cerpen TESTIMONI
Cerpen:
TESTIMONI
( Oleh : Joni Liwu )
Loceng tanda apel siswa berbunyi. Seperti biasa semua
siswa berkumpul.Guru, petugas piket hari ini tidak banyak menyampaikan amanat.
Hanya mengingatkan agar seluruh siswa memperhatikan kebersihan sekolah dengan
membuang sampah pada tempatnya.Kemudian, seluruh siswa mengikuti aba-aba
beberapa siswa dalam kegiatan kepramukaan. Nampak lapangan sekolah berukuran tiga pulah kali lima puluh
meter dijejali siswa. Lapangan itu pun tidak semua disemnisasi.Pada bagian lain
terlihat bebatuan. Namun karena beberapa guru pun mengawasi, sehingga
siswa-siswi hampir seluruhnya mengikuti kegiatan kepramukaan hari itu. Hati itu
memang disebut sebagai Jumad Pramuka. Selain kegiatan ini, di hari Jumad yang
lain juga dilakukan olah raga bersama. Memang sekolah ini mempunyai program
pembiasaan. Ada juga Kamis membaca, Selasa bersih, juga hari-hari lainnya.
Menjelang aktivitasku ke kelas
aku coba melihat-lihat halaman media sosialku. Seperti biasa, kuingin mengecek keikutsertaanku dalam sebuah ajang festival
sastra. Sejak sebulan lalu aku telah mengirimkan beberapa puisi ke ajang
tersebut. Halaman media sosial itu telah memberi saya motivasi menulis.Halaman
itu seolah memacu adrenalin, menggelorakan semangatku menulis. Merangkai kata
yang bersilerwan di ruang imajinasiku, di anganku. Menulis sesuatu, yang tak
pernah kutahu sebelumnya,apakah wujud
tulisan itu adalah puisi; dan entah apa lagi namanya.
Seorang sahabatku yang
kesehariannya menjadi Pemimpin Redaksi salah satu majalah di kotaku pun
bertutur yang sama.”Saya hanya menulis dan terus menulis, bahwa apa bentuknya,
mungkin akan diketahui setelah itu,” kata sahabatku, suatu ketika di sebuah
kota, tempat kami mengikuti kegiatan bersama. Pengamalan menulisnya seperti
yang kualami.Tetapi saya baru mengetahui, jika memang untuk mewujudkan mimpi,
kita memang harus memulai.Karena jika tidak dimulai dari titik pertama, titik
kedua hanya tetap menjadi mimpi.
Aku hendak menutup gawai ketika
di halaman depan terdapat pesan di surelku. Aku pun membuka lagi gawaiku. Pesan
masuk dari keponakan yang sedang menggeluti studi magisternya di negeri Kincir
Angin, Belanda. Hati berdegup, apa gerangan. Hati berkecamuk, kalau saja ia
sedang sakit yang pasti mengusik rutinitasku? Ataukah menyampaikan jika ia
telah sukses? Apakah mungkin ia gagal di negeri yang pernah menjajah negaraku
dalam tiga setengah abad? Jika memang itu berita di surat elektronikku, itu
berarti pula menjadi urusanku.
Teringatku, beberapa tahun silam,
ketika ayahanda dan ibundanya datang ke kotaku bersamanya. Saat ia harus
mengikuti masa pendidikan awalnya
menjadi seorang pastor. Kami harus menempuh perjalanan ratusan kilometer dengan
bus antarkota. Ia bahkan telah mengenakan jubbah putih, baju khas kaum padre.
Ia bahkan menyelkesaikan pendidikan itu selama dua tahun. Pendidikan itu pun
hanya sebagai langkah awal sebelum menjejaki pendidikan yang lebih tinggi. Dan
kebersamaan dengan orang tuannya pun
menjadi urusanku. Aku bangga padanya. Apalagi setelah melihat prestasi juga
kemapuannya. Kami berharap suatu ketika impiannya terwujud. Pasti sangat
membanggakan orang tuanya di kampung halaman. Yang kesehariannya selalu
berharap pada hasil kebun dan ladang. Pada serumpun pohon kelapa yang dan kopi
jadi komoditi. Pada padi di ladang yang memberinya cukup makan setahun. Ataupun
pada ubi dan pisang berbuah, melengkapi makan seharian karena panenan padi tak
cukup setelah hujan tak cukup menyuburkan tanaman.
