BDR ENTAHKAN SEBUAH SENANDUNG
BDR , Entahkan
Sebuah Senandun
Oleh: Yohanes Joni Liwu, S.Pd
Mengisahkan
hari-hari penuh canda tawa di sekolah bagai rindu meletup-letup kala guru hari-hari ini dan peserta didik sedang
dirundung sepih karena harus belajar dari rumah. Kerinduan itupun sedang
membucah dalam hati diselimuti hasrat berjumpa sebagaimana layak pertemuan guru
dan peserta didik bertahun-tahun. Betapa tidak kerhamonisan kedekatan antara
guru dan siswa yang hampir bersama sepnjang minggu,bulan hingga bertahun-tahun.
Kalaupun ada jedah waktu seminggu itu pun hanya sebentar setelah Penilaian
Tengah Semester. Namun masa belajar di rumah yang berkepanjangan menggoreskan
kejenuhan pada tingkatan yang disebut keresahan, kegusaran, dan entah apalagi .
Imbauan untuk belajar di rumah menjadi semakin tak terukur karena hampir pasti
tidak terjalin komunikasi yang efektif hanya untuk mengetahui kondisi belajar peserta
didik di rumah.
Jika saja pembelajaran dilakukan secara daring ( dalam jaring
) kita harus jujur mengatakan bahwa sebagian besar siswa tidak memiliki sarana pembelajaran
semisal gadget untuk mengakses. Beberapa sekolah di perkotaan saja, masih dapat
dihitung dengan jari alias sangat sedikit peserta didik memilki telepon genggam
bertipe anroid. Selanjutnya yang menjadi soal, apakah gadget yang dimiliki
siswa tersebut memungkinkan peserta didik mengunduh aplikasi yang dapat
digunakan untuk belajar di rumah? Jika memungkinkan, apakah mungkin setiap
siswa memiliki paket data yang untuk belajar secara daring? Kendala-kendala
teknis sehubungan dengan kepemilikan sarana untuk belajar secara daring masih
menjadi benang kusut Belajar dari rumah alias BDR untuk kondisi di perkotaan
juga pedesaan.
Pembelajaran di awal tahun pelajaran yang serba darurat
memang jauh panggang dari api. Hampir saja pekan-pekan terakhir Juli, semua
sekolah disibukkan dengan pendataan kepemilikan gadget anroid. Dan Itu harus
berawal dari pertemuan dengan orang tua atau wali peserta didik. Berdasarkan
kesepahaman bersama soal belajar daring dan luring, baru diketahui pula jumlah
peserta didik yang melakukan pembelajaran dari rumah (BDR) daring maupun luring
( Luar jaring ). Walaupun demikian, masih saja terdapat kendala-kendala teknis,
sehingga tidak semua yang memiliki gadget anroid mengikuti BDR daring. Sebut
saja jenis gadget yang dimiliki tidak dapat mengunduh jenis aplikasi
pembelajaran yang disepakati bersama. Sedangkan bagi peserta didik yang
melakukan BDR luring setidaknya harus ke sekolah menjemput bahan ajar dan
lembar kerja peserta didik, termasuk mengantar pekerjaan anaknya. Sungguh
pengalaman tak biasa bahkan kalau boleh dapat menjadi pengalaman terindah dalam
sejarah kehidupan “anak-anak zaman now” hanya karena ancaman covid -19.
Pengamatan terhadap BDR daring dan luring selama dua
pekan berlalu menyisahkan masalah-masalah baru. Melalui aplikasi Google Class
Room (GCR ) diharapkan pembelajaran daring berlangsung efektif. Semenjak
hari-hari pertama bahkan hingga seminggu, banyak peserta didik tidak bisa
mengirimkan tugas maupun jawaban melalui aplikasi tersebut. Bahkan baru dua
hari mengikuti pembelajaran daring banyak siswa memohon untuk mengikuti BDR
luring walau orang tuanya telah menandatangani kesepakatan BDR Daring di atas
pernyataan bermeterai. Berbagai alasan yang dikemukakan semisal jenis gadget
yang digunakan tidak mampu untuk mengunduh aplikasi pembelajaran yang
dianjurkan sekolah.Tidak sedikit guru-guru mengeluhkan keterlambatan peserta
didik mengirimkan jawaban atau tugas. Banyak peserta didik hingga pekan kedua
belum juga menindaklanjuti tugas yang diberikan guru. Seribu satu tanya tentang kendala teknis tak terjawab. Beberapa
peserta didik tanpa malu-malu menginformasikan jika tidak cukup data sehingga
tidak dapat mengembalikan jawaban dari guru-guru mata pelajaran.
