ROMANTISME
Romantisme Kumpul
Keluarga
Oleh
(Y. Joni Liwu, S.Pd)
Guru SMP Negeri 13 Kota Kupang
Kumpul Keluarga ungkapan dalam bahasa Kupang
yang bermakna bergotong royong dalam menyelesaikan suatu urusan keluarga,
semisal pernikahan, atau urusan-urusan sejenis lainnya dalam rangka melancarkan
hajatan satu keluarga. Isitilah ini lebih familiar pada kehidupan sosial
masyarakat Kota Kupang. Bagi para perantau atau urban yang menetap di Kota Kupang, sebenarnya bukan
sesuatu yang baru, karena di kampung halamannya, tradisi Kumpul Keluarga itu
selalu dilakukan. Sebut saja, di Kota Nagi alias Larantuka, sering disebut
Kumpu Kao, dan masih banyak lagi istilah sejenis untuk daerah-daerah lainnya di
NTT .
Hari-hari ini, sebagai keluarga yang bermukim
di Kota Kupang, hampir pasti selalu diundang untuk Kumpul Keluarga. Yang lebih
sering adalah undangan mengikuti hajatan pernikahan yang diawali dengan kumpul
keluarga. Setiap keluarga yang mewarisi tradisi orang tua bahkan nenek
moyangnya, akan mengadakan acara ini. Ini tentu dimaksudkan agar sanak
keluarga, sahabat kenalan dapat mengetahui ihkwal pernikahan, sekaligus, bahkan
mungkin tentang segala urusan yang berkenaan dengan pernikahan, atau ursan
lainnya. Urusan kumpul keluarga tidak sampai di situ saja. Pertemuan itu
menjadi lengkap jika setiap yang diundang memberikan bagiannya secara finansial
dalam jumlah tertentu yang akan dicatat atau didaftar dalam sebuah buku. Buku
catatan penting bagi keluarga yang mengundang.Buku itu pula kemudian juga
sebenarnya merupakan bukti hiytam atas putih, soal berapa jumlah yang
diberi,dan sejumlah itu pula keluarga penerima akan memberi.Hal itu dimaksudkan
pula agar apabila keluarga yang diundang mengadakan hajatan, maka daftar itu
sebgai acuannya, entah soal besaran uang yang terdaftar, atau kehadirannya.
Beberapa kali mengikuti acara ini, menyiratkan
beberapa catatan. Bahagia tetapi juga hati
Galau.Bahagia karena soal finansial yang membebani teratasi,
urusan apapun jenisnya dalam sebuah
keluarga diselesaikan secara bersama. Dari aspek sosial, hubungan
kekerabatan senantiasa terjalin. Hal ini menjadi warisan sosial budaya yang
mesti disantunkan pada generasi masa kini yang kehidupannya dikuasai teknologi.
Kumpul Keluarga, ternyata sangat membantu
memperlancar urusan sebuah keluarga. Dalam acara duka cita, semisal kematian,
Kumpul Keluarga sangat meringkankan beban penderitaan keluarga yang berduka.
Dan memang demikian; urusan pemakaman akan berjalan sesuai rencana, tak
terkecuali dengan urusan konsumsi, H - 3 juga H +3.
Beberapa kemanfaatan di antaranya sebagai
beriktu.Pertama,Menyatakan kasih Tuhan lewat kebaikan hati dan sikap
tolong-menolong. Kebenaran menyatakan bahwa manusia hidup di dunia ini untuk
memuliakan nama Tuhan dan berbuat baik kepada sesamanya dalam sikap
tolong-menolong yang tidak pernah berakhir.Hal ini tercermin dari keikhlasan
seseroang salimng mengunjungi dalam urusan Kumpul Keluarga.
Kedua, saling melengkapi satu sama
lain.Seperti paduan suara dimana ada yang menjadi suara satu, suara dua, suara
tiga, suara empat dan suara lainnya. Saat semuanya mengeluarkan suara secara
serentak dan teratur sesuai dengan bidangnya maka akan timbullah perpaduan
suara yang merdu dan enak di dengar yang membahana memenuhi seluruh ruangan.Urusan
Kumpul Keluarga sebagai ungkapan suka cita antar sanak keluarga. Antarsesama
saling menguatkan dalam urusan yang “mungkin” cukup membebani.
