DIA YANG BERLABUH
Dia yang Berlabuh, Aku yang Menangis
( Sebuah Refleksi Pembelajaran
Daring )
Melitani pembelajaran Dalam jaring ( Daring ) dua bulan berlalu semenjak tahun
pembelajaran yang baru ini menyisahkan bercak-bercak tak berwarna.
Bercak-bercak itu turut menodai
segenap aktivitas kehidupan siswa, guru,dan orang tua. Betapa seribu
satu persoalan bermunculan setelah sebuah satuan pendidikan berpeluh merancang
jenis pembelajaran. Idealnya, dengan pembelajaran melalui berbagai aplikasi,
guru tak perlu berkerut dahi mendapatkan tanggapan peserta didik yang dalam
tanda petik dibimbing orang tua atau wali.
Kondisi yang terbaca dan terekam melalui
pembelajaran Daring dua bulan berlalu tersebut ibarat rusa masuk kampung.
Bingung menetukan sikap, apakah melanjutkan pembelajaran daring atau luar
jaring ( Luring ).Sebut saja pembelajaran Daring yang sangat menemukan kendala.
Data terhimpun dari beberapa guru mata pelajaran di sebuah SMP, sekitar 30 hingga 40 % peserta didik yang mengerjakan
tugas melalui Lembar Kerja Peserta Didik ( LKPD ).60 hingga 70 % diam membisu. Bahkan untuk tiga kali pertemuan secara
Daring, data pengiriman jawaban atau tugas oleh peserta didik belum mencapai 50 %. Data tersebut setidaknya
menunjukkan persoalan baru setelah orang tua/ wali menyetujui anaknya mengukuti
pembelajaran Daring dengan menandatangai pernyataan di atas kertas bermeterai.
Persoalan mendasar adalah kepemilikan gawai
yang mampu mengunduh aplikasi pembelajaran. Jika saja secara kulitas bawaan
gawai yang dimiliki tidak bisa mengunduh beberapa aplikasi, tentu itu menjadi
persoalan utama, bahkan karena itu pula, peserta didik mengambil sikap diam
seribu bahasa saat dikonfirmasi wali kelas tentang tugas-tugas yang diberikan.
Ada juga yang menarik, yakni gawai itu bukan milik peserta didik melainkan
orang tua, kakak atau saudaranya. Dengan demikian, peserta didik hanya bisa
menyelesaikan tugas dari sekolah bila pemilik gawai itu berada di rumah, entah
sore hari atau malam.Soal-soal berikut yang bermunculan adalah seberapa banyak
kuota internet pada gawai orang tua atau saudara dari peserta didik.Ini
persaoalan-persolan awal yang turut menyulut kesiapan batin orang tua dan
peserta didik sebelum membaca tugas atau membimbing peserta didik dalam belajar
di rumah.
Lagi-lagi orang tua harus berperan
dalam pembelajaran Daring, namun harapan itu belum sepenuhnya terjawab.
Berbagai keluhan beraorma resah dan gelisah perihal kesediaan anaknya mengikuti
ajakan, arahan bimbinngan belajar dari orang tua. Beberapa orang tua berkisah
dalam kegalauan tentang kepatuhan anak-anaknya selama mengikuti BDR ( Belajar
dari Rumah ). Hampir sebagian waktu anak digunakan untuk “bermain” bersama
teman-temannya. Dan hal yang paling meresahkan para orang tua, jika peserta
didik tidak memahami materi pembelajaran yang berdampak pada kelalaian anaknya
mengerjakan tugas. Semakin memperparah keadaan orang tua jika orang tua sendiri
tidak memahami materi pembelajaran yang disampaikan guru, semisal pada mata
pelajaran matematika, bahasa Inggris, dan beberapa mata pelajaran lainnya.
Sampai di titik ini, peserta didik mengangkat tangan lalu orang tuapun
menyerah. Kendala-kendala ini berujung pada “masa sunyi” ( baca: tidak ada tanggapan ), sehinga guru
tetap menanti bak gadis menanti tambatan hingga tujuh prunama.
Kini, pembelajaran BDR memasuki bulan
ketiga. Praktis BDR berlangsung dua bulan setelah paruh waktu di bulan Juli
setiap lembaga pendidikan mempersiapkan segalanya untuk pembelajaran Daring pun
Luring. Lalu apakah guru merasa nyaman terhadap situasi yang dialaminya?
