Pengantar ANTOLOGI CERPEN KELANG BERDENDANG
Sekapur
Sirih
Berkelana dan menjejaki hidupnya,
seorang Krispinus Kelang Niron telah makan garam. Dari peluh yang menetes di sebuah
kampung kecil, Riang Muda, Solor Barat, di Pulau Solor ( Flores Timur ) hingga
tanah rantau, ia mulai bermetamorfosis menjadi seorang penyair yang tidak
kehabisan spirit dan ide untuk berkarya. Di tanah rantau, darah seni dikemas.
Di tanah rantau inilah ini benih-benih cinta melumuri seluruh jejak langkahnya.
Cinta akan ibunda dan ayahanda, akan seni, nusantara, juga cinta akan
pengabdiannya. Mengawali Antologi puisinya berjudul Kelang Berdendang, seorang Krispinus
melihat noktah di bidang pendidikan. Keprihatinan akan adat dan kebudayaan yang
menelantarkan pendidikan. Ia seperti merekam noktah itu kala pengabdiannya sebagai seorang
guru, bahkan kemudian mendapat kepercayaan menakhodai sebuah SMP di pedalaman
Timor. Taraf hidup masyarakat yang bergerak lambat memicu analisis seorang
Kelang Hayon. Ia menemukan benang merah persoalannya. Adat dan kebiasaan
membelenggu pendidikan. Orang tua yang lebih menomorsatukan adat leluhur dibanding
mengasupi anak dengan pendidikan. Adat dan kebiasaan mengisolasi anak-anak
untuk memperoleh pendidikan. Pendidikan ditelantarkan bagai sang yatim hendak
mencari pengampuh, dan entah sampai kapan. Dan lebih miris para penentu pola
kebijakan pendidikan pun terlena dengan alam pikiran konservatif para orang
tua. Krispinus hendak meretas momok itu. Sebagai pendidik tentu pula menjadi
tanggung jawabnya. Ekspresi kegalauannya terekam melalui puisi pertama di
antologi ini bertajuk Balada Pendidikan.
Membaca puisinya, kita seolah sedang
berkelana bersamanya, menyelami dunia pendidikan dari kampung ke kampung, di seantero
persada Timor. Betapa pemerintah sangat peduli soal pemerataan pendidikan,
tetapi di sau sisi pola pikir masih terbelenggu adat dan kebiasaan sehingga
memasung hak seseorang memperoleh pendidikan. Ia Juga hendak mengingatkan para
pemangku kepentingan agar tidak terlena dengan jabatan, sedangkan tangungjawab
memajukan harkat dan martabat melalui pendidikan diabaikan. Mengawali karya
Antologi Puisinya berjudul Kelang
Berdendang, ia hendak mengabarkan kondisi miris tersebut.
Dewan
pendidikan yang terhomat,
Generasi
kita jauh berbeda
Hari
ini tiada huruf yang bisa kubaca
Agar
pikiranku terbuka menembus cakrawala
Merangkul
bianglala demi masa depan cerah
Melengkapi asa tak berkesudahan ini, ia
pun percaya jika ia harus menggandeng sesama. Jika bukan itu pilihannya, maka
harapannya hanya tertebar di atas tanah tandus, kerontang tak berujung.
O
… dewanku,
Pendidikanku
terbelenggu pusaka ini
Bantulah
aku merenda kata
Kita
hancurkan kursi keramat itu
Agar
generasiku menjamur di telaga pendidikan.
Bahkan, ia pun tidak ingin bertepuk
sebelah tangan. Maka sinergitas merangkai masa depan melalui pendidikan menjadi
pilihan.Terekam pula dalam obsesi seorang Pinus Hayon dalam judul puisinya NEKAF MESE MA ANSAOF MESE.
Tidak sebatas
kepeduliannya pada pendidikan, seorang Pinus yang kukenal sejak berlelah di
FKIP Undana Progarm Studi Bahasa dan Sastra Indonesia pun berdarah seni. Seni Tarik suara menjadi
area nan romantis yang digeluti sejak itu. Semua yang terekam dalam beberapa
album polesannya ini, tidak cukup baginya untuk mengungkap ekspresi batin.
Goresan larik-larik puisi telah pula
menjadi pilihanya. Kecintaan kepada ayahanda dan ibunda, pendamping
hidup, pun membawanya berkelana dalam area imajinasi.Diksi-diksi lugas, terpaut
dalam puisi-puisi diafan. Mudah mencerna makna, tetapi eksotis bak menelusuri
alam pantai, menawan, indah, selanjutnya membenam di alam bawah
sadar.Menjadikan kita untuk lebih peduli pada semua yang dialami, cinta dan
pengabdian.
Puisi-puisi Krispinus merupaka rekam
perjalanan pengalaman hidunya.Ia telah mengusung kearifan budaya, etos kerja, kecintaannya
kepada sesame, juga tentang kedalaman iman. Retasan-retasan peradaban pun
disuguhkannya. Pembaca tak akan berpaling kla menikmati sentuhan-sentuhan
puitis dalam antologi ini. Hanya karena
renyah, sehingga mudah dicerna. (Yohanes
Joni Liwu, S.Pd, Pencinta Sastra, Guru SMP Negeri 13 Kota Kupang).

Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!