LORONG KECIL MENGHALAU GALAU
LORONG KECIL MENGHALAU GALAU
Bagi sebagian orang mengirimkan paket ke luar negeri adalah hal biasa,
namun tidak demikian bagiku. Hari ini saya harus berkeliling kota ini mencari
jasa pengiriman barang. Sejam lebih dari sekolah sampailah aku pada sebuah biro
perjalan yang sudah kuketahui sejak dulu. Menurut kabar tetanggaku, ia pun
sering menitipkan barangnya ke negera tetangga, Timor Leste melalui biro jasa
tersebut.
Dengan percaya diri, saya memasuki ruang berukuran kurang lebih tiga kali
empat meter. Dua orang petugas berseragam menyapaku ramah setelah saya pun
menyampaikan maksud sambil menunjukkan paket buku.
“Maaf , Pak. Untuk sementara tidak menerima pengiriman barang, dan akan
dibuka lagi pada awal Januari 2021,” jawab salah seorang gadis sambil mengutak-atik
gawainya.
Sontak, jawaban ini membuat ku galau. Pikiranku kacau, karena yang kutahu
satu-satunya biro jasa pengiriman barang ke negara Timor Leste hanyalah di
tempat itu.
Namun, salah satu pria yang juga berseragam merah itu menyarankan saya
untuk menanyakan pada sala satu biro jasa lainnya dengan menyebutkan alamat.
Saya pun mencari-cari alamat tersebut. Kurang lebih satu jam saya mendapatkan
alamat tersebut. Apes, sebuah kantor dengan 3 ruangan tersebut tidak
berpenghuni. Mungkin saja petugas sedang istirahat. Pintu kamar salah satunya
terbuka, hanya terlihat sebuah kursi dan meja tanpa taplak. Di lantai
terbentang sebiah tikar juga kasur tersandar di dinding tembok sebelahnya.Tak
ada seorang pun. Dua pintu pada dua kamar lainnya tertutup. Kumelihat jam di
gawaiku.Pukul 15.45.Waktu Istirahat.
“Walaupun beristirahat, mereka pasti mendegar pintu yang kuketuk,” gumamku
dalam hati apalagi saya sempat memanggil -manggil.
Tiga kali memanggil-manggil, tak ada jawaban. Saya kemudian memutuskan ke salah
satu satu biro pengiriman barang ternama di republik ini. Biro jasa yang
belakangan hendak dinoikot oleh pelanggan karena menampilkan foto salah seorang
tokoh yang katanya terindikasi kaum radikal. Dengan hati-hati, saya memohon
informasi kepada petugas soal biaya. Hal ini saya perlukan karena ini
pengalaman pertama mengirim barang ke luar negeri. Ia pun kemudian menjelaskan
jika biro jasa tempatnya bekerja tidak memiliki cabang di negara tetangga yang
kumaksud. Oleh karenanya, mereka tidak bisa membantu saya mengirimkan paket
buku yang ada di tanganku.
Aku tak habis pikir untuk menyelesaikan masalah pengiriman paket buku ini,
tapi paket ini harus kukirimkan ke negara tetangga, kepada seorang sahabat
penulis buku. Paket ini semula harus dikirim oleh editor kami dari Jawa, namun
biaya pengiriman terlampau mahal. Biaya pengiriman melampaui biaya pencetakan
buku tersebut. Saya sendiri telah berjanji membantu guru dan fasilitator serta
editor kami itu untuk mengirimkan paket buku kurang lebih satu kilo gram itu .
“Janji itu harus saya tepati,” kataku dalam hati.
“Untuk menerbitkan buku dari tulisan sendiri telah terjawab, bagaimana
mungkin hanya mencari-cari alamat pengiriman ke negara tetangga ini aku gagal,”
lanjutku percaya diri.
“Pak, mungkin ada biro lainnya untuk pengiriman paket ke Timor Leste?”
tanyaku lagi dengan nada suara memohon.
“Pak coba minta bantuan salah satu biro jasa pengiriman barang yang ada di
belakang kantor ini,” jawab petugas itu dengan ramah.
