EMBARA
Antologi Puisi 1: Mengembara di Lautan Cinta
EMBARA
Menata bening
berkaca
Ragu
meneteskannya dari sepasang mata,
Sendu lumuri
tubuh,
Tiada kata
terucap
Hanya membendung
larik-larik buncah
Merapal doa penuh
peluh lumuri hidup,
melihatmu
Piluh di jalan
sepih sendiri.
Sahabat …
Jangan meringkuk
pilu
Karena itu
hanyalah semilir bayu menerpa suka,
Jangan pula
memendam pilu
Karena bias
senyummu berujar, kamu sangat bahagia,
Karena bias
mentari bawamu cumbui gemerlap hidup,
Walau itu hanya
sejengkal.
Mendung hari
hantar embara
Pada bayamu di
relung buana
Kan temui karsa
dalam kalbu
Dan damai santuni
atma.
Hingga terucap
dirgahayu.
Kupang, 24 Januari 2020.
JATMIKA
Bukan
mimpi menghalau penat
Bumantara
hangatkan kalbu
Ceria
karsa terangi suka
Atma
mengembara buana
Jama
sanak famili
Sanjungkan
hormat
Jatmika
untuk-Mu Sang Kuasa
Dari
tutur petuah leluhur
Senandungkan
hormat
Hingga
di tepian berdecak kagum.
Kupang,
25 Januari 2020
PELANGI BUANA
Menghampiri
kalbu ceria abadi
Hempas
gulana insan berseri
Pada
Nusa Dewa Batara
Goresan pelangi Sang Khalik.
Embara
ke buana
Guratkan
seloka
Nyanyikan
kidung
Pada
baya masih berdegup.
Litanikan
mada
Rapalkan
asa dalam doa terbata
Sanjungkan
Esa yang fadil
Jagad
pelagi buana dewata.
Kupang,
19 September 2019
NIRWANA
Mentapmu tak bertepi
tapi rindu mengumbar degup
Menggiring hasrat sua hingga senyum
merekah
Rindu menenun cinta
Suatu hari nanti
Kurangkai bianglala jadi mahligai
Di sana kudekap rindu bertahun
Embara jadi nirwana kita
Kupang, 31 Januari 2020
GENIT
Larikmu
genit menjelma membuka tabir
Kerontang
terpanggang terik di akhir musim
Tersapu
gerimis, pun petir menyambut penghujan
Jadi
kandil halau kelam musim lalu,
Jadi
asa torehkan mimpi.
Genit
diksimu bunda,
Jadi
setitik api menghangat,
Hangat
mengumbar sukma
Membersit
hati terbuai, di penghujung hari.
Hari
ini, bunda menggoda
Terpana
pada lirik puitis
membentur
jiwa nelangsa
Pun
hati bersuka,
dan…
lebur songsong pagi,
hari
pertama
di
langkah awal.
Pada
sulut lirikmu renyah,
Asyik
melumat
luruhkan
hati membeku terbuai kembang api berwarna.
Asyik
melumat larik-larikmu mendesah,
Terpukau
pada sorak gempita tawa sanak,
Sambut
fajar bermuram pada gerimis pagi,
Lalu
Kupilin lema usang tertinggal di celah asyik masyuk
Jadi
bait-bait penggugah
Jadi
penghangat batin terbuai.
Kukisahkan
itu,
Agar
jadi litani doa,
melitanikan
rona hidup tersamar
Entah
ceria pun remang,
Kelam
pun benderang
Pada
esok pun lusa.
Semua,
kupasrahkan.
Kupang,
01 Januari 2020
NUKILAN
Nukilan
tersekap
Dalam
lembar-lembar lapuk
Hati
terenyuh, lirih: Sungguh telah usang
Namun
sebaris ode menohok sukma.
Ia
telah jadi kandil
Halau
gelap batin
Merebas
noktah jadi terang di jalan
Jadi
suluh kelam malam.
Raganya
lusuh jadi titian bertanya
Titian
hasrat mengusung munajat
Kan
raih segenggam mimpi
Untuk
hari baru.
Kupang,
05 Januari 2020
WUKO
Kami
dari rahimu yang mengembara
Hidup
dari rerimbunan pada lembah dan ngarai
Dari
sungai-sungai alirkan rezeki
Basahi
pertiwi hingga abadi
Berikan
sumber hidup tak terhingga.
Malam
kau lembabkan bumi
Tubuh
ringkuk tafakur
Ucapkan
syhadat
Akan
kuasa Ilahi bagi kami.
Kau
selalu berikan rindu
Tuk
dengar gemercik air iring kesenyapan
Pada
kicau burung jelang mentari
Elok
berdandan di pucuk-pucuk bermekar.
Wuko
Abadimu
kisahkan hidup sejak berabad
Lalu
rindu menyulam nadi
Dengungkan
mimpi indah
mimpi
tuk merenda suskes.
Di
relungmu Wuko
Kami
berziarah hingga senja menjelang.
Entah
kapan
Kupang,
06 Januari 2020
Wuko:nama Gunung di Desa
Hewa, wulanggitang, Flores Timur ,paran sumbur yang berkelimpahan sumber air.
RAKO
Mereka yang kini menata hidup di ngaraimu
Menentun cinta dalam senyum,
Mengurai kasih tanpa keluh,
Lalu dalam rapal doa tak henti
Dan ...
Mengusung ikhtiar tuk jaga pesonamu
Agar abadi dan menawan
Kan tetap tersanjung sampai nanti.
Rako,
jangan Kau sembunyikan gemulai indah pesonamu,
Jangan pula menjauh,
Karena elok paras dandanmu
Memagut hati sisahkan rindu,
Sejuta hasrat kan dekapmu dalam desah rindu tak berujung.
Nian Tanah Lero Wulang,
Kubersimpuh dan bersujud tuk Firdausku dari surgaMu.
Kupang,25 Januari 2020
Nama Pantau Wisata di
Desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang Flores Timur. Pembukaan Festival Bale Nagi
tahun 2019, dilaksanakan di Pantai ini.
KERLIP LILIN
Kusuratimu dengan
sekeping hati berbalut rindu
Menyapamu tanpa suara, tersengal karena dibatasi
Alammu nan permai, teduh dan damai
Tak henti merapal doa
pada prasasti abadi,
Nisanmu tautkan rasa anak cucu
tempat berteduh, seteduh hatimu,sebening kasihmu.
Nantikan kami di surgalokamu.
Mengenangmu kala kerlip lilin-lilin menghantar sapaku malam
tadi.
(03 November 2019)
KABUT
Kabut luruh diterpa mentari
Namun cerahnya tak mampu melibas rindu menggunung.
Pada sepoi pagi beriring bias surya,
kuhempas gemuruh piluh,
berlalu
tapi tak menyusut.
Menyapamu tak hanya berdesah,
Tapi senyum ini telah mengurai gulana hingga tak terbentuk.
