TESTIMONI Antologi Puisi ke-²
Antologi Puisi 2 Bahana Cinta ( Testimoni )
Cinta dalam Dekapan Religiusitas ala Joni Liwu
Cinta
adalah sebentuk kata paling primitif dan abadi. Ia telah ada jauh sebelum
peradaban melintas dalam benak manusia. Cinta Adam kepada Hawa, siapa pula yang
meragukannya. Kekuatan cintanya mampu melintas samudera dan benua. Adam dan
Hawa diturunkan di tanah berbeda, saling mencari hingga bertemu di daratan
lainnya.
Cinta akan selalu tumbuh, meski ia
dipangkas oleh gelapnya sakit hati dan dibakar panasnya api cemburu. Benih
cinta akan tetap tersisa meski harus tersembunyi di lubuk terdalam sebentuk
hati. Cinta dimiliki siapa saja bahkan di hati mereka yang tidak pernah
berkata, aku cinta padamu.
Melalui seratus puisi dalam antologi
Bahana Cinta , Joni Liwu berhasil
membawa segenap pembaca untuk berasyik masuk dengan aroma cinta yang begitu
kuat dan pekat. Dengan pilihan kata memeluk bumi, Joni telah membuktikan bahwa
setiap kata mampu mengemban makna dengan prima ketika dibalut dengan nuansa
rasa yang pas. Ia mampu menjawab eksperimen sampai di mana kemampuan bahasa
sehari-hari yang sederhana dapat mengungkapkan hal paling romantis dan puitis
dalam kehidupan.
Bak
Gunung Mutis yang gagah dan Pantai Rako yang menawan, Joni Liwu merengkuh cinta
bersandar di kokoh bahunya dalam basuhan kidung pengantar lelap.
Puisi-puisinya begitu manis dan mengena.
Sesekali terasa kompleks, mendalam, dan sangat serius mengarungi bahtera cinta.
Cinta kepada kekasih, juga kepada pengukir jiwa raganya.
Bukan
Joni Liwu kalau tidak mampu membalut aroma cinta dengan aneka rupa kisah.
Seperti kisah kepahlawanan dalam “Kartini”, misalnya. Atau puisi yang berjudul
“Sumringah Anak Bangsa” yang mengajak anak-anak negeri untuk tidak lelah
mmeperjuangkakan cita selagi raga masih kuat dan muda. Puisi “Tulus” untuk Pahlawan Bendera merah Putih dari NTT,
Yohanes Ande Kala Marcal alias Jon pun terasa begitu dalam dan mengena.
Seperti
judul ulasan ini, Joni Liwu juga mampu dengan apik membungkus cintanya dalam
pelukan religiusitas yang pekat. Puisi “Seruni Ahad” dengan jelas meminta
tuntunan Yang Kuasa agar selalu dibimbing ke jalan-Nya, agar tak luluh dan
remuk didera sesal di kemudian hari lewat denting lonceng gereja yang mampu
menguak takdir-Nya.
Bahana Cinta adalah puisi-puisi yang menjadi
refleksi perjalanan dan pencarian makna cinta berbalut lembar-lembar
religiusitas seorang Joni Liwu. Ia mampu memanfaatkan metafora-metafora untuk
mendukung citraan visual dalam sajak-sajaknya. Ia lihai dalam menggunakan
perangkat kata, metafora-metafora yang orisinal, dan terasa baru. Siapa yang
tidak gemas dengan bait sekaligus sebentuk puisi berjudul “Kaemde” ini:
Uji nyali
Di atas tali
Walau sekali
Tetap bernyali.
Apa
yang ingin diungkap Joni Liwu dari puisi sembilan kata tersebut? Ia bicara
tentang nyali, tetapi entah siapa yang tahu nyali dalam hal apa yang ia mau.
Nyali dalam cinta, nyali menjadi pahlawan, atau malah nyali untuk menghadap
Tuhan? Joni Liwu pun sekadar membadingkan nyali dengan tali, tetapi jangan
salah, melalui seutas tali orang bisa bangkit kembali bernyali, tetapi lewat
seutas tali pula segala yang hidup bisa menjumpai kematian.
Melalui
sebentuk puisi yang hanya terdiri dari satu bait, Joni Liwu mampu meracik
metafora yang membuat pembaca berpikir sangat dalam dan lama. Melalui sembilan
kata Joni Liwu telah mampu mengaduk perasaan pembaca. Joni Liwu mampu membuat
puisi paling pendek itu menjadi puisi yang paling multiinterpretasi diantara 99
puisi yang lainnya. Ia boleh saja dipahami secara dangkal oleh pembaca pemula,
tetapi pasti dipahami secara sangat dalam oleh pembaca yang sudah banyak makan
asam garam. Begitu pula dengan muatan emosi yang pada akhirnya menciptakan
ledakan makna yang hebat dari puisi singkat tersebut. Yaitu muatan tentang rasa
yang dimiliki oleh penyair yang dituangkan ke dalam sajak sembilan kata itu.
Di
akhir sajaknya, penyair mulai menunjukkan kedalaman religiusitas itu. Pada
“Perhentian” Joni Liwu menyadari bahwa segala hal Yang Maha Kuasa memegang
peran di atas segalanya. Sehingga, ia memberanikan diri untuk menyatakan bahwa
semuanya ada waktunya. Akan tetapi, penyair tetap berharap, semua yang telah
terjadi tetap bermakna. Ia hanya bisa berharap agar jalan tetap seiring, selagi
nyawa masih sudi memeluk raga.
Di perhentian ini,
Hendak kujabat tanganmu
Agar sua kita bermakna,
Agar jalan kita seiring
Syukuri jantung masih berdenyut,
Syukuri hidup yang tetap mendekap.
Sukses, Sahabatku! Cinta
akan tetap abadi melampaui usia manusia itu sendiri. Seabadi namamu yang akan
selalu disebut lewat puisi-puisimu.
Salam,
Suprihatin
Trisnodiharjo (Penulis, cerpenis, novelis Yogyakarta )
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!