ALASAN-ALASAN UNTUK BERKISAH
ALASAN-ALASAN UNTUK BERKISAH
Mikael Migu Soge
Pendahuluan
Buku ini memuat kisah-kisah yang dirangkai dari
pluralitas pengalaman penulis sendiri sebagai seorang guru bahasa dan sastra di
sekolah. Kisah-kisah yang diangkat di dalam buku ini, tidak pernah bisa
dilepaskan dari suatu pesan sosial. Di tengah kesibukannya sebagai seorang
guru, penulis mengambil waktu untuk menulis kembali dunia kehidupannya, untuk
menginformasikan bahwa apa yang dialami atau terimajinasi, selalu memiliki
karakter komunikatif, semacam selalu ada jembatan yang mengubungkan dunia
penulis dan dunia pembaca, dan kisah itu berkelana seperti pengembara yang
selalu menyapa.
Penulis kumpulan cerpen ini, pernah menjadi inspirasi saya, ketika saya masih SD di kampung Hewa, Ayah saya selalu berkisah tentang beliau sebagai kisah inspiratif untuk saya, seorang anak muda kampung di tahun 2000-an. Kisah sebetulnya inspirational. Karena itu, menulis kata pengantar untuk buku kumpulan cerpen ini, semacam sebuah tanda terimakasih untuk pernah menjadi bagian dari lorong kisah masa kecil.
Untuk
berkisah, apakah kita membutuhakan alasan tertentu? Jawabanya, ya. Alasan yang
paling utama, adalah untuk liberasi personalitas dan alasan generik lainnya,
saya sebut sedikit kacau, sebagai alasan reflektif. Di dalam tulisan singkat
ini, saya mencoba membuka buku ini, dengan menjawab pertanyaan ini: Mengapa
sebuah kisah itu amat penting (baik itu fiksional maupun non-fiksional)?
Alasan-Alasan Untuk Berkisah
Kisah itu sendiri sebagai seni sastra berjalan bersama bentuk seni lain seperti visual arts (lukisan, arsitektur, photography dan film), performing arts (music, theatre, tarian) dan culinary art, yang di dalam konteks kita, tidak bisa dilupakan penyulingan tuak atau seni memasak dari dusun-dusun yang legah di dalam tunduk ke hadapan langit dan bungkuk cangkul ke tanah yang tabah. Seni itu sendiri amat penting. Saya teringat Serote pernah menulis begini dalam Liberated Voices, Contemporary Arts From South Africa: ‘jika sejarah mengatakan bahwa Afrika adalah tempat di mana kehidupan dimulai jutuan tahun yang lampau, di dalam pandangan saya, seni telah menjadi tidak hanya sebagai cara untuk mengekpresikan diri dan komunitas, tetapi juga sebagai jalan manusiamembebaskan dirinya. Seni-lah yang diekpresikan, ada manik-manik, gelang, kalung dari biji tumbuhan dan ranting dari kayu’2. Saya menyebut liberasi personalitas sebagai alasan orang berkisah, itu artinya kisah tidak bisa pernah dilepaskan dari siapa pencerita, apa yang pencerita alami dan keterhubungan pencerita dengan dunianya. Pencerita tidak lagi menjadi pribadi yang tertutup, tetapi yang terbang bebas, dan dikenal kedatangannya lewat kisah yang ia wartakan. Ia terbang bebas ke dalam jiwanya sendiri dan ia menemukan dirinya dan mengartikulasikan dirinya secara amat baru. Kisah bisa menjadi “Khalil” (sebagai yang terpilih) dari jutaan pengalaman, ribuan imajinasi dan menjadi “Gibran” (penyembuh atau penyegar jiwa) di dalam membawa salam ke tiap pintu rumah.
Kisah
tidak pernah dilihat sebagai yang kurang penting di dalam hidup. Orang berkisah
untuk suatu preservasi kekayaan sosial tetapi juga orang berkisah untuk
menyatakan dirinya. Ada kisah dari orang tertentu yang tak bisa didengar dan
diperdengarkan dan karena itu orang menjadi ditolak secara sosial. Kisah dengan
itu menjadi penting untuk diwartakan, ia mesti diperlihatkan, agar orang
mengenal kisahya masing-masing, tetapi juga orang mungkin bisa saling merangkul
kembali atas nama kisah.
Kisah
bisa saja melesetarikan status dan dipakai untuk merendahkan yang berstatus.
Kisah para pahlawan dan tokoh tertentu ditemurunkan ke tiap generasi untuk
diingat karena perjuangan masa lampau yang memungkinkan masa kini berjalan ke
depan. Ada juga kisah yang keliru dipakai di dalam politik untuk momotong jalan
perjuangan lawan politik. Di dalam konteks ini, kisah mesti melampaui sifat
informatif dari kisah, dan membutuhkan keahlian khusus untuk menanggapinya
lebih investigatif.