Itupun hanya melalui celah dedaunan meranggas di musim panas.
Kupang,04 November 2019
BAHTERA
Waktu
tlah mencatat semburat senyum
Mengabarkan tentang kesahajaan
hidup,
Bahwa bahtera hidup kan melesat ke
lautan lepas
Kibarkan layar tuk gapai nusa
Angin buritan kan menerpa
Menghalau badai dengan biduk
terberkati.
Di musim ini, gegap gempita mengiring hari,
sorak sorai bersahut-sahutan
Dan mungkin jalan tersandung
pada pilu di jalan nan terjal.
Kalau saja terik memanggang bidukmu,
Kalau saja taufan menerpa bahtera
Niscaya pulau di seberang kan tergapai
Niscaya kalian akan merangkai cerita indah terbalut cinta nan
mesra.
Kupang,04
November 2019
SELAMAT
Pada bayu yang menggiring biduk,
kita hanya berpasrah berserah
bersyukur dan berseru
memaklumkan kebesaran-Nya.
Hidup sehasta pun tertatih,
berpeluh pun bersuka
kan tersimpul, dalam simpuh
doa tak perna lelah.
(08 November 2019)
AYAH
Tentangmu, tak habis terurai
Di setiap degup batin
Jiwamu selalu menguatkan.
Selalu melihat tersenyum,
Senyum membingkai hidup,
Senyum menguatkan jalan,
Walau tertatih,
Walau nan terjal.
Nun jauh di seberang nusa,
Hangat doamu tak perna padam
Jadi suluh, agar di musim kelam
Kami turut tersenyum
menatap asa,
mengurai kisah,
Karena engkau telah mengisahkan KASIH.
Selamat untukmu
Ayah
Kupang 09 November 2020
TAIS
Guratan
rasa bercorak ria
Berpadu
rona siratkan raga
Indah,
molek dan menawan
Gelorakan
hidup beribu makna.
Tersemat
di raga petani nusa
Menutup
pengap raga terpanggang
Hangat
jiwa dari derai hujan
Jiwa
berteduh, damai batin.
Tais
terakan kasih,
Terakan
cinta pada bunda jadikan lampin
Lalu
membenam cita hingga tergapai.
Tais
dari tangan-tangan teguh
Pun
hati teduh menjalin.
Tais
telah hangatkan raga menenun cinta
Kugoreskan
ronamu di ujung rumbai-rumbai beraneka
Bahwa
berbeda itu indah.
Kupang,
07 Desember 2019
(Tais adalah kain tenun ikat dari Timor)
KREDO
Jika kita pernah menulis
tentang peluh berderai
Rapalkan dalam untai doa
Agar tak pernah legam
oleh waktu.
Kalau saja di jalanmu
tersandung batu
Buka kembali lembar-
lembar kusam tertulis
Mungkin saja belum
terbaca halaman mengguratkan ikhtiar.
Kita ada di jalan yang
sama,
Berjalanlah walau
tertatih.
Kalaupun lelah, bersimpulah.
Berseralah sembari
berseru.
(Kupang,14 Desember 2019)
MENYAPA BENING HARI
Di
antara bening hari
Hanya
sekeping bahagia
tersantun
untukmu
Karena
di semilir angin musim ini
ku
pun tahu, bahagia bersamamu.
Bahagia
itu sederhana
kala
matamu tak menatap kemilau zaman
Kala
hati tak memendam gemulai elok hingar bingar zaman,
Tapi
tetap menatap mentari esok di jalanmu dalam tapa doa nan khsusuk.
(Kupang, 30 Mei 2019)
TESENYUMLAH
Ruang
hampa di batin tersiksa,
Rindu
kelana dalam mimpi
Tak
henti mengetuk simpati
Terbayang
senyum hampa menyapa;
Tetapi
bayang mimpi tergerus malam berlalu.
Mestinya
hadirmu menyapa
Jangan
biarkan bayang semu gelayuti asa
Karena
sapa batinmu kan menyepu gulana bertahun
Bukan
sapa melayang terbayang
Lalu
rindu tetap berkelana tanpa kulihatmu meraup segenggam suka.
Kupang,11
September 2019.
(Untuk sahabat-sahabat dibelenggu
rindu, Bindo '87 )
KATANYA
Aku
mau dibimbing
Di
dunia yang kelam, janganlah pusing
Kalaupun
kelabu jangan terpancing
Semua
ada bersama di sekeliling.
Suka
duka telah terjaring
Kudengar
terpatri, tersangkut kuping
Jadi
cita bukanlah iming
Akan
kuraih, tidak berpaling
Kataku:
Pijaklah
bumimu, janganlah berpaling.
Kupang,
03 September 2019…
JEJAK
Mencoba
telusuri jejak di ujung malam
Kelam
membenam
Memeluk
rindu untuk sebuah rasa
dan
buram...
Tak
menyentuh jemarimu
Tatapmu
pun tak sempat
menjauh
dengan keheninganmu
Ajarkan
aku yang dulu kau tunjuk
pegang
tanganku yang dulu kau tuntun
ingin
ku dibelai tanganmu
Ingin
kudengar lagi suaramu
dikisahkan
fabel dari leluhur
menyejukan
sukma
hilangkan
lara.
Aku
pulas dalam pelukmu
berlari
di alam mimpi
berjalan
di surgloka
karena
senyumu selalu
walau
hatimu getir
senyum
bangga dalam ketiadaan
senyum
bahagia walau raga terbakar terik
senyum
indah
Seindah
ladang menghijau di kebun kita.
Sepotong
doa selalu terlantun
Kuatkan
hati, kuatkan budi
Agar
jalanku tegar
sebagai
jawabku untukmu.
Engkau
yang jauh di jagad nirwana
Yang
selalu memberi tanpa meminta
Yang
selalu mendoakan tanpa berharap
Semoga
diammu
jadi
bahagia kami.
(Kupang, penghujung malam 29 Februari 2020 )
JALAN INI MASIH PANJANG
Telusur
jejak berhari-hari
kadang
terjal hingga berpeluh
mengurai
air mata di jalan berbatu
tetaplah
mengembara hingga tepian ngarai
Saudaraku,
Dari
ketinggian-Nya Ia melihat
rapalkan
doa tak pernah henti
litanikan
kidung memuja dan memuji
karena
Ia tetap menuntun pada jalan kelam
sebab
Ia telah menakar beban di jalan berliku,
Anggungkan
karsa tersulam pada larik-larik hidup
sungguh
ia penyayang
Ia
tetap merangkul hati iklas
walau
linang air mata menetes
membasahi
pelupuk di tidur malammu
Ia
tetap beri senyum
terurai
pada wajah-wajah mungil di sampingmu,
karena
Ia Tahu,
Jalan
ini masi panjang.
