RANTING ITU BELUM RAPUH
RANTING
ITU BELUM RAPUH
( Cerpen: Joni Liwu )
Angin semilir dari jendela ruang
kerja seolah sedang menyapu raut Daniel.Ia mengawali paginya dengan senyuman. Baginya
senyum pagi seiring benderang mentari seakan sedang meretas setumpuk persoalan. Karenanya,
mengawali senyum nan ceriah pagi ini telah memendam semangat melitani rutinitas
harian. Ia harus terus menyelesaikan tugas utamanya, tak hendak membiarkan
gerimis pagi ini merenggut waktu-waktunya yang sangat berharga.
Satu semester berlalu. Daniel, di
hari- hari terakhir ini harus menghitung semua
jenis penilaian agar ia mendapatkan nilai akhir. Nilai itu menjadi nilai
laporan pendidikan siswa di kelasnya. Menjadi wali kelas lalu menulis nilai
akhir rapor di kelas terakhir es em pe, itu berarti sangat mempertimbangkan
berbagai aspek. Tidak saja soal aspek pengetahuan dan keterampilan, juga aspek
sikap sosial dan spiritual. Terhadap aspek yang terkahir ini, Daniel harus
melengkapi data kesiswaan pada hampir tiga puluhan siswa di kelasnya.
Daniel kembali meneguk secangkir
kopi di meja kerjanya. Pagi ini ruang masih sepih. Elisabet, rekan guru
seruangan belum juga tiba.Ia sebenarnya sangat ingin menanyakan catatan-catatan
tentang siswa-siswi satu per satu karena
Elisabet, guru bahasa Indonesia itu sebelumnya menjadi wali kelas dari
siswa-siswinya sekarang. Sejak beberapa hari ini, pesoalan mendeskripsikan
nilai sikap, entah spiritual juga sosial itu menjadi pekerjaan yang sungguh
berat, karena tak satupun catatan tentang kepribadian siswa-siswinya.
“Apakah dideskripisikan
seadanya?” gumamnya dalam hati, “ Tentu tidak mungkin.”
Jika itu dilakukan sama halnya
dengan meninabobokan semangat belajar siswa walau di masa pandemi covid.
Ia coba menghubungi Elisabet via
gawainya, tetapi tidak tersambung. Daniel hanya bersabar, semoga saja hari ini
ibu guru itu segera datang. Semua nilai siswa telah dikalkulasikan hingga
diperoleh nilai akhir. Nilai inilah yang akan disampaikan panitia ujian.
Daniel mulai meneliti satu dua
siswa dalam daftar nilai. Masih tersisa 4 siswa. Tidak terdata nilai satupun
pada daftar tersebut. Sebagai wali kelas ia telah menghubungi keempat siswa
tersebut. Tiga siswa lainnya tersambung ke nomor teleponnya masing-masing.
“Siap, Pak!”, terdengar suara orang tua saat Daniel
menghubungi salah satu siswawanya.
Orang tua mengabarkan jika
anaknya akan mengirimkan tugas-tugas yang diberikan guru. Daniel lalu mengecek
beberapa guru mata pelajaran. Al hasil, siswa-siswa itu hanya mengirimkan dua
tugas untuk dua mata pelajaran. Untuk dua tugas itu tentu saja jauh dari
semesetinya, yaitu sebanyak sembilan tugsa yang harus diserahkan termasuk
penilaian harian dan penilaian tengah semester.
“Pantas saja, belum semua kolom
terisi. Nilai akhir pun sangat kecil,” sungut Daniel.
Setelah menghubungi yang satu,
Daniel kembali menghubungi siswa lainnya. Siswa itu adalah Emanuel. Ia ingat
betul sangat sulit menghubungi siswa ini. Ia kemudian baru mengetahui dari ibu
Elisabet jika siswa ini memiliki catatan khusus.
“Siswa ini sering alpa muka di
kelas sebelumnya,” jelas Elisabet sambil merapikan buku-bukunya.