Sang ibu, yang setiap pagi dan
petang, pergi dan pulang dari kebun. Menyusuri jalan terjal berliku, berbukit.
Pada jalan setapak ynag licin bila kehujananan, tetapi di pundak dan kepalanya
tergantung ‘teli’ dan bakul berisi ubi
dan dedaunan sebagai sayuran. Irama hidup jadi rutinitas. Jalanan terjal jadi
lagu rindu anak kampung yang selalu didengungkan. Jalan berliku jadi tembang
penglipur sendu.
Sang ayah dan ibunda menapakai
kebersamaan pada rimba menyejukan, sedang di hatinya menggelantung harapan
tetap tertukir. Bahkan saat menyeberangi sungai-sungai kecil di kaki
pegunungan, sebongkah ikhtiar dan harapan yang tak pernah lelah, bagai
diteduhkan dengan kesejukan air pegunungan. Tapi di tanah leluhur itu pula,
mereka telah menenun cinta dan cita, tidak untuk mereka sendiri, juga untuk darah dagingnya.
Pikiranku menerawang jauh tentang
kehidupan yang telah mentradisi, tetapi memendam mimpi hari esok. Kehidupannya
di sebuah kampung kecil, tetap memiliki mimpi menggapai dunia. Dan itu menjadi
nyata saat ini. Anak sulungnya telah menginjakkan kaki di negeri Belanda.
Melanjutkan studi magister di negeri Kincir Angin, yang bagi kebanyakan petani
miskin di kampungku, hanyalah sebuah mimpi di siang bolong. Kalau saja ia perna
membenamkan mimpi pada anaknya untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit,
mungkin ini saatnya. Ia sendiri
berikhtiar, berpeluh dengan kesederhanaan, tapi sang Khalik mendengarkan
harapannya.
Lonceng sekolah pergantian jam ketiga berbunyi. Aku belum
juga membaca pesan dari dari negeri kincir angin itu, sedangkan saat ini pula
aku harus ke kelas. Tak ada pilihan lain, aku harus membuka pesan di surel itu.
Melihatnya secara rinci, apapun isinya.
“Satu Tangga Tiga Nada, antologi puisi kita
akan diterbitkan,” demikian pesan.
Aku baru teringat, jika setahun
yang lalu, ia menggagas sebuah antologi puisi bersamanya. Hal itu baru
dirampungkan, karena ia sendiri sangat sibuk dengan tugas perkuliahaanya
juga pekerjaannya di Global Data Collection Company-Rotterdam.
Pada bagian lain pesan di surel itu, bahwa salah satu testimony dari tulusan
itu adalah pakar linguistik dari Universitas Nederlanda. Guru besar itu
bersedia karena juga senang memnbaca puisi-puisi itu.
Memang membuat
testimony sesuatu yang wajar dalam penerbitan sebuah buku, tetapi bagi seorang
anak kampung yang berkelana di ruang sastra dalam setahun jagung, tentu menjadi
sebuah kebanggaan.Bangga karena seorang ilmuwan di luar negeri sangat
mengapresiasi denyut nadi sastra di Indonesia, tetapi belum tentu bagi ilmuwan
di negeriku sendiri.
Kubayangkan, betapa
sastra telah berkelana ke seantero dunia, dan tentu menyinggahi relung hati
manusia, kalau saja setiap orang membuka relung hati untuknya. Ia tidak saja
menyentuh hati, tetap mampu menggugah hati, mengubah hati dan mengabarkannya
tentang dunia ini.
***
Kupang, 02 Agustus 2019
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!