BERKAH ATAU HIKMAH
BERKAH ATAU HIKMAH
( Sebuah catatan perjumpaan dalam
kegiatan work shop)
Dua
kali kami bertemu, itu seingat saya. Dua tahun silam dalam sebuah kegiatan
bertajuk literasi oleh Balai Bahasa
Bali. Hadir pada moment peserta dari NTT digawangi Kantor Bahasa NTT. Pesrta
NTT itu adalah beberapa guru SMP dan SMA di daratan Timor. Kota Kupang diwakili
dua orang guru SMP dan dua guru SMA.
Bandara I Gusti Ngurah Rai – Bali tempat pertama ia berkenalan dengan
saya. Beberapa menit kemudian, dari seorang teman, saya mengetahui jika beliau
adalah personil Media Cakrawala NTT. Aku pun masih penasaran karena nama itu
sangat familiar setidaknya dari media-media sosial yang sempat kulahap. Setibanya
di hotel tempat pelatihan setelah berelancar di google, saya lebih mengetahuinya sebagai direktur dari sebuah
komunitas yang hari-hari ini lebih konsen dan gigih memperjuangankan generasi
emas 2045 melalui literasi.
Komunitas ini tentu melaui pergumulan yang maha berat untuk menentukan sikap dan tidaknya
untuk sebuah dunia yang disebut literasi. Dan jurus jitu itu adalah pelatihan menulis, tidak lain dan tidak bukan. Jurus tersebut dipilih agar bisa menggugah
dan ‘menebar pesona’. Betapa peluh yang berderai di jalan sunyi, demikian,
Gusty Rikarno, Direktur Media Cakarwala NTT itu menyebutnya, berhasil mewujudkan
mimpi sehingga beberapa kabupaten di NTT pun melabelinya menjadi kabupaten
literasi. Tanpa harus menyebut kabupaten-kabupaten tersebut, bagi saya itu
sebuah pencapaian yang luar biasa. Bukan soal nama kabupaten tersohor ke publik
melalui dunia masya, tetapi lebih dari itu yakni banyak guru dan siswa juga
pegiat literasi yang ikut tergerus. Pertanyaannya, apa yang tergerus?
Jawaban
yang pasti adalah kebekuan, keraguan, ketakutan soal menulis, kekhawatiran pemahaman bahwa menulis itu sulit. Buktinya
setiap kabupaten yang disinggahi ( baca:diberi pelatihan) menelorkan karya
berupa buku yang dterbitkan. Bukti-bukti penerbitan buku ini kemudian melayakan
sebuah kabupaten menjadi kabuaten literasi. Tentu saja banyaknya penerbitan
buku bukanlah satu-satunya indikator sebuah kabupaten literasi.Namun keteguhan
hati di tengah jalanan sunyi inilah yang diapresiasi. Sangatlah ironis jika
kita tetap terlena oleh hasil survei PISA soal tingkat leiterasi di Indonesia
yang sangat rendah. Ataukah tugas mendongkrak ketertinggalan soal tingkat
literasi hanya kepada pegiat literasi,
komunitas literasi, atau lebih kepada setiaap lembaga pendidikan dengan membaca
15 menitnya? Komunitas ini, komunitas-komunitas lainnya di NTT sebenar sedang
menanti sejuah mana para pemangku kepentingan menyuarakan literasi agar mereka
tak sunyi di jalanan sendiri.
Soal
berikut adalah keunikan komunitas media Cakrawala NTT. Mengapa unik? Saya
kemudian dengan analisa di benak yang sangat sempi ini. Pertama bahwa semua
personel dari komunitas ini hidup dan tinggal di ibu kota propinsi yang juga
merupakan ibu kota dari sebuah wilayah adminsitratif Wali Kota Kupang. Namun
mengapa gema literasi itu mesti disematkan kepada kabupaten-kabupaten lain? Mengapa
tidak kepada Kota Kupang yang menjadi wilayah huniannya, bahkan berkontribusi
bagi hidupnya saban hari?
Lalu
apakah mimpi menyiapkan generasi emas itu hanya layak digiatkan kepada guru dan
siswa di kabupaten-kabupaten? Apakah mungkin guru dan siswa di wilayah kota Kupang
telah tergolong literat sehingga kegiatan pelatihan layak kepada para guru dan
siswa di kabupaten-kabuoaten? Mungkinkah
sahabat-sahabat pegiat literasi ini harus membuktikan dulu kiprahnya di
kabupaten-kabupaten sebelum memberikan yang terbaik bagi guru dan siswa di Kota
Kupang?