“ Bukan saja, sehari malah berminggu,”
tegasnya.
Elisabet mengamati beberapa
catatan wali kelas yang disimpannya.
“ Karena itu pula nilainya sangat
merosot,” jelasnya lebih lanjut.
“ Apakah mungkin ada persolan
yang lebih berat?” potong Daniel mencermati penjelasan Elisabet.
“Itu yang hendak kusampaikan,Pak!”
terang Elisabet.
Emanuel itu seorang yatim piatu
yang diampuh saudara sepupunya. Kehidupan saudara sepupunya juga cukup
memprihatinkan karena pekerjaan serabutan. Emanuel remaja yang hendak dewasa
ini pun tidak memhamai situasi keluarga pengampuhnya. Kebiasaan kumpul-kumpul
dengan teman-temanya menyebabkan ia jarang di rumah. Hal inilah yang
menyebabkan ia sering berseteru dengan pengampuhnya. Hubungan yang tidak harmonis
itu menyebabkan Emanuel sering berpindah-pindah rumah. Dari teman yang satu ke
teman lain. Kepahtian hidup itu dialaminya selama dua tahun belakangan.
Danie terus mendengarkan kisah
Emanuel dari Elisabet, wali kelasnya terdahulu.
“Tetapi ia sendiri mau
menyelesaikan pendidikannya!” tegas Elisabet.
Daniel tafakur di meja kerjanya.
Ia baru memahami jika nomor kontak wali Emanule yang dihubungi tidak pernah
tersambung. Dari beberapa siswa sekelas yang ditemuinya, terdengar khabar jika
berlibur ke pulau seberang bersama temannya. Karenanya, mereka juga hingga saat
ini belum pernah berjumpa dengan Emanuel, bahkan tidak tahu di mana
keberadaannya.
Ibu Elisabe pun menceritakan jika
di kelas sebelumnya ia pernah melakukan kunjungan rumah tetapi tidak menemui
Emanuel. Ia baru bertemu Emanuel tiga hari kemudian di rumah temannya.Ketika tiba di rumah temannya, ternyata Emanuel baru
kembali dari pasar. Ia berjualan kemasan plastik. Ia menawarkan jasanya kepada
pembeli sayur juga ikan. Uang yang terkumpul kadang dijadikan uang jajan jika
ia ke sekolah.Di rumah temannya itu, ia numpang tidur. Namun demikian, Orang
tua pengampuh di rumah temannya ini juga merasa bersyukur atas keberadaan
Emanuel. Bersama Emanuel, anaknya memiliki teman. Mereka kadang belajar atau
berdiskusi bersama, demikian juga mengajaknya ke sekolah bersama.
“Miris memang nasib Emanuel, Pak,”
timpal Elisabet,” Tetapi niatnya untuk bersekolah itu mungkin menjadi
pertimbangan tersebdiri.”
Emanuel anak tunggal dari sebuah
keluarga dari negara tetangga. Ia diselamatkan salah seorang tetangganya ketika
orang tuanya meninggal karena perang saudara. Ketika tinggal di kota ini ia
semula bersama saudaranya, namun Emanuel kini tidak tentu tempat tinggal.
Walaupun demikian, ia tetap berhasrat untuk menamatkan pendidikannya.
Penjelasan Elisabet ini seakang
melengkapi pengetahuan Daniel tentang kehidupan Emanuel. Ia hanya membayangkan
jika anak kandungnya suatu ketika akan diterlantarkan.
“Tapi, ah...sudahlah,” Daniel tak
ingin berkhayal lebih jauh.
Daniel kembali melihat daftar
nilai yang masih ada di atas mejanya. Tidak satupun nilai, entah tugas,
penilaian harian, penilaian tengah semseter, juga penilaian akhir semeseter.
“Apalagi untuk nilai
keterampilan. Bagaimana pula dengan mata pelajaran lainnya?,” Daniel membatin.
