HAK ANAK

 

Tiga Jam Bersama TB Lowo Wini:

MENGURAI  HAK DAN  KEKERASAN TERHADAP ANAK

Beberapa jam bersama Taman Baca Lowo Wini serasa mengeyam ilmu sehari soal hak-hak anak, kekerasan terhadap anak, dan Gender. Suguhan materi berbentuk permainan hampir kurang lebih tiga jam, entah tua, muda pun anak-anak lebih memahami sajian materi oleh seorang Rocky R. Kalle, fasilitator Project officer PEIB Alor. Penggagas dan pendiri TB Kakak Linda Tagi yang dalam sambutan awalnya menggarisbawahi keikhlasan mendirikan TB bagi anak-anak ini, semakin mengelorakan perhatian sejumlah orang tua, guru-guru juga pegiat literasi yang hadir untuk memahami lebih jauh tentang hak-hak anak yang selama ini terpinggirkan. Sepuluh hak anak sebagaimana dicerahkan Rocky adalah hak untuk bermain,pendidikan, perlindungan, nama, kebangsaan, makanan, kesehatan, rekreasi, kesamanaan, dan peran dalam pembangunan..Kesepuluh hak anak tersebut kemudian dirangkum menjadi empat hak dasar anak, yaitu hak hidup,hak untuk bertumbuh danberkembang, hak mendapatkan perlindungan, dan hak berpartisipasi.


Pendeta Gereja GMIT Getzemani Sikumana, ketika membuka lokakarya ini menyebutkan bahwa hampir sebagian besar orang tua mencintai anak-anak, tetapi kurang memberi perhatian terhadap anak. Karena itu, ia dengan senang hati bahkan memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap terbentuk Taman Baca Lowo Wini, yang memberi perhatian bagi anak-anak dalam belajar sambil bermain.Menurutnya, di saman ini, sangat sulit mencari orang yang mencintai anak kecil. Di akhir sambutannya, ia menggarisbawahi bahwa sekecil apapun kebaikan yang diberikan kepada anak, namun hal itu sangat bernilai bagi anak.

Taman Baca yang baru terbentuk ini lebih memberi ruang kepada anak-anak di Kelurahan Sikumana umumnya dan Gereja GMIT Getsemani khususnya, untuk belajar sambil bermain. Bahkan untuk menopang seluruh kegiatan hingga festival pada tanggal 23 Juli 2019 ini, pendiri TB Kak Linda bersama rekan-rekan pengajarnya harus merogo kantongnya sendiri. “Kami membiayai TB ini dengan perpuluhan dari saya dan teman-teman pengajar,” kata kak Linda Tagi dalam awal pemaparan tentang TB Lowo Wini di Gereja GMIT Getsemani Sikumana, Kamis,05 Juni 2019.
“Taman Baca Lowo Wini menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak, karena mereka belajar sambil bermain. Bahkan dalam pembelajaran yang semuanya digratiskan ini, jenis permainan yang dilakukan adalah prmainan-permainan tradisional,” demikian Kak Linda Tagi.” Anak-anak sendiri yang menentukan jenis pemainan, kemudian berdasarkan permainan-permainan itu, para pengajar mengkreasikannya dengan pembelajaran, entah bahasa inggris pun pelajarannya lainnya,” lanjut kak Linda.

Rocky R.Kale yang hanya berbagi pengalaman saat liburan ini pun selanjutnya memaparkan 5 jenis kekerasan yang sering dialami seorang anak. Penyajian yang diawali dengan menggambar tubuh manusia oleh anak-anak secara bergantian itu membangkitkan memori setiap peserta akan kekerasan yang pernah di alami. Ia pun kemudian meminta setiap peserta lokakarya untuk menentukan dengan alat tulis ( spidol ) pada bagian mana ( sesuai gembar), seseorang pernah mengalami kekerasan.
”Bapak-bapak dan ibu-ibu, anak-anak telah memberi tanda pada bagian-bagian tubuh di gambar ini. Itu berarti Bahwa mereka pernah mengaami kekerasan fisik sebagaimana yang ditunjuk pada gambar ini,” demkkian Rocky. Hal-hal yang paling dan sangat diingat seorang anak dalam kehidupannya adalah mendapatkan hadiah, dan kekerasan yang dialaminya. Terhadap kekerasan yang dialami seorang anak semasa kecil, dapat menjadi bom waktu. “Bukan tidak mungkin ketika dewasa, ia akan melakukan kekerasan yang sama, tidak saja pada orang yang pernah menyakitinya, tetapi juga bagi orang lain,” imbuh Rocky.Ia merinci lima jenis kekerasan terhadap anak yaitu kekersan fisik, kekersan emposional, eksploitasi, penelantaran, dan kekerasan seksual.

Jenis permainan berikutnya adalah membandingkan seorang laki-laki dan perempuan. Dari jawaban melalui permainan ini, semua anak-anak kemudian sangat memahami tentang gender dan jenis kelamin. Bahwa jenis kelamin itu kodrat tetapi gender adalah persamaan hak antara seorang pria dan wanita. Gender itu adalah sesuatu yang bisa dilakukan oleh pria maupun wanita.”Wanita itu adalah orang yang paling hebat di dunia,” demikian Rocky di hadapan puluhan orang tua,para guru,media massa juga pegiat literasi yang hadir, sambil memberi contoh kegiatan yang dilakukan seorang ibu sejak pagi hingga malam jika dibandingkan seorang ayah.
Gender itu soal persamaan hak yang bisa dilakukan seorang perempuan dan lagi. Dengan gender, sebenarnya mengubah pandangan umum soal peran wanita yang selalu dinomorduakan dalam suatu tatanan kehidupan.”Yang membedakan wanita dari pria, yaitu bahwa wanita itu dapat menstruasi, mengadung, melahirkan dan menyusui, sedangkan laki-laki tidak,“simpul kak Linda Tagi menutup kegiatan lokakarya.

Berliterasi bersama dalam lokakarya beberapa jam telah memberi pencerahan, betapa orang tua bakan pendidik mungkin telah mengabaikan hak-hak anak, bahkan entah sengaja pun tidak telah melakukan kekerasan fisik atau  mental terhadap anak-anak.Kekerasan berwujud penelantaran dan sexual, mungkin pula pernah dialami seorang anak, karena orang tua tak menyadari itu sebagai sebuah tindakan kekerasan. Demikian pula kekerasan yang berwujud eksploitasi. Anak-anak yang seharusnya melakoni hak untuk bermain justru dipaksa menjadi pencari nafkah. Di jalanan masih terlihat penjual Koran yang hampIr didominasi oleh anak-anak; di pasar-pasar hampir bersilerawan anak-anak yang menjadi penjajah kantong plastik, atau menjajahkan barang-barang lainnya pada pembeli. Benuk-bentuk kekerasan masif yang sering terjadi, Orang tua,dan semua pihak entah pemerintah pun lembaga-lembaga lainnya, hendaknya melihat hal-hal kecil ini sebbagi sebuah tindakan kekerasan. Kita perlu memahaminya agar generasi bangsa ini tumbuh dan berkembang sebagaimana kodratnya. Bukankah anak- anak adalah penerus masa depan bangsa dan Gereja?

( Y. Joni Liwu, S.Pd, Guru SMPN 13 Kota Kupang)

 

 

Komentar