SEMOGA

 

Semoga saja!



Sebuah ungkapan mengelitik saya. Itu diucapkan seorang petani di Desa Obe, Kecamatan Fafinesu-Insana, Julianus Taek. Saya coba memaknai ungkapan bersahaja ini. Pertama, ia hendak menguatkan saya bahwa setiap pekerjaan akan menghasilkan seseuatu. Apapun jenis pekerjaan itu, kecuali pekerjaan yang diharamkan. Seorang petani misalnya, sejak mepersiapkan lahan, menanam, hingga memanen. Untuk hal yang terkahir itu yang disebut menghasilkan. Untuk mengetahui hasrat terdalamnya tentang kerjanya, dialog yang kuramu versi "bacarita" (ceritera ) kulanjutkan. Bermodalkan semangat bekerja, ia pun mulai menguraikan. Sebagai pendengar, tentu aku harus mendengarkan dengan saksama, bagaimana seorang petani hendak menguraikan ilmu memaneg atau mungkin lebih tepat disebutkan sebagai mengivestasi masa depan. Petani kampung ini pun sudah mulai memodifikasi pengalaman bertani tradisional dan profesional. Cerita panjang lebar, dapat kusimpulkan secara sederhana, jika hal memodifikasi itus belum seberapa. Ia kemudian merinci satu hal saja semisal dengan menanam tanaman perdagangan yang disebut jambu monyet. alah satu jenis jambu yang bijinya jika dikeringkan kemudian digoreng lalu disebut sebagai kacang mede atau kacang mente. Memang di NTT, pada beberapa daerah sepeti di FloresTimur, kacang jenis ini bukanlah tanaman yang baru. Bahkan tanaman dari Brasil ini termasuk tanaman perdagangan urutan ke sekian, setelah fanili,dan kakao di Flores Timur.



Menurut petani yang pernah menjadi Pegawai Tidak tetap ( PTT ) pada salah kantor ini, beberapa tahun belakangan, memang tanaman ini primadona di desanya, sehingga pemerintah daerah setempat kemudian memberikan bantuan berupa anakan jambu mente jenis jumbo. Tidak saja itu, tetapi juga warga diajarkan pola menanam secara professional. Lubang penanaman berukuran 40 x 40 x 60 Cm atau 50 x 50 x 50 (Panjang, lebar dan dalam) dipersiapkan terlebih dahulu.Pekerjaan selanjutnya adalah pemupukan dasar, pembibitan,pemupukan susulan, penyiraman,dan mengoptimalkan produksi jambu mete.

Jika saja proses-proses ini ditangani secara telaten, maka tinggi anakan itu akan mencapai 1-2 meter dalam waktu dua tahun. Para petani tentu menyambut perhatian pemerintah dengan tangan terbuka. Hampir semua lahan tidur dijadikan lahan untuk menanam jambu mente.

Sayangnya, dua langkah terkahir yakni penyiraman dan pengoptimalan produksi belum diperhatikan. Ketika musim kemarau tiba dan faktor penyiraman diabaikan maka banyak anakan baru mulai bertumbuh kekerdilan, bahkan mati.



Investasi masa depan



Tetang menanam, seorang Julianus Taek yang pernah magang di Jepang ini mengatakan kalai ia telah menanamnya sebanyak 35.000 pohon pada beberapa kebunnya. Andaikan pertubmuhannya tidak mengalami jambatan maka pada 4-5 tahun mendatang ia siap memanen.Ia sebenar sukses brinvestasi.Puluhan ton diarupnya untuk sekali panen.



Baginya itu merupakan salah satu hal berinvestasi versi petani kampung. Berdasarkan pengalaman petani-petani terdahulu yang masih menggunakan cara-cara tradisonal dalam bertanam jambu jenis ini, dengan ratusan pohan saja, mereka bisa meraup 70 sampai 80-an juta rupiah sekali panen.Ia hanya berkaklkulasi dengan jumlah anakan yang telah ditanaman sekarang, kemungkinan ia meraup puluhan juta.



Kedua, ungkapan ‘semoga saja’ yang serta merta keluar dari mulutnya sebagai ungkapan pesimis. Kemarau berkepanjangan yang melanda pekebunan jambu mede / mete menyisahkan lara. Puluhan bahkan ratusan anakan yang ditanam setahun silam ibarat hidup segan mati tak mau. Itu artinya hal penyiraman terhadap anakan yang telah ditanam tersebut menjadi salah satu poin yang hari-hari ini harus diperhatikan para petani. Hal tersebut tentu berbeda dengan lahan-lahan perkebunan yang berada di daerah pegunungan yang tida butuh air dalam perawatannya. Pada hamparan-hamparan kering yang sangat membutuhkan air, tentu perlu dibicarakan dalam “cerita-cerita harian” (baca: rapat kelompok tani). Ini juga menjadi sangat peting, karena jika anakan-anakan yan telah ditanam tanpa penyiraman, maka jambu yang berasal dari Brasil ini lambat laun mengalamai kekeringan.

Hingga di sini pola tanam dari tamaman yang menghasil 553 kalori ( kcal) tiap 100 g, juga pengoptimalan produksi semestinya selalu didiskusikan. Tidak sajaantar petani tetapi juga harus tetap bersinergi dengan pemerintah melalui dinas terkait. Warga yang tidak saja menggantungkan hidup dengan jambu mente ini, tidak akan berkembang pola pikir tentang tanaman perdagangan ini, jika tidak sering memberi pencerahan soal inovasi-inovasi bertanam jambu yang berasal dari suku anacardiaceae.



Ketiga, ‘Semoga saja’ memiliki simpul yang jelas. Bahwa harapan yang berproses melalui kerja keras, tak akan sia-sia. Asal saja, petani tidak membiarkan setiap tanaman merana, tanpa sentuhan-sentuhan dari tangan pekerjanya. Jika demikian, sebenar berinvestasi dengan bertanam tanaman perdagangan, sama maknanya dengan kata bijak kaum cerdik pandai, bahwa pohon selalu mendoakan keselamatn bagi manusia yang tangannya ringan untuk merawatnya.

Canda tawa dan perbicangan dengan seorang petani kampung, di Desa Obe, Kecamatan Fafunesu,Kabupaten TTU, kami benamkan mimpi seirama mentari yang sedang lelap di peraduannya. Mimpi tentang masa depan sdang digagas, dan itu bukan mimpi di siang bolong.

Ah, cerita bersama seorang Julius taek telah mengajakku berlanglang buana tentang gagasan kecil dalam dunia yang maha luas. Mungkin lebih familiar disebut berpikir global, tetapi bertindak lokal.



Salam

 

Komentar