Pembelajaran di masa pandemi
covid 19 ini membuat Daniel mengalami kesulitan untuk melakukan kunjungan rumah
atau sekedar ke rumah pengampuh Emanuel untuk bertemu. Belum lagi tak satupun
identitas anak ini diketahuinya, karena sebelumnya ia tidak pernah mengajari
siswa-siswinya. Ia baru akan bertemu dengan mereka pada pembelajaran tahun ini,
tetapi pademi covid 19 mengharuskan mereka melakukan pembelajaran secara daring. Itu artinya pembelajaran
hanya dilakukan anak-anak atau siswa-siswinya dari rumah saja. Namun sedikit
keterangan Elisabte ini membuka titik terang tentang siswanya yang satu ini.
*
Daniel memasuki ruang rapat guru.
Beberapa menit lalu rapat dimulai dengan agenda rapat medengarkan perkembangan penilaian. Kini saatnya
pembahasan nilai untuk siswa-siswi di kelasnya. Emanuel menjadi salah satu
siswa yang menjadi perbincangan. Beberapa guru mengetahui perihal siswa yang satu ini, sehingga mereka menyampaikan
persoalan utama yang dihadapi Emanuel. Karena kealpaannya, pada beberapa mata
pelajaran belum satu pun nilai yang tertulis di
daftar nilai.
“Bagaimana wali kelas?” kepala
sekolah menanyakannya kepada Daniel.
“Sampai sejauh ini, sudah dihubungi
berkali-kali tetapi belum juga mendapatkan jawaban,” jawab Daniel.
“Informasi terkahir, ia berlibur
ke pulau seberang bersama temannya,” lanjut Daniel.
Situasi rapat hening sejenak.
Guru-guru yang pernah bertatap muka dengan Emanuel sangat mengetahui kondisi Emanuel.
Mereka juga sangat prihatin bahkan peduli dengan niatnya menamatkan
pendidikannya. Ia memang sering absen, tetapi jika bersekolah ia termasuk anak
yang rajin. Ia juga rendah hati walau tidak terlalu cerdas. Persoalan pribadi
yang dialaminya bukanlah penghalang baginya untuk berteman dengan siapa saja.
Hidup sebatang kara tidak menjadi momok bagi Emanuel menjadi seorang humanis.
Ia bahkan bisa berlama-lama bercerita dengan bapak ibu gurunya di sekolah saat
senggang atau jeda sekolah. Baginya, orang yang lebih dewasa darinya itu adalah
orang tuanya. Oleh karenanya, kepada bapak ibu guru ia tak sungkan-sungkan
bercerita atau berkeluh- kesah. Hal
itulah yang menyebabkan beberapa orang guru juga merindukan kehadirannya di
sekolah. Masa pandemi covid 19 menjadi masa penantian, tetapi sejauh itu pula
Emanuel belum kelihatan batang hidungnya.
“Saya bertemu Emanuel di jalanan
beberap hari lalu,” ujar guru IPS tiba-tiba menginformasikan keberadaan
Emanuel.
Semua mata guru tertuju kepada
guru IPS tersebut, seolah ingin mendengarkan apa gerangan cerita tentang
Emanuel.Mereka sangat penasaran tentang keberadaan Emanuel. Dalam keseharian
kadang dipanggil Emanuel, kadang pula Asta, itu karena ia bernama lengkap Emanuel
Astagio Bara Bara. Bagi guru baru tidak akan mengetahui jika Emanuel dan Asta
itu sebenarnya hanyalah nama seorang siswa, tetapi tidak demikian
teman-temannya atau guru yang pernah mengajarinya. Guru Daniel memang tidak
pernah mengajar di kelas Emanuel sebelumnya, tetapi soal nama itu ia sudah tahu
dari teman-teman Emanuel saat menyerahkan buku laporan pendidikan ke sekolah.
“Memang saya sempat bertanya
tentang kelalaiannya mengirimkan tugas, tetapi ia hanya terdiam,” jelas guru IPS itu lebih lanjut.