Pandemi covid sedikit memberi ruang bagi guru melakukan kunjungan rumah, belum
lagi penetapan zona merah karena
beberapa penduduk terindikasi terpapar virus yang mematikan. Kurangnya ruang
dan waktu itu pun memberikan pilihan yang menyulitkan, ibarat berhadapan dengan
buah simalakama.Namun demikian. Komunikasi melalui gawai selalu dibangun untuk
kelancaran pembelajaran,tapi sejauh itu pula guru harus tetap melitani
kesabaran sambil mengelus dada, karena janji
tinggal janji, janji mengerjakan tugas tidak ditepati. Janji bertemu
guru di sekolah tidak ditepati. Entah apalagi cara yang dilakukan.
Kuota
Internet Gratis versun game
Pemberian kuota internet gratis
sebanyak 35GB yang mengeruk anggaran negara sebanyak Rp 8,9 triliun untuk empat bulan, mulai dari
September hingga Desember 2020, kiranya dapat mengurangi beban ongkos
pmbelajaran daring untuk setiap peserta didik. Namun demikian, hal itu tentu
hanya menjawab keluhan orang tua soal ketersediaan kuota internet. Belum
menjawab persoalan klasik soal kepemilikan gawai,dan yang lebih penting kepatuhan
peserta didik untuk memanfaatkan kuota internet gratis tersebut untuk
pembelajaran di rumah. Kecenderungan peserta didik mengunduh aplikasi game
online tentu menjadi tanggung jawab terbaru bagi orang tua dalam mendisiplikan
anak memanfaatkan kuota internet gratis tersebut. Pada titik ini, negara
melalui kemendikbud sebenarnya telah memberi tugas tambahan bagi orang tua agar
lebih memaksimalkan bantuan pemerintah demi meperlancar pembelajaran dari rumah
(BDR).
International Telecommunications
Union (ITU), Badan PBB yang mengurus teknologi dan jaringan, berpendapat
anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya sejak pandemi Covid-19.Keadaan
tersebut dinilai mengkhawatirkan, karena sejak pandemi, anak-anak mengakses
internet di usia muda dan berisiko mengalami perundungan di dunia maya. Hal
seperti ini semoga tidak menciptakan kondisi yang dilematis, namun memberi
peluang bagi guru, dosen, siswa,
dan mahasiswa agar lebih bijak
menggunakan kuota internet gratis tersebut dalam pembelajaran di rumah.
Dengan pemberian kuota internet
gratis, diharapkan dapat meminimalisir kesulitan peserta didik, guru, dosen,
dan mahasiswa tentang ketersediaan kuota dalam pembelajaran Daring. Guru dengan
kuota internet sebanayak 42 GB tiap bulan hingga Desember nanti, tentu harus lebih proaktif membangun
komunikasi yang lebih efektif dengan peserta didik melaui aplikasi pembelajaran
atau aplikasi media sosial lainnya. Hanya dengan melakukan komunikasi berwujud
motivasi, atau bimbingan secara daring, sedikit banyak mengubah pola belajar
peserta didik di rumah. Di lain pihak dengan komunikasi intens, aan sangat
mengurangi beban orang tua yang hari-hari ini menjadi guru sementara di rumah.
Bahkan dengan kuota sebesar 35GB untuk siswa perbulan tersebut, perserta didik
dengan leluasa mengakses informasi di dunia maya sehungungan dengan materi
pelajaran yang diberikan guru. Orang tua kini boleh berlegah dengan pemberian
kuota internet gratis, tetapi setidaknya harus tetap bersedia menjadi guru di
rumah, apapun alasan, karena pendidikan untuk bangsa ini menjadi tanggung jawab
kita bersama. Kita mesti memerankannya sejauh kemampuan kita tanpa harus
berkeluh tentang covid yang hari-hari ini mengancam keselamatan hidup. Jika tetapi
bergandengan tangan dalam pembelajaran dari rumah, kita pun tak pantas melitanikan selarik lagu
nostalgia ini: dia yang Berlabuh, Aku yang menangis.
Kupungkasi coretan ini dengan
bait-bait pantun beriktu.
Daun kelor daun papaya
dipetik tetangga haruslah iklas.
Covid 19 sangat berbahya,
Libur di rumah janganlah malas.
Sehari saja tak melihatmu,
Hati galau tak terbilang.
Berhari-hari menuntut ilmu,
Ilmu kuraih prestasi gemilang
***
Penulis,
Yohanes Joni Liwu,S.Pd, Mengajar di SMP
Negeri 13 Kota Kupang sejak tahun 2000 sebagai guru Bahasa Indonesia. Menulis
antologi puisi “Mengembara di Lautan Cinta” dan
“Bahana Cinta” dan sedang merampungkan antologi cerpen berjudul “
Denting Baobala di Bulan Juli”.
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!