaloka yg trtancap di bumiku...
Kususuri jalanMu yg terbentang
Agar tetap tertulis bahwa
Agung karya-Mu harus disyukuri.

Fatuleu,Kupang, 19 Juli 2018

Fatuleu adalah nama gunung tertinggi kedua di Pulau Timor.Kini menjadi wisata alam di daratan Timor, khususnya di Kabupaten Kupang.
Fatuleu ( dalam bahasa Timor ) bermakna batu Keramat.

 

 RANUM TAK BERLALU   (Fatu Leu 2)


Rindu telah rebah di punggungmu
Tak redup membuai rindu
Sekejap pun belum berlalu
Selalu kuelus Ranum tubuhmu .


Di puncakmu kabut mengusik
Sepoi dengan semilir jadi musik
Iring hati legah kian menukik
Belai molek ragamu yg musryik.


Kalau sja kisah ini tak perna kelam
Hendak kusurati pada yang terdiam
Di relungmu alam
megah tak terselam


Santunkan di kisah hidup

agar jadi kenangan di hati yang dalam
Mengenangmu tak bertepi 
Kala
kabut menutupmu.

 

Kupang, 20 Juli 2018



RINDUMU

(Fatu Leu 3)

Rindumu
Menatapmu pada bumi tak bertepi,
Pun Kala senja sisahkan lara nan sepi
Hati terpaut tak sanggup menepi,
Lalu kutulis lara di ujung sepimu
Hingga ku tahu bahwa rindu tlah lelah memapah asa.

 

Kupang, 21 Juli 2018

 

 

MENGHITUNG LELAH


Menghitung Lelah
Berjam-jam
Belum kuhitung lelah
Dan menanti berganti jenuh
Hanya keluh
Tambah peluh
Hati gerah
Semua pasrah
Agar sembuh.

 

Kupang, 22 Juli 2018

 

 BIAS BUKANLAH BISA


Bias alam bukanlah bisa
Bias pagi selalu ceria
Beri hangat tuk ayunkan langkah
Ke kebun tuk suburkan tanah
Ke laut tuk tebarkan jala
Agar hidupkan jiwa pun raga
Agar hidup tetap ditata
Agar anak dan sanak bahagia
Karena bias mentari pagi ini
Bukanlah bisa merenggut nyawa
Bias mentari pagi ini
Dongkrak hidupmu raih sejahterah.

Atambua, 15 Agustus 2018

 

 

 

SEMENIT

Kita memang saudara 
Karena kita memang sedarah
Di tapal batas ini
Saudara tak pernah pisah
Tak mungkin menjauh
Karena kita sedarah.

Semenit bersamamu
Di sini, Di tanah kita
Tanah leluhur, Tanah warisan
Untuk kita yang sedarah.

Di tapal batas ini...
Senandung rindu kita litanikan
Yanyian hati kita dengungkan
Agar tak pupus rasa yang tertulis dalam larik-larik kehidupan
Yang tlah menggema di seantero sabana Timor.

(Tapal Batas-Motaain,16 Agustus 2018)



PISAH

 

Pisah
Dan saat itu tiba
Pada wajah pasrah
Sua kita hingga di garis ini
Tulus ucap hatimu
Bersitkan lara

Walau sukamu masi mmbekas.
Kuingin mengajakmu telusuri ruang kelasmu:
Yang tak seberapa luasnya
Yang cukup untukmu mengasah ilmu
Yang cukup bagimu untuk mengasih
Mungkin pula untukku mengasuh.

Ruang kelasmu
Yang tak pernah sepih karena riak jiwa bergelora
Riak-riak idealismemu yang terpantul dari lahir pun batinmu.
semua tersantun di antaramu,
Jadilah persahabatan pun memikat,
Hingga kamu merangkai pengalaman indah tak terlupakan,
Bak rona pelangi dari serpihan warna hidupmu:
pahit,getir,hambar,senyum,peluh dan derai air mata,
Luluh,
Satukan hati tuk trus kibarkan panji citamu.

Hari ini ...
Tlah kugoreskan asaku
Agar dapat mengasahmu
Demi hidupmu esok hari.

Hanya hasrat
Agar senyummu esok hari
Jadi puisi indah merangkai hati
Bahwa kita pernah bersama.
Santunkan aku kala raih senyum bhgiamu.

 

Kupang, 20 Agustus 2018



NIRWANA

NirwanaMu
Di atas kanvas bumi-Mu kami berkelana
Pada ruang nirwana-Mu kungin melukis sepenggal kisah:
Bahwa hidup sehasta harus kusyukuri
Bahwa terbit mentari hari ini harus kusyukuri.
Tuntunku selalu 
Sebelum senja menjelang.

Kupang, 29 Agustus 2018.

 

 

 

 

 

PUISI SEMINGGU

 

Dawai batinmu gelitik jemari
Dan kugoreskan agar hasrat tak terpendam.
Tarikan nafasmu kudengar dari bisik bayu nan lembut,
Rindu menanti walau kata sungkan terucap.


Degup rindu tlah menata cinta semu
Entahkan terlarang?
Atau cinta tlah tersekat norma, batasi gelora jiwa?


Untai rindu tak berwujud
Sisahkan puing-puing galau
Sisahkan remah-remah rindu terpendam
Jadi keping-keping fatamorgana .

 

Kupang, 01 September 20198

 

 

SUMRINGAH


Sumringah Anak Bangsa
Mentari yang masih benderang
Kisahkan cerita indah pada kembang
Yang ranumnya tak kubuang
Jadikan hasrat tak pernah lekang
dan ragapun tetap berjuang
Karena tak ingin buang peluang.

Mentari yg masih benderang
Pandu jemariku tuk tuntunya baca
dengan mulut terbata,
Tuk tuntunnya tulis dengan jemari lusuh,
Hingga ia jemput mimpi indah
sebelum senja menjemput dalam litani nestapa.

 

Kupang, 02 September 2018

 

 

RELUNGMU

 

Yang menantimu
Yang merindukanmu
Yang tak terlupakan
Dan yang mendamba belaianmu
Agar molek bestari
Menawan
Mempesona
Dan kau tetap kukenang.

 

Kupang, 05 September 2018

 

 NAFASMU 


Nafasmu
Desah nafasmu
Runtut bagai pikirmu 
Raut pasrah nan bersahaja
Namun
Tlah banyak korbanmu
Tlah banyak asuhmu
Tanpa keluh.
korbanmu tak sebatas senja yg melepaskan secercah singlet kuning keemasan,
Tapi korban tanpa pamrih
hingga tak ingin dilihat
walau pijarkan kasih melebihi indah rembulan malam tadi yang kau tunjuk.

Sayang....
Kita melangkah tanpa meratap
Kalaupun pedih jadikan bahagia
Kalaupun bahagia janganlah berlama
Karena derita kita tlah ditulisNya pada derita Golgota
Bahkan hingga tiba di salib keselamatan.

Kita tlah memadukan salib
Jgn berpikir utk mengurangi beratnya,karena beban tlah terukur untuk hidup yg sejengkal,
Jgn pula salahkan betapa beban mnjdi berat,
Karena bahagia kita akan sebanding dgn berat di pundak.
Hingga suatu saat nanti
Kuingin melihat sungging senyummu
Karena di GolgotaNya
Tlah tertoreh sukamu
Suka kita.

 

Kupang, 08 September 2018

 

JIKA SAJA


Kalau saja peluh ini untukmu
Jangan kau tanyakan berapa upahmu.
Jika saja kujalani hari ini hingga petang
Jangan kau tanyakan masihkan hari esok untukku.
Jika saja kupendam lelahku
Jangan kau tunjukkan gagalmu hingga terbit mentari esok.
Tapi ...
Santunkanku di ziarahmu kelak.

 Kupang, 09 September 2018

 

 

 

 KARTINIKU

Pada Khatulistiwa
Kutulis jamrut jadi puisi
Yang menetes
Basahi negeri Pertiwi
Suburkan sabana jadi hijau
Tuk beri harap pada anak negeri.

Kartiniku
Hadirmu tlah goreskan sebait puisi merah putih
Tuk bangkitkan juang
Agar raih tonggak,
Agar gadis-gadis bangsa sanjungkan semerbak:
Indonesiaku membahana
Seruhkan senandung senyum
Hingga genggam cita-cita luhur.

Kartiniku
Bait merah putih ini
Tlah rasuki jiwa
Jadikan kuat
Berdegup jadi gebiar
Enyahkan jiwa dijajah
Kobarkan lara jadi semangat
Agar cita-cita,agar kandilmu jadi pemantik cahaya
Pada helai nafas yang tersisa.