Kupang,
02 September 2019
KAMIS MEMBACA
Berpuluh
tahun telah melangkah
Membaca
jadi barang langkah
Tertatih
pula setiap melangkah
Gagap
membaca huruf dan angka
Seribu
tanya tentang cakap
Ilmu
selaksa tak tersingkap
Mata
pun ragu utuk menatap
Asa
terlunta janganlah meratap.
Kupang,
29 Agustus 2019
PENGLIPUR
Buih
meronai gemericik gelombang hingga ke tepian
Menyepuh
butiran pasir
Memagut
rerumputan hijau
Mengukir
laut biru penyejuk batin,
Eksotisme
mencabik hasrat
Menggerus
rindu tak terbendung.
Aku
rindu pada asa terbentang,
Pada
hamparan hidup maha luas,
Lalu
kubenam pada cita sedang kuraih.
Jemari
hati menggoreskan larik batin
Jadi
puisi dahaga dari rongga jiwa menyepi.
Puisi
rindu penyejuk
Jadi
penglipur.
Kupang,
28 Agustus 2019.
SEPI
Hasrat
tak berbohong
Meski
ceria mengitari
maha
berat memapah asa
sedang
karsa dibelenggu rindu
badai
redupkan jiwa pun raga.
Melihat
sepi ronai jalanmu
Sebersitpun
masi kulihat,
terbayang
dekap erat menggadeng
Berbisik
cerita indah,
tentang
cita hendak diraih.
Semua
telah terlelap
pekat
karena buminya gelap
menjauh
dari pelupuk
dari
cita telah kutulis
dari
cinta semakin meredup.
Sepi
mengitarimu
Sepi
memagut, jiwa pun lara
Tapi
mentari kan terbit
Ronai
ruang jiwa hampa
Jadi
sumringah, lalu tawa iring hidup.
Kupang,
03 September 2019
BIANGLALA
Kuingin merangkul desah batinmu
Mengajaknya bertamsaya di cakrawala imajinasi
Lalu
memungut bongkahan-bongkahan kata terserak
Meraciknya
jadi bait-bait kehidupan tak terhingga.
Hingga
di ngarai kehidupan itu,
ia
menjelma jadi bianglala
Meronai
jalan yang tersisa,
Walau
hanya senyum bingkai lara
Kusantun
jadi tonggak
Bahwa
kau buka yang di hati.
(Kupang,
27 Agustus 2019)
SANGKAKALA
Terbit
mentari diiring sangkakala
Berbaur
bangsa di tiap nusa
T’lah terjalin rasa saudara
Satu
bangsa satu bahasa.
Pekik
merdeka telah membahana
Gema
suara di samudra raya
Bangkit
bersama ke medan laga
Satukan
tekad, wujudkan asa.
Padamu
sujud pahlawan bangsa
Kobarkan
semangat untuk membela
Korbankan
raga untuk merdeka
Hingga
kudengar gema sangkakala.
Kupang,
21 Agustus 2019
TUANKU
Tuanku:
Cerah
yang kemarin jadi kelam
hari
pun membenam
lalu
senja menjemput malam
entah
di mana akan bermalam.
Tuanku:
Rembulan
tlah beri harap
kau terlena dalam gelap
gamang
hidup di benak yang gelap
jadikan
hidup kami pun gelap.
Berharap
titahmu tak pernah senyap
Terangi
hati yang gelap
jadi
suluh di jalan gelap
damai
di hati tak akan pengap.
Tuanku:
Ke
mana jalanmu?
akankah
hendak bertamu?
Di
sana bukan negerimu,
Karena
semua tak mengenalmu.
Katakan
yang telah terkata
walau
mulut terbata-bata
dari
suaramu yang lata
hanya
berharap, hidupmu harus ditata.
Tuanku:
Kita
tlah merangkai kisah
bak
kembang mekar berseri
Kau
campakkan kasih tersulam
jadi
sampah di tanah berserak.
Tuanku:
Jangan
biarkan ia terhimpit
Jangan
biarkan ia dibuai
santunkan
semerbak kembang surga
yang
hari-hari tlah kita jalin,
karena
ikhrar tlah kumandang
Merdeka
di hati ini.
Kupang,20
Agustus 2019
SENJA
Pada
temaram senja bermimpi
titip
rindu di hati
agar
berseri taman Pertiwi
dari
dharma anak negeri.
Goresan
senja tlah berlalu
ikhtiar
tak boleh ragu
karena
kita tetap bersatu
tak
terpisah di satu perahu.
Senja
telah terlelap
jalanmu
tak boleh gelap
langkahmu
tetaplah berderap
mentari
esok berimu harap.
Kupang,19
Agustus 2019.
AGAR
Terik
berkelana di batin
Lalu
kuseduh empun pagi
Leraikan
galau,
Hasrat
tak gapai.
Terik
tak berlalu
Mengelus
dada tetap pasrah
Agar
kelana jiwa tak merana
agar
ziarah jalan pun lapang
Agar
angin surgaMu halau gemuruh
Agar
tak remukkan raga
Agar
kureguk gema merdeka yang tetap abadi.
Kupang,
15 Agustus 2019
AKSARA
Aksaramu tautkan asa pada peluh menetes
pada ikhtiar bersulang doa
pada tanah cadas nusa tak bertepi
pada haru batin
karena batin ikhlas untuk negeri
dari jemari tak kenal lelah.
Aksaramu torehkan langkah,
bahwa mimpi kan gapai
bukan mimpi pada terik memanggang
dan ranum musim gelayuti abdi hingga abadi.
Aksaramu hanya sebuah cinta
cinta tanpa pamrih
walau raga terpanggang di tepian sabana
tersekap di ruang dedikasi.
Aksaramu kan dongkrak jalanmu
kan raih kembang berseri
pada sumringah anak bangsa.
Kupang,17 Juli 2019
GULANA
Gulana iring hari
Petualangan mengusik batin
tercabik?
gulana tak bertepi
dari kelam jadi benderang
tapi rindu gelayuti batin
Tentang dara sedang berjalan
Tentang dara urai jalan
Jalannya tanpa tanganku
Jalannya tanpa tuntun.
Sampaikah di batasnya?
Sampaikah ikrarmu?
(Untuk daraku, di tepian
kota itu)
Obe-Maubesi,08 Juli 2019
PUSARA ABADI
(untuk sahabatku)
Mega
mendung gelayut sukma
teguh
atau ragu
tanya
dalam lagu batin merintih
pada
jiwa keluh tanpa raga
lenyap
dari ruang jiwa.
Rindu
pada asah dan asihmu
yang
selalu bimbing,
rindu pada raga sahaja,
pada
senyum kasih lumuri hidup
pada
jiwa tebarkan kasih hingga senjamu tiba.
Kidung
Gereja senja
antarmu
pergi
hingga
abadimu,
hingga
ratap jadi bahagia di jalan yang tersisa.
