LORONG SEMPIT LITERASI NUMERASI

LORONG SEMPIT LITERASI NUMERASI





Pengalaman dalam pembelajaran soal literasi numerasi mengindikasikan bahwa peserta didik kurang memahami literasi numerasi. Bukan soal tidak mampu menyelesaikan soal-soal dengan rumus matematika tertentu. Terlihat gagap membaca tabel, atapun grafik, atau diagram, sedangkan dalam kehidupan dewasa ini presentase secara kuantitaif hampir menggunakan data berwujud tabel juga grafik atau diagram. Belum lagi jika harus mencerna pemberiataan di media audio visual yang menyajikan data berupa diagram, tabel, juga grfik.

Beberapa kali kepada peserta didik disajikan data tentang klasemen sementara liga sepak bola berupa tabel. Peserta didik dapat membaca data berapa kali Main ( M ), kalah ( K ), juga Seri ( S ). Namun mereka bingung ketika menjelaskan Gol rata-rata semisal 3-2, belum lagi kolom pada tabel itu dilanjutkan dengan kolom Nilai (Nilai ), misalnya 1. Kebanyakan dengan serta merta menjelaskan jika nilai sebuah pertandingan adalan hasil pengurangan dari gol rata-rata. Mereka menjadi lebih bingung jika gol rata-rata tertulis 2 - 4 dengan nilai juga 1. Contoh seperti saya berikan karena banyak dari mereka sangat mengidolakan bintang lapangan tertentu. Contoh ini sesuai konteks mereka, karena dalam cerita kasak-kusuk mereka, bahkan dalam akun media sosial mereka sering diunggah bintang-bintang sepak bola idolanya. Mungkin masih banyak pula contoh-cotoh kecil di keseharian hidup yang menjadi indikasi betapa lemahnya literasi numerasi.
Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk (a) menggunakan berbagai macam angka dan simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari dan (b) menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dsb.) lalu menggunakan interpretasi hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan.
Secara sederhana, numerasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengaplikasikan konsep bilangan dan keterampilan operasi hitung di dalam kehidupan sehari-hari (misalnya, di rumah, pekerjaan, dan partisipasi dalam kehidupan masyarakat dan sebagai warga negara) dan kemampuan untuk menginterpretasi informasi kuantitatif yang terdapat di sekeliling kita. Kemampuan ini ditunjukkan dengan kenyamanan terhadap bilangan dan cakap menggunakan keterampilan matematika secara praktis untuk memenuhi tuntutan kehidupan. Kemampuan ini juga merujuk pada apresiasi dan pemahaman informasi yang dinyatakan secara matematis, misalnya grafik, bagan, dan tabel.
Betapa era digital menadikan segala sesuatu serba instan. Demikian pun dalam hal mengkalkulasikan sesuatu. Anak-anak milenial cenderung memanfaatkan gadget atau sarana lainnya agar mengetahui hasilnya. Sebuah problematika ataukan sebuah peluang? Jika dibandingkan dengan generasi-generasi terdahulu yang diwajibkan guru Sekolah Dasar untuk menghafal perkalian dari 1 sampai dengan 10. Bahkan sebagai PR yang harus dijawab secara lisan di depan kelas.
Guru seperti tersandung pada sebuah batu kala perkalian tersebut ditanyakan pada anak-anak milenia ( walau tidak seluruhnya ). Beberapa atau bahkan mungkin sangat sedikit peserta didik yang menghafal perkalian tersebut, lalu mungkin saja peserta didik peserta didik tersebut "lebih memahami literasi numerasi" di kelasnya. Pertanyaan reflektif, entakah literasi numerasi turut serta membentuk perilaku kehidupan sebuah generasi?
Kepala SMP Negeri 13, Dra. Maria R.Th. Sadina Lana, membidik literasi numerasi dalam RPK-nya.Selamat, semoga turut mendongkrak muruah/ marwah literasi di SMP Negeri 13 Kota Kupang. Selamat dan sukses.

Komentar