cerpen BERTOPENG

Cerpen:

BERTOPENG

( Oleh: Joni Liwu )

            Inova hitam yang mengantarku dari luar kota kini tepat di depan rumah. Perjalanan yang cukup melelahkan itu telah menenun kepenatan. Belum lepaskan kelelahan, pintu rumah diketuk. Agak malas aku bangun. Dari dalam rumah melalui jendela berkaca nako, aku melihat dua  orang pria di depanku rumah. Sedikit mneyelidik, ternyuata mengenal salah satunya. Ya ,ia Om Jack rekan bisnisku. Tapi yang seorang? Apakah ia rekannya sesama pebisnis? Ah entalah, akan aku bukakan pintu biar lebih jelas.

            “Selamat malam! “ ucap Om Jack hampir bersamaan dengan pria yang di samping.

            Tanpa tedeng aling aku mempersilahkan kedua masuk lalu menempati kursi di ruang tamuku.Percakapanku dengan Om Jack belum seberapa, pria ini langsung memperkenalkan dirinya.

            “Hai, aku Rolan,” ungkap pria itu percaya diri.

            Aku sebagai tuan rumah, juga meladeninya dengan ramah, “Aku Yuni”.

            Kami pun terlibat akrab dala. Beberapa saat kemudian, Om Jack ke kantin sebelah rumahku untuk membeli rokok.Kini hanya kami berdua saja. Walaupun tuan rumah, aku kecut juga berhadapan dengan seorang pemuda. Sejenak kulihat, ia pemuda tampan.  Tinggi ideal, berotot kekar. Matanya yang nakal menatapku agak lama hednak menyampaikan sesuatu.

            “Aku polisi,” ujarnya.

            Aku tak ingin menjelaskan profesiku, karena kutahu Om Jack pasti sudah menjelaskan siapa sebenarnya aku. Ternyata prediksiku semula salah. Dia buka calon rekan bisnis, tetapi ia seorang abdi negara. Obrolan kami sambil menanti Om Jack terhenti sebentar. Pemuda berkulit putih  ini dengan santun  menyampaikan sesuatu kepadaku.

            “ Mam...aku menyayangimu.”

            “Busyet,” katyaku dalam hati, belum semenit perkenalan, ia menyapaku dengan mam.             “Memangnya aku emaknya?”

            “Mam, aku menyayangimu, aku ingin menjadi teman dekatmu.”

            Kata-kata terakhir ini bagai menghujam, merasuk hingga sukmaku. Dan aku terlena. Mungkinkah pria ini telah ditakdirkan untukku? Mungkinkah ia titisan dewa, karena setelah sekian tahun aku mendambahkan seorang pria, kali ini ia datang. Tanpa aku yang mencari, tetapi datang di rumahku, datang dan hendak membuka pintu hatiku.

            “Maukah kau menerima lamaranku?” Rolan mendesakku. Aku enggan menjawab walau sebenarnya aku juga menghendaki pria seperti  Rolan. Ungkapan rasa yang membuat anganku melayang, membayangkan suatu kebahagiaan dalam kebersamaan hidup, menggapai cita dan cinta dalam biduk rumah tangga.

Pria sepertinya memenuhi kriteriaku. Berani, tegas, tanggung jawab. Secara fisik memang berpenampilan  menarik, ganteng. Apalgi di hadapanku ini seorang polisi. Tentu aku akan nyaman, bila berada bersamanya.

            Aku belum menjawab semua pertanyaan Rolan. Aku hanya diam, hingga Om Jack dan Rolan berpamitan denganku. Di benakku, Rolan mungkin sedikit kecewa sebelum mendapat jawabanku. Tetapi dia  juga seharusnya tahu bahwa pertemuan sekilas dan harus mendapat jawaban dari seorang gadis sepertiku tidaklah mungkin. Atau mungkin pula dia harus paham bahwa diam itu berarti setuju.

            Aku telah membebani pikirannya. Belum sejam, telepon selularku berbunyi. Ada sebuh pesan singkat. “Mam... aku sayang kamu. Aku ingin mendapat jawabanmu, jika tidak malam ini.besok.”, demikian pesan singkat dari nomo baru, yang kuyakin itu nomor Rolan.