Kupang, 01 Juli 2019
MEMAHAT SEPIH
Bayangmu
pada celah dedaunan menjuntai
renggut
sepih
remuk,
berharap
tanya
maukah
sepasang mata
menemani
malammu nan lara?
Rindu
padamu memahat tanah kerontang
Pada
tanah sabana menanti mentari.
Malam
ini, rembulan telah tersenyum
Guratkan
bahagia
Karena
senyum retaskan sepi.
Tabanan - Bali ,15 Mei 2019
HARUS KUTULIS
Jemari
kuremas
berkali-kali,
hingga usai
dan
semuanya diam
hening
mamgut raga.
Tapi,
hanya
jangkrik mengusik hati sendu
karena
sering berkeluh.
Terlanjur
jauh...
jauh
di malam nan pekat
redup lampu mengajak ke pembaringan.
Jauh
dari keluh
Karena
kertas ini harus ditulis
Semenjak
remang menerpa senja
Kelam gelayuti bumi,
Agar
makhluk bertelut atas hari berlalu
Hingga
malam kusuk
Lelap
di hari yang penuh syukur.
Kupang, 17 Desember 2018
SESAAT
Mimpi
itu
menyibak
asa
Ku
menyentuh kuncup itu
Indah
Semerbak
kembang menggoda sukma
Merangkai
jalan kita
Walau
hanya setapak
Kembangpun
hiasi tamannya
Indah,
mekar dan berseri
Di
tamannya
Dan
Senyummu
Jadi
bahagiamu
(Mendaur
serpihan memory)
Kupang,
25 Mei 2017
KERLIP
Kerlip
lilin di harimu
di
seluruh negeri,
seluruh
buana.
Rupa
tiada
Batin
menyatu,
Jiwa
bersemayam di singgasana-Nya
Korban
Golgota selamatkanmu.
Di
harimu,
teguh
doa kami,
hari mengurai senyum
karena
engkau t'lah bahagia
Amin
(Kupang,02 November 2012, Hari Arwah)
MENJAUH
Kelam,
lelap dibuai malam
Derap
menjauh
Melangkah
susuri jalan
Dan....
berlalu,
menjauh
ke nusa
Jauh
dihempas bayu malam.
Entahkah
ceriah?
Debur,
gemercik laut pantai berlalu,
Sirnakan
penat di kebimbangan rasa
Ragu
dalam pasrah
Pedih...
Perih
setelah terjalin
Setelah
terpaut
Setelah
ranum kisah tertebar
di
simpang jalan
Mimpi
menjauh
Dan
kudekap sendiri asa
pada
rintih rindu membekas.
(Kupang,
18 April 2019)
ASA TERLUNTA
Terlunta
dalam rindu
hati
bertanya pada sepenggal rindu,
Tapi
mungkinkah?
Rela
untuk melepas
Bukan
dunianya.
Dia
tulus,polos
Tapi
tak bulus menore asa
hanyutkan
di hari paginya
Tapi
suara dalam canda,
Tawanya
ceria
Tutur
budi
telah
membius.
Penantian
terasa lama menjemputmu.
(22
April 2019 )
DI UJUNG MALAM (1)
Alam
hening
jiwa
syahdu atas cahya gemintang suluh jalan
karena
batin khusyuk
Pada
katup doa bagi Sang Raja
Dari
Khalik langit
Sabda
bumantara
Bagi
insan buana.
Girang
jiwa melebur hening
khusuk
masyuk
hendak
berarak
bersama
raja-raja ke kandang hina nan suci
memuji
Sang Khalik
Juru
Selamat
(Kupang,06
Januari 2015, Selamat merayakan Minggu Ephifani)
BIRUMU DANAU BERATAN
Suatu
saat nanti......
Pagi
dini yang sepi
Rindu
tergugah pada alam dewatamu,
Rindu
menari bila senja menjelang
Rindu
membenam bila malam kan datang.
Di
tepian birumu
Hanyutkan
selaksa pedih
Ranumkan
asa mendekap cita
Bahwa
tenangmu panduku dalam hidup
Ikhtiarkan
cita dalam damai.
Danau
Beratan Bali...
suatu
saat nanti….
(Denpasar,
14 Mei 2013)
LARA
Dan
sejauh ini?
hampir
melepas rasa yang dulu
tapi...
bayang
semu memudar
bingkai
rupa terkoyak dari litani kisahmu
menyusur
hari yang kian berlalu
lara,
sepih.
Lalu...
adakah
ronamu mengusap lara?
jauh
dari tatapmu
bagai
melesat jauh di jalanmu
abadimu,
buatmu tersenyum
tuk esokmu.
Di
ujung malam ini
kusantunkan
sapa dalam bayang imaji
yang
kian memagut rindu
di
benak dan nadi
mengukir
raut,
Tapi
tersapu bening hatimu….
Hingga
ke tepian
(12 Oktober 2013)
UJUNG
MALAM (2)
Tubuh
ini begitu dingin,
Ringkuk,
rindu dekap tuk jiwa nan pilu,
tanganmu
yang dulu, mama
kala
gerimis menerpa dinding bambu.
Tungku
perapian ini tidak cukup,
Hanya
cukup mendekapmu,
Lalu
kita berkisah.
Dengarkah
rintih batin?
Dengarkah
keluh di litany rindu?
menyendiri
kelana di tanah sabana tak berujung,
hanya
awan cerah nan ceriah
benderang
terangi jalan
dan
sukmaku pinta doamu,
doamu
mama,
doa
sederhana
sesederhana
dirimu, jiwamu
pun
iklas senyummu
tlah
tersantun hingga kekal.
Di
ujung malam ini,
kupanut
doa penguatmu
doa
jadi tonggak di jalan tak terhingga
di
ziarah tak kenal musim.
Kupang, 14 Desember 2013
MEMAHAT SEPIH
Bayangmu
pada celah dedaunan menjuntai
renggut
sepih
remuk,
berharap
tanya
maukah
sepasang mata
menemani
malammu nan lara?
Rindu
padamu memahat tanah kerontang
Pada
tanah sabana menanti mentari.
Malam
ini, rembulan telah tersenyum
Guratkan
bahagia
Karena
senyum retaskan sepi.
Tabanan - Bali ,15 Mei 2019
HARUS KUTULIS
Jemari
kuremas
berkali-kali,
hingga usai
dan
semuanya diam
hening
mamgut raga.
Tapi,
hanya
jangkrik mengusik hati sendu
karena
sering berkeluh.
Terlanjur
jauh...
jauh
di malam nan pekat
redup lampu mengajak ke pembaringan.
Jauh
dari keluh
Karena
kertas ini harus ditulis
Semenjak
remang menerpa senja
Kelam gelayuti bumi,
Agar
makhluk bertelut atas hari berlalu
Hingga
malam kusuk
Lelap
di hari yang penuh syukur.