Ia lalu menunjukkan alamat jalan yang cukup berkelok-kelok di belakang
kantornya. Ia pun hanya menjelaskan, jika ada beberapa angkutan ekspedisi
parkir di halaman kantor tersebut, maka itu alamatnya.
Saya pun menuruti petunjuknya dan tiba di halaman kantor berupa gudang.
Beberapa orang yang berkumpul di situ. Bisa kutebak, itu sopir dan kondektur,
karena busana yang dikenakan misalnya agak lusuh. Bercelana pendek, dan hanya
seorang pria saja yang di meja biro di tengah gudang yang cukup luas itu. Tidak
begitu resmi sebagaimana biro jasa pada umumnya.
Semula agak ragu, tapi karena niat untuk mengirimkan paket tersebut, maka
dengan ramah pula saya menanyakan ikhwal pengiriman tersebut. Tanpa tedeng
aling, seorang remaja bercelana pendek menghampiri saya. Ia tidak mengenakan
baju, karena baju diletakkan di atas bahu. Praktis dada kurusnya terlihat.
Namun ia paham jika saya hendak mengirimkan paket karena di tanganku ada sebuah
paket.
“Permisi!” kata remaja itu sambil meminta paket di tanganku.
Sesaat kemduian ia menuju meja biro yang dikelilingi para pengemudi dan
kondektur. Hampir di seluruh gudang itu bertumpuk paket-paket yang siap diantar
ke negara tetangga.Ada pula material bangunan, besi beton, seng, dan entah
apalagi yang bertumpuk-tumpuk memenuhi gudang tersebut. Itu berarti, semua barang-barang
ini akan didistribusikan ke negara tetangga di stau pulau ini.Belum selesai
mengamati seisi gudang tersebut, terdengar desing mesin dari dua mobil
ekspedisi yang bersiap menuju ke negara tetangga tersebut. Seluruh badan modil
tersebut tertutup rapih dengan terpal. hanya pengemudi dan kondektur.
Agak kaget saat remaja yang kuduga adalah kondektur atau pekerja di gudang
itu mengambil buku kecil di meja biro yang kemudian kutahu digunakan untuk
mencatan bukti pengiriman. Beberapa data saja yang ditulisnya, nama dan alamat
yang ditujuh sebagaimana yang tertera di sampul paket yang kutulis. Setelahnya
ia menyampaikan ongkos pengiriman yang sangat murah. Ongkos pengiriman yang
relatif lebih murah dibandingkan jika paket itu dikirim dari Jawa sebagaimana
yang disampaikan oleh sahabatku sebelumnya.
Dengan sikap ramah pula ia menyapaku,” Sudah pak!”
Saya pun legah, karena niatku juga ikhtiar saya terwujud hari ini. Saya
menyadari betapa niat baik selalu menemui pintu terbuka. Mungkinkah karena
pintu hati terbuka sehingga menemui pintu terbuka? Kepada sahabatku, aku pun
langsung menyampaikan jika paket buku itu telah terkirim dengan mengirimkan
bukti pengiriman via chat pada salah satu mendia sosial.
Perjalanan pulangku kerumah menyiratkan hikmah bahwa bertanya telah menjadi
sebuah lorong kecil yang mesti dilalui agar tidak tersesat. Andaikan malu
bertanya, atau karena gengsi juga lainnya, mungkin saja akan tersesat, lalu
niat baikku hari ini menemui pintu tertutup alias gagal. Lalu bagaimana aku
harus menyampaikan kegagalan itu kepada sahabatku sedang aku sudah memastikan
kepada bahwa melaluiku paketnya akan disamapaikan ke alamat yang dituju.
Gerimis sore ini, tak meninggalkan remah-remahnya pada dedaunan hijau dari
pucuk-pucuk jati di Tanah Timor. Angin timur pun perlahan membelai
ranting-ranting berdaun, menghempaskan butiran-butiran air hujan yang ragu
mencumbui dedaunan hijau. Ia bahkan enggan merengkuh tanah Timor, nusa batu
bertanah.
Belum lagi hujan menghujam bumi Timor dengan lebatnya, aku pun hanya
berguman,” betapa teduhnya senja ini, seteduh batin terlepas galau”. ***
Kupang, 15 Desember 2020

Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!