MENAKAR DI PENGHUJUNG TAHUN

 

MENAKAR DI PENGHUJUNG TAHUN

 









            Ibarat seroang petani melepas lelah di senja petang, lalu kepenatan perlahan luruh.  Di penghujung tahun ini kumelirik- lirik beberapa judul buku, kalau-kalau hanya jadi pajangan dan belum tersentuh sambil merapihkan rak buku. Rak bukuku terbuat secara sederhana kemudian ditempelkan di dinding tembok. Tepat di depan meja belajar yang juga sangat sederhana, agar saya mudah membaca judu-judul buku. Buku-buku yang menurutku menunggu giliran untuk dilumat alias dibaca kutempatkan di sini. Beberapa yang hari-hari ini harus terbaca disatutempatkan agar memudahkan dikala mengambilnya. Buku-buku itu tertata di samping kiri lebih dekat laptop, dan juga dibagian depan atas meja belajar ini. Saya coba menyederhanakan penempatan buku sesuai kondisi rumahku yang juga sederhana agar tidak terlihat padat, tetapi memberi kesan leluasa di dalam rumah yang sempit. Tidak seperti kebanyakan orang yang menyediakan ruang khusus untuk belajar, atau ruang khusus sebagai ruang baca.Di suatu sisi, penataan seperti ini pun bermaksud memberi kesempatan kepada anak-anakku untuk sekedar melihat-lihat buku, kemudian membaca. Sampai di situ. Bahwa kemudian ia mengerti dan terus menggandrungi buku, wallahualam. Membaca saja sudah cukup, karena hal yang satu ini hampir kurang diminati apalagi di tangan mereka selalu ada gawai. Jika demikian, jangankan membaca, untuk makan atau sekedar bercanda pun harus diminta berkali-kali. Memotivasi untuk membaca buku, sungguh membutuhkan kesabaran.

            Kondisi di rumah ini, bahkan di sekolah atau tempat lainnya sebagimana kualami di atas, agak berbeda dengan hasratku. Tidak berlebihan jika setiap pagi sebisanya satu judul tulisan harus kubaca sebelum melanjutkan rutinitas lainnya.Tidak sampai di situ, hasrat untuk menulis,kadang menunjukkan tensi meningkat,walau kadang pula enggan bak seorang durjana letih, lesuh tak berdara. Tentang aoa yang ditulis? Apa saja, jika sedang terlintas di benak, itu menjadi topik tulisan. Jika kemudian menemui jalan buntu, maka mesin pintar google menjadi tuan terhormat tempat bertanya. Hasrat menulis kala itu mungkin bagai rusa mendamba air. Dari pada ia mencabik-baik pikiranku, lebih baik kucabik-cabik ide itu hingga benbentuk sebuah tulisan. Tidak peduli soal kualitas, tetapi bahwa ia telah berwujud, indikator bagiku bahwa ide itu telah kulumat hingga tak berdaya.

 

Asal Muasal

 

            Beberapa tahun silam kebiasaan menulis sastra beruwujud puisi menjadi sebuah keasyikan tersendiri. Bahwa itu puisi diafan kemudian diksinya berwujud kata bersimbolis, itu proses yang kualami selama menulis kurang lebih dua ratus puisi. Semua puisi itu kutuliskan di dinding face book, yang menurutku dapat menjadi tempat abadi karya sastra tersebut. Bila hasrat mengebu menikmati puisi-pusi tersebut, sambil berlanglangbuana di media sosial, sambil mereguk pengalaman indrawi juga batin yang tertuang dalam puisi-puisi tersebut.