Kupang, 17 Desember 2018
SESAAT
Mimpi
itu
menyibak
asa.
Ku
menyentuh kuncup itu
Indah,
Semerbak
kembang menggoda sukma
Merangkai
jalan kita
Walau
hanya setapak.
Kembangpun
hiasi tamannya
Indah,
mekar dan berseri
Di
tamannya,
Dan
Senyummu
Jadi
bahagiamu
(Mendaur
serpihan memory)
Kupang,
25 Mei 2017
KERLIP
Kerlip
lilin di harimu
di
seluruh negeri,
seluruh
buana.
Rupa
tiada
Batin
menyatu,
Jiwa
bersemayam di singgasana-Nya
Korban
Golgota selamatkanmu.
Di
harimu,
teguh
doa kami,
hari mengurai senyum
karena
engkau t'lah bahagia
Amin
(Kupang,02 November 2012, Hari Arwah)
MENJAUH
Kelam,
lelap dibuai malam
Derap
menjauh
Melangkah
susuri jalan
Dan....
berlalu,
menjauh
ke nusa
Jauh
dihempas bayu malam.
Entahkah
ceriah?
Debur,
gemercik laut pantai berlalu,
Sirnakan
penat di kebimbangan rasa
Ragu
dalam pasrah
Pedih...
Perih
setelah terjalin
Setelah
terpaut
Setelah
ranum kisah tertebar
di
simpang jalan
Mimpi
menjauh
Dan
kudekap sendiri asa
pada
rintih rindu membekas.
(Kupang,
18 April 2019)
ASA TERLUNTA
Terlunta
dalam rindu
hati
bertanya pada sepenggal rindu,
Tapi
mungkinkah?
Rela
untuk melepas
entah,
bukan dunianya.
Tulus,
polos
Tapi
tak bulus menore asa
hanyutkan
di hari paginya
Tapi
suara dalam canda,
Tawanya
ceria
Tutur
budi
telah
membius.
Penantian
terasa lama menjemputmu.
(22
April 2019 )
DI UJUNG MALAM (1)
Alam
hening
jiwa
syahdu atas cahya gemintang suluh jalan
karena
batin khusyuk
Pada
katup doa bagi Sang Raja
Dari
Khalik langit
Sabda
bumantara
Bagi
insan buana.
Girang
jiwa melebur hening
khusuk
masyuk
hendak
berarak
bersama
raja-raja ke kandang hina nan suci
memuji
Sang Khalik
Juru
Selamat
(Kupang,06
Januari 2015, Selamat merayakan Minggu Ephifani)
BIRUMU BERATAN
Suatu
saat nanti......
Pagi
dini yang sepi
Rindu
tergugah pada alam dewatamu,
Rindu
menari bila senja menjelang
Rindu
membenam bila malam kan datang.
Di
tepian birumu
Hanyutkan
selaksa pedih
Ranumkan
asa mendekap cita
Bahwa
tenangmu panduku dalam hidup
Ikhtiarkan
cita dalam damai.
Danau
Beratan Bali...
suatu
saat nanti….
(Denpasar,
14 Mei 2013)
LARA
Dan
sejauh ini?
hampir
melepas rasa yang dulu
tapi...
bayang
semu memudar
bingkai
rupa terkoyak dari litani kisahmu
menyusur
hari yang kian berlalu
lara,
sepih.
Lalu...
adakah
ronamu mengusap lara?
jauh
dari tatapmu
bagai
melesat jauh di jalanmu
abadimu,
buatmu tersenyum
tuk esokmu.
Di
ujung malam ini
kusantunkan
sapa dalam bayang imaji
yang
kian memagut rindu
di
benak dan nadi
mengukir
raut,
Tapi
tersapu bening hatimu….
Hingga
ke tepian
(12 Oktober 2013)
UJUNG MALAM (2)
Tubuh
ini begitu dingin,
Ringkuk,
rindu dekap tuk jiwa nan pilu,
tanganmu
yang dulu, mama
kala
gerimis menerpa dinding bambu.
Tungku
perapian ini tidak cukup,
Hanya
cukup mendekapmu,
Lalu
kita berkisah.
Dengarkah
rintih batin?
Dengarkah
keluh di litany rindu?
menyendiri
kelana di tanah sabana tak berujung,
hanya
awan cerah nan ceriah
benderang
terangi jalan
dan
sukmaku pinta doamu,
doamu
mama,
doa
sederhana
sesederhana
dirimu, jiwamu
pun
iklas senyummu
tlah
tersantun hingga kekal.
Di
ujung malam ini,
kupanut
doa penguatmu
doa
jadi tonggak di jalan tak terhingga
di
ziarah tak kenal musim.
Kupang,
14 Desember 2013
JEJAK
Mencoba
telusuri jejak di ujung malam
kelam
membenam
memeluk
rindu untuk sebuah rasa
dan
buram...
tak
menyentuh jemarimu
tatapmu
pun tak sempat
jauh...telah
menjauh dengan keheninganmu
Ajarkan
aku yang dulu kau tunjuk
pegang
tanganku yang dulu kau tuntun
ingin
ku dibelai tanganmu.
Ingin
kudengar lagi suaramu
dikisahkan
fabel dari leluhur
menyejukan
sukma.
hilangkan
lara
lalu
aku pulas dalam pelukmu
berlari
di alam mimpi
berjalan
di surgloka
hanya
karena senyumu selalu
walau
hatimu getir tentang hidup kita,
senyum
bangga walau dalam hampa,
senyum
bahagia walau seharian.
Raga
terbakar terik
senyum
indah seindah tulus budimu.
Sepotong
doa selalu terlantun
kuatkan
hati,
kuatkan
budi
agar
jalanku tegar
sebagai
jawabku untukmu.
Engkau
jauh di atas jagad
selalu
beri tanpa meminta
yang
doakan ziara kami
semoga
diammu
jadi
bahagia kami.
(Kupang,
29 Februari 2014)
DARA DAGING
Kalau
saja dunia ini kau jelajah
kalau
saja dunia ini kau gapai
jika
saja mimpimu menjadi nyata
.....
Ingin
kusandingkan citaku dalam nadimu
demi
secuil harapanku di esok lusa
kala
mentari munyisir tepian barat
karena
kutahu jalanku tlah tertatih
tatapku
pun muram
jemari
hanya mampu mengamit asa,
ikhtiar t’lah kubenam
harap
dapat menuai
demi
sebuah senyum
senyum
bangga
karena
daging dari daging.
Kalau
saja dunia ini kau jelajah
kalau
saja dunia ini kau gapai
jika
saja mimpimu menjadi nyata,
Itu
bahagiaku
(06
Januari 2014)
ABU
Abu
di
rabu abu
menghapus
yang kelabu
abu
bukanlah
hal tabu
abu
tidak
kelabu
tapi
abu
sirnakanmu
dari dunia abu-abu.