Kartiniku,hembuskan ikrar
Gelorakan ikhtiar
Agar merah putih kan satukan bangsa
Hingga selalu kudengar Senandung rayuan Pulau kelapa:
Indonesia Ku bangga, Indonesia Raya.

Kartiniku,
Kusanjung dari rahimmu
Tlah sirnakan gelap hingga terang
Dari diam hingga berikrar:
Satukan niat
Bersama barisan gadis kebaya
Karena damai hatimu
Damai bangsaku

Kupang, 22 Desember 2018


HARI KETIGA


Untaian sendumu
Mengalir
Mengayun
Membuai
Bak hempaskan penat
Lirih hendak luruhkan kecewa.
Bening hari
Seperti bening hati
Tuk tautkan asah pada sang Khalik.

Seruhkan asamu
Serahkan juangmu
Tuk sehasta hidupmu
Tuk menata hidup
Lewat bait-bait hati
Yang saban hari dilitanikan.

 

Kupang, 04 Oktober 2018


SERAMBI 13

Denting dawai juangmu
Hantarkan terjangmu
Hingga ujungnya.
Pada simpul senyummu
Hanya tulus dan maaf yang terucap
pun hati lapang
Berdetak iklas memohon maaf
Diderai tangis tersipu
Lara enggan melangkah
Walau itu sekejap,
Namun gemericik tekad
Kian mengiang
Asah dan asuhmu masi mengembara
Membias
Gelayuti batin yang damba asuhmu.

Di serambi 13 ini
Tlah terpahat seuntai asa yang masih tersimpan
Untukmu pejuang yang masih berjuang.


RINDU DI BATAS HARI


Rindu pada senyum terurai
Yang pernah tersantun
Yang mendekap erat di ziarah kita,
Yang suram walau sekejap
Namun terurai
kala kuterseok bermandi peluh,
hanya tuk sambung ziarahku
hanya tuk senyum walau getir
hanya tuk jabat tangan kita.
Kuakhiri laraku
Kala gerimis tak henti mencumbui kota kota karang,
Yang gersang tapi merangsang.

 

 BATAS MALAM

Rindu di batas malam
menanti rekahnya fajar
lalu rangkul kau seluruh
Dekat di mata
Pun di hati

Rindu di batas malam
Tak sirna oleh bayu
Tak mejauh walau sedetik
Tak sirnah oleh gemerlap lampu kota.

Rindu di batas malam
Buaiku tuk mendekap
memadu, menyatu di batas malam
hingga syair batin jadi lirik 
Dan rindu di seberang laut dapat kugapai.

 

 

KIPRAH

 Kiprahmu tak terperih

Walau berpeluh tetap bersahaja
Ke mana-mana
Jiwamu untuk nusa ini
ragamu untuk nusa ini
Dari bhaktimu
Dari juangmu
Dari peluhmu
Nusaku tlah mengusungmu.
Dari iklasmu
Tlah tersantunkan namamu
Pada berjuta tangan berlumpur di sawah
Berjuta asah yang berharap
Berharap tersenyum bersama pertiwi surgalokanya.

 

 

TEGUH


Pada bening asahmu
Kusanjungmu
Kalau saja hidupmu sehasta
Seruhkanlah,
Jika jalanmu tlah berliku
Serahkanlah..
Bening hari bak sebening hatimu
Tuk tetap teguhkan Doa mu
Hanya menatap
Bukan menantang..
Hanya meracik kata
Tak memberi petuah.

 

 

RINDU LITANI GEREJA

 

Mengenangmu
Karena telah berteduh
Untuk merengkuh
Mengenang karena tlah membenam rindu.

Rindu pada litani gereja
Pada suara gadis desa berseru
Pada sujud khusuk sesama
Pada kidung Maria di litani Rosario.

Mengenangmu
Tidak usai pada batas malam ini
Mengenangmu atas selaksa peristiwa
Yang meronai senyum dan tawa
Tangis dan duka sanak sahabat
Yang kian menyusuri hari-harinya.

 

 

SEDARAH

 

Kita bukan sedarah tapi saudara
Dan hari pun membuka tabir
Mendekatkan raga di tapal batas negeri
Mengusung suka lalu berjabat.

Kita bukan seadarah tapi bersaudara
Hingga lantunkan simponi hidup
Memengalir seirama denyut
Menyatukan rasa berbeda
Lebur dalam senyum kita.

Di tapal batas ini,
Terukir lembar sutra pengikat
Bahwa tuk tetap satu
Kita harus berjabat tangan
Walau kita bukan sedarah.

 

 

SUJUD

 Sujudku di altar suciMu

Sujudku untuk lindungMU
Sujudku untuk bentang kasihMu
Kasih ayah bunda
Kasih saudara
Kasih sahabat
Kasih semua...

Di rumah agungMu
Pada takhta suciMu
Keberseruh
Kuberserah
Atas jalan yang lalu
Untuk langkahku nanti.

Santunkan harapku
Lapangkan jalanku
Tuk hidupku yang sehasta


IKRAR

Selamat pagi
Untukmu pejuang setia
Kusematkan untukmu yang tak
kenal  pantang
Semangat pagi
Untuk jiwa berseri
Hingga tuntaskan tanggung jawab

Selamat dan sukses
untuk abdi nan setia.
Pagimu yang ceria
Pancarkan luhurnya budi
Ikrarkan semangat
Agar karya dan bhakti tetap bersemi.


Sang Khalik
Ilahi
Rahmati jiwa yang berseri
Tuk rampungkan niat
Kuatkan langkah
Tuk sehasta jalannya
Santunkan abdinya
Pada jalan kami yang masi terbentang
Agar
jalan tak kelam,

Agar suluhmu hantarkan kami.

 

 

 

SENJAMU

Dan senjamu yang indah

Tlah taburkan asah juang
Hempaskan raguku,
Tuntunku tuk mengais
Hingga mulutpun sanggup berkata
Tatapku memandu,
Dan aral terlewatkan.

Senjamu nan indah
lalu relungmu tlah ingatkan
bahwa: akan menuai jika menanam.

Senjamu yang permai
Entahkan bahagiamu?
Senjamu yang menawan
Tegarkan kami yang lunglai
Hingga rengkuh bahgia
Tuk bahgiamu jua.

 


SERAMBI 16

 

Pada ngarai kasihMu
Tertabur butir asa
Pada lautan cintaMu
Kusanjungkan agungMu
Kusematkan selamatku
Tuk hamparan karyaMu
Slalu kuatkan jalanku
Kusyukuri


Serambi 16
Derai peluh 
Pada batin teguh
Namun mulut tak berkeluh
Untuk merengkuh:
Secuil asa pada ranting rapuh
Yang belum terjamah.

 

(SMPN 16 Kupang, Oktober 2018 )



MENTARI

 

Selaksa kisah tlah tertoreh:
Karena asihmu
Karena asuhmu
Dan juga asahmu.

Dan tesebutlah pekerja di tamannya:
Yang mengayuh cangkul di sawahnya tuk cukup pangannya
Yang merendah sukses atas mimpinya pada bangku dan kursi reot di sekolahnya,
Yang memegang panji juang dan berikhtiar tuk senyum sanak sahabatnya,
yang ajarkan angka,
baca dan tulis agar dapat bangkit
Yang tuturkan nilai agar bangsa beradab
Yang gambarkan keragaman agar kami belajar menghargai
Yang tunjukkan santun agar bangsa berbudaya.

Di harimu yang kian benderang
Teruslah meniti sumpahmu
Teruslah menata anak bangsa
Karena peluhmu bak kembang penghias taman
kan berseri di taman bangsa
Merdekalah untuk jiwamu
Bebaskan ragamu dari belenggu sesama
Tuk bangsa yang berjaya
Indonesia jaya.

25 November 2018
(
Selamat tuk sahabat- sahabat di hari guru )

 

 TAMNOS 16

Merahmu gelorakan tekad
Tautkan batin nelangsa
Merahmu santunkan asa
Tercabik
Di senjamu lautan rasa balutkan sumringah
Bahwa jabat tangan eratkan jalan kita.
Tamnos 16, merahmu adalah jiwa anak n egeri
Tegakkan harsat: satu bahasaku
Digjaya bangsaku Indonesia

 

16 Oktober 2018

 

 

 

PILU


Kala itu....
Butir nestapa batinmu
luluhkan pesona
goyahkan naluriku
Pada bayang semu kelabu
hingga tak terucap ikhtiarku
Tuk sambut tanganmu...
Di lautan bening cintamu
Di ngarai kasihmu pun
Tak sanggup ku raih tanganmu
Lalu kuntum pun berlalu
Pahit kureguk
.
Berkelana dlm sepih
Dan mawar itu tlah menghiasi tamannya
Indah dan berseri
Dan
Goresan kusam itu pun kututup
Pada senyummu nan indah.

