RITUAL NEBO

 

RITUAL NEBO "A-GOAN" DI KAMPUNG HEWA

 

Oleh Peter Liwu

 

Nebo atau dalam bahasa Hewa disebut "A-Goan" adalah sebuah ritual adat kenduri sebagai sebuah bentuk pemurnian jiwa orang yang sudah meninggal dunia. Tulisan ini sengaja dibuat untuk acara kenduri almahrum Opa Philipus Ike Ipir yang meninggal dunia dua Minggu yang lalu.

 

Yah.. Opa Ike Ipir harus terlepas dari keterikatan duniawi dengan semua keluarga yang masih hidup sehingga perlu dibuat ritual pelepasan agar jiwanya diterima untuk bergabung bersama keluarga - keluarganya yang lain yang telah mendahuluinya. Beliau (almahrum) harus diterima sebagai anggota baru di dunianya yang fanah tetapi juga harus diakui oleh semua keluarganya teristimewa dari marga Ipirnya yang ada di Hewa.

 

Dalam tradisi lokal yang dianut oleh orang Hewa dan beberapa desa tetangga memahami bahwa orang yang telah meninggal dunia adalah mereka yang sudah cukup kuat untuk menerima kematian dan diakui sebagai sebuah keharusan bagi setiap orang. Kematian dianggap sebagai sebuah perpindahan dari dunia nyata ke dunia fanah. Nitu adalah sebutan untuk para arwah dan dunia Nitu adalah tempat berkumpulnya orang - orang yang sudah meninggal dunia.

 

Di Hewa ada sebuah tempat bernama Pemasuit, tempat itu diakui sebagai tempat berdiamnya para Nitu atau arwah. Jika seseorang meninggal dunia, ia akan bergabung dengan keluarganya yang lain di alam fanah dan disitulah tempat mereka tinggal dan melakukan segala aktifitas sehari - hari.

 

Seluruh kehidupan mereka setelah kematian kurang lebih sama dengan orang yang hidup. Ini menyangkut keyakinan yang tidak bisa dibuat perbandingan secara logika dimana manusia hanya dianggap sebagai tubuh materi yang hidup dan akan mati seperti makhluk hidup dan tumbuhan yang lain, terkubur ke dalam tanah dan akan berubah menjadi tanah dan debu. Dalam tradisi Hewa, secara konseptual pemikiran yang menggunakan logika tidak dapat diterima sebagai sesuatu yang mutlak bagi manusia tetapi harus dimengerti sebagai sesuatu yang lain. Bahwa roh itu tetap hidup dan berkarya dihadapan Tuhan dan manusia. Oleh karena itu, sebagai roh yang hidup dia mesti dihargai dan dihormati walaupun dalam pandangan umum mungkin selama roh itu menjadi daging, pernah melakukan kesalahan yang fatal sehingga dianggap manusia tidak berguna.

 

Dalam pengertian filsafat tentang manusia, seperti apa pun bejatnya, sebagai manusia, ia adalah pribadi yang memiliki sifat jasmani dan rohani. Oleh karena itu, manusia tidak disapa sebagai "Apa' melainkan "Siapa". Sampai disini kita tahu bahwa kedudukan manusia bahkan sampai di alam baka pun tetap harus dihormati. Karena manusia adalah ciptaan Allah sebagai badan materi yang sejatinya memiliki akal dan budi dan juga adalah tubuh atau jasmani dan rohani sehingga tidak bisa dibiarkan mati dan lebur begitu saja kedalam tanah. Oleh karena itu dalam konteks budaya, orang memandang jiwa orang mati sebagai roh yang hidup yang selalu membaur bersama orang yang hidup meskipun bersifat invisible tetapi dapat dirasakan oleh orang yang hidup. Ada sebagian orang yang memiliki indra ke enam dapat melihat dengan jelas namun tidak bisa berinteraksi.