Semoga
di Rabu Abu
kamu
pantas mendapatkan abu.
ya...hanya
di Rabu abu
bukanlah
kamis abu
atau
Minggu abu.
.....
Dengan
abu
mulailah
Puasa dan Pantang.
Oktober
2014
DI SINI
Doakan
kami yang berziarah,
Di
diammu
kami
akan berdiam
Di
surgamu
tempat
kita bersuka
walau
hari dilumuri tangis berderai
Dalam
irama sangkakala batin
sukmamu
tersenyum.
Sahabat,,,
Jalan
kami masih jauh
Kerja
belum usai
Masih
terjal dan berliku
Bunda...
Anak-anakmu
juga berziarah
tlah
mengiklaskanmu
smoga
jalanmu lapang
bahgia
di singgasana-Nya.
Dalam
diammu
Kami
bertelut kidungkan syukur
Walau
kidungku di ringkih,
Tapi
kidungmu membahana penyejuk kalbu
kidung
damai di kala lara.
Denting
Sasando seirama tabuh
Mengiring
tari kehidupan
Merenda
hari esok kita
Hinga
kita tiba di tapal batas
Sahabat,
rumah
kita
pernah
menoreh suka dan lara kita.
selamat
jalan
( 08 Oktober 2014)
GERIMIS DESEMBER
Mula
Desember berurai gerimis
basahi
bumi dari terik
Rasa
teruntai di alamnya
Hendak
bersanding dalam lara
Hati
tak berucap
Jiwa
berkelana dalam diamnya
Berucap
rindu untuk bunda
Tlah
bertahun-tahun kuatkan daku
dalam
doanya.
Lapangkan
jalanku
jalan
kami
Karena
hati kami dari hatimu
Jiwa
kami dari jiwamu
dan
Rasa
itu
ada
di sini,
Relungku
(01 Desember 2014)
HAMBAR
Gerimis
di kegalauan rasa
terhempas
kepenatan
adakah
kepahitan tertawar?
Tapi
itu
dalam
batin yang terasa
memberi
damai
yang
dulu meronai jejakmu
dan
kini menjadi memori
meronai
jejakku pula.
kita
telah memulai
mengakhiri
pula
dalam
senyum walau hambar
17 Februari 2014
AYAH (1)
Temaram
senja dan lari-lari kecil
tepian
pasir putih
tlah
membenam rindu padamu,
pantai
menoreh kenang
Senja
yang memberi asa tuk bisa jalan
jalan
tanpamu kini.
Ayah...
Rindu
itu kini memagut
Tuk
mengusap peluh
Membelai
raga seperti dulu
kala
penat merasuk tubuhmu
tkala
suara latamu damba jiwa hangat anakmu
dan
bisik rindu selalu didekapmu.
Waktu
mencatat kisah
Waktu
mengurai kenangan
Tlah
tertulis kisah sukamu dan suka kami
Tlah merenda sukses dan gagal
Suka
dan duka
Semua
tlah berkisah
Bahwa
getir di tanah leluhur
Garang
di tanahku kini
telah
buatku tegar.
(Senja di Kota Karang,13 Januari 2019)
KELEBAT RINDU
Sekelebat
rindu
gelayuti
hati
kala
mentari terbuai malam
Ah.....
hati
rindu dalam pasrah
tuk
nanti jumpamu
dalam
tidurmu
senyummu
dan
hidupmu.
Inikah
cinta?
sejatikah?
selalu
kutuliskan di buku hidup
bacalah
suatu saat nanti
di
relungmu.
Selalu
tersantunkan asa ini
kutitip
ini di mimpimu.
Pastikan
bahagia
(Kupang,
02 juli 2019)
BALADA PILU
Kemarin engkau tebar kasih
rangkul
kami dengan cintamu
Lalu....
Cerita
tentang hidup yang damai
Walau
harus telusuri gunung dan lembah
Walau
harus susuri sungai dan ngarai
walau
kadang tertusuk onak dan duri....
Lalu
katamu: kita harus senyum walau jalan ini terjal
Bunda,
Lama
nian jalanmu,
susuri
jalan itu tanpa tertulis
Sedang
jalan kami masih jauh.
Bunda,
Uban
rambutmu tunjukan jauh jalanmu
Tak
kulihat lagi Katup tangan di depan altar itu
Dengarkan
kidung pun hanyut
Barisan
malaikat teriring sangkakala
menjemputmu.
Sanak
sahabat menghantar
Pada
tidurmu abadi
(Teruntuk
Bunda , Dua Raga Soge, Kupang, 02 Agustus
2015
ANDAI
Jika
saja ragamu di sini
Ingin
kubaringkan manjaku.
Kalau
saja kau dengar
Hendak
kuceritakan selaksa kisahku,
Andai
saja matamu melihat...lihatlah ziarah kami...
Berliku
kadang terjal
Senyummu
yang dulu..
ajarkan
ketabahan agar menuai senyum walau sekejap.
Diammu
yang lama menohok rindu pd manjamu utk kami.
Mama...
Lama
nian rindu bergulat dalam hampa
Lama
nian tapaku demi bahagia
Hanya
senyum abadimu di sukmaku
slalu
iring jalan berliku.
Rindu
padamu tak bertepi
Walau
raga lelah.
Rindu
ceritamu masih kutulis
Walau
malam membuai hingga lelap.
Ragamu,
Slalu
kudekap erat
Bagai
jiwa yang tak lepas dri nafasku
Doakan
kami
Kupang,13 Agustus 2018
RUSUK PATAH
Rusuk-rusukmu lelah menahan beban
Telah bawa bunda ke tempat nirwana ilahi
Sang
Khalik menjemputmu...
Kami
yang bersimpuh dalam isak berderai
Ringkuk
puji serahkan nyawa
dada
sesak memikul beribu tanya
Mengapa
ada kematian?
Selamat
jalan
Jalanmu
Abadi
Kami
rindu sapamu
Sang
khalik tlah merindukanmu.
Nantikan
kami di pintu-Nya.
(Untuk Almarumah Floriana Soge Neparasi
19 Agustus 2015)
AYAH (2)
Tak
kudengar keluh
Hanya
derai peluh demi kami
Ayah...kulihat
bahgia di matamu
Kriput
pipi mu tlah tulis kisah kami
Di
jemarimu telah tertata mimpimu untuk kami.
Senja
ini
Kala
hati tertambat pada kisah deganmu
Kuingat
kita berdua menyusuri ngarai itu
Dalam
kelam malam itu
Dengan
hatimu, kau tuntun langkahku
Menuju
rumah kita
Karena
di sana ada senyum suka,
Di
sana damai sukma tlah menanti dari hati bunda.
Dan
ayah...
Kau
tlah menuntunku
Dalam
degup rindu yang kian gelayuti hati
Ku
ingin berbisik:
Peluhmu,
deraimu, besarkan kami.
Selamat
hari ayah.
