UNTUKM GURU-GURU HEBAT

 

Untukmu Guru-guru Hebat di Smansa Wulanggitang

 

Salam Helero,

 

Membaca seuntai kabarmu di halaman Facebook tertambat pula segenggam rasa yang ingin kusiratkan sebagai wujud penghargaan untukmu semua, sahabat-sahabatku, guru-guru hebat di Smansa Wulanggitang. Tidak tentang sekolah, karena semua sekolah apalagi sekolah negeri di republik ini tentu menjadi perhatian negara. Hal itu wajar saja, karena itu adalah miliknya. Oleh karena itu, negera harus menfasilitasi sekolahnya agar terwujud pembelajaran yang berkualitas. Tetapi penataan secara ke dalam, tentu ada di tangan nakoda, sang Kepala Sekolah.

Semenjak didirikan dengan berbagai kekurangan dan sangat kurang, Smansa Wulanggitang tak bergeming. Ia terus kerikhtiar agar dapat menyejajarkan dirinya dengan SMA Negeri-SMA Negeri lainnya di republik ini. Jika hujan dan badai dalam sebuah kehidupan dimaknai secara konotasi, tidak demikian dengan Smansa Wulanggitang. Benar adanya badai, lalu memporakporandakan gedung darurat dari peluh dan keringat orang tua kampung, berkali-kali. Tetapi berkali-kali itu pula, ikhtiar tak tergoyahkan. Mereka bahu membahu mewujudkan Impian dalam semangat kebersamaan, gotong royong. Sepertinya slogan Ami Hewat Lewo Rotan, Ami Guhi Natar gahar telah tertanam dalam jiwa dan semakin membakar semangat orang kampong untuk memiliki sebuah sekolah permanen. Sepertinya mereka belajar dari semut yang memahami kelemahannya, sehingga segala sesuatu yang berat harus dilakukan bersama.

Doa dan ikhtiar terjawab, sekolah darurat berlabel SMA Negeri itu pun  memiliki sekolah permanen terjawab. Hari berganti hari, tentu terus dibenahi walau tertatih. Seorang  Anton Kedang yang menjadi kapten tentu sangat mengalami suka duka semenjak sekolah ini didirikan.

Tahun 2020, sebagai pelaksanaan UNBK dipersiapkan. Segala upaya, segala daya dilakukan agar anak kampung dapat melaksanakan UNBK. Di era digital tentu semua bisa terlaksana, tetapi bagi sebuah SMANSA Wulanggitang yang terletak di kampung  (15 KM dari kota kecamatan) dan tidak berada di ibukota kecamatan, tentu menjadi sebuah kesulitan.Tetapi semua persolan telah diretas oleh seorang Anton Kedang dan guru-guru hebat, juga operator dan segenap tenaga non kependidikan lainnya. Dari sudut kampung Hewa, dikitari hamparan sawah nan menghijau, telah membuka tabir, bahwa di tengah kedaimaian rasa dari hijaunya padi di sawah, mereka telah mengikrarkan semangat dedikasi demi generasi bangsa. Memang miris ketika segala bencana datang mendekap, dan kita tidak berdaya menghalau, maka segala mimpi anak kampung  Helero untuk ber-UNBK harus tersimpan sebagai sebuah catatan kelam. Siswa-siswi kelas XII Smansa Wulanggitang pun mungkin telah menuliskannya dalam jejak hidup tak berkesudahan. Sahabat-sahabatku para guru dan tenaga non kependidikan lainya telah berlapang dada menerima segalanya, tetapi mereka tentu memiliki niat luhur memanusiakan manusia.

 

 

 

Bagi sahabat-sahabatku guru hebat di Smansa Wulanggitang, kusantunkan sebait syair di keheningan masa, di rumahmu masing-masing.Terima kasih utnuk juangmu yang tiada tara. Ama Pu reta seu, opo hulir mora rimu.

 

Me dedi,wai lamen

Ma bano, opo toor

Bano kola opa dilun.

 

Blupur plede une wate,

Blupur deri litin giit

dedi kola plosar boan,

Dena gete sukun wungun,

Dena dokang naran gete.

 

Ina ama ue wari,

Mai pliput genu ipun,

Genu ipun lema likot

Genu teban tama namang.

Ita Hewat Lewo Rota, 

Ita guhi natar gahar.

 

Kupang, 01 April 2020

Komentar