 

NOVEMBER NAN HAMBAR

Kukenang hari bahgiamu
Tak ada yg luar biasa
Tak ada yg dikenangkan..
Fajar yang tlah menyingsing
Tlah ucapkan syukur atas bahgiamu
Senyummu di hari orang-orang kudus
Senyum hambar walau batin bersyukur.

November yang hambar,
Hati terenyuh
Lara bersanding di bahgiamu
Tapi senyum mentari
Iklaskan hampa
,
Terang mentari
Lepaskan penat.


Har
i  ini tuk bahgiamu
Hari ini tuk suka cita kita
Karena di hari orang-orang kudus ini.
Sepenggal doa tlah kuatkan siarahmu....
Tlah bahagiakanmu raih impian
Tlah tuntunmu tuk senyum 
Syukuri lindungan-Nya.

 

Kupang, 01 Desember 2018

 

 SELENDANG UNGU

Dingin menerpa Cisarua 
kala kabut memagut 
Raga enggan kelana 
Walau melangka sebentar.

Di ujung malam 
Kau menyapaku 
Melepas senyum sua
Lalu kita kelana susuri Metropolitan
Hanyut dalam kelap-kelip lampu kota
Terbuai hingar-bingar kota yang tak pernah tidur,
Lalu cerita kita terurai.

Larik-larik hidupmu di kota nan garang
Jadi syairmu saban hari.
Petualanganmu menuai guru,
Yang mengajarmu jadi tegar di negeri rantau.

Sahabat,

Selendang ungu yang kau kirim
Buyarkan mimpi di terang bulan
Sirnakan kisah yang tercurah.

Dan semua yang terkisah
Telah terbenam bersama kelam 
Duniamu bukan duniaku
Tapi tabir hidupmu tlah jadi puisi indah
Bagai kecapi batin penuh daya menggugah.

 

Kupang, Medio November 2018

 

 

 MIMPI FANA

 

Kau yg dihalau hanya berkata: apa salahku?
Lalu kami berpose dalam suci
Kau yg tersungkur hanya terdiam
Lalul kami, bersikap acuh,menatapnya sebagai salahMu.
Kau yg dirajamdan
ditelanjangi,
Ditombaki
dimahkotai, hanya berkata: ampuni mereka.

Tapi kami berasyik masyuk dengan dunia kami,
Dunia mimpi alam fana,
Dunia halusinasi tentang firdausn,
Dunia pesta pora para syaitan,
Dunia hampa tanpa jiwa teguh
dunia kelabu.

Kau yang terpaku hanya berseru: Aba ya Abaku.
Lalu kami meneriaki keangkuhan kami,
Mengagumi kesombongan,
Kepongahan dalam lumpur nestapa.

Di ujung malam....
Kau yang berserah diri pada ilahi dan kalahkan maut,
Musnahkan beban dosa 
Luputkan dan bebaskan,
Tapi hati kami buta,
lida kami keluh,
raga lunglai ..

Pada ujung malam yang sama...
Kami semakin pongah,
Lelap dibelai kemaksiatan raga,dimanja bingarnya dunia ....
sambil jiwa lunglai tanpa daya,
remuk tak berbentuk.
...
Dan
tubuh rubuh, karena rapuh
Karena tak bersuluh.
Pada KakiMu
Mulutku hanya berseruh dan berserah
Kuatkan otot dan otak
Topangkan budi dan bodi
Tuk lanjutkan sehasta hidup
Tuk gapai nirwana abadi
Rumah abadi
Dalam keabadianMu.

 

Akhir November 2018

 

 SYUKUR


Rinai di ujung hari
Pada batas kaki buana
dan
Ceria luluhkan hati.
Torehan panorama
dandan padang senja
Pahatan bumi kanvas sang Kuasa
Tlah memagut rasa
Tlah memahat kisah
Bahwa hidup sehasta:
HARUSLAH DISYUKURI.

 

Awal Desember 2018

 

 

 NADIKU

 

Torehan temaram:
Mentari yang memagut senja
cipta dari yg bertakta
Agar jiwa tak gulana
Karna kasih tlah membahana
Demi rasa yang bersahaja
Tuk jumput bahagia
dan hati pun tak lagi lara.
....
Ah....senja yang gemulai
Elok nan aduhai
buatku bisa merangkai
sebait sajak hati
Untuk dia yang di hati,
Yang bersama slalu melitani
Tembang hidup di hari ini.

Desember 2018

 

KUSURATIMU BUNDA

 

Kureguk setetes jamrut dari mu hari ini
Lalu kusantunkan ucap tulusku
Tertambat dalam balutan senja
Hinga beradu keremangan di ujung malam yang membisu,
Hanya untukMu
Pemberi jiwa
Untukmu pemenuh raga
Untukmu pembawa cinta
Untukmu pelepas laraku.

UntukMu semua:
Tulusku tak cukup berimu damai
Tulusku hanya sanggup tersenyum
Karena kita tlah menenun suka
Kita abadikan untuk sejengkal jalan
Untuk sehasta hidup....

Ibu,
Doamu kuatkan ragaku
Doamu panjangkan jalanku
Hati tak sanggup berujar TERIMA KASIH untukmu di keabadian
Untukmu yang menata di kefanaan.
Hingga ku hanya mampu bersimpuh
Bertelut
Sujud syukur
Tuk karya Maha agung. 
Kusantunkan
Kusematkan
Amanat dari niatmu
Dalam detak nafas yang masih berdenyut
Dalam tetes darahmu yang masih mengalir di ragaku
dan dalam tiap jengkal langkahku
agar lurus jalanku

 Desember 2019

 

CERIA

Semarak tahun baru
Masih tersisah yg belum usai anakku
Juga yang belum terjamah
Yang terencana.
Esok,saat mentari sibak hari pertama
Hendak kurangkul dalam dekapku
Dekat ke hatiku
Dekat ke sukma
Hingga kumampu
lepaskanmu
Arungi harimu seirama mentari

 

Desember 2018

 

 NATAL

 Natal:suka cita

Suka bila hati bersuka
Natal:duka cita
duka, bila hati bersedih
Natal: bahagia bila hati berseri
Natal:galau 
Bila hati gulana
Natal dekat dengan hati
Hati y
ang dekat dengan Sang Bayi
Ia hadir dalam sesama.

 

24 Desember 2018

 

 IBU DI HARIMU

(Kusuratimu Bunda, dengarkan)

Entah sedang apa kau sekarang?
Jawab yang tersisip di kalbu
Mungkin saja siap batin 
Hendak rayakan natal..
Seperti dulu
Saat tembang-tembang advent terdengar di Gereja 
Lalu kau pun dengungkan untuk kami
berulang-ulang
sambil kami berdiang di keliling tungku perapian,
Yang kami dengar pun jadi milik kami,
Jadilah lagu bagi kami
kami tahu persis kalau itu,
lagu-lagu masa advent bukan lagu natal...

lagu-lagu itu...
Kita nyanyi bersama
Hingga kau ajarkan lagu-lagu natal
Sambil tengadah melihat rautmu,senyummu 
kami lagukan nyanyian natalmu
merdu dan membahagiakan

Mama...
Kau ajarkan tanpa ceramah
Kau ajarkan dengan caramu:
Memberi dari hatinya
Menyanyikan tuk menguatkan
Mengidungkan demi Natal kami.

Ajarmu tlah terpahat jadi pigura
Pigura yang bingkai hidup 
Agar seturut ajarmu
...
Ajarmu jadi tonggak
agar dongkrak harkat dan martabat ,
Kau dengungkan juga syair hidup
Agar hidup tak lagi perih...
Agar hidup tak dibenci DAN tak tersandung.
Kusantunkan untukmu seuntai doa.
   ( 26 Januari 2019 )

 

PANDU

 

Kala semua berselimut
saat raga-raga hangat bersuka
Tapi mereka menggagas
Mereka menenun cita pada rinai musim Desember.
Padai gerimis di hati yang merintih.
Tak banyak harap
Tak banyak mimpi
Hanya membenam asa di nurani
Tuk lihat mentari esok.
Panduku tlah wariskan semangat
Demi juangmu
Demi esokmu agar tak terseok
Demi senyummu.