                Adalah seorang sahabat, Ade Tahyudin,  guru kepala sekolah SMPN 3 Cipunegara, Subang, Jawa barat suatu ketika menyarankanku melalui face book agar puisi-pusi yang bertebaran agar dibukukan.Seorang yang sangat kukenal ketika mengikuti Lokakarya MMAS ( Membaca Menulis Apresiasi Sastra ) tahun 2014 silam itu,  bahkan menawarkan kebaikannya untuk mencetak buku kumpulan puisiku tersebut. Namun gayung tak bersambut saat itu. Tawaran baik ini hanya kujawab dengan terima kasih. Hal mendasar karena kesibukan dengan rutinitas sehingga tidak memiliki waktu untuk sekedar mengumpulkan kembali semua puisi tersebut. Beliau tentu menanti-nanti aksiku selanjutnya tentang tawarannya tersebut yang tak kunjung tiba. Bagiku belum saatnya semua puisi itu harus tercetak menjadi sebuah buku. Musabab lainnya menurutku, bahwa menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bila kuharus berpeluh dan berlelah sebelum menebarkan senyum kebanggaan. Ingin rasanya menikmati sebuah kesulitan sebelum menjemput simringah membelai sukma. Ingin pula memilki secuil kebanggan jika hasil itu melalui jalan dibasuh pelu bercucur. Serasa hendak melitanikan sebuah kebahagiaan di kala apa yang dipikirkan, apa yang dikatakan, dan apa yang dilakukan berada dalam satu keharmonian. Atas ikhtiar itu, tentu harus pula menerima segala konsekuensi termasuk menyiapkan dana, mencari penerbit, termasuk memohon kesediaan orang-orang berkompeten untuk memberikan testimoni terhadap buku yang hendak dicetak.

           

Sepertinya hasrat membukukan puisi-puisiku terus menggebu. Perjalanan waktu itu mmpertemukanku dengan sekelompok guru-guru dalam sebuah WAG. Adminnya pun seorang penulis buku dan editor menjadi guru, tempat ku bertanya ikhwal mencetak buku antologi. Penulis puluhan buku itu bersedia menjadi fasilitator hingga buku-bukuku diterbitkan. Masa pandemi covid 19 sungguh memberikku waktu. Ia menyajikan peluang begitu banyak sehingga semua kegalauan terjawab. Ibarat sambil menyelam minum air, di kala mencetak antologi bersama, saya pun menitipkan karyaku  yang telah rampung dan siap ke meja penerbit.

Karya perdanaku, berwujud antologi puisi berjudul “Mengembara di Lautan Cinta” dicetak. Beberapa waktu kemudian, buku Antologi puisiku tiba dan menghiasi meja belajarku bersamaan dengan 3 buku antologi bersama sahabat-sahabatku para guru se - Indonesia. Tiga antologi bersama tersebut masing-masing berjudul antologi puisi penanda Sejarah Surga Kaum Rebahan, antologi pembelajaran penanda sejarah  Pembelajaran daring ERA PANDEMI, antologi cerita penanda sejarah LOCKDOWN.

            Masa pandemi covid 19 masih menyisahkan waktu di penghujung tahun 2020. Masih kulihat-lihat puisi-puisi yang belum terkumpul seluruhnya. Selain itu, terdapat pula cerpen-cerpen yang tersimpan rapih pada file di laptopku. Sahabatku Suprihatin, guru sastrawan dan novelis ( Penulis novel ) Kolong Surga yang beralamat di Yogyakarta, menjadi tempat kubertanya. Ia adalah sahabatku di kala bersama-sama mengikuti Lokakarya MMAS di Bogor tahun 2014 silam. Kepada sahabat yang kujadikan guruku ini, antologi puisi keduaku juga antologi cerpenku layak ke meja penerbit. Antologi puisi kedua masih menyoal cinta yang selalu menggurati hidup manusia sehingga kuberi judu; Bahana Cinta. Bagiku, cinta tak pernah senyap, ia bakhan harus dikabarkan seiring langkah hidup. Karenanya, seorang Suprihaitn kemudian mengatakan bahwa Cinta akan selalu tumbuh, meski ia dipangkas oleh gelapnya sakit hati dan dibakar panasnya api cemburu. Benih cinta akan tetap tersisa meski harus tersembunyi di lubuk terdalam sebentuk hati. Cinta dimiliki siapa saja bahkan di hati mereka yang tidak pernah berkata, aku cinta padamu.

