SANG PENCARI DUNIA BARU
Joni
Liwu, Sang Pencari Dunia Baru
Salah satu kebahagiaan
dalam hidup ini adalah ketika kita bisa kembali kepada masa lalu. Baik masa
lalu yang biasa-biasa saja apalagi masa lalu yang indah. Antologi cerita pendek
berjudul Denting Baobala di Bulan Juli merupakan
salah satu bentuk kembalinya penulis kepada sebait dunia baru bertajuk masa
lalu di kampung halaman. Denting Baobala
di Bulan Juli merupakan antologi yang terdiri dari duabelas
cerita pendek. Selain cerita pendek berjudul “Denting Baobala di Bulan Juli” yang sekaligus menjadi judul antologi,
ada pula “Testimoni” yang menceritakan
kembalinya penulis kepada kampung halaman. Karya ini juga mengusung berbagai
tema yang menarik yang kesemuanya mengajak pembaca memahami kehidupan agar
lebih bermakna. Di dalamnya terkandung perjuangan hidup, pencarian jati diri,
keteguhan, dan cinta yang bisa menjadi bahan renungan untuk menyelami setiap
peristiwa kehidupan. Sering kita kehilangan kepedulian terhadap peristiwa
sehari-hari. Semua kita anggap sepele dan luput dari perhatian. Antologi ini
mengajak pembaca untuk kembali peka terhadap setiap kejadian dalam keseharian
kita.
Isi antologi berjudul Denting Baobala di Bulan Juli ini
didominasi cerita tentang keseharian penulis sebagai seorang guru. Bagaimana
guru harus mampu mengolah kesabaran dan perhatian kepada semua siswanya
sekaligus mampu menyiapkan segala keperluan mengajarnya. Manisnya, cerita
kerepotan guru tidak menjadi tema utama. Cerita kehidupan guru dikemas menarik
sebagai pembungkus cerita utama yang lebih mengarah kepada tema-tema sosial.
Joni Liwu berhasil merangkum masalah-masalah sosial di sekitarnya seperti pada
cerita “Namanya Asu”, “Gerah di Atas Trotoar”, “Bercak di Selendang Ibu”, dan
“Testimoni”.
“Nadya, Ceritamu di Kamis nan Gerah” bisa dibilang
satu-satunya cerita yang murni mengisahkan kehidupan sekolah. Cerita pendek
“Entah Kapan Kutahu Tentangmu” dan “Kuingin Menyuratimu” memang menyajikan
peristiwa di sekolah tetapi lebih banyak menceritakan derita anak yang terpisah
dari orang tuanya. Dua cerita ini pun
menarik. Mata kita menjadi terbuka, bahwa tak seorang pun dari kita yang belum
pernah menipu, terutama orang terdekat kita, orang tua. Joni Liwu juga mampu
merangkum kehidupan keluarga yang mengharu biru pada “Tangis Tak Terdengar”. Sebuah
cerita tak akan lengkap tanpa cinta. Dalam “Bertopeng” penulis mengungkap sisi
lain sebuah cinta. Cinta yang tidak selamanya indah tetapi cinta bertopeng yang
menyesakkan dada.
Hal yang paling
menarik dari buku ini adalah penulis tidak pernah menutup cerita dengan kepastian. Semua cerita dibiarkan
berakhir terbuka begitu saja, sehingga pembaca memiliki kebebasan luas untuk
memaknai. Penulis memberikan ruang leluasa kepada pembaca untuk mengekpresikan
makna yang terkandung pada isi setiap cerita.
Antologi ini
mengajarkan kita agar tetap melangkah meski keputusasaan sering membuat langkah
terhenti. “Tangis Tak Terdengar” bisa menjadi cermin. Ketika keputusasaan
mengusai jalan pikiran, kita dituntut untuk selalu bersabar dan mampu mencari
celah untuk menemukan cahaya kehidupan.
Ikhlas bahwa tidak selamanya kenyataan berjalan sesuai keinginan. Kegagalan
tidak akan kekal tetapi kehidupan selalu menuju pada kekekalan sebagai puncak
tertinggi kehidupan.
“Hujan kemarin siang
tidak menyejukkan Tanah Timor pada kemarau yang berkepanjangan. Kemuning pasrah
pada terik tak berbelas kasih” (“Entah Kapan Kutahu Tentangmu”)
Suprihatin, sastrawan penulis novel Kolong Surga, Yogyakarta

Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!