 

 DARA  (1 )


Gambar telah berkisah
Di ujung-ujung imagiku,
Dekatmu di dinding hati
Selalu berucap manja
kini,tlah beranjak selangkah
Namun masih tersisah manjamu
Ku bahagia jelang datang-Nya
Syukurku untuk curahberkat-Nya.
DESEMBER...masi tersisa baktiku

 

Desember 2018

 

 DARA

 

Lalu perih tersenyum
Pilu pun berlalu
Inikah yang tlah trtambat di sukma
Dari hatiku
Dari dagingku
....
Berjalanlah
Berlarilah
Tuk gapai asamu
Jangan pilukan hatiku
Jangan padamkan juangku
Ini jalanmu

Desember 2018

 

 

 

 TUNTAS

 Setengah perjalanan

Harus tuntas di hari esok.
Ah.....
tak kumau
Kalau Desember kelabu.
Pada detak :01.38
Tekad untuk juang
Harus bernyali
Walau selalu bernyanyi
Untuk selalu bukan sekali
Yang tlah kutambat 
Di dinding hati.
Selalu syukuri tuk sehasta jalanku nanti

 November 2018

 

 

TULUS

Tulus dan sahaja
Apa adanya,
Dan itu saja
Guratan di wajahnya.
Hadirmu ajar kami:
Kerja harus tulus
Bukan karena hati rakus
Dari akal yang bulus
Hingga langkah tak akan mulus
Lalu asa pun pupus.
Hadirmu serukan kami;
Iklas tak pernah lelah
Iklas menuai berkah
Iklaspun tak akan jdi rendah.
Hadirmu bisikan kami:
Bahwa Indonesiamu tak akan pupus
Indonesia tetap abadi
Walau dari tapal batasmu.
17 Agustus 2018
(Untukmu Pahlawan Bendera merah Putih dari NTT:Yohanes Ande Kala Marcal alias Jon)



PUJANGGA 

Tertawa di sukamu
Terpatri dari sendumu..
Lalu di mana kebesaranmu yang dulu?
Sahabat....
Dia yang tlah taburkan asa tuk bangsa
Yang tlah kibarkan panji tuk nusa
Tuk adab anak bangsa
Dia yang dulu tebarkan syair bangsa
dia yang dulu di hati kita.
Dan kini...
Dengarkah kamu rintih batinnya?
Lihatkah kamu tubuh terkulai
Hanya pasrah pada tapa
Agar denting Sasando itu
Damaikan batin anak negri.

 Oktober 2018

 

SATYA

Untuk tetap setia
sembari gembira
agar bahagia
dengan Dasa Dharma
Kutuliskan di dada
Merah putih nan gagah
Hingga selamanyA

 

KAEMDE

Uji nyali
Di atas tali
Walau sekali
Tetap bernyali..

 Oktober 2018

 

TEMBANG DI POMDOKMU


Di tempat ini
kita tlah rajut suka
telah menenun ikhtiar
dan cerita itu pun terurai

Di pondok ini
kita dengar suluh ibunda
Kita dengar bersama ucap bijak ayahanda

Dari tempat ini, 
kitapun cengkrama
Rajut kasih
cerita tentang hari esok
tentang suka
Soal lara.
dari tempat ini pula 
kita telah memahat
Masa depan
Yg hari-hari ini
kita lalui di tapak-tapak hidup 
....
Rindu untuk bersuka
Di pondokmu
Pondok kita
Suatu saat nanti...

 Juli 2018

 

 

 

 

 

 

 

 

 AGUNG

 

Yubeleum agung..
di dalammu
Kami rengku hidup
Dari kudus ra
Jiwa bersujud
Dari agungMu
Kami menata hidup
Jiwa berseri
Puja puji sembah
karyaMu
lalu damai sertai kami
hingga mentari senja menjemput.

 

Oktober 2018

 

 

 

UNTUK JIWA- JIWA TERDIAM


Kerdip lilin ini
Kutautkan rasa
Kusantunkan doa
Berharap damaimu
Berharap kekal diammu
Mereka pun akan membuka lembaran itu
Bahwa surgaloka di jagad ini
Bukan negeri khayalan
Tapi surga semua.
Diam abadimu
Karena jiwa tak berlumur dosa.

 

 

 

 

 

 

 

JUANGMU


Untuk juangmu
Pemuda batinku
Jangan ragu
Bahgia slalu
Di hari esokmu
Yang kuasa meridhoimu
Karena peluhmu tercucur
Air mata tlah membasuhimu.
Genggam erat ikhtiarmu
Bagi- Nya tidak ada yang msutahil
Karena direlungmu, 
Ikhtiarmu diberkati

 

Oktober 2018

 

 

 

RINDU MENGEMBARA

 

Kalau saja ada tanya,
tanya itu tersentu batin.
kalau saja kau bertanya
mungkin juga jawabku:
rindu sedang mencari.
Di mana rasamu?
manakah gerangmu?
.......
Tinggal pilu memagut malam yang bisu 
karena lelah mengembara
Dan malam pun hendak sibak tirai hidupmu.
ah....
bayang rindu 
masihkah berkelana di ngarai hidupku? ........

September 2018

 

TEGAR

(Sajak untuk ibunda yang tersisa)

Satu dari duabelas
Kisah kusammu
Tak sekusam tatapmu
Pada kami yang damba pelukmu
Untuk anak cucumu.
.....
saudara saudara sedarah
Semua serahim
Tlah berlalu dan meninggalkanmu
tapi tegar tatapmu 
Ingin selalu untuk kami anak-anakmu.

Selaksa cerita tergurat di hatimu
Sejumput cinta tlah kau tabur
Karena itu pasti petuah warisan
Pasti itu nasehat tersingkap
Hingga kami pun kuat
Karna doa dan tapamu seorang..
Semua yang tlah berkanjang 
Pasti kuatkanmu;
Karena kuatmu teguhkan kami
Karena doamu lapangkan kami.

Di jiwamu kami ingin dengar semua
Canda,senyum dan doa ,
Di matamu kami ingin mengurai kisah
Kisah menguatkan
Teguhkan lemah kami
Tuk susuri jalan belukar
Agar gapai harap
Kan bahagia dengan seyum membingkai.

Di relungmu kuingin dimanjakan,
Jiwa yang rindu untuk suka dan tawa kita yg dulu.
Semua mereka tak memalingkan wajahnya
Tapi pergi tuk teguhkan kami anak cucu.
Semuanya saudaramu
Tapi kau sendiri
Sendiri untuk kami
. ( Oktober 2018 )

DEWATA

 

Pekan ini
Pekan pasrah
Rindu pada sebuah harap
Agar senyum kuatkan raga
Yang kutulis untuk bahagianya
Bacalah sebgai tautan kasih
Yang tak pernah legam
Bahwa Dewata agung
adalah eden di alam nyata.

 

14 Oktober 2012

 

 

 

 

 

GELITIK

Salamku untukmu
Rindu dengar ocehan
Rindu tertawa karena guyon nan gelitik
Lalu kitapun hanyut,
Satu rasa saudara
Satu rasa sedarah
Satu dari serahim.

Guyon nan gelitik,
Siapapun kan luluh dalam ceria
Sehingga kita mengukir kisah sedarah
Tentang jalan kita
Yang kadang tersandung 
Sedangkan bahu memikul beban.

Guyon nan gelitikmu
Sederhana 
Namun memaknai hidup dan bahgia
Salam untkmu.....

Oktober 2017

PELUH

 

Semangat menggelora
Dalam juang tuk pertiwimu,
peluh dari
raga
tlah tercucur dan tercurah
pun bagi Pertiwi
Dan
Tulus juangmu untuk lewo tanah.

Jika saja, harap kita pupus di saat krisis
Adalah pilihan yang tak terperih
Dewi fortuna menjauh

Anakku....
Di dadamu 
Juangmu itu telah disemai.
Gelorakan tekadmu
Untuk lewo tanah
Bravo PERSEFTIM.

 

TITAH


Mendambah sejumput asa
Walau lelah mendera raga
Demi jiwa berkelana
Hingga masa ceriah. 

Anak bangsa titipan Hawa
Merenda sukses esok lusa
Yang masih ada di sana
Walau peluh basahi raga.

Hari hari kita rajut bersama
Engkau, aku, kan bahagia
Mengurai titah Sang Kuasa
Yang tlah tersurat dalam jiwa.