(12 November 2015)
TERBATAS
Guru
semula terbatas
Kini
...tak mampu dibatasi
guru
semula dicari...
kini
tak terbendung
guru
Berguru
di tempat terbatas dan segalanya terbatas
Jika
'nyaring berkicau' ,
Pasti
dibatasi....
akhirnya
Semua
serba terbatas...
Guru....
Hari-harimu
dibatasi ruang dan waktu.
rumah..kelas
kelas...rumah
dihimpit
tembok yang terbatas
dinding
tembok jadi pembatas
Guru......
sejarahmu
kelam karena dibatasi
Hari
ini pun terbatasi?
Langkah
dibatasi
Senyum
dibatasi
kini dibatasi
esok
mungkin dibatasi
Semoga
belenggumu bukan penjajah.
(Refkeksiku di hari PGRI , Kupang, 25
november 2015).
GERAH
Terik
hanguskan sabana kota karang
Gerah
kurasa
Galau
tak tertahan
Yang
bersuara tak terdengar
Yang
terkata pun lenyap
Lalu....
Mendung
tak kunjung datang.
dalam
ruang panas
Ragapun
panas
Hanya
jiwa yang masi berpasrah
27 November 2015
WAKTU
Akhir
jalanmu tlah kutulis
di
penghujungmu ingin kusantunkan harapan
Asa
dalam jiwa,
yang
berkelana menyusur waktu;
Asa tlah litanikan jejak hidup bersama
semua
yang di hati
yang
bersamaku
Ayahku
ibuku
Dan
dia yang merangkulku kala terseok di laut bertaufan.
Kasihmu
tak bertepi
Dalam
ngarai kasih yang tak terhingga
Di
penghujung masa ini
hanya
kata usang teruntai dari jiwa nan tulus
"Selamat
melangkah
Kupang, 31 Desember 2018
MENYAPA DI DEDAUNAN
Berawal
dari sebuah perjumpaan lalu jadi kebersamaan,.
Lajur
kehidupan mengikuti alurnya ,
Menguntai
suka dalam dram hidup beraneka warna:
Ada
senyum dan tawamu,
Pun
kadang kelam merasuk batin
Menggugah
nurani
Dan
untukmu kami berpeluh
Kami
tak meratapi egomu
Pada
usil bahkan congkak kelabui rumah kita,
Namun
kutetap memapahmu tuk sanggup menatap
Pada
sebersit cahaya mentari
Yang
saban hari mengintip pada dedaunan menjuntai
Pada
celah ranting pepohonan meranggas
Tak
tak sedikit pun iklas ini meranggas sukamu, hari esokmu.
Anaku…
Jumpa
kita sulitlah abadi
Awal
kan berakhir
Akhir
jumpa pun, jadi awal langkahmu
Jalanmu
nun jauh di sana
Teguhlah
pada ikhrar kita
Bahwa
bintang di langit akan ada digenggammu
Kala
hasratmu dilumuri doa tak bertepi.
(Kupang, 29 Mei 2019 )
GAUNGMU
PADA GEMERCIK AIR
(Di keredahan hatimu: Jokowi)
Mentari
membakar sabana
Tapi
tak menyengat jiwa ikhlas berkelana
Kumandang
litani Indoseia ku membahana
dengan
tulus, jiwa mu tak merana
melangkah
tuk meretas jiwa merana
pada
tanahku nun jauh di sana.
Iklas
mengurai senyum pada sanak saudara
Meski
sosokmu bukanlah sedara
Agar
tangis kami tak mengudara
Agar
kami pun kan kenakan tiara.
Ikhlasmu
tak saja bertepi pada gedung menjulang
Pada
jalan dan jembatan mewah satukan bangsa,
juga
cukup pangan tuk kenyangkan lapar,
tapi
pada rindu setetes air lepas dahaga
pada
gemericik air, syhadu basahi ladang di sabana
hijaukan
tanah kerontang tak berujung,
suburkan
ladang dari sawah yang membentang.
Iklhasmu
tlah tertambat pada Raknamo,Rotiklot,Temef dan Manikin.
Pun
tulusmu terurai di Napun Gete,
menghijau
batin, mengurai senyum .
Iklas
dan tulusmu beri kami harap
Walau
hanya kudengar pada gemercik air
Alirkan
sungai nirwana di negeri sabana.
(Kupang,
21 Mei 2019)
JINGGALAH AWANKU
Selembar
puisi tak berlarik
terlecut
ke angkasa batin
kutahu
hanya senyum tak berwujud
kuharap
damaimu menggelegar
satukan
langit suram:
Sabang
sampai Marauke
Sangirtalaud
hingga Rote.
Amarahmu
membuncah
tapi
itu kala ia mengibas-ngibas nuranimu
kala
ia meremas-remas iklasmu,
hasut
kisruh, bumiku pengap,
damai
diracuni propaganda,
kala
sanak pun sahabat diadu domba
demi
nafsu kuasa
demi
kursi empuk
haramkan
yang halal.
Esok,
kala
mentari meretas embun meremang,
tebarkan
senyum bingkai hasrat
bersatu
walau berbeda
berbeda
tapi tetap satu
satu
bangsa, tanah air, bahasa
untukmu
Indonesiaku
(Kupang, 21 Mei 2019)
POJOK LARA
Bayangmu
pada celah dedaunan menjuntai
renggut
sepih
remuk,
berharap tanya
maukah
sepasang mata
menemani
malammu nan lara?
(Ramada Hotel,Bali, 15 Mei 2019)
JUMAT UNGU
Bertelut di Jalan Salib
Ungkap pasrah serahkan aib
Serah pula segala nasib
Agar hikmah tak lagi raib.
Sujud harus jadi ikrar
Agar lapang jiwa berkobar
Agar dosa tak lagi menindih
Agar batin tetaplah damai.
Dengar ratap dari Tuanmu,
Dengar seruh dari Puanmu:
Jangan rabun untuk melihat
Jangan ragu untuk menggandeng;
Karena banyak raga sedang terkulai,
banyak hati sedang merintih
Pula jiwa sedang histeris.
Berkanjang Doa tak pernah henti,
Tetap bersimpuh retaskan khilaf,
Karena darah-Nya tebuskan,
Jiwa-Nya selamatkan.
(Selamat menjalankan Jalan Salib)
Kupang, 28 Februari 2020
AMPUH
Memadang tak pernah jenuh
Tentangmu yang tak pernah
keluh
Tulusmu serasa angkuh
Namun tak pernah acuh tak
acuh.
Jangan pernah disentuh
hidupmu bermakna sungguh
Hingga jalanmu tak akan
jatuh
Jiwa ragamu sungguh
ampuh.
Kupang,06 Maret 2020
BERLALU
Semua
berlalu
Seirama
mentari menggapai senja
Diam
di malam hening,
Sehening
doa saudara, kakak, adik, ibu.
