ROMANTISME SE’I BAMBU KUNING

ROMANTISME SE’I BAMBU KUNING



Anthony Bourdain, Chef populer sekaligus sahabat Barack Obama mengtakan,  "Makanan adalah segalanya bagi kita. Ini merupakan perpanjangan dari perasaan nasionalis, perasaan etnis, sejarah pribadimu, provinsimu, daerahmu, sukumu, nenekmu. Itu tidak dapat dipisahkan sejak awal." 

 

Selain koki ia juga menjadi penulis buku. Buku terkenalnya pada tahun 2000 berjudul Kitchen Confidential: Adventures in the Culinary Underbelly. Buku tersebut mengkaji kekayaan budayanya tetapi dari sudut pandang kulinernya.

 

DI Indonesia sendiri Buku "Selamat Makan - Let's Cook Indonesian Food" berhasil menjadi nominator (Short List"Best Culinary Travel Book" pada Gourmand World Cookbook Awards 2016. Buku terbitan Kementerian Pariwisata Indonesia ini disusun oleh tim Spice it Up! Indonesia yang merupakan tim kuliner Guest of Honour Frankfurt Book Fair 2015. Dalam ajang Frankfurt Book Fair 2015, "Selamat Makan" dibagikan kepada 1.100 pelajar asal Eropa yang mengikuti program Classroom of the Future.

 

Fakta tersebut menunjukkan betapa  buku tentang kuliner telah menjadi sarana berliterasi tentang sebuah kearifan lokal. Dengan demikian bangsa ini sedang berlierasi budaya. Di indonesia, tentu akan menjadi sebuah kekayaan yang tak terbilang karena hampir semua daerah memiliki kuliner yang khas, demikia pun cita rasanya.  Dalam persepsinya sama, seorang editor Teguh Wahyu Utomo menggagas penulisan buku dengan tema makanan tradisional, cemilan tradisional yang terdapat di pasar-pasar. Namun demikian, 29 penulis dari seluruh Indonesia yang mengisahkan makanan secara tradisioal dalam  35 judul  tersebut,  diramu dalam bentuk narasi. Buku cetakan pertama Juli 2021 oleh Penerbit Wahana Resolusi – Yogyakarta tersebut  bukan berwujud resep makanan. Buku ini  menjadi suguhan menarik karena tidak saja mengisahkan tentang cita rasa makanan tetapi kesan-kesan menyentuh hati terhadap jenis kuliner tradisional tersebut.

 

Saya pun tak ingin membuang kesempatan bak peluang ini. Peluang menggemakan tentang makanan khas  Kota Kupang pun kusajikan. Kisah –kasih sepasang remaja, Mateus dan Narti, yang bermula di Rumah Makan Bambu Kuning, dari cita rasa makanan hingga ciat rasa hati pun tertulis.

 

Terkisah, “Serasa dadanya bergetar kala menyayat se’i tersebut. Tak dipedulikan semua orang yang sedang makan siang itu. Ada gejolak batin melumuri batin Mateus yang melebihi kelezatan se’i bambu kuning. Ia melihat pancaran indah dari  bola mata Narti. Ia seolah menghitung setiap sayatan yang sebanding dengan kedipan mata Narti. Kedipan mata bagaikan kilatan petir menyambar hatinya. Tatapan mata Narti bak merobek tata krama Mateus yang ragu-ragu. Tatapan yang lebih dahysat  dari gemuruh seroja yang memporakporandakan kotaku seminggu yang lalu. Kesahajaan Narti bagai udara pagi lembut menghasut mengalir deras dalam nadi Mateus, penuh arti. Sesuatu telah tumbuh di hatinya, menggugah dan menggetarkan jiwa Mateus. Sepih malam serasa pula menimpuk jiwa raga jauh dalam mimpi tidurnya.”

“Kalau saja bergayung sambut,” gumamnya dalam hati.

 

Selebihnya kisah romantis ini terjalin dengan judul “Menyayat Se’i di Bambu Kuning”  terangkum dalam  buku berjudul  “Memoar jajanan Pasar.”

 

Mengapa buku bertema makan menjadi menarik? Editor dalam Kisah Pembuka buku setebal 160 halaman tersebut berargumen bahwa ada penelitian yang menemukan hubungan yang fungsional antara wilayah dalam yang berperan atas memori rasa dan  wilayah dalam otak yang berperan mengkodekan waktu dan tempat saat kita mengalami rasa tersebut. Pertemuan ini, demikian penulis puluhan buku ini, memperkuat bukti ucapan ‘ rasa itu tidak pernah bisa bohong.’ Itu karena memori terkait rasa bisa tertanam sagat dalam di otak dan bisa dengan mudah muncul kapan saja saat dibutuhkan atau di rangsang.

 

Siapapun tak pernah memungkiri jika cita rasa makanan tertentu akan membawanya ke masa lalu, masa kanak-kanak, masa remaja, bahan hari –hari ini.Di kota ini jika hendak menikmati cita rasa daging se’i, maka beberapa tempat menjadi rujukan. Berandai saja, ketika hendak menikmati se’i di Baun –Amarasi yang berjarak KM 25 dari kota Kupang, seseorang akan berkisah tentang cita rasa daging se’i yang mengalahkan garangnya cerita tentang jalanan di daerah ‘Ikan Foti ‘ yang memilukan setiap musim hujan. Cita rasa se’i menjadi cerita kepada sesama lainnya dibanding wilayah Baun yang sejuk, bahkan tentang kearifan loka lainnya. Di mana pun, tentang cita rasa makanan, tiada duanya.Dan tentu di buku berjudul ‘MEMOAR Jajanan Pasan ini.

 

Kupang, 21 Juli 2021

 

  

Komentar