Ketiga,Saling menghibur dan manambah semangat
juga memotivasi. Kadang kala saat sendang berkumpul dengan sesama, ada teman
yang sedang mengalami pergumulan yang cukup rumit. Siapapun kita dapat
memberikan masukan kepadanya berdasarkan pengalaman sendiri. Bisa juga dengan
mengajaknya untuk bercanda sekedar menghibur untuk mengembalikan semangat yang
sempat memudar. Hal berosialisasi terlihat dalam urusan Kumpul Keluarga,sehingga
wajar saja, jika sanak keluarga atau
tetangga berdekatan tidak menghadiri undangan, menjadi buah bibir bahkan
dicibir.
Hal berikutnya yakni hahwa dengan Kumpul
Keluarga akan sangat membantu menyelesaikan masalah bersama. Bersama kita lebih
kuat. Di dunia ini ada-ada saja yang mendatangkan persoalan, baik dari
lingkungan sekitar maupun antara teman dekat. Saat masing-masing orang
memberikan buah pikirannya maka jalan kepada penyelesaianpun menjadi lebih
terang benderang. Bukan suatu yang samar-samar melainkan semuanya menjadi jelas
sehingga jalan yang ditempuh lebih terarah. Dalam kebersamaan pergumulan apapun
dapat dihadapi asal saja kita berada di jalur yang benar.Dan hal terakhir
adalah dengan kumpul keluarga akan mengikis rasa egois dan kebinatangan lainnya
dari dalam hati.
Ruang Senyap Kumpul
Keluarga
Kemanfaatan Kumpul Keluarga telah terbukti.
Karena itu hampir pasti setiap keluarga berniat mengadakan acara ini bila
hendak menggelar pernikahan anak pun sanak keluarga lainnya. Dan hari-hari ini
hampir selalu ada undangan untuk hal tersebut.Jika ditakar sebulan dua kali
diundang untuk menghadiri acara Kumpul Keluarga, sudah bisa dipastikan setahun.
Agak sedikit menggugah logika berpikir kita soal akumulasi acara Kumpul
Keluarga dengan sejumlah undangan untuk acara lainnya, yang keseluruhannya
harus menyertakan amplop ( baca:uang). Tentu tidak sangat tidak mungkin
menghadiri sebuah acara tanpa amplop, jika tidak ingin disebut Rompes alias
Rombongan Pesta atau Romantis alias Rombongan Makan Gratis.Tanpa menghitung secara
detail jika disandingkan dengan besaran Upah Minimum Regional ( UMR ), mungkin
dapat diasumsikan sebagai besar pasak dari tiang. Dan sangat miris bagi
segelintir kalangan ( maaf tidak mendiskreditkan siapapun ) yang berprofesi
serabutan. Kondisi ini sangat menggerogoti kesejahteraannya.
Kecemburuan sosial menjadi alur lain hingga
ending dari cerita berjudul Kumpul Keluarga. Kecemburuan itu terjadi manakala jumlah
uang yang hendak dikumpulkan tidak berbanding lurus sebagaiman tertera dalam
buku catatan penting yang telah tersimpan rapih, entah di rak buku atau di
lemari-lemari pakaian. Dalam urusan Kumpul Keluarga berlaku prinsip, berapa
yang telah diberikan, sejumlah itu pula yang akan diterima. Tentu saja menjadi
persoalan bila jumlah yang diberikan tidak
sebanding dengan jumlah yang ditrima. Belum lagi dalam satu kurun waktu (
katakanlah sebulan ) satu keluarga harus menghadiri beberapa kali undangan
untuk kumpul keluarga.Karena telah menerima, maka seseorang mempunyai tanggung
jawab moral untuk memberi jika diundang dalam Kumpul Keluarga.Pada titik ini,
dapat saja kebutuhan-kebutuhan dasar lain dalam sebuah keluarga, bukan tidak
mungkin terabaikan.
