NENDONGKRAK BUDI PEKERTI DENGAN DONGENG

 

MENDONGKRAK PENDIDIKAN BUDI PEKERTI DENGAN DONGENG

 

Pembelajaran Dalam jaring ( Daring ) yang dilakukan hari-hari ini karena pandemi sebenarnya memberikan peluang kepada setiap siswa untuk lebih memiliki waktu berliterasi di rumah. Literasi yang dimaksudkan di sini adalah literasi membaca. Literasi membaca merupakan salah satu jenis literasi  dari Gerakan Literasi Sekolah. Dengan budaya membaca diharapkan dapat menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melaui pemberdayaan ekosistem sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah ( GLS ). Hal tersebut dimaksudkan agarpeserta didik dapat menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Sumber bacaan dalam literasi membaca tentu  beragam. Sangat dianjurkan adalah bacaan fiksi. Di antaranya adalah cerpen, novel, juga karya sastra lainnya seperti dongeng yang merupakansalah satu karya saatra lama. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan manfaat dongeng dalam pembentukan budi pekerti siswa. Dengan demikian dapat diperoleh gambaran soal pembentukan karakter melalui dongeng.

Dongeng merupakan cerita yang mengandung nilai-nilai moral dan sosial yang berguna untuk membentuk karakter siswa. Di sekolah-sekolah dasar misalnya, strategi pembentukan karakter anak dilakukan dengan pemberian contoh, pembiasaan membaca dongeng, pembiasaan mendengarkan dongeng, dan penciptaan lingkungan baca yang mendukung.

Mendongeng merupakan kegiatan kreatif seorang guru untuk menyampaikan pesan pada siswanya karena siswa  di Sekolah Dasar belum dapat memahami nasihat murni yang diberikan melalui sebuah cerita yang disebut dongeng.  Namun tidak demikian dengan siswae di sekolah lanjutan. Melalui pengetahuan diterima dari gurunya, mereka dapat menganalisis unsur-unsur intrinsik cerita. Dengan demikian, mereka dapat mengetahui kharakter tokoh. Mereka dapat pula membedakan karkater tokoh protagonis dan antagonis. Dengan membandingkat kharakter tokoh tersebut, secara tidak langsung dapat memahami dengan benar kharakter yang patut ditiru dan sebaliknya yang tidak bisa dipanuti.

Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik supaya menjadi manusia yang beriman serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Pembangunan karakter sudah menjadi amanat dalam pendidikan dan menjadi kewajiban bersama untuk mewujudkan Indonesia yang berakhlak, bermoral, dan beretika (Soelistyarini, 2011:1).

Pembentukan karakter memang tidak dapat dilakukan dengan waktu yang singkat karena membutuhkan waktu yang lama dan harus dilakukan secara terus menerus dengan menggunakan metode yang tepat dan efektif. Salah satu cara menyenangkan yang dapat digunakan untuk membentuk karakter adalah melalui dongeng. Dongeng yang baik serta mengandung moral budi pekerti seperti : takwa, sopan, santun, rendah, jujur, disiplin dan lain-lain yang disampaikan oleh guru kepada siswa di sekolah perlahan tapi pasti akan membantu membentuk karakter anak.

 

Peran Guru dalam mendongeng

            Peran  guru dalam kegiatan mendongeng tentu menjadi faktor penentu. Guru diharapkan mampu menggunakan dongeng sebagai pengantar pembelajaran untuk menarik perhatian dan kosentrasi siswa. Guru yang baik akan memakai metode PAIKEM (Pembelajaran aktif,inovatif, kreatif, dan menyenangkan) untuk menyampaikan materi pembelajarannya. Manfaat dan tujuan dasar pembelajaran secara tidak langsung akan tersampaikan melalui jalannya dongeng dari awal sampai akhir sehingga guru tidak perlu terlalui menggurui siswa.

Ada beberapa manfaat dari sebuah dongeng dalam pembelajaran. Pertama, mengajarkan moral.Dalam hal ini siswa dapat membayangkan perbuatan dari tokoh yang berperan dalam dongeng tersebut.