 

Di Pemasuit itu, menurut beberapa Nara sumber yang dianggap memiliki kemampuan Indra keenam, mereka melihat sekelompok besar roh para arwah datang mengambil air setiap sore di tempat itu. Jika ingin melihat mereka, anda cukup mengambil sebatang Dalo, sejenis rumput gajah tetapi lebih kecil pada bagian batangnya, lalu di letakan pada sebelah mata sementara satu mata yang lain dibiarkan tertutup, maka anda akan melihat orang - orang dari berbagai usia berkumpul di sana. Tetapi untuk melihat roh para arwah itu, anda pun harus yakin dan kuat secara mental sebab cobaan akan datang dari segala arah dalam bentuk binatang - binatang buas yang menakutkan atau bahkan binatang - binatang kecil yang menggelikan.

 

 

Dan anda dituntut harus tahan diri agar niat anda bisa tercapai. Saya sendiri tidak sanggup, apalagi melihat binatang seperti ular, jangankan yang berbisa, yang kecil pun tidak sanggup. Lalu apa akibatnya jika niat anda ingin melihat mereka tetapi mental anda tidak siap. Akibatnya adalah mati muda karena usia anda akan pendek. Saat ini, upacara ritual seperti memanggil kembali roh ("Maeng" dalam bahasa Hewa) seseorang yang sudah diambil oleh roh halus (Nitu) jarang ada dan bahkan hampir tidak dipraktekkan lagi oleh generasi muda, kecuali ada beberapa tokoh adat yang masih tersisa di Hewa yang mengetahui itu. Semoga ada generasi muda Hewa yang meneruskannya. Jadi, jangan nekat jika batin tidak siap untuk melakukan hal gila seperti itu.

 

Nebo atau A-Goan adalah ritual adat yang dilakukan berdasarkan rasa memiliki terhadap orang yang sudah meninggal dunia sehingga meskipun jasadnya dikuburkan di dunia manapun tetapi rohnya hadir bersama keluarga. Tidak ada pengecualian apakah dia lahir di Hewa atau di dunia manapun tetapi tetap harus mendapat perhatian dari keluarganya. Ritual adat itu dilakukan untuk membuktikan bahwa dia adalah bagian dari keluarga yang mencintainya. Hadirnya dalam bentuk roh memberi kekuatan bagi keluarga sehingga perlu dibuat ritual adat kenduri atau A-Goan dan Nebo dalam bahasa Lamaholot.

 

Dalam proses ritual adat A-Goan itu, seluruh keluarga dekat diundang (rekadu dari bahasa Lamaholot yang berarti mengundang) untuk turut mengambil bagian dalam acara ritual itu. Kelompok ibu - ibu dan para gadis mempunyai peran penting seperti menumbuk padi dan menyiapkan segala sesuatunya untuk para undangan. Sementara kelompok inti sebagai pihak yang berduka akan melakukan ritual adat sesuai kebiasaan suku masing - masing. Sesuai adat istiadat orang Hewa, yang perlu dihadirkan adalah bekas pakaian yang dipakai oleh orang yang meninggal dan sebilah parang jika yang meninggal adalah laki - laki dan sarung atau seperangkat atribut lain yang sering dipakai jika yang meninggal adalah perempuan yang kemudian akan diritualkan dalam rumah suku.

 

Biasanya yang mengemban tugas sebagai pemegang roh orang yang meninggal adalah seorang ibu yang dalam istilah adatnya disebut "Pire Mitan" dengan pakaian hitam sebagai tanda berkabung. Kemudian akan dibuat acara pelepasan roh pada keesokan harinya yang ditandai dengan mandi tolak bala "Hu'i Kusang" di sungai. Tujuannya adalah agar segala hal yang buruk yang mungkin pernah dilakukan selama masa hidupnya tidak menjadi beban bagi keluarga serta anak cucunya di kemudian hari. Sedangkan untuk hal yang baik diterima sebagai referensi bagi kehidupan keluarga dan yang buruk harus mengalir pergi bersama air ke laut. Acara pelepasan roh di sungai ini biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum matahari terbit. Semua rangkaian acara akan berakhir pada hari kedua dan semua keluarga boleh kembali ke rumah masing - masing dengan penuh kelegaan hati.

Demikian sedikit cuplikan tentang ritual A-Goan di kampung Hewa kecamatan Wulanggitang Flores Timur.

Salam semangat Budaya.

 

 

Komentar