SOPHIA VERSUS SOPI
Sophia
versus Sopi di Mata Seri Naimnule
Pada ketinggian sekitar 15-20 meter, setiap pagi dan sore
ia melakoni pekerjaan mengais reseki di waktu liburan.Seri,demikian ia biasa
disapa melakukan rutinitas memyadap nira dengan ikhlas.Bahkan dengan senang hati."Saya
senang," jawabnya singkat dengan senyum tanpa beban.
Ia pun bergegas menuju pohon lontar lainnya.Saban hari pagi dan sore,demikian
siswa kelas delapan SMP Satap Nakol-Maubesi ini,menyadap 10 pohon
lontar.Berarti setiap hari 20 pohon lontar
yang disadap,dan itu cukup untuk disuling menjadi "sopi" minuman
keras khas daerah.
Seri Naimnule, siswa yang giat bekerja ini pun tak
sungkan-sungkan membantu sesamannya.Ia tidak berharap banyak,tetapi itu mungkin
bagian dari keikhlasannya bersosialisasi dengan sanak keluarga.
Ia pun memendam kehidupan
esok lusa saat ditanya cita-cita.Tapi sesuatu yang hampir pasti bahwa saat ini
ia harus bekerja dan bekerja dengan tidak melupakan tugasnya untuk belajar. Jika
demikian,ia harus pandai berbagi waktu sekolah dan rutinitas yang selayaknya
dilakoni orang dewasa."Saya harus membantu ayah yang sedang sakit,"
jawabnya lugu.
Betapa kehidupan ini adalah bekerja. Belajar dari
komitmen seorang Seri Naimnule, hati mengundang tanya.Masikah pengangguran
menjadi masalah? Masihkan setiap out put Perguruan Tinggi yang menenteng ijazah
sarjana menganggur tanpa berinovasi untuk menciptakan lapangan pekerjaan?
Pengangguran tentulah bukan
menjadi masalah jika seseorang memaknai bahwa hidup adalah sebuah
pekerjaan.Maka bagi seorang Seri Naimule, remaja SMP yang juga belum menenteng
ijazah SMP ini, akan menatap hari esok dengan senyum. Belum lagi menurut
pengakuannya, sekitar 2 hektar perkebunan jambu mete kini sedang berbunga, menebar
aroma kebahagiaan batin, bahwa sekitar 2 atau 3 bulan lagi siap dipanen.
Tentang rutinitasnya yang kemudian menghasilkan
"sopi" sebagai miras alias minuman keras, baginya itu berdampak
finansial sehingga dapat menopang kehidupan ekonomi. Dan itu bagian dari
pengabdiannya kepada orang tua. Sophia sebagi miras yang dilegalkan di propinsi
ini bahkan dengan banrol satu juta rupiah per botol, bagi seorang Seri mungkin
memiliki prospek.
Ia pun mungkin memendam
asa,bahwa suatu ketika kemuculan sophia dapat menggandeng sopi mendongkrak
perekonomian warga umumnya,dan Obe-Maubesi khususnya.Jika ini menjadi sebuah
alternatif pekerjaan,maka selayaknya setiap kita pun berpikir tentang berbudi
daya lontar.
Ah...Seri Naimnule,kisahmu pagi ini telah
mengajakku berinspirasi.
Salam Literasi
Obe-Maubesi,TTU,10 Juli 2019
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!