BDR DI TENDA DUKA
BDR di Tenda Duka
Perbincangan saya dengan seorang
widyaiswara siang tadi di sebuah duka menyulut permenungan soal pembelajaran
dari rumah atau Belajar Dari Rumah ( BDR ). Beberapa pertanyaan awal dapat saya
jawab semisal jenis aplikasi yang digunakan dalam pembelajaran secara daring
(Dalam Jaring). Tentu saja saya menyebutkan beberapa aplikasi yang digunakan
semisal Google Class Room (GCR ) Zoom, juga beberapa lainnya. Saya coba
menjelaskan hal menggunakan GCR yang
tidak membutuhkan proses instalasi khusus. Penggunaan cukup dengan menggunakan
akun email google masing. Fitur dan menunya tidak begiturumit sehingga mudah
digunakan oleh guru maupun siswa. GCR adalah
sebuah layanan dalam produk G
Suite Education, yang dapat diakses melalui web dan bisa diunduh memlaui aplikasi seluler.
Beliau sangat memperhatikan
penjelasan saya, sehingga saya pun melanjutkan penjelasan soal bagimana memasukkan siswa ke dalam kelas.
Guru membagikan kode kelas kepada para siswa melalui aplikasi WhatsApp. Dengan
demikian, seorang guru mata pelajaran tentu dapat mengetahui berfapa banyak
siswa yang tergabung dalam GCR tersebut. Bahkan guru dapat pula mengunggah
video pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran atau pada guru mata
pelajaran lebih dikenal dengan Kompetensi Dasar.
Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya
lebih mengerucut kepada tujuan pembelajaran. Hal tersebut mengernyitkan dahi
saya.Saya hanya menimpalinya, bahwa semua kita berharap tujuan sebagaimana
tertuang dalam tujuan pembelajaran akan terwujud walau pembelajaran
nontatapmuka.Penjelasan saya lebih lanjut kepada penguasaan materi, karena
siswa dapat leluasa mempelajari materi yang diberikan dari berbagai sumber,
selain bahan ajar yang diberikan.
Sepertinya perbincangan kami
berdua walau sebentar lebih kepada sebua diskusi.Naluri kewidyaisraannya
membuatnya penasaran atas jawaban saya, sehingga pertanyaannya berlanjut
kepada tujuan pembelajaran dalam hal sikap. Ia tahu kalau jawaban saya cenderung pada tujuan
pembelajaran secara kognitif. Atas jawaban saya bahwa tujuan pembelajaran dalam
ranah atau aspek sikap belum bisa terukur karena pembelajaran secara
nontatapmuka, kami berdua memiliki titik simpul yang sama, bahwa mungkin hal tersebut merupakan sisi lain merupakan kelemahan pembelaran
daring. Atau sebagai misal soal asupan materi dengan BDR, apakah mungkin
seorang siswa dapat melakukan secara mandiri, ataukah hal berlajar, seperti
tugas, dipekerjakan kepada orang tua atau bala bantuan lainnya? Ia pun
melanjutkan penjelasannya bahwa dapat saja masih terlihat kelemahan-kelemahan
dari pembelajaran daring yang dapat terungkap sehingga di masa pandemi covid 19
ini jenis pembelajaran ini bisa dievaluasi.
Waktu siang tadi tidak cukup bagi
kami, tetapi memberi sebuah refleksi soal pembelajaran daring yang mulai
dikeluhkan setiap orang tua yang hari-hari berperan menjadi guru. Segelintir
orang tua bahkan “angkat tangan” walau pembelajaran baru hampir sebulan. Bagimana mungkin seorang ibu
rumah tangga harus berperan ganda, menjadi seorang ibu rumah tangga juga
sebagai seorang guru. Lengkaplah sudah tugas seorang ibu rumah tangga juga bagi
seorang bapak Keluarga yang hari –hari ini membagi waktu, setidaknya berkelana
lebih jauh di area yang menjadi tugas pokok seorang guru. Paling tidak setiap orang
tua ketika mengajarkan anaknya, sesungguhnya ia belajar lagi. Saya hanya
bergumam dalam hati Seorang guru
yang terbaik akan mendidik dan mengajar dari hati, bukan hanya dari buku saja.
Dari sikap seorang guru lah, siswa akan belajar." Dan guru tidak pernah,
sepanjang ia menjadi guru.
Kupang,
1 Juli 2020
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!