            Atas seluruh isi cerpen yang diapresiasi oleh seorang sastrawan Suprihatin, maka selayaknya, demikan penerima Anugerah Prestasi DIY 2016 dari Ngarsa Dalem Sri Sultan HB X, diberi judul Denting Baobala di Bulan Juli, sebagaimana judul salah satu cerpen di dalam antologi tersebut.Bangga tak terkira, karena karya-karya yang tertebar tak tahu juntrungnya dibukukan. Setidaknya aku bisa membuktikan bahwa tanganku telah kesampaian menggapai harapan mencetak buku ber-ISBN.

            Pertemanan di media sosial membawa kepada penulis hebat, editor buku, yang hendak mewadahi para guru untuk belajar menulis. Pekerja keras ini mampu membmibing dan memfasitasi lima puluh guru agar bisa menulis. Pertemuan secara daring menjadi pilihan di tengah pandemi covid 19. Namun demikian, ikhtiar itu terwujud. Dalam kurun waktu dua tiga bulan di penghujung tahun ini, kerja keras penulis buku bernama Teguh Wahyu Utomo membuahkan hasil. Hasil memang tidak mengkhianati proses. Dua buku tulisan para guru di Indonesia pun diterbitkan. Betapa sebuah kebanggan terbaca dalam komunikasi melalaui WAG karena para guru yang mulai berproses ( baca: menulis ) bisa mendapatkan buku ber-ISBN.  Buku yang menyajikan karya tulis, artikel, juga  kisah pembelajaran di masa pandemi yang ditulis berlelah-lelah akhirnya hadir juga di hadapannya. Satu pembuktian lagi, bahwa jika sesorang memiliki kemauan pasti ada jalan, dan sesuatu yang tidak mungkin akan menemui jalan terbuka jika seseroang membuka diri ( baca: belajar ) untuk bertanya atau belajar bersama, walau hanya secara daring ( dalam jaring ).

Buku pertama setebal 264 halaman itu berjudul DEMI ANAK, dan buku kedua setebal 212 halaman  berjudul PANDEMI LAHIRKAN INOVASI. Aku pun turut menyuguhkan dua tulisanku dalam kedua buku tersebut. Buku demi anak sangat menginspirasi siapa pun yang disebut orang tua agar dimampukan membimbing buah hatinya sejak ini. Ia bahkan memiliki kewajiban melumuri buah hatinya sejak dini dengan kasih, juga akidah-akdiah agama. Menyentuh buah hati dengan cinta agar kelak anak-anak tumbuh menjadi insan berakhlak dan berbud pekerti.

Antologi Pandemi Lahirkan inovasi menyuguhkan kisah-kisah inspiratif guru soal pembejaran di masa pademi covid 19. Dari sanalah guru belajar mengatasi sejumlah masalah pembelajaran jarak jauh atau Belajar Dari Rumah ( BDR ). Guru dapat belajar, tidak saja soal kisah atau pengalaman unik yang dialami para penulis, tetapi juga belajar menuliskan pengalaman keseharian sehingga bisa juga berbagi kepada orang lain.

            Tak dinyana di penghujung tahun ini, koleksi buku antologi tunggal atau pribadiku sebanyak tiga judul. Dua judul buku antologi puisi sedangkan satu lainnya antologi cerpen. Selanjutnya lima buah buku merupakan antologi bersama sahabat-sahabatku para guru di Indonesia.

            Buku-buku tersebut juga kini berada dan mungkin sedang dilahap sahabat-sahabatku para guru. Mereka sangat memgapresiasi karya bersama dan karya pribadi ini. Langkah ini belum selesai dan berakhir di sini. Ruang dan waktu yang selalu menghampiri setiap detak jantung, akan melumuri tapak-tapak hidup dengan sejuta harapan. Harapan akan kedigjayaan bangsa dengan berliterasi. Bahwa gaung Gerakan Literasi yang sedang bergema tidaklah hanyut terbawa angin semilir, tetapi di tangan kitalah, di tangan para guru semangat literasi itu disematkan.Jika menulis membutuhkan proses, setidaknya membaca menjadi sarapan di kala mentari membersitkan secercah harapan hidup bagi makhluk di  bumi.

Terima kasih untuk semua atensimu di pejalanan kita, tahun ini.

 

Kupang, 17 Desember 2020

 

 

 

           





 

 

           

Komentar