            “ Aku juga,” Balasku. Hari-hari selanjutnya menjadi kebahagiaan kami berdua. Dunia menjadi milik kami sebelum ia ditugaskan ke luar daerah, Bandung. Aku merelakannya, karena sebagai abdi negara, ia harus mematuhinya. Ia harus bertugas selama sebulan.

            Rindku kini membuncah. Kalau-kalau cinta yang bari saja tertambat ini hilang dan lenyap. Seminggu telah berlalu tak ada kabar berita. Ternyata, aku baru mengetahui kalaw tak ada signal  di tempat ia  bertugas. Dan aku lebih gelisah kala ia memberitkan kalau ia sakit. Ingin rasanya aku mendampinginya.Tapi itu tidak mungkin, karena menjalankan tugas negara. Sebagai bukti kecintaanku, aku mengrim sejumlah uang sesuai permintaannya  untuk berobat juga keperluan lainnya.Ia pun  selalu mengabarkan kalau ia baik-baik saja, dan seminggu lagi mereka akan pulang.

            Hari yang kutunggu pun tiba. Sore itu, Rolan telah menantiku di rumah. Aku agak terlambat karena ada dengan rekan-rekan bisnisku. Ia manyambutku dengan hangat di depan pintu. Aku menggandeng tangannya hingga ke ruang tamu. Kurasakan kebahagiaan yang tak terperi. Rindu yang mengelayuti kahidupanku terobati. Ingin sekali aku selalu bersamanya, bahkan selalu dan selalu.Tetapi kegalauan yang kualami sebulan yang lalu kembali menggerogoti hati.

            “Aku ditugaskan lagi ke daerah perbatasan,” bisiknya pelan ketika menikmati makan malam bersama di warteg, tepat di bibir pantai. Riak gelombang yang menepi di bibir pantai menjadi saksi kegetiran hati. Apakah mendampingi seorang abdi negara harus mengalami kesendirian?  Belum resmi menjadi suami saja  seperti ini apalgi setelah resmi menikah dengannya? Aku membatin berkali-kali dalam tanya. Tapi karena menunaikan tugas negara, aku rela melepaskannya.

            Rolan bertugas di sebuah pulau kecil dekat kota tempat tinggalku. Pulau tempat tugasnya merupakan pulau terluar yang berbatasan dengan negara tetangga.

            “Aku mengikhlaskanmu, asal jaga dirimu, agar selalu sehat,” kataku menasehatinya seblum ia pergi. Kepergiannya kali ini memang menyedihkan. Tetapi kepergiannya ini pula awal petaka baginya. Seminggu sudah ia berada di tempat baru.Cerita tentang keberadaannya, hampir sama dengan tempat tugasnya semula.Ia mendapatkan masalah. Ia mengalami kecelakaan lalulintas. Kendaraan yang ia kendarai menabrak kendaraan roda dua. Pengendara roda dua dilarikan ke rumah sakit.Sedang mobil polisi yang dikendarainya ringsek. Atas kejadian ini, ia harus menaggung  biaya ganti rugi kedua kendaran dan biaya perawatan.

            “Mam...aku harus membayar segala kerugian ini!”  dahiku berkenyit kala mendengar teleponnya.

            “Apa? Apa aku tidak salah dengar?” suaraku meninggi.Aku kesal atas peersoalan yang harus ditanggungnya. Aku yakin di telepon selularnya Rolan masih mendengarkanku.           “Bukankah kamu menjalankan tugas negara?” lanjutku.Tapi nyaliku pun kecut juga kala ia mengatakan kalau akan mendapat sanksi atau harus dipecat dari kedinasannya. Ia pun berargumen lagi bahwa atasan telah memutuskan seperti itu setalah menyelidiki kecelakaan tersebut. Dan biaya yang harus ditanggung sebanyak sepuluh juta rupiah. Aku diam beberapa saat. Telepon selularku belum kumatikan. Seribu satu perasaan gelayuti batinku. Antara tugas dan cinta, sebaris kalimat ini mungkin harus kulitanikan. Antara menyanggupi semua biaya itu atau melepaskan kekasih hati yang talah tumbuh di hatiku. Dalam situasi dilematis seperti ini, aku harus memilih, dan ini pilihan terakhirku.

 

***


Komentar