( pada lelah di jalanku)

Oktober 2017

 

JANGAN BAWAH DAMAI ITU

 

Di sini rumah kita
Di sini kita menenun damai 
Sejak dulu
Kala masi berkelana mengitari masa kecil
Kala belaian kasih mama tuntun  kita di gubuk reyot
Lalu ajari kita untuk saling menyapa:kakak- adik;

Saat ayah melepas lelah setelah berpeluh seharian di kebun kita,
Dan damai mengguyur hari-hari kita:kakak-adik dibpangkuannya.
Sembari memeluk,
Ayah berharap nanti
Damainya itu kan terjalin
antara kita
Hingga tak akan ada iri
Tidak pula dengki
Tapi senyum melengkapi mahligai cinta ayahanda dan bunda.
Semua tlah disemai ibunda
Semua yang ditabur ayah
Tlah pudar...sirnah perlahan.....
Sirnah atas jiwa angkuh
Pudar karena yang dituai adalah
Senyum angkuhmu
Lalu kau pun jadi angkuh
Angkuh pada kita sedarah
Karena bukan damai dari hatimu
Tapi harta adalah pilihan damaimu.

Yang kuharap
damai yang tlah kita jalin dari doa
dari tapa kita kepada Bunda
Pada ibunda menyepi
Jadi milik
kita, bukan milikmu

Saudariku...
Entahkah hartamu adalah bahagiamu?
Ajari kami jika hartamu bahagiamu
Tapi jangan berikan kami dengkimu
Dengki y
ang tersulam dari kotbah-kotbahmu 
Dari ajarmu bak pewarta sabda yang selamatkan kami
Kalau tentram jiwa itu atas akhlak kami
Bahwa gapai nirwana
Itu atas akhlak kami.


Satu pinta :
Jangan beri kami sepotong dengki
atau suguhkan iri membenam dosa,
Tapi sejumput damai
Agar ayah seorang pun tersenyum 
Agar rumah kita bersemayam damai
dan doa bunda pun kuatkan jiwa 
Tegarkan raga
dalam berziarah
Pada penantian dengan tertatih merintih tak berkesudahan.

Kembalilah,kita sedarah dan saudarah.

Menjelang pagi ,23 September 2018)

PILUH

Temaram senja pejamkan pilu
Yang belenggu kembang tumbuh berseri
Yang menambat hasrat maju melangkah
Yang nistakan kemelaratan di ujung utas kebodohan.

Temaram senja...
Kisahkan titah leluhur tentang sejumput ilmu bekal hari nanti,
Goreslah pelangi hidup
Yang selalu beri kami nuansa
Yang selalu cerahkan kami
Agar kami tak saling nistah.
Lantunkan nada hatimu
Agar gemulai tari elok indahkan hidup.

Temaram senja,
Sisihkan secercah sinarmu
Tuk suluh jalan nan kelam,
Akan jemput mentari esok pagi
Dalam dekap erat Sang Khalik.
(September 2018 )

RINDU TERBAYAR

 

Ketika kau beri sedikit senyum di bibirmu
Rindu pun lunas terbayar.
Tapi,
Andai saja kau tahu
Bersanding di sisimu
Luruhkan rindu terpendam

Selaksa asa pun tak pupus
Selalu berkelana di ngarai kasih,
Kelana pada sayup matamu memendam
Pada sukmamu nan ragu
Pada hati enggan berbisik
Walau lara hatimu gulana.

Kala bibir mengurai senyum
Degup hati berbisik sendu:
Rindu tlah terbayar.

Kupang 26 September 2018.

DERMAGA UJONG ARO

 

Lewolebamu gulita pagi ini
Belum sebersitpun mentari menitipkan sinar
Lampu-lampu dermaga membisu
Hanya riak kecil gelombang
Sesekali menempi di bibir pantai Waikomo
Mengiring hati berharap
Hasrat sua pada senyum tertinggal di batin
Pada senyum terpaut pada dengung “Janji Ujong Aro”
Pada batin pernah tersulam di tanah wadas, kerontang.

Pada malam jelang pagi
Kulihat ikhtiar tertambat pada negeri pemburu baleo
telut dalam doamu terjawab
bahwa ikhtiarmu tlah menepi 
bak menyimpul syair “janji Ujong Aro”

 

Kupang, Agustus 2016

 

DARI TIRAI INI

 

Pada pagimu,guratan mentari nan elok
memukau batin tuk syukur
pada gemulai pantai nan menawan
Pada hempasan gelomang menepi buih
Menawan untuk menerawang.
Pada pucuk –pucuk di taman
Secercah sinarmu mewarnai kuntum
Indah tak bertepi
Berkisah tentang kasih
Pun menabur kasih
Agar hidup sejengkal
Santunkan damai

Kupang,
25 sept 2018

 

 

 

KETIKA KITA MELEWATI JALAN INI


Ketika kita melewati jalan ini
Hanya kepasrahan pada kuasa-Nya.
Memang terjal 
Memang berliku,
Tapi mentari itu kan membimbing,
Mentari itu menuntun walau berkabut.

Ketika kita melewati jalan ini,
Betapapun berat beban
Janganlah dipotong,
Betapapun jauh jalanmu
Haruslah kau lewati,
Karena di sana terbentang nirwanamu
Karena tlah dijanjikan-Nya.

 

Otober 2017

 

 

MASIKAH

 

Sapamu kala terik menyengat
Bak terpercik setitik air dari oasemu.
Mungkinkah kudengar riak batin oasemu?
Kucoba menatap kuntum senyummu
Hanya tatap mengurai makna
Lalu buai hati berdegup.

Sapamu hanyalah sendumu
Kutahu itu,
Tetapi bukan tangisku.
Lara yang bersenandung 
Dan itu yang kutahu.
Entah nanti
detak jam dinding tak henti menggoresnya 
hanya sebagai larik batin
agar tetap terkenang.

( Meja kerja,31 Agustus 2018)

 

PANJI

 

Hari –hari menjelang
Peluhmu terus bercucur kelam bagai siang.
Pada saudara serumpun 
Bahkan bukan sedarah.
Jalanmu gontai, itu bukan aral,
Lapar dan dahaga, bukanlah rintangan.

Bagimu,
Meraup hasrat bergelimang
Jadi ikhtiar demi panjimu
Demi ikhtiar.
Pun suaramu untuk sesama,
Kami berharap
.

 

September 2018

 

 

SORE JINGGA


Kemilau kuning keemasan
Tak secerah rautmu
Kelam dan diam.
Tuk berkata pun bibir terkatup
Kini dan selamanya membisu
Tak berkedip walau sejenak
Karena ujung jalan tlah tiba.
Sore jingga ini
Salam pisah tersantun 
Dari mulut kami terbata
Dari linang basahi wajah
Dari hati yang dekat dan paling dekat di jantungmu
Walau tak sekalipun jantungmu berdenyut
Dari hati iklas karena kehendak-Nya
Semua iklas
Pasrah pada senyum selamanya.
Ragamu tlah abadi
Karena amal dan bakti
Jiwa bersuka cita
Karena cintamu tlah tersantunkan.
Sore jingga
Hanya iklaskan abadimu.

 

Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TEDUH DI MATAMU

 

Diammu membisu
Bagai mendung kitari sabana
Teduh, tak tampak kerontang.
Sebersit hasrat pun tidak
Entah di bibir, mata 
Pun jemari lentik bergincu merah.

Mungkinkah karang di dadamu
Hanya bisa kupecahkan dengan larik puisi
Hingga kulangsingkan di depan mata?
Ataukah gemuruh ini kan senyap
Kala dengkimu surut
Dan melihatmu tersenyum.

 

Juli 2017

 

 

DI SURATMU AYAH

 

Entah suratmu berjilid
Pun suaramu tak terhitung
Di dinding hati bertambah suratmu
Katamu:
Ibu telah menerangi ruang hatimu dengan kandil
Kemerlapnya kan suluh hidupmu
Hindarkan bayu nestapa
Agar senyumu jadi senyum saudara.
Hidupmu hanya sebuah kerja
Hidup tak berbekas kala raga lunglai
Kala insan berasyik masyuk dengan mimpi fana.

Bidukmu kan goyah
Kala tangan tak terkatup
Sembah syukur yang Esa.
Berjalanlah ke depan,
Syukurilah.
Di sini saja yang kupaham ayah
Kuingin mendengarmu lagi.

KANDIL

Kandil dalam Warna
Litanikan suara angkasa
Seruhkan simfoni sabda
Pada riak hidup beraneka
Menyinggung kepala-kepala
Karena sabda telah jadi daging.


