BERKACA DARI RAHIM CINTA
BERKACA
DARI RAHIM CINTA
Oleh: Yohanes Joni Liwu, S.Pd.
Tanggal 21 April 2020, mengawali kisah hari ini, semestinya dengan jujur
bangsa ini terlebih kaum hawa menyampaikan selamat Ulang Tahun untuk ibunda
bangsa, Ibu Pertiwi. Betapa sebuah ucapan yang sederhana namun cukup memantik
hati juga pikiran untuk berkisah tentang semangat menyetarakan kaum Hawa dengan
kaum Adam. Semoga saja diksi yang saya gunakan untuk menggantikan kaum
perempuan dengan Hawa juga Adam untuk pria, tidak disejajarkan dengan manusia
pertama yang hidup di zaman awal menurut kitab suci. JIka saja ada yang
meyejajarkannya maka mungkin saja kaum hawa akan menjadi kaum yang
dipersalahkan sehingga kaum Adam alias laki-laki pun terjerumus menikmati buah
terlarang. Sebagaimana tulisan ini
diawali dengan mengenang kelahiran Raden Ajeng Kartini, yang hari ini
sepatutnya dirayakan. Betapa tidak peran wanita tidak diragukan lagi. Kehadrian
perempuan Indonesi sangat memberi warna tersendiri bagi Indonesia. Dalam
berbagai bidang, hampir pasti kaum perempuan telah mengambil peran membangun
bangsa bersama kaum pria.
Dalam hal mengabdikan diri sebagai Aparatur Sipil
Negara, perbandingan jumlah PNS pria dan wanita pada Desember 2019 adalah PNS pria sejumlah
2.031.294 orang atau 48,49% sedangkan jumlah PNS wanita adalah 2.157.827 orang
atau 51,51%. Dapat
disimpulkan bahwa selisih perbandingan jumlah PNS Wanita adalah 0,03% lebih
banyak daripada jumlah PNS Pria. Kaum pria tidak perlu tercengang karena memang
demikian data riil oleh Badan Pusat Statistik. Dari jumlah itu, bukan tidak
mungkin selisih tersebut akan bertambah dari tahun ke tahun.
Jika dilihat data Polisi Wanita memang masih
jauh dari kaum pria. Hingga saat ini, hanya
ada 36.595 polisi wanita atau 8,3 persen dari jumlah total anggota
Polri. Belum lagi jika dilihat perempuan yang mengambil peran sebagai seorang
guru. Dari total guru (SD, SMP, SMA, SMK, SLB) tahun 2019 sebanyak 2.755.020; guru berjenis kelamin perempuan
berjumlah 1.773.034; tersisah 981.986 adalah guru laki-laki. Dari jumlah tersebut, berdasarkan jenis
kelamin, hampir seluruh jenjang didominasi oleh perempuan. Bila dipersentasikan,
sebanyak 64,35% merupakan guru berjenis kelamin perempuan. Karena jumlah guru
perempuan saat ini mencapai 1.773.034 orang. Jumlah guru terbanyak berada di jenjang SD
yakni sebanyak 1.467.461 orang. Kemudian disusul oleh jenjang SMP sebanyak 643.266
orang, SMA 314.619 orang, SMK sebanyak 304.634 orang, dan guru di SLB sebanyak
25.040 orang.
Sekilas tercatat bahwa emansipasi yang
diperjuangkan seorang Kartini telah mengubah dan
berbuah. Mengubah tatanan kehidupan seoang wanita
Indonesia dari sekedar mengurusi dapur dan sumur juga kamar. Ia bahkan lebih
mengurusi situasi yang sangat kompleks dari rumah tangga hingga ke dunia kerjanya setiap hari. Kartini telah memantik
semangat kaum wanita agar dapat menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk dunia yang lebih luas,
tidak sekedar melaksanakan kodratnya sebagai seorang wanita, mengandung,
melahirkan mengasuh, membesarkan seorang anak.
Ihktiar seorang wanita yang lahir 21 April
1879 itu telah berbuah hasil. Wanita Indonesia
bahkan dunia menikmati buah perjuangan berbentuk emansipasi. Di setiap aspek kehidupan wanita telah
sejajar dengan pria. Bahkan dengan
melakoni perannya serasa segala yang rumit menjadi sederhana.
