SEMBURAT SENYUM

 

 

Semburat Senyum di Bantaran Sungai Maubesi

 

Pagi ini,semarak Pasar Maubesi-TTU mengantarku menuju keramaian penjual dan pembeli. Di sana,semua hati bertaut.Harapan mendulang rupiah dengan barang dagangan disemai.Dan selanjutnya di pasarlah berharap menuai asa.Transaksi jual-beli dapat mengubah wujud harap di angan jadi lembar-lembar rupiah.Pasar Maubesi,siapapun apalagi warga TTU -Insana melekat dan terpahat di ingatanya.Letaknta yang sangat stategis di tepi jalan Timor Raya.Walaupun demikian, fisik bangunan sangatlah sederhana.Dari kesederhaan itu pula terpancar kesederhanaan warga,entah penjual pun pembeli.Paling tidak terlihat dari senyum,sapa dan salam sesama sanak dan keluarga.Lalu pasar pun tidak sekedar menjadi tempat transaksi,tetapi lebih jauh sebagai ajang silahturahim. Bahkan mungkin juga sebagai ajang berbagi kisah dalam keriuhan pasar.

Salah satu sudut yang tak terlupakan adalah bantaran sungai Maubesi.Tentu saja bagi
pedagang ternak,unggas pun kambing dan babi.Tidak tersedia tempat khusus agar dapat menjajahkan hewan peliharaan.Karenanya para pedagang ternakpun, hanya bisa menempati bantaran.Untuk dudukpun tentu agak sulit,kalau bisa hanya dapat berdiri hingga beberapa jam sebelum pasar usai. Sejenak hati pun bertanya. Apakah karena ketradisionalnya sehingga bantaran sungai menjadi satu-satunya tempat penjualan ternak?Menjadi menarik pula,yakni transaksi berlangsung di bantaran bahkan di tengah sungai (baca:sisi lain sungai yang tidak dialiri air).Soal harga ternak bervariasi,tetapi bahwa peluang negosiasi selalu ada.Oleh karenanya tidak heran jika senyum dan tawa sambil menyuguhkan sirih-pinang terjadi di bantaran kali ini.
Dalam kehangatan saling menjamu itulah negosiasi harga terjadi.
kehangatan susana batin mengiringi negosiasi.Semua berlangsung dalam nuansa kekeluargaan.Dengan demikian,persaudaraan tentu terjalin.Jadi untung dan rugi dalam berdagang bukanlah satu-satunya keutamaan, melainkan menautkan rasa persaudaraan menjadi hal lain yang tanpa disadari selalu terjalin.
Jika senyum terurai di bantaran kali Maubesi,maka tawa pun melumuri pertemuan penjual dan pembeli.

Suasana relaksasi menjadi kekhasan di tempat ini. Bukankah berdagang pun menjadi alternatif berelaksasi setelah selama sepekan warga berjibaku dengan rutinitasnya?
Bantaran Sungai Maubesi,ceritamu yang mentradisi, belum juga menggugah hati penentu kebijakan untuk memberimu tempat yang layak bagi peternak hewan bertransaksi.Ataukah sedang terbuai dalan hawa pegunungan melalui gemericik air sungai Maubesi,membuatmu tetap mewarisi tradisi berdagang di bantaran kali?
Bantaran Maubesi pada pasar yang menggeliat,menggugah nurani agar bisa melihat pedagang ternak dapat menghuni tempat yang layak. Entahkah ini akan terwujud?
Walahualam.....

Obe-Maubesi,11 Juli 2019

 

Komentar