WISATA PANTAI RAKO
WISATA PANTAI RAKO:
Antara Mengais
Rupiah dan Hembusan Eksotis
( Bagian 1 )
Pekan
pertama Agustus 2019 menjadi catatan tersendiri bagai pemerintah Desa Hewa,
Kecanatan Wulanggitang- Flores Timur. Tanggal 09, 11, dan 12 Agustus 2019,
Wisatwan Mancanegara mengunjungi Pantai Rako, yang beberapa bulan lalu menjadi
tempat pembukaasn Festival Bale Nagi. Oleh pemerintah daerah Flores Timur,
Pantai Rako menjadi tempat menarik sebagai destinasi wisata di Flores Timur.Pantai yang memanjang sekitar
3 s.d. 4 kilometer ini berpasir putih.
Dan lebih dari itu, memilkiki gelombang yang menjadi arena surving para touris.Pada
pembukaan Festival Bale Nagi oleh peselancar dari Bali,Wage Adit dari PSOI
(Persatuan Selancar Ombak Indonesia), disebut sebagai Kuta-nya Flores. Betapa,
penduduk setempat baru menyadari potensi yang satu ini terpendam sejak dulu
kala. Hanya bisa mendengar cerita soal
sarving itu hanya bisa di Pangtai Kuta Bali, ataupun di Nemberala –Rote Barat
Daya.
Pantai
Rako dengan gelombang menakjubkan itu
sesungguhnya hanya menjadi tontotan yang tidak saja menarik karena
deburan ombak memecah sepanjang 3- 4 kilometer, tetapi juga sebagai penanda
waktu. Bagi kebanyakan masyarakat Desa Hewa- Wilanggitang –Flores Timur,
deburan ombak dapat menjadi penanda bagi
warga untuk mengetahui jika air itu
pasang naik atau pun surut. Bahkan gemuruh ombak yang kedengaran oleh warga
kapung berjarak sekitar 4-5 KM itu pun memberikan peringatan bagi warga untuk
bisa melaut atau tidak. Debur yang menggelegar, mengisyaratkan jika warga harus
hati-hati jika berada di bibir pantai Rako.
Menggemakan
Pantai Rako di masa ini, seolah megidungkan syair “Riawayatmu dulu” sebaga
larik lanjutan dari tembang keroncong Bengawan Solo. Ternyata, debur gelombang
semakna namamu. “Rako” nama pahlwan di desa Hewa. I yang dengan gagah berani
melawan penjajah. Dikisahkan, dengan senjata api berpeluruh karang laut, ia
berani menentang penjajah. Di atas sebuah batu payung yang disebut “Watu Gogo”
, Rako mempertontonkan kedigjyaannya melawan penjajah. Sayangnya , pada batu
payung yang sejak dahulu kala dijadikan tempat berteduh, kini tinggal cerita.
Tak mendapat sentuhan, sehingga ia tak pernah lagi mengisahkan tentang
kepahlawanan dari seorang Rako. Betapa keberanian pahlawan itu bak gemuruh
gemlombang Pantai.Debur ombak seolah
menunjukkan keberanian Rako dengan senjata seadanya, namun menentang
penindasan.
Tanjung
Makasar bersanding mengapiti Pantai Rako. Itupun belum mengisahkan sejarah
tentang nama Makasar, yang semua kita tahu bahwa itu adalah nama ibu kota
Provinsi Sulawesi Selatan. Sampai sejauh ini belum diketahui bukti peninggalan
yang menunjukkan tentang adanya nama makasar yang disematkan pada Tanjung yang
dalam bahasa Hewa disebut “Mulu”.
Debur
ombak Pantai Rako ternyata menyimpan misteri. Bukan soal penunggu atau makhkluk
mistis penghuni pantai yang diapiti Tanjung Manuk dan Tanjung Makasar itu.
Bukan pula misteri seperti ratu laut Selatan dan sejenisnya.Pantai Rako telah
membuka tirai keelokan. Bak gadis perawan desa, kini ia dilirik sejuta
mata.Setiap yang memandang terkulai.Setiap berjumpa dengannya, akan jatuh
hati.Belum lagi pegiat pariwisata yang sangat paham tentang keelokannya, tak
oernah lelap dalam tidur malam. Karena pantai Rako dengan keindahan panorama
pasir putih, deburan ombak memecah dalam jarak sekian kilometer itu, akan hadir
dalam mimpi, memagut rasa, memendam sejuta asa. Dan bagi para peselancar yang
selalu menggauli pantai bergelombang, akan selalu mengimpinkan kehangatan dibalik debur gelombangnya. Tertawa
ria mendekap papan selancar, sambil bersenandung tentang nirwana ciptaan tak
terselami dari Sang Kuasa.
Eksotisme bagi peselancar, wsiatawan manca Negara pun domestik, dan bahkan bagi pegiat literasi.
Dengan cara mereka, kemolekan Pantai Rako diabadikan, diantunkan di hati, dikisahkan
sebagai pengalaman indrawi tak terperikan.

















Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!