Semua
tengadah
Mengatup
raga
Merapal
doa dalam litani kidung puji,
Agar
anak-anaknya tersenyum
Agar
kekasihnya tegar mengembara.
Kita
doakan ia selalu
Karena
iapun mendoakan kita.
Mengenangmu
dalam degup hati nan sendu hari ini.
Kupang,
06 Februari 2020
OASE 1
Corona, Pesonamu dalam degup tak
menentu
Sungging senyummu memangsa,
Bak naga mengibas,
Semua tersapu
Menjerit, memohon,
Jantung berdegup menahan sakit.
Corona.....
Tawamu congkak
Tawamu adalah dengki pada kami
Tebar senyummu merusak tatanan
Semua kalut, gugup
Sembari tangan terkatup
Sujud kusyuk penuh harap
Agar wajah garangmu tak menyinggahi
relungnya.
Hari - hari ini di ruang sempit
Kami terpekur merenung tafakur
atas khilaf dan salah
Atas gundah dosa jadi biang petaka.
Corona,
Di tepian oase tersisa,
Jangan tebarkan senyum kiamat
Karena setitik air masi tersisa
Dan masi tersimpan mimpi di tengah
oase ini.
Kupang, 21 Maret 2020.
OASE 2
Entah sampai kapan tetap
megawasimu,
menghitung kedatanganmu
dan tetap menanti, sedang rupa
tiada
tetapi ancaman bak mawar ranum di
pagi ini.
Hingga kapan, gelak akan meledak
pratanda garangmu tak lagi melilit
lalu canda pun tawa,bak sumringah
hiasi beranda hati sana keluarga?
Dentang lonceng tak terdengar
walau kicau burung pagi ini masi
seperti kemarin
longlongan anjing pun senyap tak seiring
loceng gereja membangunkan
senyap, seperti pilu menghujam
sukma
mulut terkatup, di rumah-rumah
di sekolah, kantor-kantor,
hampir saja di jalan ini,
semua terdiam, karena pedangmu
terhunus
hendak menghujam tawa pasrah.
Tapi jangan kau seduh oase tersisa
karena gerah ini dari dahaga belum
terpuaskan.
jangan kau renggut asa-asa menanti.
Kupang, 22 Maret 2020
OASE 3
Malam
tlah larut
Cerita
pasrah pagi hingga sore
Di
teras rumah, di kamar tidur
Pada
tiap derap dan detak,
Terbawa
dalam mimpi:
Resah,menakutkan.
Perih
hati bertanya
Gulana
bersambut gerah
Hanya
pasrah menerima tiba,
Mebendung
hasrta kelana
Itu
jalan, taka da pilihan.
Gundah
hati bertanya
Entah
kapan galau menjauh?
Kapan
sirnah gulana?
Seribu
tanya belum terjawab
hanya
sanggup mengatup
pintu
kerahiman tak tertutup
agar
kami tak gugup.
Kupang, 23 Maret 2020
NIRWANA
Mentapmu tak bertepi
tapi rindu mengumbar degup
Menggiring hasrat sua hingga senyum
merekah
Rindu menenun cinta .
Suatu hari nanti
Kurangkai bianglala jadi mahligai
Di sana kudekap rindu bertahun
Embara jadi nirwana kita
Kupang, 31 Januari 2020
GEMAKAN
Tersekap dalam terang
bersulam kelam
Namun pagi ini bukanlah
malam
Mata tetap menatap
Secercah sinar sirnakan
gelap.
Buka tirai jendela hati
Tatap lagi amati
Hari-harimu amatlah
berarti
Karena ikhtiar tetap
berbhakti.
Hidupmu tidak kelabu
Tak tersandung karena
berdebu
Katup bersujud bukanlah
tabu
Harap selamat di dalam
kalbu.
Kupang, 28 Maret 2020
TERSEKAP DI ANTARA JERITAN
Hanya pasrah mendaras doa
Agar pedih ini luruh
Agar perih luluh
Lalu sukma bersuka karena anugerah.
Jerit derita pinta
Agar tangan-tangan dingin ikhlas
memberi
Lembut senyumnya halau perih nan
pedih.
Jerit derita pinta tangan berkah
Hingga tiap insan sanjungkan
munajat syukur
Hingga raga derita syukuri berkah
Hingga raga lemas kan tegar rengkuh
bahgia.
Jerit-jerit raga resah
Kan jadi tegar karena pasrah,
Pasrah karena bilur-bilur'Nya
Berimu damai.
RS Leona Kupang, 11 Februari 2020)
MUNAJAT
Gerimis
merebas seiring munajat
Hanya
rasa nan syahdu
Hanyut
di hari menggaris peluh
Terbayang
lembut sebilah asa
Ayun
langkah, menderma ode lirih
Untukmu
yang rapalkan doa,
Santunkan
selalu pada tiap manik Rosario.
Nadarku
berarti
Dalam
hidup berarti
Lalu
tersingkap di hati
Jadi
titian berlimpah berkah.
Tafakur
mengatup tangan
Melitani
untai syukur.
Tetap
senyum biar musim berganti
di
ngarai cinta pun kankugapai.
Kupang,
26 Januari 2020
SYAHDU
Jelang hari
sucimu
Hati rintih degup menyayat
Tafakur daras
munajat
Palingkan murka
di bumi memohon
Karena sujud
ringkih
Karena hati
pasrah tak bertepi.
Hari-hari pekat
Gulita jadi kelam
membenam tawa
Raga tersekap,
ancam selamat
Hanya pasrah pada
titah.
Sang Khalik
tuntun dan jaga
Agar benderang
mentari jadi suluh
Agar benderang
rembulan tak redup
Agar benderang gemintang tak lagi pasi.
Sang Khalik,
Dengarkan gemuruh
batin
Hingga badai ini
berlalu
Hingga senja
indah jadi panorama jiwa.
Kupang, 08 April
2020
TENTANG PENULIS
|
|
Kini mengajar di SMP Negeri 13 Kota Kupang, seteah sebelumnya mengajar di SMP Negeri 3 Rote Barat Daya ( 1995-2000). Semenjak kuliah di Universitas Nusa Cenda menjadi koresponden Surat Khabar Mingguan Dian (1987-1993),menjadi reporter Surat Kabar Mingguan Media Flobamora (1993-1995).
Menulis puisi dan
cerpen dalam majalah Loti Basastra, Kantor Bahasa NTT,2018
Puisi
Mentari,Kartiniku, cerpen Bercak di Selendang Ibu, Gadis Medsos di Serambi
Hotel dalam Antologi cerpen:Tentang Buka Buku,2018, yang diterbitkan oleh
Kantor Bahasa Provinsi NTT, 2018).
Menulis beberapa puisi
di Harian Umum Flores Pos, juga media-media online di NTT, yakni Warta Guru NTT
dan Media Cakrawala NTT.
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!