Hembuskan sangkakala angkasa
Gemakan ke relung-relung hati
Menembus jalan ziarah kita
Hingga temukan kebeningan budi
Walau jubahmu tak seperti bajuku.
SabdaMu
Biarkan masuk dalam keheningan kudus
Marasuk di kekosongan jiwa
Agar jadi pandu kami
Bak kandil di kegelapan
Suluh hidup beraneka
Untuk sujud namaMu.
        (Minggu, 02 September 2018 )

BAOBALA

 

Kaki berderap di tumpuk bulir
Segala penat telah terusir
Agar kisah segera terukir
Karena semua tak pernah memungkir.

Di atas bulir kaki berderap
Beriring pantun berirama tetap
Tentang ladang tlah digarap
Walau sedikit tetap berharap.

Nyanyikan pantun bersahut-sahut
Dari harap tak pernah kalut
Selalu terlihat pada raut
Karena doa ikhtiar selalu berpaut.

Baobala syukuri asa dan berkat
Dari khusuk doa nan hikmat
Bekali hidup selalu selamat
Hingga dunia dan akhirat.

Kupang, 02 September 2018

Baobala:Sejenis pantun kilat/ karmina yang dinyanyikan sekelompok orang berpasang-pasangan dalam pesta panen, yakni membersihkan biji padi dari bulirnya.Dilakukan di atas tikar besar, dan membersihkan dengan menari melingkar dalam hentakan kaki yang teratur. Kebiasaan ini dilakukan di desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Flores Timur.

 

 

WUKO

 

Kami dari rahimu yang mengembara
Hidup dari rerimbunan pada lembah dan ngarai
Dari sungai-sungai alirkan rezeki
Basahi pertiwi hingga abadi
Berikan sumber hidup tak terhingga.

Malam kau lembabkan bumi
Tubuh ringkuk tafakur
Ucapkan syhadat
Akan kuasa Ilahi bagi kami.
Kau selalu berikan rindu
Tuk dengar gemercik air iring kesenyapan
Pada kicau burung jelang mentari
Elok berdandan di pucuk-pucuk bermekar.

Wuko
Abadimu kisahkan hidup sejak berabad
Lalu rindu menyulam nadi
Dengungkan mimpi indah
mimpi tuk merenda suskes.
Di relungmu Wuko
Kami berziarah.

Wuko:nama Gunung di Desa Hewa, wulanggitang, Flores Timur yang berkelimpahan mata air.

 

 

PENGGAWAKU


Hari ini di takhtanya ikrar berkumandang

Atas langit dan bumi
Atas jiwa dan raga:
Jadi punggawa bagi langkah kami tertatih
Bagi hidup pada nafas tersengal
Berharap setitik embun pelepas dahaga bertahun.

Hari ini tatapmu harus pasti
Untuk esok bahkan lusa
Karena beribu tangan tlah menantimu
Berjuta harap tlah tertulis pada tanah dan wadas negeri ini
Di negeri terpanggang terik
Kerontang tak berujung
Jadi surgaloka;
Itu ucapmu, dan kami berharap.
Punggawaku,
Tunaikan ikrarmu 
Sambut senyum semua yang menanti
Karena ikrarmu adalah kami yang sedang berpeluh di ladang tani,
Pada setiap peluh bercucur mengayuh perahu membelah ombak,
Pada kami yang terombang ambing di gelombang laut pantai.

Punggawaku,
Asa yang tersurat tak lebih
Karena kami sedang menanti di bawah teduhnya pohon
Yang selalu berharap pada setitik air dari oase yang kau janji.
Di sini, di rumah kita
Kami telah menenun mimpi
Yang selalu dilitanikan dalam derap padoa, teorenda, gawi, jai ,dolo-dolo juga tebe
Agar pantun yang bersahutan
mengidung kan puji puja di tanah leluhur kita.
Punggawaku,
Kami tidak bermimpi
Berharap berteduh dalam kesyaduhan syair Bolelebo.
                                            Kupang, 05 September 2018



KERONTANG


Bumi Kerontang tak berujung
Terik mentari gerogoti sabana
Tinggalkan rumput kemuning menyepi
Pepohonan meranggas diam berharap
Tinggalkan wajahnya kusam di penghujung tahun.
Harap dan doa berkumandang:
Oh..penguasa langit dan bumi
Kelihatan dan tak kelihatan
Basahkan bumi 
Turunkan butir-butir pelegah 
Agar pucuk-pucuk bermekar
Hijaukan bumi
Rimbunkan alam
Agar berseri bumiku
Agar menghijau rerumputan.
Oh penguasa langit dan bumi
Yang keihatan dan tak kelihatan
Ranumkan berkat surgaMu
Karena doa yang kupanjat
.   (September 2018)

 

LATAH

Hari-hari berkicau
Dari suara sengau
samar pada semua yang berpeluh di ladangnya
Lalu senyap di telan kelam.

Latah dari suaramu
Tlah jadi semilir angin senja yang senyap bersama malam 
Hilang tak berbekas.
Ikhlasmu yang dulu, 
perlahan sirna setelah kursi empuk membuaimu
setelah terbuai kelap-kelip kemewahan lampu di ruang gemerlap
Yang tak kelihat karena telah tersekat kaca mobil mewah,
Dan hanya kerutan dahi terlihat
Dari wajah-wajah penuh harap
Yang saban hari berpikir: entah kapan suaranya disuarakan.

Banggakah kami karena suaramu yang latah?
Atau suara dari hati nurani hanyalah tamengmu?
Hari ini suaramu bukan harimaumu,
Tapi khliafmu jadikan pesakitan.
Karena suara kami suara yang iklas.

(Kupang, 05 September 2018)

 

 

 SENJA DI HALIWEN

Hendak menyapa salammu senja
Walau kabut menerpa sepi
Hingga rimba Nenuk pun
Tak membisikan adamu

Kelam yang menenun pekat
Tlah biarkan angan berkelana
Lebur dalam kabut malam 
Yang menyelinap di dedaunan
Pada pepohon jati berderet.


Hanya dalam angan yang tersangkut
Hendak kugoreskan asa tuk berserah
Berikrar agungkan karya suatu saat nanti
Jika asa terjawab.

Agustus 2018

 

 

SUMLILI


Tentangmu Sumlili-Kupang Barat,
Berkelana pada sabana gemulai
Dandanmu pesona batin.
Andai elokmu dibelai senja
Maka kisahmu hendak kurangkai 
agar kami mengembara tak tersesat
Tapi menuai asa:
Memanen ladang dari ladang gersang
Entah padi jagung,
Pun dedaunan jadi lauk dari sejengkal tanah menghjau.

Sumlili,
Pulihkan raga bermuram, 
Karena di rahimmu keuseduh susu sebelanga
Yang hidupkan anak cucu
Sejak dulu kala.
                          

( Agustus 2018 )

 

HARI INI

 

Fajar tlah menyingsing
Singsingkan lengan baju
Baju lindungi panas hari
Hari hidup di bangku sekolah.

putih hitam warna seragam
adabkan hidup di bangku sekolah
Ajarkan kau selalu paham
Dari gundah jadi legah.

Hari ini jangalah gulana
Hari ini janganlah ragu
Hari ini pahammu diuji
Hari ini tak ada abu-abu,
Hari ini tentukan putih
Atau hitam tetap membekas 
Kelabui citamu.
Hari ini harus putih 
Sebening citamu di esok hari


BIAS

 

Biasmu dari dedaunan di tamanku
Mengusik mimpi kelam
Pancarkan kedamaian
Bangkitkan semangat 
Benahi langkah tertatih
Kayuhkan biduk hampir terhmepas
Hingga taman cita di seberang.

Biasmu dari dedaunan di tamanku
Lembutkan pandanganku
Menyejukan raga terbakar terik
Sejukan batin dalam pengap kehidupan
Lalu kuseduh secangkir kopi
Tuk hangatkan dada yang menyesak
Lepaskan dahaga akan berkatMu.

Biasmu dari dedauan di tamanku
Sungguhkah anugerahMu?
Sungguhkah pijar berkatMu tak terhingga?
KusanjungMu atas berkah
Kusyukuri lindungMu
Atas langkah yang tak pernah gontai
Hingga retaskan jalan yang terhimpit,
Dan jalanku lapang
Hati pun lapang.

(Kupang, 11 September 2018 ,kala bias mentari menyelisik ruang tidur dari dedaunan hijau)

 

 

DARI BAWAH

 

Tentang hari- hari kita,
Sejak subuh membangunkan hingga malam menjemput
Kita selalu mengukur kehidupan
Bermula dari bawah, entah di atas
Dari kerja kita,
dari ikhtiar di ladang-ladang kita.

adakah kita selalu di atas
atas nasib dari karasa tertabur?
Sungguh mulut latah dan jiwa pongah
Jika kita selalu menakar
Bahwa kita selalu di atas
Tetapi lupa bahwa kita pernah meratapi jiwa lara 
Karena terseok pada jalan terjal
Dari nasib yang bermua dari bawah.