Guru IPS yang itu pun
menyampaikan jika, Emanuel itu berlalu darinya setelah ia melihat matanya
berlinang. Emanuel tidak mengabarkan sesuatu pun kepada guru IPS-nya itu dan
segera pergi. Guru IPS itu sangat merasakan persoalan yang dialami Emanuel,
tetapi sejauh itu pula Emanuel memendam perasaannya. Tidak seperti Emanuel yang
pernah bersama di kelas sebelumnya.ia tidak humanis seperti yang diketahui
guru-guru lainnya di sekolah. Ketika menghilang dan tidak ada kabar berita
beberapa bulan Emanuel spertinya jauh berubah.
Daniel tidak mendapatkan jawaban
apapun tentang Emanuel. Ia hanya berupaya memahami pernyataan pimpinan rapat
bahwa anak tersebut harus dibantu. Daniel bagai menghadapi pilihan yang memberatkan.Bagai
menghadapi buah simalakama, dimakan mati ibu, tidak dimakan mati ayah.Ia masih
melihat kolom-kolom pada daftar nilai yang belum terisi angka-angka sebagai
perolehan nilai.
Menuliskan nilai pengetahuan dan
keterampilan dalam daftar nilai tanpa data sedikitpun tentang perkembangan
belajar Emanuel atau harus menuliskannya karena keprihatinan. Sungguh sebuah tanggung
jawab moral dipertarukan. Belum lagi di akhir semester ini akan ada pembagian
rapor. Itu artinya sebagai wali kelas
sudah harus menuliskan nilai-nilai itu ke dalam rapor tersebut.
Kegerahan setelah gerimis di
tanah kering bebatuan ini tidak menyurutkan niat Daniel untuk menemui Emanuel. Setidaknya
informasi tentang Emanuel itu ia dapatkan dari guru IPS. Namun dari guru itu
pula belumlah lengkap informnasinya.
Ia selalu berharap keikhlasan
hati menemui Emanuel mendapatkan jalan terbuka. Paling tidak ia bisa menghapus
warna kuning pada kolom-kolom daftar nilai. Kolom-kolom itu bagi guru Daniel,
selalu memberi ruang bagi siswa-siswinya untuk mengerjakan tugas-tugas guru. Ia
pun sempat berencana, memberi warna merah jika siswa-siswinya tetap
membangkang, atau sangat tidak mengindahkan tugas-tugas guru. Walaupun
demikian, hal tersebut tidak bagi Emanuel.
Musim hujan bulan ini tak henti- hentinya
menurunkan gerimis.Ia seolah mengademkan bumi dan hati gerah karena ikhtiar
belum terjawab. Tatapan Dainel masih mendua pada kolom-kolom berwarna kuning.
Pada hati nelangsa dari hidup seorang yatim piatu di suatu negara yang bukan
tanah airnya, atau pada kinerja dari otak dan otot tak pernah lelalh menopang
hidup.
Hingga pagi subuh ini, sang guru telah menetapkan pilihan tentang
kolom-kolom yang berwarna kuning. Ia belum memberi warna merah, karena kendala
dan persoalan siswanya pada masa-masa pandemi covid tentu bervariatif . Ia sematkan dalam litani doa agar hati tak pernah
berdosa jika harus menyelamatkan si yatim piatu yang selalu memiliki sejumput
asa. Harapan akan secercah sukses yang menopang sejumput hidup, walau kini
seorang Emanuel bak gabus terombang-ambing dihempas gelombang laut pantai. Atau
bahkan mungkin bagai burung-burung pipit yang bertengger pada ranting-ranting
rapuh di batas kota. Sesebentar harus berpindah ke ranting lainnya bila ranting
tersebur patah. Guru Daniel tak hendak melihat kerapuhan ranting itu pada
seorang Emanuel. ***
Kupang,
10 Januari 2020

Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!