Kisah
itu juga tidak selalu harus diglorifikasisebab ada kisah yang sengaja
diciptakan untuk mengambinghitamkan lawan. Oxford Dictionary menerjemahkan kata
story yang saya referensi sebagai kisah di dalam bahasa Indonesia,
mencakup juga story sebagai “sesuatu
yang tidak benar yang orang lain cerita”
atau ada ekspresi seperti a likely story3.
Kisah bisa juga merupakan kisah yang salah dari orang lain tentang dirinya dan yang lain. Kisah yang merupakan positivitas, boleh pula menjadi negativitas, dan perbenturan keduanya, terkadang dengan menggunakan corong kisah pula. Ini cukup kompleks untuk menelusuri tema-tema seperti apa itu kisah tentang yang lampau, siapa yang berkisah, siapa pendengar dan bagaimana generasi melestarikannya.Di dalam sejarah kebangsaan, kisah-kisah historis tidak mesti selalu dicerna dengan memori, tetapi dikunya dengan gigi yang kritis. Pertanyaan dimulai dari apakah benar kisah sejarah ini dan adakah kepentingan yang terbawa dari kisah ini. Kisah kadang memanggil orang untuk menelusuri sejarah dengan tujuan untuk mengetahui kompleksitas dengan teliti.
Orang-orang
kecil juga punya kisah, yaitu kisah sehari-hari di antara mereka yang mungkin
juga menjadi perhatian para peneliti bidang ilmu linguistic atau antropologi
dan orang-orang kecil menjadi sahabat yang baik untuk sebuah perkembangan ilmu
pengetahuan. Kisah dari orang-orang kecil bisa menjadi kritik yang memalukan
bagi orang-orang besar yang hampir tidak punya kisah untuk dikenang dengan
senyum. Kisah datang dari wilayah pinggiran bisa menjadi titik tolak untuk
merancang kemajuan di dalam pembangunan.
Tanpa
kisah, orang mungkin tidak punya referensi untuk masa depan. Kisah masa lalu
terkadang sengaja dilupakan karena terlalu kelam, tetapi ada juga yang dengan
berani diingat. Orang berkisah tentang kejahatan terhadap kemanusian yang
dilakukan oleh aktor politik di periode tertentu dari sebuah pemerintahan yang
kejam dan kisah dilestarikan lewat museum, publikasi, lukisan, foto dan
dokumentasi digital. Di dalam pengakuan yang halus, kisah ulang yang jujur atas
peristiwa kelam membuat sebuah bangsa menjadi besar dan terhormat.
Kearney
menulis sebuah buku berjudul On Stories, di mana saya temukan ada hal
yang tetap relevan untuk komunitas kultural atau sosial manapun, yaitu tentang
apa yang dapat tumbuh kembali dari kisah itu sendiri. Kearney menulis demikian:
“Menceritakan pengalaman atau sebuah kisah yang diceritakan, itu sama
mendasarnya seperti kegiatan mengunya makanan.
Makanan membuat kita bertahan hidup, kisah membuat hidup bermakna. Kisahlah yang membuat kita sebagai manusia”4. Kisah itu sebetulnya membawa apa yang ada di alam ke dalam narasi,mengubah dunia biologi (zoe) menjadi dunia manusia (bios). Klaim ini mungkin benar, ketika Aristotles melihat storytelling sebagai seni dan melalui seni mengisahkan pengalaman, dunia menjadi semacam a shareable world, pertukaran kisah dan perjumpaan keunikan pengalaman. Ketika orang mengisahkan kembali apa yang terjadi, sebetulnya kisah menjadikan orang sebagai agen dari sejarahnya sendiri dan menerjemahkan pengalaman-pengalaman ke dalam makna bagi komunitas atau dirinya sendiri.
Penutup
Kumpulan
cerpen oleh Joni Liwu ini menjadi contoh yang memberikan pesan bahwa kisah itu
sederhana tetapi dia bisa membuka ruang ke dunia yang lebih besar. Kisah tidak lagi
sebagai kumpulan kata, tetapi kumpulan nilai. Pengantar untuk kumpulan cerpen
ini, ditulis dengan sedikit membebasakan diri dari analisis khusus atas cerpen,
tetapi hanya mau memberikan landasan, mengapa kita mesti bercerita dan membaca
kisah dari yang lain. Sebetulnya, Kumpulan cerpen ini menjadi alasan kuat di
belakang ulasan ini. Selamat membaca!
Penulis, Alumnus STFK Ledalero (Juni 2016), kini sedang mengikuti Program Magister di Universitas Leiden - Belanda.

Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!