PELUANG JANGAN DIBUANG

 

PELUANG JANGAN DIBUANG

( Oleh:  Joni Liwu )


Lima ( 50 ) guru di Indonesia  dan bahkan mungkin guru-guru lain tidak saja melaksanakan rutuinitas sebagai guru di jeda waktu covid 10 dengan PJJ, BDR, atau  bahkan WFH. Mereka juga berkelana di dunia maya, bersekutu melawan kejenuhan di rumah saja dengan membukukan pengalaman  selama masa pandemic covid 19. Tentu saja wujud tulisan dari pengalaman kesehariannya itu bervariatif, cerita, puisi, juga esei. Semua terangkum dalam 3 antologi bersama.

            Dengan pemrakarsa seorang penulis buku  Lukman Hakim,  terbitlah buku ber ISBN dengan tiga judul berbeda. Pertama, Antologi Cerita Penanda Sejarah LOCKDOWN. Dalam buku ini, oara guru berkisah tentang pengalaman pembelajaran secara daring. Masing –masing mengisahkan penggunaan aplikasi pembelajaran yang dapat diunggah  melalu playstore. Menariknya, setiap guru berbagi tentang bagaimana menggunakan aplikasi pembelajaran. Kisah ditulis dengan menarik, sehingga pembaca, terkhsus guru, tidak saja memhami pengalaman guru penulis, tetapi juga dapat belajar menggunakan aplikasi pembelajaran. Buku  ber- ISBN yang diterbitkan Penerbit Delta Pustka- Jombang Surabaya itu setebal 300 halaman.



            Buku kedua adalah Antologi Pembelajaran Penanda Sejarah, Pembelajaran Daring ERA PANDEMI. JIka buku sebelumnya  lebih mengisahkan cerita keseharian soal pembelajaran dari rumah, buku yang ini lebih jauh menguraikan tentang bagaimana menggunakan aplikasi pembelajaran, juga metode-metod lainnya yang digunakan guru pada masa pandemic covid. Dengan tebal buku sebanyak 300 halaman,  wawasan pembaca  semakain dicerahkan tentang pembelajaran secara efektif di kala pandemic covid 19.

            Di antara guru –guru di Indonesia yang bersinergi membukukan karyanya, sebanyak 50 guru pula yang hendak membukukan karya-karya imajinatif. Wujudnya dalam judul Antologi Puisi Penanda Sejarah Surga Kaum Rebahan. Karya-karya puisi dari 50 guru di Indonesia pun tetap mengusung tema yang sama, covid 19.

            Sungguh, covid 19 sebagai peluang para guru berkspresi. Sebuah bukti bahwa, gur bisa menulis. Dan komitemen itu terbangun tanpa harus berkumpul, bermusyawarah, membentuk badan pengurus, merumuskan sebuah regulasi sebagaimana sebuah organisasi umumnya. Para guru di Indonesia ternyata mampu mewujudkan kebersamaan di dumay alias dunia maya.

            Tak ketinggalan, masa pandemi covid 19 menjadi berkah tak ternilai untukku. Waktu yang tersaji untuk saya, bak menjadi peluang. Beberapa karya puisiku terkumpul dari halaman-halaman media sosial. Tak pelak terangkum dalam dua buah antologi. Antologi puisi pertama berjudul “Mengembara di lautan Cinta dan antologi kedua berjudul Balada Cinta. Sungguh merupakan sebuah kebanggaan tersendiri karena kedua beuku ber- ISBN dan diterbikan oleh  Delta Pustka Jombang Surabaya ini kemudian juga menjadi milik beberapa teman sesame guru. Hingga pekan terakhir Oktober, saya harus memohon ijin kepada penerbit untuk mencetak lagi untuk memenuhi permintaan sahabat-sahabat guruku.



            Dan satu lagi, hari-hari ini saya sedang menanti kiriman antologi cerpenku ang berjudul “Denting Baobala di Bulan Juli. Pengalaman keseharian di depan kelas dan di rumah dna masa-masa di kampung halaman, tersaji di antologi cerpen. Bagiku dengan memiliki beberapa buku ber-ISBN bukan berarti sesuatu yang sangat luar biasa, atau berbusung dada seagai guru yang hebat. Satu hal pasti, bahwa semua guru bisa menulis sebagai aksi berliterasi.Salah satu manfaat literasi adalah membuat otak bisa bekerja lebih optimal. Di aras ini, kita tidak perlu menunggu, kapan seorang guru dapat memaksimalkan kemampuannya. Jika guru-guru memiliki peluang di masa Pandemi Covid 19, mengapa harus dibuang.Peluang, jangan dibuang. ( 01 November 2020 )




           

Komentar