cerpen TANGIS TAK TERDENGAR
Cerpen:
TANGIS TAK TERDENGAR
Dentang
lonceng gereja jelas terdengar. Rany tahu bahwa dentang lonceng yang kedua itu
pratanda misa akan dimulai beberapa menit lagi. Sekali lagi dentangnya,
perayaan ekaristi dimulai. Ia bergegas ke Gereja. Pukul enam nol-nol pagi ini
sesuai jadwal merupakan misa pertama yang akan dilanjutkan dengan misa kedua
pada pukul nol delapan non-nol.Sedangkan misa ketiga dilakukan pada pukul tujuh
belas nol-nol.
Rany
mengintip dari jendela kamarnya. Beberapa orang bergegas di jalan. Rumah Rany
memang di tepi jalan menuju ke Gereja.
“Ayo…ayo!”
Rany membangunkan putrinya.
Rany
sangat khwatir kalau putri semata wayangnya itu terlambat ke gereja. Ia pun
berkali-kali membangunkannya, walau sebenarnya ia sudah harus ke Gereja.
Sementara di kamar lainnya, suami Rany membangunkan ketiga putranya yang masih
terbaring.
Ketiga
putranya memang sering mengikuti misa sore hari.Tapi di bulan-bulan awal tahun
ini mungkin saja selalu berhalangan, mungkin karena cuaca tdiak bersahabat.
Hujan tidak menentu entah pagi, siang maupun malam. Sekali dua kali ia berupaya
membangunkan putrinya tetapi tidak berhasil. Putra bungsunya yang ikut serta
bersama ia dan suami ke Gereja.
Rany kini
berada di bangku deretan tengah. Tempat seolah menjadi pilihan hampir tiap kali
mengikuti perayaan ekaristi. Loceng kecil dibunyikan dari sakristi. Pastor
hendak berarak bersama ajuda menuju
altar. Lagu pembukaan di minggu pagi itu sangat semarak. Hentakan musik dari
orgel dengan paduan suara menggelegar,
menyemarakan suasana. Umat hening dan khusyuk. Setiap umat sangat menanti
berkat dari pastornya di awal misa tersebut. Beberapa saat hatinya belum
tenang. Ia sedikit kesal mengapa putra-putrinya tida ke Gereja bersamanya.
Bukankah berkali-kali ia telah mengingatkan pada mereka jika hari Minggu adalah
hari Tuhan?
“Jika
memang itu tidak dipahami, apakah pengetahuan agama dan pendidikan agama yang
dipelajari di sekolah cukup memberi
pemaham tentang penting beribadat?”
Sejenak,
ia larut dalam ajakan bertobat dari meja altar. Karenanya , pikiran-pikiran itu
dijauhkan. Ia kini lebih khusyuk lagi. Baginya, hal yang selalu ditunggunya
adalah menanti khotbah pastor. Ia menyadari lebih memahami dan mendalami kitab
suci dapat melalui homily pastor. Dan saat itupun tiba. Setelah membacakan
Injil, pastor pun menyampaikan homili.
*
“Kasih
harus melumuri hidup dengan kasih, hidup dalam keluarga, di tempat tugas dan di
mana saja kuta berada”, kata pastor dari podium. Pastor muda itu kemudian
melanjutkan khotbah perihal perilaku terhdap orang lain yang dibingkai kasih.
Rany tidak ingat lagi dari sumber bacaan Injil hari ini. Tetapi khotbah Pastor
ini menyentuh hatinya.
“Oleh karena itu, sangat tidak mungkin terjadi
kade erte bila ada kasih,” kata pastor
dengan suara agak keras.
“Ingat,
apaun bentuk kekerasan saat ini, seseorang bisa
terjerat hukum,” lanjut sang pastor dengan merinci jenis-jenis
kekerasan.
“Tetapi
lebih dari itu, bawlah kasih dalam kehidupannmu, di mana saja.”
