TE SE DE
Tese De
Dua puluh
lima tahun (25) tahun lalu (1995) sering mengenakan 'Tii langga' ini, tidak
saja pada pealjaran Seni Budaya, tetapi juga pada acara -acara keluarga di
Dusun Hurulai-Oeseli- Rote Barat Daya. Maklumlah, di pulau terselatan Indonesia
ini, topi berantene ini menjadi kelengkapan busana daerah.Bagi setiap pria
dewasa, busana dengan kelengkapannya wajib dikenakan saat acara-acara tersebut.
Santun, artisitik, khas.Mungkin itu yang tercermin.Oleh karenanya, jika hanya
mengenakan busana dengan kain tenun ikat Rote ( khusus pria) tanpa tii langga,
balutan kain dan selempang serasa tidak lengkap atau bahkan janggal.Atau boleh
jadi, dia bukan orang Rote, orang yang baru saja menginjakkan kakinya di negeri
Nusama Lole. Jadi berbusana dengan tenun ikat bermotif Rote disebut komplit
jika ketiga-tiganya harus ada dan juga pernak-pernik atau kelengkapan lainnya.
Sekedar
mengetahui jenis topi "berantene' Ti'i Langga.
Ti’i
Langga Topi khas Rote yaitu Ti’i langga, yaitu penutup kepala yang berbentuk
mirip dengan topi sombrero dari Meksiko.
Ti’i
langga merupakan aksesoris dari pakaian tradisional untuk pria Rote. Tetapi
pada saat-saat tertentu, misalnya pada saat menarikan tarian tradisonal foti
Ti’i
langga terbuat dari daun lontar yang dikeringkan. Karena sifat alami daun
lontar yang makin lama makin kering, maka ti’i langga pun akan berubah warna
dari kekuningan menjadi makin cokelat. Bagian yang meruncing pada topi tersebut
makin lama tidak akan tegak, tetapi cenderung miring dan sulit untuk ditegakan
kembali.
Konon hal
tersebut melambangkan sifat asli orang Rote yang cenderung keras. Selain itu,
ti’i langga juga merupakan simbol kepercayaan diri dan wibawa pemakainya.
Bagi Orang
Rote , Topi Ti’i Langga juga melambangkan Jiwa Kepemimpinan , Kewibawaan Dan
Percaya Diri . Pada pertama kali , Topi Ti’i Langga Hanya di gunakan oleh Para
Petinggi yang di Pulau Rote , dan sekarang Ti’i Langga Sudah menjadi pelengkap
untuk adat tradisional secara khusus Laki – laki di Rote.
Jika pada pria bertopi antene, maka pada perempuan sejenis makhota yang disebut
Bula Molik.
Bula Molik
( bulan sabit ) dipakai di kepala wanita, Selempang, Sarung, Pendi (ikat
pinggang wanita) terbuat dari perak/emas, dan Habas yang dikalungkan di leher.
Sehubungan dengan motif daerah yg harus dikenakan setiap
ASN di NTT pd hari2 trtntu, mungkin perlu diluruskan tentang kelengkapan.Hampir
kelihatan jika kain tenun ikat sja yg dikenakan sedangkan jenis topi unik ini
tdk digunakan.Pertanyaannya, apakah mengenakan sebagian klengkapan busana
daerah ini sudah cukup mncerminkan kecintaan pd budaya daerah? Atau sebaliknya,
sebenarnya hanya sebuah seremonial belaka; atau pula hanya memenuhi kewajiban
sbagaimna dititahkan atasan?
Kita hendak
mewariskan kecintaan generasi muda trhdapat keunikan hudaya daerah, maka
sewajarnya kecintaan itu harus total.Jika dibiarkan sprti hari- hari ini yg
terlihat, maka sekali waktu tii langga hanya mnjdi hiasan2 di etalase2 kantor
atau bahkan di dinding tembok.Maka nilainya hanya sebuah pajangan, bukan nilai
budaya yg semakin mengakar dalam sanubari generasi bangsa.
Kita mesti melihat dalam titik simpul yang sama bahwa leluhur bangsa telah
mewariskannya secara total, maka kewajiban mncintainya pun harus total.
Berdandan secara lengkap dengan busa bermotif Rote semakin menyiratkan
kepercayaan diri sebagaimna ungkapan orang Rote
" Tese de"...
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!