Kedua,  mengajarkan budaya, nilai-nilai budaya Indonesia, seperti sopan santun, gotong royong, tenggang rasa dan lain-lain. Tentu saja terlihat dari amanat dongeng kepada pembaca.

Ketiga,  mengembangkan daya imajinasi. Yang dimaksudkan  siswa dilatih agar bisa memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini pun tentu diketahui siswa melalui dongeng.

Keempat, dongeng merangsang kecerdasan emosional. Apa saja yang dilakukan oleh tokoh dalam dongeng dapat membuat rasa empati siswa. Dongeng tentang buaya yang tidak membalas jasa baik kerbau karena telah mengangkat pohon menindihnya tentu saja menimbulkan rasa simpati dan antipati. Pembeca dongeng atau pendengar dapat menyimpulkan sendiri tokoh dalam dongen ini yang memiliki perilaku baik dan tidak baik.

 Kelima, dongen dapat  merangsang berfikir kreatif. Dongeng membuat psikologis siswa untuk berfikir kreatif sesuai persoalan yang ditampilkan dalam dongeng tersebut. Dan keenam, dongeng dapat pula mengembangkan kemampuan berbahasa. Dongeng yang disampaikan dengan bahasa yang baik dan benar dapat merangsang siswa untuk mendapatkan kosa kata secara benar dalam kalimat.

Beberapa hal yang harus dilakukan guru misalnya dengan memilih dongeng-dongeng  yang bernilai positif bagi siswanya. Dongeng-dongeng tersebut tentu saja yang berciri dapat memberikan kesenangan, keasyikan, dan kenyamanan juga yang dapat meningkatkan daya imajinasi siswa.

Dongeng yang dipilih guru bagi siswanya juga harus dapat mengembangkan kepribadian siswa melalui interaksi dan keteladanan dengan tokoh-tokoh dalam dongeng. Hal tersebut dimaksudkan agar dapat meningkatkan budi pekerti siswa terutama menumbuhkan motivasi untuk mengintegrasikan karakter tokoh yang baik kedalam dirinya. Selain itu dengan pemilihan dongeng diharapkan dapat meningkatkan cakrawala pengetahuan dan wawasan siswa yang pada gilirannya dapat meningkatkan pula kemampuan berkomunikasi.

 

Dongeng menjadi Budaya di Sekolah

Untuk menumbuhkan karakter dan budi pekerti dalam diri siswa, penyampaiannya harus dalam suasana kondusif dalam kehidupan sehari – hari disekolah. Hanya dalam waktu yang tidak lama guru bisa menyampaikan dongeng yang mengandung pesan moral secara rutin dan terus menerus. Disamping itu ada pesan moral dan budi pekerti yang secara tidak langsung diterima oleh siswa tersebut. Dengan seringnya mendengar dongeng yang disampaikan oleh guru di sekolah, siswa dapat berfikir secara perlahan dan akan mempengaruhi pola pikir, sikap dan perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, maupun di lingkungan masyarakat. Hanya dengan waktu yang tidak lama siswa dapat menerima manfaat dari membaca ataupun mendengarkan dongeng yang dapat membentuk karakter dan budi pekerti mereka.

Agar dapat mewujudkan pementukan kharakter dengan mendongeng, sangat dibutuhkan strategi. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah mewajibkan siswa membaca dongeng setiap minggu. Kedua adalah guru menyampaikan dongeng yang menarik di depan kelas. Ketiga, siswa mencatat nilai-nilai moral dari dongeng yang telah didengarnya. Dan yang terkahir adalah guru menugasi siswa membuat rigkasan mengenai dongeng yang didengarnya.

Dalam pembelajaran daring yang dilakukan sekarang maka peran guru telah menjadi peran orang tua. Orangtua membacakan dongeng sebelum tidur atau dengan menyediakan bacaaan dongeng sehingga bisa menarik minat anak untuk membaca. Orangtua mengajukan pertanyaan kepada anak untuk melihat pemahaman dan ingatan anak tentang isi dongeng. Sinergitas antara guru dan orang tua dapat mewujudkan penumbuhan budi pekerti bagi anak selama pembelajaran di rumah. Caranya sangat sederhana yaitu dengan mendongeng.Tunggu apa lagi!.

 

 

Komentar