Kata-kata
pastor yang terkahir ini sangat menyentuh hati Rany. Ia tertunduk membatin.
Kelancangannya menyakiti tubuh anak-anak tak terhitung. Sejak di bangku
pendidikan dasar anak-anaknya selalu dididik cukup keras. Baginya itu merupakan
salah satu bentuk disiplin. Melihat kondisi kehidupan sekarang, ia meyakini
jika bentuk juga model pendidikan yang
dialami semenjak ia kecil, itu yang akan diterapkan kepada anak-anaknya.
“Di ujung
rotan, ada emas,” begitu Rany menesehati anak-anaknya.
Karena
pendiriannya itulah ia bahkan meragukan suaminya yang hampir tak pernah
mendidik anak-anaknya dengan kekerasan. Suaminya lebih memilih diam, walau
sesekali cukup keras mendidik anak-anaknya.
“Kamu
sepertinya sangat apatis.Apakah seperti ini sikapmu terhadap anak-anak?”
Begitu
kata Rany pada suaminya, setelah ia melihat kelakuan putranya yang kedua, yang
tidak pernah ke Gereja.
“Mama
yakin perilaku mama mendidik anak-anak sudah benar?” jawab suaminya.
Jawaban
itu menohok batinnya. Seketika, ia terpojok. Ia seolah menyadari jika
perilakunya selama ini sesungguhnya dinilai suaminya. Tetapi ia tidak menjawabi
suaminya. Ia masih meyakini bentuk didikan yang dilakukannya akan berbuah
hasil.
Seminggu
yang lalu saat putrinya tidak ke gereja ia telah berlaku kasar tehadap putrinya
ini. Ia mencemeti putrinya dengan keras. Berkali-kali setang kayu menghujam
tubuh Clara.Kata-kata umpatan tak luput dari mulutnya. Clara, Putri semata
wayangnya bagai terdakwa, tak berdaya
menerima sanksi ini. Tapi putrinya ini hanya tertunduk dan menangis.Tak
pembelaan siapapun. Entah saudara-saudara sulungnya.namun selam hampir satu
jam, ia dicecar dengan pertanyaan yang memojokkannya. Ia memang menyampaikan
alasan tidak ke gereja, karena hujan sangat lebat saat ia hendak kembali. Clara
gadis SMA kelas pertama ini tahu bahwa ia harus ke gereja, tapi ia kuatir akan
sakit jika kehujanan.
“Aku
pasti sakit kalau kehujanan di jalan,” gumamnya dalam hati.
Malam itu
menjadi malam yang sangat trgais. Entah kepada siapa ia harus mengadu. Ia tidak
mungkin berbohong karena kepada ibunya.Tapi alasan itu tidak digubris. Belum
lagi selentingan kabar dari tanta Mery tetangganya kalau saat ini Clara sedang
berpacaran. Kabar ini menguatkan Rany, kalau Clara tidak ke gereja karena
berpacaran.
Calra,
gadis yang esok harinya merayakan ulang tahun ini bagai tersekap dalam kubangan
hitam.Gelap pikirannya. Ia kalut. Semenjak memasuki kamarnya, ia hanya menutup
wajahnya dengan bantal.Jika sesekali membersihkan wajahnya dengan tissue, maka
ia menggantikannya dengan guling.Ia tak ingin mendengar lagi nasehat bahkan
segala macam omelan.Entah itu dari Rany ibunya, juga nenek dan siapapun yang
ada di kamarnya.
Nasehat
baginya tidak melunaki rasa sakit hatinya. Ia kecewa bukan karena disakiti,
tetapi karena tidak satupun mendengar alasannya. Tidak satu pun berpihak
kepadanya sata ia pukul ibundanya.
“ Apa
artinya bersaudara, tapi tidak satupun mengerti bahkan membantuku
menjelaskannya pada ibu?” Pertanyaan demi pertanyaan dalam hatinya tak
terjawab. Baginya hidup mungkin tak berarti lagi.
