ORANG PILIHAN

 

EPILOG PUISI ORANG PILIHAN

 

JANGAN PERNAH MENYERAH




Guratan-guratan rindu sangat terlihat pada karya-karya Mery  C. Lola yang selalu mengisahkan kehadiran sosok insani dalam menata kehidupannnya walau ia harus menanutkannya pada ala semesta dan segala isinya. Pada bintang gemintang ia mengabarkan rasa hatinya, bahkan bayu tak berwujud seolah menjadi sarana tautan hati pengarang.

 

Pada bait terakhir dari puisi pembuka dari…puisnya, ia melantunkan asanya dipagut rindu.

 

Angin...sampaikan rinduku pada dia yang terkasih

Sebelum terdengar nyanyian kicau murai

Temani aku dalam dekap malam ini

Meski bahagia hanya dalam angan

 

Pengarang  puisi ini seorang  pengembara, mengembara  pada alam  nanluas. Oleh karenanya, ia memadukan kenyataaan hidupnya dalam  diksi-diksi diafaan yang dapat dipahami siapapun. Belum lagi jika pengembaraannya dikuatkan kasih ibunda. Maka puisi Kasih Ibu dan Mama  menyiratkan kedekatan hati  bunda dengan seorang anak.Rindu tak terselami oleh hati siapapun kecuali oleh seorang Mery C. Lola. Hingga kapanpun pengembaraan hatinyanya, ia pun sungguh bahagia kala sang ibunda bahagia.

Mama…. tatapan penuh cintamu adalah kekuatan kami

Candaanmu adalah suka cita kami

Wejanganmu adalah inspirasi kami

Melihatmu tersenyum manis adalah bahagia kami.

 

Kehangatan kasih ibunda serasa tak lengkap jika seorang guru SD ini tak menautkan kasih pun pengorbanan ayahanda telah tiada. Andaikan ia hadir di hari-hari seorang Mery C. Lola  mengembara di samudra cintanya, tentu ia ingin memeluk ayahanda dan bersamanya bersyair  tetang rembulan, gemintang pun syair di tepi senja.Tentang seseorang yang hanya dipahami dalam sukma seorang Mery C. Lola.Di sana ia bersenandung dan berlitani tentang sebuah penantian yang ia urai dalam larik-larik tak berujung.

 

Senja... Sampaikan salamku untuknya

Bisikkanlah puisi rindu bagaikan pujangga

Hingga malam menjemputmu

Biarkan aku menanti dalam senandung pilu.

 

 

Pada puisi terakhirnya dalam litani bersama rekan-rekannya, ia melantunkan simphoini kebersamaan mereka hingga mampu mewujudkan silahturahimnya berbentuk sebuah antologi puisi. Betapa persahabatan mereke merupakan bahagia tak terperih, bukan suatun kebetulan tetapi dirajut karena pada hati iklhas berkaya. Mungkin saja sahabat bagi mereka adalah seseorang yang menari bersama di bawah matahari dan berjalan bersama di kegelapan.Bahwa mungkin tetap dirajut, tetapi ia tetap menyapa sahabat seperjuangannya di akhir puisinya.

 

Kita adalah sahabat

Tak peduli siapa berkata apa

Kita bertiga tetap sahabat

Meski waktu berlalu berganti masa.

 

Membaca puisi-puisi dalam Antologi Puisi berjudul  Puisi Orang Pilihan mengajak kita merefleksi tentang kehidupan. Tidak saja bersama orang –orang terdekat tetapi juga selalu berdamai dengan alam.Di titik inilah, setiap orang menyadari betapa alam tidak saja berfungsi secara ekologi tetapi juga selalu memberi inspirasi. Alam mengajarkan kita cara untuk bertahan hidup walau dalam kondisi apapun.

            Thomas Arakian Sogen, ternyata pula adalah pencinta sastra walau keseluruhan pemgabdian lebih pada penulisan karya ilmiah. Detak-detak imaji terurai hampir pada diksi-kdiksi simbolis pada makna. Dan menariknya, alam yang diarungi  memberinya inspirasi. Dengannya pembaca semakin merefleksikan betapa keindahan dan kedamaian termkatub di dalamnya.

….

Oh pelangi.....ke manakah kau bersembunyi?

Hujan sudah enggan basahi bumi

Mentari pun seakan tak mau menepi

Di sini kugantung asa padamu, pelangi

 

Keindahan pada rona pelangi beraneka, dikagumi seorang Thomas A. Sogen walau keindahan yang memagutnya berlalu. Ia sangat mendambahkannya pelangi, keajaiban yang tak terperihkan. Namun pada rona pelangi itu pula asa dibenam. Setinggi itukah asa ditautkan?  Pencinta puisi yang ahli meretas kebisuan seseorang soal karya tulis ilmiah ini mampu menjawabnya.

 

Ketegaran hati seseorang guru ini tak dipungkiri semestinya ditopang seseorang. Entahkan kepada Sang Khalik?  Kerinduan pada ‘ seseorang’ niscaya menguatkan, tanpanya sunggu ia tak sanggup

 

Hari-hari kini kulalui tanpamu

Membuat rinduku tak tercurahkan

Bagai robek hati ini semakin sendu

Rasanya ku tak sanggup untuk bertahan

Namun sepi ini masih saja menemani
Kau yang kunanti tak juga kutemui
Mengukir kesedihan dalam batas yang tak boleh kulangkahi
Tanpamu, sungguh ku tak sanggup lagi

Puisi-puisi diafan ibu guru Yanti Ali membawa kita pada realita hidup keseharian yang hampir tak terekam imaji oleh semua orang.  Ia berhasil menautkan segala rasa soal cita yang harus digapai walau jalanan penuh onak alian tantangan.  Baginya jalan berliku di ke kehidupan kan tiba pula untuk merengkuh emas dan permata di hari esok. Jika saja asa bak mimpi, namun mimpi menjadi tonggak raih sukses.Ia tak sungkan berkisah tentang dunia kerjanya yang menurutnya harus dibasuh kerendaan hati. Dalam sepi kalbunya, ia hendak berkontemplasi dengan Sang Ilahi pinta keteguhan. Bahkan seluruh karsa baginya adalah sebuah doa. Setidaknya terbersit melalui puisi Doa untuknya’ ia hendak mensyukuri anugerah Ilahi.

Pembaringan tempat curahan rasa ini

menjadi buku hidup cacatan doaku

seakan terbayar saat pasrah

semoga nirwana menemaninya.

 

 

Keindahan menautkan rasa tetang kehidupan, cinta, harapan sangat terlihat dalam antologi puisi orang pilihan. Judul antologi ini sangta menyentuh jika pembaca melahap larik-larik penglipur karya ketiga orang guru ini. Mereka adalah orang pilihan, demikian pun pembaca dan siapapun adalah orang –vorang terpilih dalam kehidpuannya. Setiap orang mampu merefleksikan kehidupan, setidaknya melalu karya- karya imajinatif. Sebagaimana karya puisi Mery C. Lola, Thomas A.Sogen, dan Yanti Ali. Orang pilihan, mengguratkan pilihan berkreasi di ruang sastra, sesuatu yang sangat menggugah rasa dan karsa, karena mampu merekam detak-detak kehidupan di jalan berliku. Selamat untkmu bertiga, guru hebat yang tengah merintis jalan literasi.

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

                                        

 

Komentar