Goresan hidup di zamannya,
Pada hari-hari yang mungkin redup karena mentari bias menjauh
Pada rasa menelan kegetiran,
Pada hari-hari kelabu bermuram durja;
Tetapi telah dipilin jadi asa tegar menerjang badai
Jauh biduk jauh diterbah
Dan badai pun berlalu Kuatkan batin,
Kitakan raga.

Menggapai cita yang di atas 
Lalu cita terwujud.
Menuai senyum atas bais mentari telah benderang;
Tetapi sesunguhnya, kita bermula dari bawah.

(12 September 2018 ),

 

 

 

               SERUNAI AHAD

Kusimak serunai iring lonceng gereja berdentang
Mendayu, bangunkan raga jelang fajar
Menguak takdir: 
Fajar tlah ada
Akan ada untuk tuntun
Selalu ada sebaga suluh.

Serunai ahad pagi ini
Iring langkah kitari altar suci
Mengagung, memuji, menyembah
Pada kerahiman misteri abadi
Bagi jiwa lapang tapi lunglai.

Serunai ahad nan agung
Bunyikan sangkakala surgawi
Hingga kidung dikumandangkan
Ajar syukur dari sedekah
Pada tangan yang memintah
Pada hati remuk, lunglai atas kepongahan dunia.

Minggu, 09-09-2018


TAK SAMPAI

Pada keremangan hati kuberkaca
Adakah dosa kala hati bertaut?
Tak kutemukan jawabnya
Pada sepimu sendiri
Pada diamku tak berjawab
Walau arung dunia tak seiring.

Pagimu masih benderang
Kan pancarkan sebersit asa
Kusambut asamu agar kelana hidup pun benderang
Hingga suluh jalan kita
Agar langkah tertatih tak tersesat.

Pada bumi tak bertepi ini pula
Tak hendak kulepas namamu
Kita tlah ditakdirkan
Tlah diikrar tuk bersama
Bukan untuk berpisah
Ataupun dipisahkan

Hati piluh pun menyepih
tak sanggup menopang rindu tercabik
Karena asa tlah terpaut
Tak kubiarkan rindu tersantun
Merana dalam kesendirian.

Kupang, 12 September 2018

 

 

 

BAHASA ILMU

 

Kutulis ini pada desis rindu di bulan ini
Yang menggerakan nuranimu
Menuntunmu dari hati
Mengantarmu hingga teras-teras kelas
Pada wadas-wadas bisu bentang alami
Pada rerimbunan taman Khusuk menimbah remah-remah kata tertata
Agar jadi suluh karena ilmu tertanama
Agar jadi budi karena pekerti tersulam dalam cerita
Agar jadi bekal bersuara, menulis dunia hari esok.

Dan puing berkah tlah tersulam 
Jadi permadani indah
Dandani hari esokmu
Seiring mentari sirnahkan kelam 
Agar senyummu bahagiakan sesama.

Pada desis rindu di bulan ini,
Hanya harap di ujung asa:
Hari esokmu seindah senyummu hari-hari ini
Karena yang kusantunkan adalah jalan yang lapang
Tentang cita dan cintamu.

Kupang, 13 September 2018, pada kamis membaca)

 

 

TERSISAH

 

Jelang mentari nan ceriah
Lantun sendu mengarak harap
Yang kureguk hanya sepotong asa
Lalu pilu rasuk masuk
Hampa di ruang hati, menyendiri

Jelang mentari nan ceriah
Langkah menjauh
Tatapmu bak bayu
Bening tak berbentuj
Semilir belai hati
Dan kurindu.

Pada mentari menerpa kelam,
Tekad pada tapaku
Jalanmu lapang
Hingga petang menjelang.

(kupang,15 September)


TAPI KITA HARUS BERSAMA

 

Jelang senja di petang ini
Tlah kutata huruf jadi kata
Kurakit kata jadi larik
Agar kukenang sua kita yang dulu,
Kala hati hampa,berharap hidup,
Tapi senyum kita 
Jalin tuk jalan bersama.

Jelang senja pun,
Kukisahkan ini:
Langkahmu kian pasti.
Tak lagi lunglai diterpa musim
Tegar menantang badai
Karena bidukmu hendak karam.

Sahabat-sahabatku,
Badanmu yang dulu lusuh
Tapi tak pernah rubuh karena doamu yang selalu khusuk tersantun di hadiratnya,
Doamu yang khusuk topang langkahmu tuk juangmu yang belum usai.

Sahabat-sahabatku,
Kita pernah merangkai kisah buram
Tapi tak tersesat,
Kita pernah terperosok tapi tak terjatuh.
Kita pernah memilih jalan berbeda
Tapi ikhtiarmu tersantun pada kehendakNya
Hingga hari-hari ini,
Hati terpaut,
Tegarkan semangat
Melangkah lagi di jalan kita
Yang mungkin berkelok nan terjal.
Tapi kita harus bersama.

(Kupang,16 September 2018)

 

 

 

ANDAI

 

Andai tatapku ragu pada cahaya itu
Nelangsa gelayuti pikiranku
Karena cahya kian menjauh
Hingga remuk raga tak bertulang
Sedang hangat dari diang api kuharap
Terpekur diam, asamu selalu kunanti.

Andai tatapku ragu atas pasrahmu
Mengapa cahyamu tetap merambah
Memagut sukmaku
Kala mata melirik malam menjelang pagi
Dan pagi yang menjelang malam lagi.

Tetap menanti, bukan di persimpangan
Hanya pada hati, tempat seribu luka terobati.

Kupang, 18 September 2018)

 

            MALAMMU SENDIRI

Mungkin saja kau sedang berkelana
Dalam mimpi indah dipagut rindu
Dalam harapmu menyendiri
Di tidurmu pun menyepi.

Jemariku kan mengiringmu
Menuliskan kisah hari ini di pelupuk rindumu
Di mimpi yang meranumkan asamu
Pada cita bingkai jalan kita.

Pada malam menjelang pagi
Kupasrah berharap tak bernah berakhir
Mimpi indah bangunkan raga
Pada pagi mentari bersinar.

Mataku ingin rebah di mimpimu
Hasrat sua, bersambung ucap
Hanya berharap angan tak sampai
Nusamu jauh, jarak membentang.
                 (Kupang, 19 September 2018)
DI UJUNG KICAUMU,  SI CENTIL KOT-KOTOS


Kicaumu beriring si jago
Pada pagi subuh menjelang
Memantik kelam jadi benderang
Dengungkan pula lonceng alami
Lalu raga-raga pun menatap indah penuh ceria.

Kicaumu se centil kot-kotos
Semarakan pagi beriring si jago
Tentramkan batin terbuai mimpi
Bak serunai mengalun,
Mengembara di tanah swah menghijau.

Siulmu si centil kot-kotos
Bangunkan mimpi masi terlelap
Kobarkan asa masih mendengkur
Agar ikhtiar kan tergapai.


Kot-kotos nan centil
Hadirmu berturut, sisahkan misteri?
Akankah menguak tabir pada mega kelabu?

Kot-kotos ( Bahasa daerah Timor) adalah burung decul.
( Terinspirasi dari cerpen: Ain Meni, karya Felix K. Nesi)

 

 

 

 GUNUNG MUTISMU, TAK TERKIRA

 

Hijau bumimu sepanjang tatap
Gemericik sungai membelah ngarai, hingga tak terkira
Menyusuri belantara di persada, itu pun tak terkira
Gunung Mutismu, taman eden di bumi gersang nan kerontang.

Gunung Mutismu,Oase tak berekesudahan
Yang melantunkan syair 
Membahana sayup terdengar
Tentramkan nubari petani musim panas
Lalu riak di tepian sungai 
Menyejukan dahaga, hingga benanain.

Kuhendak menyulam kisah
Semenjak mentari menyepuh kabut
Riak gembira beiring tembang
Semarak kumandang syair para petani
Bersahut-sahutnya bak berbalas pantun
Hingga semua berderap di tanah sawah 
dalam tarian tebe menghibur.

Tak terkira di gunung Mutismu
Hingga kami tak ingin tersesat di padang savana.
Pun terhimpit wangi cendana di tanah karang karang
Tetapi berjuang melewati musim yang gersang,
Agar kudengar lagi dendang Bolelebo anak Timor
Memuja dan memuji leluhur
Pemberi damai di hati.