*
Malam
kian larut. Tak satupun ada di kamarnya saat ini. Ia bagai kehilangan semua
yang dicintai bahkan disayanginya. Ia ingat betul, ayahnya pasti sangat
terpukul dengan keadaan ini.Semestinya ayahnya juga ada saat ini di kamar ini.
Tapi itu tidak mungkin, karena jika ayahnya hadir, itu seolah-olah ayah
membenarkan kelalaiannya tidak ke Gereja. Hal itu berarti pula ayah tidak
sependapat dengan ibu.
“Mungkin
terjadi konflik antara Ayah dan ibu,” pikir Calara dalam hati.
Semua
pertanyaan berkecamuk dalam hatinya. Walaupun begitu tidak satu orang pun
mendekatinya sekedar meleraikan semua yang berkecamuk di hatinya juga di
pikirannya.
Kini di
tengah malam ia sendiri. Ia memastikan ayah dna ibunya telah tertidur
pulas.Ibunya pasyi lebih pulas karena telah menjdai hakim atas kelalaiannya
hari ini.
Clara
menerangi kamarnya yang gelap sejak tadi.D sampingnya, di atas menja belajarnya
terdapat beberapa botol kosmetik. Ia memang menghafal jenis –jenis kosmetiknya
yang berisi cairan-cairan itu. Tidak peduli baginya apakah tidak cocok untuk
tubuh bila ditengak. Sebotol air mineral yang telah diminumnya masih tertinggal
sebagian.Beberapa cairan kosmetik itu dicampurnya menjadi satu. Tanpa pikir
panjang, Clara coba menghabisi campran kosmetik tersebut. Cairan itu sekejap
ditengaknya. Namun rasa yang tidak nyaman di lambung dan tenggorokan,
menyebabkan Calara batuk-batuk dan muntah-muntah. Sontak saja ayah dan ibunya
terbangun. Pintu kamar Clara yang tdiak
terkunci, sehingga Rany ibunya dengan menudah masuk ke kamarnya.
“Clara…..,”
teriak Rany. Berkali-kali ia meneriaki nama anaknya.
Ayahnya terbangun, begitupun kedua saudaranya. Dari mulut putrinya itu keluar
busa. Clara batuk-batuk kecil, tetapi badanya lemas. Rany dan suaminya
melarikan Calara ke Rumah Sakit.Tubuh gadis ini lemas.Ia tidak bisa menjawab
pertanyaan dokter. Botol campuran kosmteik yang dibawa ibu menjadi keterangan
bagi dokter untuk mendiagnosa Clara. Clara diinfus. Sebuah selang kecil
dimasukkan ke lambung melalui hidungnya. Tiap lima sampai enam jam lambung Clara dibersihkan.
Rany
mekihat sendiri saat pertama kali lambung Clara dibersihkan. Ia melihat, lender
berwana putin yang barhasil disedot. Hingga ketiga kalinya baru cairan yang
dibersihkan terlihat bening. Tetapi ketika pemebrsihan lambung yang terkahir,
cairan yang keluar berwarna kuning. Rany
semakin kawatir, sedang putrinya ini belum berbicara sedikitpun.
“Jika
seperti ini, itu berarti lambung anakmu telah bersih,” ujar perawat yang
membersihkan lambung Clara tanpa menjelaskan jenis cairan yang berwarna kuning
tersebut.
*
Kini,
Clara telah dipindahkan ke ruang perawatan, setelah hampir dua puluh empat jam
ia dirawat di ruang IGD.
“Pasien
ini harus diobservasi selama dua puluh empat jam,” kata dokter.
Clara ditempatkan di ruang kelas 2. Itu pun atas permintaan
Rany karena biaya atas keracunan atau
kelalaian sendiri ditanggung sendiri. BPJS tidak membiayai pengobatan dan
perawatan. Di ruang ini Clara bersama beberapa pasien lainnya. Ia di ruang
anak-anak, karena sampai dengan hari terakhir ia berusia enam belas, masih
tergolong anak-anak.