BDR dari rumah bagai tak terukur walau guru-guru dan
semua pemangku kepentingan sangat berharap BDR entah daring pun luring dapat
berlangsung secara efektif. Namun
demikian patut diacungi jempol bagi beberapa peserta didik yang sangat antusias
mengikuti pembelajaran daring maupun luring. Hal ini terlihat dari tugas yang
diserahkan melalui aplikasi, juga secara manual yang diberikan setiap akhir
pekan kepada guru mata pelajaran.
Kurikulum Darurat
Pemberlakuan
kurikulum darurat dengan pengurangan Kompetensi Dasar di SMP misalnya memberi
signal bahwa memang terdapat kendala-kendala ketika dilakukan pembelajaran dari
rumah. Pada guru misalnya, iakesulitan mengelola BDR dan cenderung fokus pada penuntasan
kurikulum.Hal berikut, waktu
pembelajaran berkurang sehingga guru tidak mungkin memenuhi beban jam mengajar.
Soal komunikasi dengan orang tua, setiap guru tentu mengalami kesulitan.
Pada beberapa video yang diunggah melalui media sosial,
terbaca bahwa orang tua sangat mengalami kesulitan dalam mendampingi anak saat
mengikuti BDR entah daring mapun luring. Hal itu dapat dimaklumi karena mereka
(baca: orang tua) juga memiliki tugas dan tanggung jawab lain. Belum lagi kalau
tugas membimbing itu diserahkan sepenuh kepada seorang ibu rumah tangga karena
sang ayah harus ke kantor atau menunaikan tanggung jawab sebagai pencari
nafkah.
Permasalahan-permasalahan yang dialami guru dan orang tua
tentu tidak terlepas dari peserta didik. Keluhan-keluhan soal tidak bisa
berkonsentrasi belajar di rumah menjadi bagian lain rona-rona BDR yang hari-
hari ini harus dilaksanakan karena covid 19. Anak-anak atau peserta didik tidak
jarang mengeluhkan kesulitan menjawab soal-soal yang diberikan guru. Hal ini
wajar saja, karena mereka sudah terbiasa dengan pembelajaran tatap muka.Hal
mana dapat saja terjadi dialog atau diskusi jika saja pada materi-materi
tertentu belum dipahami dengan baik.
Bukankah hal-hal kecil yang dialami
peserta didik berdampak pada peningkatan rasa stress? Kejenuhan dan depresi dapat saja muncul
akibat isolasi berkelanjutan . Kendala-kendala terus terurai walau berbagai
bentuk dan media pembelajaran dicetus demi BDR yang efektik.
Kurikulum dapat disederhanakan
melalui kurikulum darurat, namun untaian masalah yang diahadapi guru,orang tua,
dan peserta didik tentu akan menjadi litani panjang, sepanjang kegiatan
pembelajaran dilakukan dari rumah masing-masing.
Signal tetang pembelajaran tatap
muka sebagaimana dikemukakan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Kupang,
Dumuliahi , sepertinya membawa angin segar untuk mengatasi kendala-kendala di
atas. Namun demikian, pemberlakukan pembelajaran tatap muka tentu harus
mengikuti protokol kesehatan. Itu pun belum disebut sebagai pembelajaran yang
normal karena salah satu syarat adalah pengaturan ruang untuk 50 persen siswa.
Bagi sekolah-sekolah dengan jumlah siswa yang sangat banyak tentu pula harus
bekerja keras dalam hal pengaturan ini. Hal ini sangat beralasan, apalagi jika
sekolah-sekolah tersebut telah melakukan pembelajaran dua shift karena
kekurangan ruang belajar. Peserta didik akan hilir mudik sepanjang hari di
sekolah karena pergantian jam belajar dari kelompok yang satu ke kelompok
lainnya. Tapi paling tidak pembelajaran tatap muka telah memberi ruang dan
kesempatan sama bagi peserta didik untuk memperoleh pembelajaran dari
guru-gurunya.
Jika itu memang terjadi, semua kita
berlegah hati karena telah keluar dari kesulitan –kesulitan yang melanda orang
tua, guru, dan tentu kepada peserta didik itu sendiri. Kelegahan-kelegahan yang
mungkin bersifat sementara, karena bangsa ini belum sepenuhnya bebas dari virus
yang masih memangsa pada siapa saja yang lengah atau tidak mengikuti protokol
kesehatan. Guru dan segenap warga sekolah akan menjadi garda terdepan mengawasi
pserta didik agar terhindar dari covid 19. Sedikit saja kelengahan, maka bukan
tidak mungkin kitaharus melitanikan lagi BDR, entah daring maupun luring.***
(Penulis:
Guru Bahasa Indonesia di SMP negeri 13 Kota Kupang )
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!