Tidak
ada pertanyaan pasti yang mesti dialamatkan kepada mereka. Setahu saya, mereka
mendedikasikan diri dengan tulus. Walaupun demikian, mereka sangat bersungguh
dengan cara sederhana. Sesederhana para personil ini menyajikan materi
penulisan namun segera pula terserap. Sebuah bukti, 30 guru SD dan SMP sekota Kupang
yang hadir dalam work skhop Penulisan Karya Ilmiah sangat mengapresiasi
kegiatan dimaksud. Mereka dapat mewujudkan pemahaman mereka terhadap materi
sajian dengan menghasilkan tulisan berwujud feature dan opini kreatif dengan
topik yang diberikan penyelenggara kegiatan. Dan ternyata yang juga menjadi
mimpi sahabat-sahabat dari Media Cakrawala NTT ini adalah hendak menobatkan
pula Kota Kupang menjadi Kota Literasi. Kerja keras ini bukan sebuah isapan
jempl belaka, karena dengan menggelar pelatihan selama dua tahu bertutur-turut,
akan terbit buku-buku sebagai karya para guru.Buku berjudul Kisah Para Pelukis
Wajah Bngsa adalah bukti peluh dari kerja keras teman-teman pegiat literasi
media cakrawala NTT. Ke depan, tentu saja bukan hanya menjadi mimpi Media
Cakrawala NTT, BMPS, pemerintah Kta Kupang, tetapi juga semua komponen bangsa
dan Kota yang berlabel Smart City ini mesti mengambil peran dengan caranya
masing-masing. Dengan demikian, ditengah semaraknya smart city, sungguh
warganya dalag warga yang literat.
Badan Musyawarah Perguruan Swasta ( BMPS ) Provinsi NTT dan Dinas Pendidikan
Kota Kupang mengelar kegiatan tersebut dengan tujuan bertujuan untuk melatih guru di Kota Kupang memiliki kemampuan
profesional dalam menulis karya ilmiah, para guru dilatih untuk mengkonkritkan
gagasan dan pikiran cerdas dalam bentuk tulisan terutama dalam bentuk karya
ilmiah populer.
Menurut Ketua BMPS NTT, Winston Rondo yang juga Mantan Ketua Komisi V DPRD NTT kegiatan tersebut
sudah diselenggarakan dua kali oleh BMPS, pada tahun 2020 pihaknya telah
melakukan kegiatan yang sama dan didukung oleh Pemerintah Provinsi NTT dan
menghasilkan satu buku karya yang ditulis oleh 36 guru, baik itu guru PAUD/TK,
SD, SMP, SMA/SMK dengan judul Para Pelukis Wajah Bangsa.
Ia pun lebih lanjut menjelaskan
bahwa kegiatan ini merupakan agenda tahunan. BMPS NTT mempunyai tekad agar setiap
tahun guru dan siswa di NTT minimal menghasilkan satu buku, terutama guru dan
siswa dari sekolah swasta, targetnya buku tersebut selesai di edit dan di
layout untuk diterbitkan pada bulan Agustus dan akan diserahkan kepada
Pemerintah Kota Kupang.
Sinergitas antara pemangku
kepentingan tentu sangat memberikan dukungan kepada personel Media Cakrawala NTT ketika merasuki
kaum guru dengan sajian materi nan prkatis. Betapa hal tersebut pun terungkap
dari kesan dan pesan peserta. Mereka sangat bersyukur dapat mengikuti kegiatan
bernas tersebut. Walaupun demikian, mereka juga sangta berharap Tim Media
Cakrawa NTT senanti memberi ruang dan waktu jika para guru hendak membelajarkan
hal menulis ini kepada rekan-rekan mereka di sekolah.
Sebuah wujud yang masih berwujud
adalah semangat menulis. Sepertinya waktu tiga hari tidak cukup untuk belajar
menulis, tetapi bahwa semangat yang
dikompori oleh seorang Gusty Rikarno dengan punggawa-punggawanya tersebut masih
terpaut dalam nubari. Seorang Gusty Rikarni yang kukenal dua tahun silam.
Selebihnya kami berpeluh di ruang kami masing-masing. Geliat literasilah yang
mempertemukan kami di gedung para senator NTT, gedung rakyat NTT. Selayaknya agar
kami tetap bersinergi dalam nafas literasiyang sama, baginya kami bersulang
buku. Buku soloku mungkin tak seberapa makna dibanding 50-an karyanya.tentu
saja itu karena beliau telah lama berlanglang buana dengan sejumlah jam
terbang, sedangkan usiaku di area romantis yang disebut literasi baru setahun
jagung. Setidaknya, Buku karya seorang Gusty Rikarno pun telah bersading dengan
tiga buku soloku juga delapan buah buku antologi bersama. Karyaku di tengah
pandemi covid-19. Sehingga bagiku, masa-masa pandemi telah menautkan sebuah
tanya, Covid -19 itu Wabah atau Hikmah?
Tak ingin kujawab di tengah covid
19 dan variannya yang tengah mengintai. Untuk sahabatku Gusty Rikarno,
pertemuan kita pun beriku tanya yang lain, berkah atau hikmah. Di jagad yang
maha luas ini, terurai rangkaian puisi untuk juangmu yang tak kenal lelah.
Mimpimu sedang menetes
Dari peluh-peluh tercucur.
Semula di jalan sunyi,
Kini senyum tawa sambutmu
Banyak berarak
Beharap ke tepian.
Hari-hari tak lagi sunyi
Hanya saja hati-hati masih menepi.
Kibarkan panjimu
Agar gaungnya semakin menggema
Hingga seantero
Seluruh jagad.
Sahabat,
Ini bukan mimpi di siang terik
Ini mimpi bernas dari anak bangsa
Tersembul beriring mentari pagi di
tanah Timor.
Hari kemarin tonggakmu tertancap
Akan ada esok dan lusa.
Hingga di suatu waktu nanti
Generasi ini meraup emas
Karena merekalah generasinya,
Walau kala itu
Hanya gading tertanggal dari gaja
Dan nama ditnggalkan manusia.
Salam Literasi.
Kupang, 12 Juli 2021


Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!