YANG TAK TERKIRA
Yang Tak Terkira
Oleh:
Joni Liwu,S.Pd
(Guru SMP Negri 13 Kota Kupang)
Bukan soal kecengangan terhadap
sesuatu yang tidak diperkirakan, melainkan soal sesuatu yang mengumbar nafsu
mengetahui sesuatu dari segalanya dan segalanya dari sesuatu. Demikian yang
dialami dan dilaksanakan beberapa guru SD, Guru bahasa Indonesia SMP dan
SMA/SMK se-Kota Kupang dalam kegiatan Pencarian Data Kajian/Penelitian yang dilakukan oleh Pusast Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, Rabu (26/6), di Aula Cendana, LPMP Propinsi NTT.
Saya coba mengurai satu dua hal
yang oleh sahabatku, seorang guru di salah satu SMP Swasta ternama di Kota
Kupang sebagai kisah luar biasa tetapi
dipecahkan dalam tempo singkat. Rupanya, kisah itu, demikian sahabatku ini,
berwujud semua persolan.Lalu apa nian, hal mengumpulkan data tetapi menjadi
masalah?
Berpijak dari judul di atas, saya
coba mengurainya seturut asumsi yang tak bertepi ini . Semula, kegiatan para
guru diasumsikan sebagai kegiatan teknis sehingga sesuai waktu yang ditentukan,
beberapa rekan guru sahabatku telah hadir sebelum pukul nol delapan
nol-nol.Saya justru menerjemahkan kegiatan ini sebagai mengisi data penelitian,
entah quisioner, angket, atau lainnya. Oleh karenanya, saya terlambat lima belas menit dari waktu yang tertera pada surat
undangan yang ditandatangani Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina L. Tanate,
S.Pd tersebut. Ternyata baru hadir belasan guru dari sekitar lima puluhan guru
yang diundang, termasuk dua orang sahabatku dari Kantor Bahasa NTT. Bercerita,
juga diskusi soal bagiamana berliterasi, pun menggagas mencetak antologi puisi
menjadi sarapan pagi sambil menanti petugas atau Peneliti dari Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa. Dan waktu menunggu pun berlarut sekitar dua sampai
tiga jam. Alhasil, kami baru mengetahui dalam sambutan awal oleh Kepala Kantor Bahasa NTT sekaligus membuka
kegiatan itu, yakni bahwa para peneliti itu baru tiba dari Jakarta. Jika
demikian, kami memang sedang menanti
perjalan para peneliti itu dari Jakarta
ke Kupang. Ini hal pertama sebagai yang tak terkira.
Tanpa uraian panjang lebar soal
materi lainnya, para guru dikelompokkan dalam tiga bagian berdasarkan tingkatan
sekolah, SD,SMP,SMA/SMK. Selanjutnya data penelitian berupa beberapa daftar
peratanyaan dijawab guru. Masing-masing
guru mendapat tuju daftar pertanyaan.Salah satu daftar pertanyaan berupa
angket, yang hampir dapat dijawab seluruh guru, karena alternatif jawaban
seputar setuju, tidak setuju, sangat satuju, atau jawaban sejenisnya. Namun
demikian pada enam daftar pertanyaan lannya berwujud soal-soal tentang teori
kebahasaan, pedagogik, metodologi, juga
soal perumusan Rencana Pembelajaran menurut Kurtilas alias Kurikulum dua ribu
tiga belas. Dan soal 6 daftar pertanyaan terakhir, wujudnya berupa soal Pilihan
Ganda.Jumlah soal rata-rata sama, sekitar 35 -40 .Menjadi soal, karena kecuali
soal tentang penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP) yang hari-hari
ini dilakukan para guru, soal lain lainnya adalah materi-materi perkuliahan
yang telah lama disayonarakan alias ditnggalkan.
Materi perkuliahan semenjak tahun 1990 –an hampir pasti tergerus dalam
ingatan.Maka yang yang terjadi nanti, peneliti mungkin akan tersenyum kala memeriksa
jawaban para guru ini. Pertama tersenyum karena legah atas jawaban benar, atau
malah sebaliknya, tersenyum karena
hampir sebagian besar jawaban itu
keliru kalau tidak disebut sebagai jawaban yang salah. Mungkin terhadap hal
menjawab soal terakhir inilah yang menurut sahabatku, disebut sebagai ‘Kisah
Luar Biasa, Banyak ilmu yang dipecahkan dalam tempo singkat. Bagiku, hal kedua
yang menjadi tak terkira, adalah menjawab soal-soal, bak mengerjakan soal
–soal Uji Kompetensi Guru (UKG ).
Apapun hasilnya ( kegiatan hari
ini), adalah tugas peneliti,tetapi bahwa hati dan pikiran para guru disentuh
kembali dengan ilmu-ilmu keguruan yang hampir ditelan waktu. Jika saja ilmu
yang dikenyam semasa kuliah itu dihargai
dengan nilai A atau B pun C, semua menjadi bekal yang brharga bagi guru dalam
menempah keprofesilannya di medan laga alias di depan kelas. Semoga saja, kado
hari ini yang terintegrasi melalui kegiatan pengumpulan data penelitian ini
tidak menguap bak embun diterpa mentari pagi, tetapi embun yang melegahkan
dahaga para guru dalam menempah kepribadiannya sebagai pendidik dan pengajar.
Memang tak terkira.
Salam Literasi.

Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!