Cinta seorang ibu
bukanlah isapan jempol. Dari Rahim cinta seorang ibu, ia telah menggelorakan
semangat untuk menghidupkan sebuah kehidupan. Ia bahkan dengan cinta
mempertarukan nyawa demi kehidupan walau kehidupannya dinomorduakan. Baginya
cinta bukan saja tameng, tetapi roh yang mengurapinya untuk berkarya demi
sebuah kehidupan. Dari rumahnya sendiri, ia harus medasarkan dan mendaraskan
cinta, agar mahligai cinta tak terkikis berbagai krisis. Jika bukan dengan
cinta, bukan tidak mungkin biduk rumah tangganya kan terombang ambing.
Sesederhana apa pun sajiannya di meja makan, jika bukan karena cinta, kan
terasa hambar tak berguna. Ia telah memulai segalanya dengan cinta, sehingga
tak sedikitpun ia mengabaikan cinta dalam kehidupannya.
R.A. Kartini, jejak
dan sosok
R.A. Kartini adalah sosok
wanita yang sederhana, yang tidak membeda-bedakan antara si kaya dan si miskin.
Bahkan beliau memperjuangkan nasib rakyat jelata agar memiliki kesempatan
memperoleh pendidikan layaknya kaum ningrat. Beliau tidak menampilkan gaya
hidup seorang bangsawan berdarah “biru”.
Memaknai
perjuangan R.A. Kartini akan terlihat jelas ketika kita memaknai “emansipasi” yang diperjuangkan beliau. Emansipasi yang diajarkan
R.A. Kartini adalah adanya persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam
menuntut ilmu, memperluas wawasan dan memiliki peran dalam memajukan bangsa.
Bukan emansipasi yang menuntut persamaan peran dan fungsi dalam kehidupan
antara kaum wanita dengan kaum pria.
Andaikan
Kartini hadir hari-hari ini, ia tidak menangi karena kesedihan bangsa atas pandemi covid 19. Ia bahkan menangisi bangsa
ini yang tak lagi memperjuangan semangat kebersamaan. Bangsa ini bagai
terkontaminasi oleh egoisme sectoral semisal fantisme, juga unsur sara. Apakah
hal ini yang dierjuangan seorang Kartini? Belum karena terpapar covid 19,
jenazah seseorang kemudin ditolak untuk dikebumikan di sebuah wilayah. Alangkah
mirisnya bangsa yang beradab ini.
Situasi
bangsa akhir- akhir ini bak terkoyak badai taufan. Di Hari Kartini, kesadaran
moral berbangsa dan bernegara sedang teruji. Hampir tak terdengar lagi cerita
indah tentang persaudaraan senasib dan sepenanggungan. Seorang Kartini yang
menggelorakan emansipasi, sesungguhnya hendak memproklamirkan bahwa, dengan
beremansipasi, kaum pria semakin diteguhkan dalam membangun bangsa. Kaum wanita
dengan segala kompetnsinya dapat mengambil bagian dalam membangun bangsa yang
besar. Semua itu akan terwujud jika semua harus bersatu dalam bingkai Negara
Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ). Jika bangsa terkoyak, bukan tidak mungkin
amanah seorang Kartini telah dicampakan dari Rahim bangsa ini. Rumah besar yang
bernama Indonesia semestinya dibangun atas dasar senasib dan sepenanggungan,
bukan atas kepentingan golongan. Setidaknya hal tersebut telah menjadi
tonggak sejak Kartini menggagas
emansipasi bangsa Idonesia.
Kartini telah
membesarkan Indonesia dengan cinta yang tak pernah padam. Cinta itu kini telah
mekar di taman Indonesia. Bangsa yang besar dan berdaulat ini semesetinya
mengagungkan kebesarannya, tidak sekedar melitani lagu wajib “Ibu Kita Kartini”,
dan lagu itu pun berakhir tersapu bayu tak tentu arah. Kartini, cintamu pada
bangsa ini, melebihi samudra nan luas.
( Penulis: Guru di
SMP Negeri 13 Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur )
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!