Salah satu aspek yang mungkin terabaikan
adalah pendidikan. Dampak Kumpul Keluarga belum berimbas pada aspek pendidikan.
Seorang guru misalnya, kadang mengalami dampak itu pada peserta didiknya.
Katakanlah untuk mendapatkan buku pelajaran lain selain buku yang tersedia di
sekolah sangat sulit ditemukan pada peserta didik. Kalau pun ada peserta didik
yang memiliki sumber belajar ( buku ) lain, dapat dihitung dengan jari. Belum
lagi jika pihak sekolah hendak bersinergi dengan orang tua, soal kontribusi
berwujud finansial demi tereselenggaranya sekolah yang berwawasan wiyata
mandala, yakni peran masyarakat, hampir pasti beberapa alasan selalu mengemuka.
Di antaranya tidak diperbolehkan pungutan, sedangkan pihak sekolah sangat
membutuhkan kerja sama dengan orang tua dalam rang meningkatkan kualitas
pendidikan.
Apalagi jika ada
kebijakan pemerintah daerah yang melarang pungutan berwujud finansial. Padahal
sesungguhnya peran orang tua atau wali, entah apapun namanya, melalui komite
sangat dibutuhkan demi mewujudkan pendidikan yang berkualitas.Dalam hal yang
terkahir ini, penentu kebijakan di sekolah yakni kepala sekolah, tentu
sangatlah berhati-hati dalam mengemas sebutannya (baca: pungutan) sehingga
tidak berdampak pada tercemarnya nama baik pimpinan hingga terpampang di halaman
koran.Belum lagi menjadi sasaran empuk kuli tinta, bila ia menyalahgunakan
jabatannya.
Pada titik ini, dapat
dipastikan bahwa dampak positif Kumpul Keluarga belum menyentuh wilayah
pendidikan. Bukankah pendidikan bagi anak merupakan bekal tak ternilai demi
masa depannya. Sejauhmana kita berkhtiar menjadikan Kumpul Keluarga bagi peningkatan
kualitas pendidikan anak? Mungkin kita boleh mengadopsi tradisi “Pesta Sekolah”
pada warga masyarakat Manggarai pada umumnya.Sehingga seorang mahasiswa ataupun
siswa yang hendak bersekolah atau kuliah, memiliki cukup uang dari ikhwal yang
diebut pesta sekolah itu. Bahkan kelompok-kelompok kecil berlatar etnik telah
mengadopsi Kumpul Keluarga menjadi Arisan Pendidikan.Suatu langkah maju
menggerakkan nurani tentang pentingnya pendidikan bagi setiap kita yang
hari-hari ini tak luput dari undangan Kumpul Keluarga.
Tulisan ini, hendak memberi ruang bagi setiap
kita untuk meretas kekelaman inovasi soal mengusung acara Kumpul Keluarga ke
ruang pendidikan, demi mendongkrak kualitas pendidikan. Jika untuk berpesta
pora dapat ditanggulangi dengan Kumpul Keluarga. Acara yang satu ini
sesungguhnya dapat dikemas demi mempersiapkan kecapakan abad-21. Kecakapan abad ke-21 akan mendorong kemampuan
bernalar aras tinggi ( HOTS ) yang memungkinkan setiap individu mampu
menghadapi tantangan zaman, termasuk kesiapan Indonesia memperoleh bonus
demografi tahun 2020 -2035.Peran orang tua sangat dituntut demi mewujudkan
kecakapan abad -21 ini. Kita tidak boleh terlena dalam dekapan wangi cendana
dalam himpitan sabana, apalagi tersekap dalam ruang sunyi untuk memikirkan kapan
Kumpul Keluarga akan berakhir.Tetapi lebih dari itu, , harus mengoptimalkan
Kumpul Keluarga demi masa depan pendidikan.
Seribu Tanya tak akan terjawab, jika kita
belum memulai.

Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!