Hampir lima jam Rany menemani Clara.Mereka
berdua saja.Ia hendak menyampaikan selamat ulang tahun untuk Clara. Niat itu
tersengal di tengorokan.Hatinya bagai diiris sembilu.Sakit dan menyesakan dada.
Rany tak sanggup, berbisiksekalipun. Sementara Clara bergulat dengan botol
infus, selang yang menghubungkan lambungnya melalui hidung. Sudah sekian hari
ia bergelut dengan benda-benda rumah sakit itu. Hal itu membuat hati Rany
bertambah sedih. Ia membayangkan jika hari ini putri semata wayangnya itu
merayakan hari jadinya.
Kemarin Rany bersama
suami telah menyiapkan hadiah. Hadiah itu sebagai hadiah kejutan untuk Clara.
Bahkan hadiah itu dirahasiakan, sehingga hari ini, Clara cukup bahagia walaupun hadiah itu
sederhana.Tidak saja itu, kue ulang tahun pun sudah dipesan, sehingga malam
nanti, jika setelah selesai berdoa, Clara bisa berbagi kasih dengan
teman-temannya, sebagaimana ia mempersiapkan kue Ultah untuk suaminya beberapa
hari sebelumnya.
Rany terpekur dalam doa
di sore ini. Setelahnya ia sedang menanti suaminya agar bisa menunggui Clara.
“
Tok…tok…tok…,” pintu ruang perawatan kelas bernomor enam itu diketuk.
Rany
terjaga. Ia membuka pintu. Dan ternyata Kakak, adik, dan dua orang
keponankannya telah ada di depannya. Keponakannya sedang memegang kue ulang
tahun. Beberapa batang lilin sudah dinyalakan.Tertulis di atasnya, HBD Clara,
16 tahun. Rany mengajak semuanya menemui Clara. Clara tertidur pulas sambil
menehan sakit karena beberapa jarum suntik di tertancap di tangannya,
terbangun.Di lihatnya kedua orang tanta dan adik-adiknya yang kini di samping.
Batin Clara, tanta-tanta dan adik-adiknya, rany Rany hanyut dalam keharuan.
Lagu Happy Birth Day yang hanya sanggup dinyanyikan satu larik. Tak terdengar
lagi larik-larik selanjutnya. Berawal dai Calra, Rany yang meneteskan air mata,
lalu semua mereka tank sanggup melanjutkan lagu ulang tahun tersebut. Sesaat
lilin-lilin yang dinyalakan itu hampir padam karena hampir menyentuh kue ulang
tahun. Mereka mengucapkan selamat ulang tahun dengan mata sembab.Ulang tahu
berurai air mata,bukan senyum dan tawa, tidak meriah seperti ulang sebelumnya.
Ulang tahun keenam belas menyisahkan sendu dihati Clara,tangis di hati Rany,
sedih pada sanak keluarga Clara.
“Tuhan
mungkinkah prahara ini akan berlalu? Kumohon ampun atas kelalaianku dan putriku agar badai ini tak lagi menghampiri
keluargaku.” Rany kemudian menghampiri putrinya. Ia berbisik pelan pada
putrinya, memohon maaf atas kelancangan,berjanji untuk tetap memgasihi sepenuh
hati.
“Ibu,…..aku
juga minta maaf.” Clara menatap ibunya sambil memeluk erat.
Ibu
dan anak itu larut dalam kesedihan mendalam. Tetes air mata membasuhi ketulusan
hati keduanya; dari hati seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya, dari jiwa
seorang anak yang terlahir dari Rahim ibunya.
Tangisan itu telah
berkahir, isaknya tak terdengar lalu hilang di kesenyapan malam. Tidak ada lagi
sisa tangis itu di wajah, tetapi tangisan itu tetap tertinggal di hati. Hati
seorang ibu.
*
( Kupersembahkan Cerpen ini untuk putri
semata wayang)
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!