Di teduhmu Gunung Mutis
Kami ingin menyulam janji
Hinga tersimpul dalam litani gembira petani ladang
Pada tanah yang gersang tapi merangsang.

Gung Mutis: Salah satu gunung tertinggi di Pulau Timor.

( Kupang, 21 September 2018 )

 


DI TEPIAN LARA

 

Kuseduh binar lara ini di tepian tatapmu
Hanya sesaat, kala rindu rintih di hati tercabik
Setitik pun tak kulihat
Yang kuharap, sebersit itu pun sirnah.

Di hatimu yang teduh
Tak ada keluh, walau peluh kuusap lama menanti 
Kau luluhkan hasrat 
Lantakan rindu hingga berkeping.

Di matamu nan sayup
Kubenamkan lara tak bertepi ini
Berharap syair simponimu mengalun
Tentramkan sukma menanti
Enta sampai kapan.

Kupang, 21 September 2018


SEPOTONG DOA, PADA SECANGKIR KOPI


Tepat di tengah garis malam
setetes embun menetes masuk 
Tepat basahi raga ringkuk,hangatkan jiwa menggigil
dari seuntai doa
Yang kupilin dari sampah-sampah kata.
Seteguk kopi sore tak tersisa
Lalu larutkan harapku bersama malam sebelum pagi tiba
Pada mata yang tak tunduk lelah
Sehingga menenun puing-puing harap 
Jadi selembar doa 
Agar tak lelah pada jalan berliku dan terjal
Ataupun jadi suluh pada lorong nan gelap.

Pada malam jelang pagi pula
Harap kuimbuhkan pada lirik syukur
Kesabaran kusantunkan pada tapa doaku
Agar syair-syair jiwa
Jadi litani iring hidup.
                        

Kupang, 22 September 2018



RAKO

 

Surgalokamu tersingkap pada rahim Helero hijau nan asri
Laut biru merona, pesona batin
Bak Perawan gemulai
Dandan Molek alami
Bak ranum gugah selera
Melekat erat bangkitkan tekad
Tuk jaga dan lindung 
agar tetap anggun, memberi berkah

Pada pasir putih menyingkap agung karya-Nya 
nun jauh, nan luas
sediakan nafkah dan berkah bagi nelayan.
Di Rakomu,
Kau mengiring kisah dari zaman ke zaman
Menenun sejarah peradaban negeri
Yang tak mungkin dan tak akan tergerus.

Rako, nirwana agung tersurat di rahimmu
Tlah disuguhkan demi pengembara di negerimu
Yang berkelana dalam dentangan gong dan tambur
Yang berpeluh di tanah sawah menghijau
Yang mengais berkah di tanah terwaris
Berkutat di ladangnya demi senyum esok.

Rako,
Menjagamu adalah bersumpah,
Berikhtiar dalam ikrar pada leluhur
Dengan sesaji dan khusuk doa penuh harap
Agar kau tetap gemulai
Agar tak murka jadi tangis.

Di telukmu antara Rako,
Pengembaramu selalu bernadar
Lantunkan syair Helero: Guhi Natar Gahar
Karena lestarimu, damai untuknya.

Kupang, 23 September 2018
Pantai Rako: Salah satu pantai yang terletak di Desa Hewa, Wulanggitang, Flores Timur, NTT.
Manuk dan Mulu, dua tanjung yang mengapiti Pantai Rako
Helero: Hewat Lewo
Rotan, slogan pada masyarakat desa Hewa



PERHENTIAN

Kuberteduh setelah berpacu
Mengurai lagi kisa esok nanti
Menata jalan yang masih terseok
Pada untai hidup berhembus puisi

Di perhentian ini
Hanya kata terhimpun
Jadi bait-bait pelepas dahaga
Jadi syair peneguh jiwa

Di perhentian ini,
Hendak kujabat tanganmu
Agar sua kita bermakna,
Agar jalan kita seiring
Syukuri jantung masih berdenyut,
Syukuri hidup yang tetap mendekap.

Kupang, 24 September 2018.

 

 

JIKA

 

Anak-anakku,
Jika jalanku hari - hari ini gontai
Itu karena rindu padamu tak terbendung.
Jika kisah-kisahku di buku harian tak perna berakhir,
Itu karena kisah tentangmu tak lagi kulihat

 

Tentangmu tertulis:
usil, cerewet, brisik, gaduh,bandel
Tlah buat dahi berkerut
Tentramkan jiwamu
Martabat tak terkoyak
Harkat tersantun
Kita saling menghargai..

 

Tersekap di relung
Betapa kupaham tentang ikhtiarmu
Merangkai lelah dibasuh peluh raih cita
Mengusung asa pada ruang kelas berhari - hari
Tuntaskan tugas tanpa keluh, walau tuntas belum tentu benar,
Selaksa tabahmu tuk songsong sumringah esok
Tawa bahgia ayahanda pun ibunda.

 

Anak-anakku,
Di hari - hari redup tawamu
Tanpa candamu
Sendu selimuti batin,lumuri raga.

Rindu pada tanyamu: berapa nilai ulanganku?
Rindu pada keluhmu tanpa henti
Jadi riak lepas jenuh
Di hari tak jelang akhir.

 

Anak-anakku
Kita sedang diuji
Bukan pada lembar-lembar soal beraneka,

Sedang merapal sujud tiada henti

Embara pada bumi mencekam
hati degup nan bersabar
agar insan  harus belajar
bahwa sehat melebihi harta dunia.

 

Kupang, 16 April 2020

 

 

PUSPA

 

Di taman nirwana ini

Tumbuhmu berseri menawan

Aroma menerpa tabir gelap,lenyap

Hingga perempuan di taman tersenyum.

 

Di taman nirwana ini

Kau ikrarkan juang

Retaskan ilmu

Dongkrak harkat

Dan semua mereka duduk sama tinggi

Pun berdiri sama tinggi.

 

Di taman nirwana ini

Janjimu menerpa seantero

Mereka satukan tekad

Songsong esok ceria

Bukan jelang senja tanpa awan.

 

Di taman nirwana ini

Puspamu senandungkan putri kebaya

Gelorakan tekad, sejajarkan bangsa

Agar derai peluh  ibu, jadi sumringah anak cucu

Karena puspamu tebar kuncup semerbak.

 

Selamat Hari Kartini, 21 April 2020

 

 

 

 

SENJA, BAWAKAN ASA

 

Tak berharap senja kehilangan langit dan larut dibuai malam
entah mimpi indah cerahkan esok
ataukah jalan terseok di ke bimbangan zaman.

Senja, indahmu tak beri janji
tapi esok mentari lumuri hari
hingga petang menyambut senja,
liku jalan pun dilalui
hingga peluh jadi berkah menopang raga.

Senja jangan pupus asa di langit
indahmu, jemputlah subuh bawakan asa.

 

Kupang, 26 April 2020

 

 

 

 

 

 

 

 

PROFIL PENULIS

 


Yohanes Joni Liwu,S.Pd, lahir di Hewa,Flores Timur 26 Januari 1969.

Kini mengajar di SMP Negeri 13 Kota Kupang, setleah sebelumnya mengajar di SMP Negeri 3 Rote Barat Daya

 ( 1995-2000).

Smenjak kuliah menjadi koresponden Surat Khabar Mingguan Dian (1987-1993) dan menjadi reporter Surat Kabar Mingguan Media Flobamora (1993-1995).

Menulis puisi dan cerpen dalam majalah Loti Basastra, Kantor Bahasa NTT ( 2018 ).

Puisi Mentari,Kartiniku, cerpen Bercak di Selendang Ibu, Gadis Medsos di Serambi Hotel dalam Antologi cerpen:Tentang Buka Buku (2018) yang diterbitkan oleh Kantor Bahasa Provinsi NTT.

Menulis beberapa puisi di Harian Umum Flores Pos (2019)

Menulis pusi dan cerpen  ke beberapa media-media online di NTT, yakni Warta Guru NTT dan Media Cakrawala NTT.

Karya:

a.Antologi Puisi Mengembara di Lautan Cinta ( Delta

   Pustaka,2020 )

b. Antologi Penanda Sejarah Pembelajaran Daring ERA

    PANDEMI ( sebuah antologi bersama 50 guru di Indonesia)

    (Delta Pustaka, 2020 ).

c.Antologi Puisi Pendanda Sejarah Surga kaum Rebahan,

  ( antologi pusi bersama 50 Guru di Indonesia), (Delta Psutaka,

   2020)

d. Antologi Cerita Penanda Sejarah LOCKDOWN ( antologi

    bersama 50 guru di Indonesia) ,( Delta Pustaka, 2020 ).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar